
Deg.
Napas Elisa berhenti sejenak,satu kata yang terlontar dari Gazza tadi membuat Elisa lupa bernapas sejenak.
"Elisa tarik napas pelan-pelan." seru pria itu. Elisa mengikuti instruksi Gazza. Perlahan-lahan Elisa mulai tenang dan bisa bernapas kembali,Gazza pun menghela napas lega.
Tetap saja Elisa masih gugup,memang ia sudah bisa bernapas normal kembali namun saat ini posisinya sangatlah membuat jantung tidak berdetak normal. Wajah Gazza sangat dekatnya. Elisa juga tidak bisa berpindah karena tempat persembunyian mereka sangatlah sempit.
Ya ampun,bisa pingsan lama-lama aku disini. gerutu Elisa dalam hati.
Gazza celingak-celinguk memastikan keadaan sekitarnya aman tanpa menyadari jika posisi mereka sangat berdekatan. Setelah merasa aman,barulah ia menolehkan wajahnya kearah istrinya.
Deg.
Tatapan mereka bertemu, beberapa detik kemudian Elisa langsung memalingkan wajahnya dan berjalan lebih dahulu pergi dari tempat persembunyian mereka. Gazza langsung menyusul Elisa dan menggenggam tangan istrinya.
Elisa sempat menepis tangan Gazza namun suaminya itu kembali menggenggam tangannya erat lagi. "biarkan kaya gini El,kau harus dekat denganku atau kejadian tadi terulang lagi." tegas Gazza tidak ingin dibantah. Elisa hanya pasrah saja dan membiarkan tangannya digenggam suaminya itu.
Hangat. gumamnya senang dalam hati. Ia tidak akan melupakan hal ini. Namun dahi Elisa mengerut lantaran Gazza membawanya ke sebuah warung pedagang kaki lima yang tak jauh dari tempat mereka tadi.
Tanpa berkata sedikitpun Elisa hanya pasrah mengikuti Gazza sampai mereka duduk ditempat makan itu.
"kau mau pesan apa?" tanya Gazza melirik menu makanan yang disediakan oleh pedagang kaki lima.
"terserah saja." jawab Elisa singkat. Gazza mengangguk dan memesan pesanan mereka. Sambil menunggu pesanan mereka datang,Gazza sesekali melirik kearah istrinya yang tengah melirik kearah lain.
Kenapa aku baru sadar jika dirinya cantik? gumam Gazza dalam hati sambil tersenyum tipis. Lalu pandangannya buyar lantaran seseorang merusak momen mereka melambaikan tangannya kearah istrinya.
"eh kita ketemu lagi Elisa." sapa Jay tanpa berdosa menyapa Elisa. Gazza mengumpat kesal melihat kedatangannya dan duduk disamping Elisa tanpa permisi.
"Ngapain kau disini?" tanya Gazza tidak ramah. Sedangkan Jay tidak memperdulikan Gazza,ia asyik melirik kearah Elisa yang hanya diam mengacuhkan mereka berdua.
"oh apa kau lupa kalau kita kemarin udah janji mau nonton bioskop El?" tanya Jay membuka topik, Elisa menoleh kearah Jay.
"kapan aku ada janji?" tanya Elisa bingung.
"itu...masa kau lupa,kau kan udah janji mau pergi malam Minggu ini." seru Jay lagi.
"dia tidak akan pergi kesana." ketus Gazza memotong pembicaraan mereka. Ia begitu kesal dan ingin rasanya menendang Jay dari tempat istrinya.
Elis tampak berpikir sejenak lalu mengangguk. "ya sudah,kita nanti ketemu di bioskop." jawab Elisa sontak membuat Gazza terkejut menoleh kearahnya sedangkan Jay langsung tersenyum penuh kemenangan.
"Elisa,kau tidak bisa pergi tanpa izin ku." ucap Gazza penuh tekanan memandang tajam kearah istrinya.
Elisa menghela napas pelan, "aku hanya memenuhi janji yang pernah aku buat dengannya,lagian waktu itu kau tidak ada kan." jawab Elisa sekaligus menyindir Gazza.
"kau dengar kan? lagian janji tetaplah janji. Sebafia seorang teman tidak boleh mengingkari janji." ucap Jay sok bijak memandang remeh kearah Gazza yang sedang menahan emosinya saat ini.
