Please Forgive Me

Please Forgive Me
Bab 37



Elisa tidak percaya saat ini,ia masih belum percaya jika semua ini hanyalah mimpi.


"dimana suamiku?"


Zayyan tampak enggan menjawab pertanyaan itu,dirinya bahkan memalingkan wajah menghindari tatapan Elisa.


"kak,dimana suamiku?" tanya Elisa lagi. Zayyan menghela napas pelan,lalu menatap kearah Elisa. "Dasha yang akan jawab,lebih baik kau istirahat dulu El." ucapnya lebih memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Elisa. Ia pun segera pergi meninggalkan ruangan Elisa. Elisa sejenak terdiam,ia bingung dan tidak tau harus bereskpresi seperti apa sekarang?


Susah payah ia berjuang untuk mendapatkan cinta suaminya,ternyata hanyalah sebuah bunga tidur selama dirinya koma. Ia bahkan tidak ingat jika dirinya mengalami kecelakaan itu. Apakah suaminya tau?


Elisa sibuk berkutat dengan pikirannya,lalu pandangannya teralihkan melihat seorang wanita tergesa-gesa menghampirinya.


"Elisaaa." ucapnya menahan tangis. Ia pun langsung memeluk Elisa. Elisa tersenyum tipis membalas pelukan sahabatnya. "akhirnya kau bangun juga El." lirihnya pelan.


"Dasha." panggil Elisa membuat Dasha melepaskan melonggarkan pelukannya, ia menatap lekat kearah sahabatnya itu. "apa kau masih merasa sakit? yang bagian mana El? atau perlu aku panggilan bang Zayyan sekarang?" tanyanya beruntun dengan ekspresi khawatir.


Elisa menggeleng, "dimana suamiku Sha?"


Deg. Dasha terdiam sejenak,ia sudah tau Elisa akan melontarkan pertanyaan ini padanya. Tadi sebelum masuk suaminya itu sudah bilang padanya,jika sahabatnya itu sedang mencari suaminya. Ia tidak tega mengatakan pada Elisa yang sebenarnya,seketika dirinya dilema.


"kenapa kau diam Sha? apa kau tau dimana suamiku?" tanya Elisa sedikit mendesak. Ia sangat penasaran dengan keberadaan suaminya.


Dasha menatap ragu kearah Elisa,lalu sejenak menghela napas pelan. "sudah dua tahun,kami lost contact dengan bang Gazza. Tidak ada satupun yang tau keberadaan Abang saat ini." lirihnya menjelaskan fakta yang pastinya membuat sahabat sekaligus kakak iparnya itu sedih.


Elisa tersenyum miris,sebenarnya ia akan tau hal ini terjadi. Tetapi dirinya juga tidak bisa memendam rasa kecewa yang selama ini ia tutupi. Air matanya lolos membasahi pipinya,apa tidak boleh dirinya bahagia? Apa perlu ia tetap koma dan terus terjebak dalam mimpi semu yang indah itu?


"Elisa kau baik-baik saja? tolong jangan pikirkan dulu bang Gazza,yang penting sekarang kesehatanmu dulu yang diprioritaskan El. Aku tidak mau terjadi hal buruk lagi padamu." lirih Dasha menggigil memegang tangan Elisa. Elisa menoleh kearah sahabatnya menggenggam tangan sahabatnya.


"baiklah." ucap Elisa ringan. Setidaknya ia harus sehat dulu karena niatnya akan mencari suaminya itu. Lalu matanya tidak sengaja melirik kearah perut Dasha,yang tampak datar itu. Setahu Elisa,terakhir ia lihat perut sahabatnya sedikit buncit,apa mungkin sahabatnya sudah melahirkan?


"hmm Sha,kau sudah melahirkan?" tanya Elisa sedikit ragu-ragu. Dasha tersenyum lebar pada sahabatnya itu, "iyaa,kau harus cepat-cepat sembuh biar bisa nemuin Edward nanti." seru Dasha.


"wah namanya bagus sekali." gumam Elisa turut senang. Dasha tersenyum tipis pada Elisa, "ya sudah kau istirahat dulu,Karna kau akan menjalani terapi nanti."


"iyaa doain aku biar segera keluar dari sini."


"aamiin." tepat setelah Dasha mengamini doa sahabatnya, tiba-tiba pintu terbuka menampakkan kedua orang tua Elisa dengan raut cemas. Elisa tersenyum tipis pada mereka. Dasha pun pamit undur diri membiarkan keluarga itu saling melepaskan rindu.


