Please Forgive Me

Please Forgive Me
Bab 14



Elisa menatap jam wekernya berbunyi nyaring menganggu tidurnya. Elisa mengucek matanya dan menatap malas saat melihat jam baru saja menunjukkan pukul lima subuh. Elisa turun dari kasur perlahan menuju ke kamar mandi.


"Elisa!! Elisa kamu udah bangun nak?" teriak mama dari luar. Elisa menyaut mamanya, "udah maa." sahutnya didalam.


"siap-siap yaa." seru mamanya langsung keluar dari kamar Elisa. Elisa seketika teringat jika hari ini adalah pernikahannya dengan Ergin. Sesak yang dirasakannya mulai menjalar, jauh dalam lubuk hatinya ia masih keberatan menikah dengan Ergin.


Fyuuh,aku tidak tau harus gimana lagi. gumamnya pasrah,ia pun mengambil wudhu dan sholat subuh untuk menenangkan hati dan pikirannya. Usai melaksanakan ibadahnya ia pun segera duduk disamping jendela kamarnya menghirup udara pagi yang membuatnya sedikit tenang.


"kak,aku akan menikah." lirihnya menatap langit yang mulai menunjukkan sinar matahari. Elisa memandang kosong sambil menikmati angin yang menerpa wajahnya.


"padahal aku pernah bilang,jika kau orang yang pertama melihatku dipelaminan dan tersenyum padaku. Tapi,sekarang aku tidak bisa melihat wajahmu lagi kak." lirihnya sambil menekuk kakinya.


"aku harap kau dapat melihatku dibawah sini kak,aku sayang kakak." ucapnya pelan.


Elisa menghela napas pelan, "fyuuh bismillah." ucapnya yakin. Elisa langsung bersiap diri untuk pernikahan yang akan dilaksanakan beberapa jam lagi.


***


Elisa sedikit gugup dan sedih memandang dirinya di depan cermin,tak terasa waktu berjalan cepat. Pernikahannya Kini tinggal satu jam lagi.


Elisa." panggil Dasha pelan menghampirinya,Elisa terperanjat lalu dengan cepat menunjukkan senyumnya berbalik menatap Dasha.


"Dashaa,kau sangat cantik walaupun perutmu agak menonjol." ledeknya membuat Dasha terkekeh pelan.


Haduh,sahabatku ini suka sekali menyembunyikan masalahnya. lirih Dasha dalam hati,ia begitu kasihan melihat Elisa menyembunyikan kebahagiaannya sendiri.


"hush,jangan menghina perutku yaa,ini ada jagoan didalam. Kau bisa dimarahi olehnya nanti kalau udah lahir." canda Dasha membuat Elisa sedikit terdiam.


"dia tidak mungkin memarahiku." lirihnya pelan.


"lah kenapa? kau kan tantenya,dan ini keponakanmu." tanya Dasha bingung.


Elisa menatap nanar kearah Dasha, "aku aja gagal jadi kakak iparmu Sha. Mana mungkin aku jadi tantenya." lirihnya tanpa terasa air matanya sudah membasahi pipinya.


"ya ampun bestie," lirih Dasha langsung memeluknya, "kalau kau mau menangis,nangis lah dulu. Aku ada disini nemanin." hibur Dasha sambil menepuk punggungnya pelan.


Dasha juga sedikit kecewa dengan keputusan yang dibuat Elisa yang gagal menjadi kakak iparku. Memang sedikit sih kemungkinan Elisa menikah dengan Gazza mengingat pria itu sangat dingin tak punya hati. Walaupun Dasha sering membuli abangnya yang satu itu tetapi dirinya sangat dingin dengan yang lain termasuk Elisa. Entah apa penyebabnya,tetapi firasatnya mengatakan dari sorot mata abangnya menyimpan amarah besar saat melihat Elisa.


Elisa juga membuat Dasha curiga,yang ia tau dirinya terbelenggu dengan Ergin. Tetapi,setiap melihat Gazza seperti menciut tidak berani menatap Abang tampannya itu. Semua masih semu ia lihat,dan tidak menemukan titik terang dari masalah dibalik semua ini.


"Elisa kau yakin dengan keputusan ini beb? kau harus benar-benar sadar saat ini,karena setelah semua orang sudah mengucapkan kata 'sah' itu artinya kau sudah menjadi milik orang lain." jelas Dasha menatap mata sembab Elisa.


Elisa menggeleng pelan, "tidak Sha,aku akan tetap menikah dengan Ergin walaupun mungkin aku tidak menyukainya. Tapi, perlahan-lahan aku akan mencintainya kok,tenang saja." ucapnya sambil tersenyum tipis kearah Dasha.


"kau jangan menunjukkan senyum palsu itu padaku El,aku sangat sedih melihatmu menahan semua ini. Kau tidak mau bercerita denganku soal dirimu,bahkan tentang kakakmu itu aku tau dari Ergin yang tidak punya hati merekam semua kejadian itu. El,aku bukan menghasutmu tetapi ingat,pernikahan ini bukan main-main. Kau harus siap lahir dan batin,tanyakan pada hatimu kau memang mau bersedia menikah dengan Ergin yang jelas-jelas tau tentang kecelakaan itu??" tanya Dasha berusaha menyakinkan sahabatku itu dengan keputusannya.