Tidak ada pembicaraan lagi kecuali Jay yang sibuk membicarakan hal-hal yang menurutnya penting tetapi tidak dengan Gazza. Sedangkan Elisa hanya sesekali manggut-manggut pelan menanggapi cerita Jay,setidaknya gadis itu tidak bosan dan canggung berdiam diri hanya berdua dengan Gazza.
Gazza terus-terusan menghela napas pelan sambil mengontrol emosinya yang hampir membeludak. Namun,pandangannya teralih kearah ponselnya yang bergetar menandakan telepon dari seseorang. Mau tidak mau Gazza harus mengangkat telepon itu.
"hallo." ucapnya lalu ia menyergit pelan setelah mendengar penelpon dari seberang sana. Elisa menoleh kearah Gazza saat mendengar pria itu menggunakan berbicara bahasa Inggris dengan seseorang diseberang sana. Bisa ia tebak jika si penelpon itu mungkin salah satu teman Gazza yang ada di Kanada.
Jay tersenyum miring saat Elisa tampak menyimak pembicaraan Gazza yang sedang menelpon itu.
Bagaimana kau bisa menyukai pria brengsek ini El?. gumam Jay dalam hati. Rasa cemburunya mulai timbul,seandainya Elisa bukan istrinya pria didepannya itu mungkin sudah lama ia jadikan istrinya. Tetapi sekarang bisa dibilang antara terlambat atau tidak untuk mendapatkan hati gadis itu,semua tergantung gadis disampingnya ini memutuskan pilihannya.
Cukup lama Gazza berbincang pada penelpon itu,Elisa sesekali mendengar percakapan mereka. Tampak percakapan suaminya dengan penelpon itu tidak bersahabat. Elisa sempat terkejut saat mengetahui Gazza rela melepaskan studinya yang ada di sana.
Apa yang sebenarnya dipikirkan kak Gazza? bukannya itu kampus impiannya? lalu kenapa dengan mudah ia melepaskan studinya? gumam Elisa penuh tanda tanya didalam kepalanya. Bahkan makanan didepannya ini tampak tidak membuatnya berselera makan walaupun dirinya belum makan seharian ini.
"kau tidak makan El?" tanya Jay menatap makanan Elisa belum menyentuh makanannya. Elisa menggeleng pelan, "udah kenyang." jawab gadis itu malah mendapatkan tatapan tajam dari suaminya.
"Elisa kau belum makan seharian,aku tau kau lapar,makan." ucapnya tegas masih meletakkan ponselnya ditelinganya. Elisa menghela napas lagi,dengan gondok ia memasukkan sesuap demi sesuap nasi goreng kedalam mulutnya. Mengunyah dengan kesal untuk menunjukkan aksi protesnya pada suaminya yang menyebalkan itu.
Jay terkekeh pelan, "aku sudah selesai dengan makananku, terimakasih sudah mentraktirku." ucapnya ringan tanpa merasa bersalah. Sudahlah duduk tanpa permisi dan sekarang makan tanpa membayar,wah pria macam apa dia?!
Sialan,sejak kapan aku mentraktir mu makan bodoh?! tapi ya sudahlah,akhirnya kau sadar diri pergi dari sini dan tidak mengganggu kami lagi akan kutratir kau kali ini. gerutu Gazza dalam hati.
aku tau kau pasti senang kan pria brengsek?! umpat Jay pelan. Pria itu langsung beranjak dari tempatnya setelah berpamitan dengan Elisa. Sementara pasangan suami istri itu lanjut menikmati makanannya.
Baik Gazza maupun Elisa hanya diam. Gazza mengendarai mobilnya sedangkan Elisa duduk diam melirik lalu lalang tempat yang mereka lewati. Lagi-lagi Elisa menyergit heran saat mobil yang dinaikinya tiba-tiba berhenti di depan apotek. Ia menoleh kearah suaminya.
"kenapa kita kesini?" tanya Elisa. Gazza melepaskan seltbeltnya dan mengambil dompetnya.
"aku mau beli inhalermu yang banyak,supaya kalau asmamu kambuh kau tidak kesusahan lagi mencarinya." ucap Gazza pelan.
"aku tidak mau." ketus Elisa membuat Gazza yang hendak keluar menyergit heran kearah istrinya.
"kenapa?"
"kau ingin membeli banyak supaya kau bisa tenang balik kenada kan?!" tanyanya ketus menatap tajam kearah Gazza.
"hah? maksudnya?"
•
•
•
~Please Forgive Me~