"terimakasih Dasha." ucap mama tulus, "sama-sama maa. Kalau gitu Dasha keluar dulu ya." ucapnya undur diri. Setelah Dasha keluar,barulah mereka saling menatap satu sama lain.


"akhirnya kamu sadar juga nak." lirih mama memegang tangan Elisa yang sedikit terlihat tirus. Elisa menggenggam tangan mamanya, "mama jangan nangis dong."


"gimana mama mau nggak nangis?? Kamu tau saat dengar kamu kecelakaan,membuat mana syok. Mama nggak nyangka kamu ada disini bukannya ikut pergi bersama suami kurang ajarmu itu!!" ketus mama tidak suka menyebutkan nama suaminya. Elisa dapat paham,jika mamanya marah besar pada Gazza terhadap apa yang dilakukan pria itu padanya.


"trus kamu mau jadi istri seperti janda hah? suami kamu aja ninggalin kamu disini,udah dua tahun Elisa. Apa kamu sudah gila?" ucap papa menggebu-gebu. mama Teresa langsung berusaha menenangkan emosi suaminya itu, "paa jangan marah-marah dulu,biarkan Elisa sembuh. Jangan bahas ini dulu lah." bisik Teresa membuat suaminya menghela napas pelan.


Elisa sedari tadi hanya bisa menangis,dirinya tidak ingin bercerai dengan suaminya, biarlah dianggap bodoh,tetapi dirinya ingin mencari suaminya itu. Entah dimana pun dia,Elisa harus menemukan pria yang sudah membuatnya terjalin dalam hubungan sakral ini.


***


Elisa kini menjalani terapi fisiknya. Tubuhnya masih kaku lantaran hanya berbaring selama dua tahun. Ia berusaha berjalan tertatih-tatih walaupun sambil memegang pegangan.


"semangat El." seru seseorang membuat Elisa menyerngit bingung dan menoleh kebelakang, "Jay?" seru gadis itu menatap pria yang sedang tersenyum lebar padanya.


"akhirnya kau sadar juga." ucapnya mensejajarkan langkahnya pada Elisa. Elisa hanya diam dan fokus menjalani terapinya saat ini.


"kau tau,aku begitu ketakutan saat melihatmu bersimbah darah saat itu. Aku gagal menyelamatkanmu waktu itu." lirihnya mengingat dua tahun saat Elisa dan Jay ingin menyebrang menuju kampus. Tetapi, tiba-tiba ada mobil yang melaju kencang yang membuat Elisa tertabrak dan Jay terlambat berlari kearah Elisa. Walaupun sudah operasi,tetapi kondisi Elisa masih kritis dan dinyatakan koma.


"kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri Jay,itu aku yang salah karena tidak hati-hati."


"tetap saja aku yang salah El,kalau saja aku cepat menyelamatkanmu waktu itu,mungkin kau tidak akan terbaring lama disini."


Elisa sedikit termenung setelah mendengar ucapan Jay,dirinya kembali mengingat bunga tidur yang indah selama ia koma. Sangking terlihat nyata,bagaimana suaminya itu sangat mencintainya, menatapnya penuh kasih sayang. Namun,semua itu hanya mimpi semu yang sepertinya ia ciptakan sendiri dalam imajinasinya.


Miris sekali nasibmu Elisa.


"Elisa." panggil Jay membuat Elisa tersentak dari lamunannya. Jay sedikit prihatin dengan kondisi gadis itu, "kau melamun?" tanyanya,sedangkan Elisa menggeleng pelan.


"aku ingin istirahat." ucapnya menyudahi terapi yang ia jalani,dan meminta bantuan perawat yang ada disana untuk memapahnya masuk kedalam ruangannya. Sedangkan Jay hanya terdiam menatap punggung gadis itu yang kian makin menjauh dengan tatapan yang susah diartikan.


Elisa duduk sejenak dikasur pasiennya, "nyonya Elisa,ini makan siang anda dan jangan lupa minum obat sesudah makan ya." ucap perawat itu pelan, setelah melakukan tugasnya barulah ia pamit mengundurkan diri dari ruangan Elisa.


Elisa sebenarnya tidak berselera makan,namun ia teringat harus segera cepat-cepat keluar dari sini. "aku harus sembuh,aku harus mencari suamiku cepat." gumamnya dengan semangat. Selama ia makan disaat itulah ia berpikir mencari cara agar bisa menemukan Gazza. Apa mungkin suaminya pergi ke Kanada? kenapa ia tidak ingat perkataan suaminya waktu sebelum meninggalkannya di apartemen waktu itu? apa mimpinya bisa sebagai petunjuk?


"aku harus cari tau!"





~Please Forgive Me~