
Sialnya,Dasha duduk berhadapan sejajar dengan Elisa walaupun Zayyan membelakanginya. Jantungnya berdegup kencang,saat matanya sempat bertemu dengan mata Dasha.
Oh sial,bagaimana ini?? gumamnya dalam hati. Melihat sisa makanannya terlihat masih banyak ditambah perutnya masih belum kenyang,ia pun memutuskan untuk langsung membayar tagihan makanannya.
Setelah membayar,Elisa langsung bergegas keluar begitu juga dengan pria yang menguntit Elisa tadi. Sedangkan Dasha,sempat melirik sekilas kearah gadis yang memakai masker itu. Dirinya langsung tersenyum miring sambil memandangi gadis yang sudah hilang dari pandangannya.
"kau kenapa?" tanya Zayyan bingung. Dasha menggeleng pelan, "tidak ada sayang." elaknya lagi.
Aku tau itu kau El,tapi pertanyaannya kenapa kau ada disini? dan kenapa kau sembunyi-sembunyi? pasti ada yang tidak beres antara kalian berdua. gumamnya berkutat dengan pikirannya memikirkan nasib pernikahan Elisa dan Gazza. Ia sebenarnya sedikit curiga dengan kepergian mereka yang mendadak ingin ke Kanada.
Mengingat Gazza tidak menyukai Elisa,sungguh mustahil pria itu dengan cepat mencintai Elisa. Dasha harus menemui kakak iparnya itu secepatnya.
***
"Za!" seru seseorang berlari kearahnya. Gazza seperti biasanya hanya menoleh sekilas salah satu tempat kampusnya selama di Kanada.
"hai." sapanya saat sudah berada didepan Gazza. Gazza hanya mengangguk pelan.
"hmm apa kamu nanti malam sibuk?" tanyanya pelan,Gazza mengangguk pelan. "adaa." jawabnya singkat.
Raut gadis itu sedikit kecewa mendengar jawaban Gazza,namun dirinya sekuat mungkin tidak menampakkan rasa kekecewaannya pada pria pandangan pertamanya.
Gazza melirik jam tangannya, "Bel,aku duluan ya." pamitnya langsung melenggang meninggalkan gadis yang bernama Gabela itu.
"aku tidak boleh menyerah! semangat Gabela!!" serunya menyemangati dirinya sendiri. Gabel begitu penasaran dengan sosok Gazza,pria rantauan dari Asia itu terlihat tampan dimatanya.
Gazza berjalan menuju perpustakaan untuk mencari referensi dari tugas yang diberikan dosennya itu. Dalam hatinya ia harus segera cepat-cepat menyelesaikan studi S2nya di Kanada.
"kau sungguh meresahkan!" sentak seseorang bersama gengnya menatap tajam kearah Gazza. Gazza lagi-lagi menghela napas,ia menggerutu kesal karena harus berhadapan dengan geng yang memuakkan itu.
"kenapa kau terus memberikan perhatian kepada Gabela hah?!" bentaknya lagi sambil mencengkram baju Gazza. Gazza menatapnya dingin sambil menepis kasar tangan pria itu.
"bilang padanya untuk tidak mengejarku lagi. Bukan padaku!" ucap Gazza dengan penuh tekanan langsung melenggang masuk kedalam perpustakaan.
"sial." umpatnya geram.
"bos,apa kita habisi saja dia?" tanya salah satu pengawalnya.
"tidak perlu." ucapnya dingin melenggang menjauh dari perpustakaan.
Gazza sedikit membanting bukunya di meja,ia begitu kesal dengan kehadiran geng yang menjengkelkan itu. Sejak ia awal menginjakkan kakinya di kampus ini,sejak itulah para geng sialan itu mengganggunya. Beruntung dirinya tidak menjadi bahan bualan mereka,karena Gazza terus memberontak.
Lalu ia melirik kearah ponselnya,terlintas dikepalanya mengingat sosok istrinya itu. Bayangan Elisa yang seenaknya menari-nari dikepalanya. Bahkan kini Gazza tidak bisa tidur tanpa menggenggam syal merah itu,aneh bukan?
"ini udah hampir satu bulan,aku tidak ada menelponnya? apa aku telpon saja?" gumamnya lagi,namun gengsinya lebih dominan membuatnya urung.
"tidak...tidak,yang ada nanti dia kegirangan." elaknya lagi, Mulutnya berkata tidak tetapi hatinya berkata ingin segera menelpon istrinya itu. Walaupun ia membenci istrinya setidaknya ia harus bertanggung jawab untuk menafkahi istinya.
Berkutat lama dengan pikirannya,akhirnya ia memutuskan untuk menelpon Elisa. Awalnya ragu dan ia juga terlihat gugup menunggu panggilan itu diangkat. Dahinya mengerut,panggilannya tidak dijawab oleh istrinya.
