Please Forgive Me

Please Forgive Me
Bab 17



Gazza mengambil bantal lalu ia letakkan di sofa yang tak jauh dari kasur Elisa. Suasana dalam kamar sunyi dan hening. Mereka tidak ada mengatakan satu katapun dan sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Elisa." panggil Gazza pelan,membuat Elisa terkejut sekaligus terdiam karena baru pertama kalinya Gazza memanggil namanya.


"yaa?"


"aku akan ke Kanada minggu depan,dan kau bisa tinggal di apartemen baruku. Aku akan lama tinggal disana,karena aku mau lanjut studiku." terang Gazza tanpa menoleh kearah Elisa,dirinya tengah berbaring disofa menatap langit kamar.


Mata Elisa membesar,dirinya baru saja menikah dengan pria ini,tetapi pria itu sudah ingin meninggalkannya sendiri tanpa mengajaknya ikut bersama. Hatinya sedikit terenyuh mendengar hal itu,artinya jaraknya dengan Gazza akan semakin jauh dan pria itu akan semakin dingin dengannya.


"apa aku boleh ikut?" tanya Elisa memberanikan dirinya menatap pria itu.


"tidak,kau harus melanjutkan skripsi mu itu dulu." tolak Gazza lagi membuat Elisa menghela napas pelan.


"baiklah." ucapnya lesu lalu membaringkan badannya kesamping. Hari ini adalah hari yang berat baginya,ia ingin segera mengakhiri hari menyesakkan ini.


Esok paginya,Elisa terbangun dari tidurnya. Ia melirik kearah sofa dan tidak menemukan suaminya. Ia menyerngit heran dan menatap jam dinding kamarnya sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.


"astaga aku terlambat." paniknya langsung terburu-buru menyambar handuk dan berlari ke kamar mandi. Setelah bersiap-siap Elisa langsung menyambar ranselnya dan turun tergesa-gesa menuju meja makan.


"ya ampun nak,kenapa kamu terburu-buru sekali?" tanya Mama menatap anaknya,lalu ia celingak-celinguk melirik kebelakang. "dimana suami kamu?" tanya mama lagi.


Elisa yang belum sempat mengatur napasnya,dibuat terkejut oleh seseorang yang tiba-tiba berada dibelakangnya,sontak tangannya langsung memukul orang itu tanpa melihat.


"kageet woii!!" serunya sambil memukul lengan orang disampingnya. Elisa menoleh kesamping dan terkejut saat menyadari jika orang yang ia pukul tadi adalah suaminya sendiri. Gazza hanya diam menatap tajam kearah Elisa,membuat Elisa langsung menunduk pelan.


"sudah...sudah,ayo gabung sini." ucap ibu Tresya yang juga berada disana bersama keluarga Elisa,kecuali pasutri abstud itu tidak berada disana.


Elisa mengangguk pelan dan menghampiri ibu mertuanya. Tresya menatap menantunya,ia tidak menyangka jika sahabat Dasha menjadi bagian keluarganya sekarang.


"Elisa kami ada kelas?" tanya Tresya lagi,Elisa mengangguk. "Iya Bu."


Setelah pembicaraan itu mereka makan dengan tenang. Elisa yang sudah di siap dengan sarapannya, langsung bergegas pamit pada keluarganya.


"eh,kamu pakai apa ke kampus nak?" tanya Hans bingung menatap putrinya yang terlihat buru-buru itu.


"aku akan pakai mobil aku paa,aku berangkat yaa udah mau hampir telat nih." ucapnya langsung melenggang keluar dari rumah. Elisa baru saja hendak duduk dikursi kemudi, tiba-tiba ada tangan seseorang yang menahan pintu mobilnya.


"pindah kesebelah!" pintanya langsung,Elisa hanya diam menuruti dan mengikuti instruksi Gazza. Lagi-lagi ia penasaran dengan sikap hangat yang ditunjukkan suaminya saat ini.


"pasang seltbeltnya Elisa,bukan memandang ke arahku." gerutu Gazza membuat Elisa tersentak. Sontak gadis itu tersipu malu dengan keljauannya tadi,dan segera memasang seltbeltnya.


Selama diperjalanan hanya terdengar suara musik didalam mobil mereka,tidak ada satupun dari mereka yang membuka topik pembicaraan. Gazza mengantarkan istrinya ke kampus tepat waktu,


"terimakasih." ucap Elisa tetapi gadis itu masih berdiam diri ditempatnya membuat Gazza menoleh kearahnya.


"ada apa?" tanya Gazza bingung.