Maafkan aku Tante,tapi aku tidak bisa melihat sahabatku tidak bahagia dengan pernikahannya. gumam Dasha lagi dalam hati. Ia begitu kasihan melihat sahabatnya itu.


Elisa menarik napasnya pelan, "siap tak siap aku akan tetap menikah juga dengan Ergin kan? jadi kabur pun aku tidak ada gunanya." pasrahnya lagi. Dasha sekali lagi memeluknya sambil menguatkan gadis itu.


"oh tidak pengantin kita riasannya sedikit pudar,kita harus merapikannya!" celoteh Dasha membuat Elisa tertawa pelan. Elisa pun membiarkan Dasha memperbaiki riasan wajahnya.


Setelah siap seperti semula,Elisa membalik menatap cermin. "fyuuh,bismillah bisa." ucapnya menyakinkan dirinya.


"semoga kau selalu bahagia teman,selamat kau sudah melepaskan masa mudamu hari ini." ledek Dasha disambut cubitan gemas oleh Elisa.


"ih kau itu," lalu ia melirik kearah perut Dasha, "walaupun kita bukan satu keluarga,kamu tetap keponakanku yaa. Jangan lupa kabarin kalau udah lahir." ucapnya pada perut Dasha membuat ia terkekeh geli.


"siap?" tanyanya menatap Elisa,Elisa mengangguk pelan sambil menarik napas.


"fyuuuh siap." ucapnya mantap. Dasha dan Elisa menunggu di kamar sambil menunggu ijab Qabulnya selesai,mereka terkejut saat sudah mendengar ucapan 'sah' dari semua orang dilantai bawah. Seketika Elisa gugup memegang tangan Dasha, "a-aku sudah menikah yaa Sha?" tanyanya tetapi rautnya terlihat sedih.


Dasha mengangguk pelan, "ayo pengantin baru,kita temui suamimu." ucapnya membimbing Elisa menuruni anak tangga satu persatu. Banyak yang takjub dengan kecantikan mereka berdua. Dasha melihat Zayyan berada dibelakang tempat duduk pengantin pria.


Elisa hanya berwajah datar saat semua orang memberikan selamat padanya, entah seperti apa perasaannya saat ini. Seorang Elisa sekarang sudah menjadi istri dari pria lain. Elisa hanya menghela napas pasrah,lalu ia melirik kearah kedua orang tuanya. Namun,ia sedikit curiga menangkap wajah mama dan papanya terlihat sedih. Bukan sedih karena dirinya menikah tetapi sedih karena perihal lain. Elisa juga melirik sekilas kearah seluruh tamu undangan yang datang ke pernikahannya,yang membuatnya heran,ia tidak menemukan mertuanya disini.


Dasha pun mendudukkan Elisa tepat disamping pengantin pria,suaminya Elisa. Dasha tampak menyerngit bingung menatap suaminya dan mendekati suaminya perlahan.


Zayyan menarik tangan Dasha dengan cepat, "kau capek sayang?" tanyanya khawatir melihat raut wajah Dasha berkerut.


"tidak,tapi aku bingung,kenapa kau bisa dekat dengan Ergin?" tanya Dasha sambil berbisik pada suaminya.


Zayyan mengangguk mengerti,lalu menepuk pundak pengantin pria itu, "Gazza,istrimu ada disebelahmu." ucap Zayyan membuat Elisa dan Dasha terkejut dan menoleh kearah pria yang sedari tadi diam menunduk. Elisa yang tadi hanya diam menunduk langsung mendongak kesamping dan terkejut saat mengetahui pria itu adalah Gazza.


Deg. jantung Elisa serasa mau keluar dari tempatnya,saat mendengar fakta mengejutkan yang baru saja terjadi padanya dirinya. Disaat dirinya sudah mengikhlaskan dan pasrah untuk menikah dengan Ergin justru dirinya sekarang malah menikah dengan orang yang ia cintai.


Apa yang sebenarnya terjadi?? gumamnya pelan masih dengan raut terkejutnya sedangakan Gazza diam-diam tersenyum smirk karena rencana yang dilakukannya berhasil.


Zayyan melirik dari jauh memandang pasangan suami istri yang baru saja menikah itu,menghela napas menggeleng kepalanya tidak percaya mengingat rencana sahabatnya itu berhasil.


Sial,kau sudah gila Gazza. umpatnya dalam hati. Ia pun melirik kearah istrinya begitu bahagia melihat kedua pasangan itu sambil memakan eskrim ditangannya.


"kau tersenyum." ucap Zayyan melihat raut wajah berseri-seri yang ditunjukkan Dasha,Dasha pun terkekeh pelan menatap suaminya.


"aku bahagia." serunya sambil menyunggingkan senyum cerahnya. Tetapi dalam hatinya sedikit menjanggal dengan pernikahan yang berlangsung mendadak itu.


Semoga kau mencintai Elisa bang. harapnya dalam hati mengingat jika abangnya ini begitu membenci Elisa yang kini menjadi kakak iparnya.





~ Please Forgive Me~