Apa karena dia tidak tau ini nomorku selama di Kanada? gumamnya lagi. Ia pun mencoba menelpon istrinya sekali lagi.
Raut wajahnya senang saat panggilan itu diangkat, namun sedetik kemudian matanya melebar sempurna.
"hallo? ini siapa?" tanya seseorang diujung sana. Bukan suara Elisa melainkan suara pria.
"aku? harusnya aku yang tanya kau. Kau itu siapa?" seru pria itu malah bertanya balik padanya.
"dimana Elisa?" tanyanya mulai geram.
"Elisa? dia ada disini. Kau siapanya?" tanya pria itu lagi. Gazza langsung memutuskan panggilan itu cepat. Mukanya memerah menahan amarah.
Apa Elisa pacaran? apa dia mempunyai hubungan khusus dengan pria tadi?? sial aku tidak berpikir jernih sekarang!! umpatnya dalam hati. Perasaannya gusar tidak karuan,dengan cepat ia mengambil bukunya dan berjalan cepat keluar dari perpustakaan.
"Nji***lah aku pulang!!" umpatnya kesal langsung berlari menuju apartemennya yang tak jauh dari kampusnya saat ini. Gazza langsung memutuskan untuk kembali ke Indonesia,memastikan istrinya itu. Gadis yang membuat pikirannya kacau dan sering tidak fokus.
"brengsek dia malah selingkuh dibelakangku!" umpatnya terus ia lontarkan selama membereskan pakaiannya kedalam koper. Tanpa basa-basi,ia bergegas menuju bandara.
"sial,jadwal penerbangannya ditunda! cih terpaksa berangkat besok!" geram Gazza sambil mengacak rambutnya berantakan.
***
"kau memegang ponselku?" tanya Elisa menatap tajam kearah Jay,pria yang selalu menguntitnya sepanjang hari. Karena begitu kesal dengan Jay yang selalu mendesak berkenalan dengannya membuat Elisa jengah dan memberitau namanya pada Jay.
"iyaa,tadi ada seorang pria yang menelponmu." ucapnya jujur sambil menyerahkan ponsel milik gadis itu padanya. Elisa menatap curiga kearah Jay.
"kau tidak mengatakan yang aneh-aneh kan?" tanyanya menyelidik.
"tidak,eh tapi ngomong-ngomong pria tadi siapa?" tanya Jay penasaran. Awalnya ia ingin marah pada pria yang barusan menelpon di ponsel Elisa namun ia urung. Bisa jadi pria tadi adalah kakaknya Elisa atau Ayah Elisa. Ia harus menjaga image untuk mendapatkan hati gadis itu dan keluarganya.
Elisa melihat riwayat panggilan itu,dirinya menyerngit bingung menatap nomor yang tampaknya asing dan berbeda.
Deg. Matanya melebar saat menyadari sesuatu,senyum lebar terbit diwajahnya. Ia pun langsung berlari menuju apartemennya meninggalkan Jay yang masih terbengong dengan sikap Elisa tadi.
"lah,aku ditinggal. Woii tungguin!!" serunya bergegas menyusul Elisa.
"aku ke apartemenku dulu,jangan mengikutiku!!" teriak Elisa dari kejauhan dan langsung menutup pintu apartemennya.
"cih,sial." umpat Jay sambil menghela napas kasar. Rencana ingin bakar-bakar ayam di roottop bersama Elisa sepertinya tidak tepat untuk hari ini. Ia pun dengan langkah gontai masuk kedalam apartemennya,sebelum masuk ia sempat melirik ke apartemen Elisa yang sudah tertutup itu.
Elisa langsung membuka web internet menyamakan nomor itu dengan negaranya. Ia takut saat dirinya udah terlalu senang,eh rupanya salah sambung. Setelah mencari di internet,Ia bersorak riang saat nomor itu memang berasal dari negara tempat suaminya berada.
Ya ampun,akhirnya kau menelponku kak!! girangnya senang. Dengan perasaan gugup ia mulai menelpon suaminya itu.
"telpon atau nggak yaa??" gumamnya ragu. Seketika dirinya ingat jika pria yang merupakan suaminya itu meninggalkan dirinya seperti dighosting.
"lihat saja aku akan beri dia pelajaran karena sudah meninggalkanku seorang diri disini!!" serunya menggebu-gebu. Ia memang pernah membuat kesalahan dimasa lalu tetapi bukan seperti ini balasannya. Sepertinya ia harus berani dan membicarakan semua masalah ini baik-baik dengan suaminya itu. Ia tidak ingin kejadian ini terus berlarut lebih dalam.
Elisa mengurungkan niatnya untuk menelpon pria itu,dirinya akan menunggu panggilan lagi dari suaminya. Ia langsung membaringkan dirinnya dengan perasaan campur aduk seperti nano-nano.
•
•
•
~Please Forgive Me~