Elisa tersenyum tipis dan mengulurkan tangannya meraih tangan Gazza,tanpa seizin pemilik tangan itu ia mencium punggung tangan Gazza dan langsung bergegas keluar dari mobil sebelum pria itu mengatakan sesuatu. Ia yakin ucapan pria itu pasti akan terdengar menyakitkan baginya,dan karena itu ia berlari kecil menjauh dari mobil yang dikendarai Gazza.


Sedangkan pria itu tercengang dengan apa yang dilakukan Elisa barusan. Tindakan itu terlihat sederhana namun terkesan berbeda baginya. Gazza terus memandang tangannya lalu ia menggeleng pelan.


"cih apa yang aku pikirkan? huft...otakku sepertinya bermasalah lah." gerutunya lalu melajukan mobilnya namun saat hendak menancapkan gas ia sempat melirik kearah kampus Elisa dan tersenyum tipis tanpa ia sadari.


***


Elisa bernapas lega saat dosen killer belum memasuki kelasnya,ia juga langsung duduk disamping Dasha yang sudah berada didalam kelas.


"hei kau jangan marah-marah beb,gimana senang nggak nikah dengan orang dicintai?" godanya penasaran.


Elisa hanya senyum menanggapi adik iparnya itu,disatu sisi ia sangat senang bisa menikah dengan Gazza. Tetapi,disisi lain pria itu masih dingin walaupun perhatian dengannya. Entahlah harus seperti apa dia sekarang, Sedangkan pria itu tiba-tiba bilang jika dirinya segera pergi jauh meninggalkannya.


"hei El,kau melamun?" seru Dasha menepuk pelan bahu kakak iparnya itu. Elisa menggeleng pelan, "tidak apa-apa." elaknya lagi. Dasha hanya manggut-manggut mengerti,walaupun dirinya sedikit curiga dengan gelagat Elisa.


Apa yang sedang kau sembunyikan El?. gumamnya dalam hati.


"nanti kita jalan-jalan yok." ajak Dasha semangat. Elisa langsung mengangguk, "yoklah,kita mau ngapain?"


"cuci mata hehehehe." cengirnya.


"haais nih anak,udah ada suami ingat."


"bukan aku yang minta El,tapi dede bayinya." elak Dasha sambil mengelus perutnya.


"ngeles,kasian amat bayinya terfitnah trus padahal kau sendiri yang ngidam." gerutu Elisa langsung disambut cengiran oleh Dasha lagi.


"suka hatilah,memang benar kok dedek bayinya yang mau jalan-jalan cuci mata." elak Dasha.


"iyalah terserah bumil ajalah,aku mah apa." pasrah menghadapi bumil yang cerewet ini.


"hehehehe baik sekali aunty kita yang satu ini,semoga nyusul juga yaa." ucap Dasha riang,sedangkan Elisa langsung terdiam dan tersenyum tipis menanggapi Dasha.


"aamiin." ia pun mengaminkan saja,semoga hati suaminya terbuka dan mau memaafkannya.


"tolong revisi skripsi yang sudah saya periksa,Minggu depan saya mau semuanya sudah selesai." ucap sang dosen mengakhiri kelasnya. Elisa menghela napas begitu juga dengan Dasha. Mereka juga lumayan banyak perbaikan dalam skripsi yang mereka buat.


"tidaak aku harus bergadang ngerjainnya." gerutu Elisa memandang skirpsi ditangannya.


"tenang beb,kau nggak perlu khawatir. Kita sama kok,lagian kan masih ada waktunya seminggu. Bisalah,sambilan kita ngerjainnya." ucap Dasha menenangkan. Memang dirinya tidak terlalu mengkhawatirkan masalah skripsinya.


"jadi jalan kita?" tanya Elisa menyamakan langkahnya dengan bumil itu. Dasha berjalan sambil merogoh ranselnya mencari kunci mobilnya.


"El,kau bawa mobil kan?"


"nggak." jawab Elisa langsung,ia pun langsung merampas kunci mobil dari tangan Dasha. "biar aku yang ngendarai yaa bumil,kau duduk manis aja." sahutnya,sedangkan Dasha menggeleng pelan melihat sahabatnya.


"tumben? emang tadi kau diantar?"


Elisa tersipu malu, "iyaa diantar sama my hubby." ucapnya pelan langsung disambut heboh sama Dasha.


"what? serius?? abangku yang labil itu?? waah parah." ucapnya tak percaya.


"oh ya,syalnya udah kau kasih belum?" tanya Dasha lagi menatap Elisa yang hendak masuk kedalam mobil. Elisa terkejut menoleh kearah Dasha.


"astaga aku lupa memberikannya."





~Please Forgive Me~