
Gazza menyerngit bingung menatap istrinya yang sedang mengemudikan mobil menuju suatu tempat
Setiap ia bertanya gadis itu selalu menjawab lihat saja nanti. Ia pun pasrah dan membiarkan gadis itu melakukan sesukanya.
Tanpa terasa matanya mulai mengantuk menikmati perjalanan yang terlihat cukup jauh membuatnya tertidur pulas. Elisa tersenyum menatap suaminya yang sudah terlelap dan sedikit menurunkan sandaran kursi menggunakan tombol otomatis disebelahnya.
"ya ampun kak,kau sangat lucu sekali." serunya lalu fokus mengemudikan mobilnya. Setelah satu jam menempuh perjalanan itu,akhirnya mereka tiba disuatu tempat.
Elisa melepaskan seltbeltnya dan menatap suaminya, "kak,bangun." serunya membangunkan pria itu. Merasa terusik tidur pria itu,akhirnya ia membuka mata melirik sekitar mereka. Ia pun mengucek matanya pelan. "kita ada dimana?" tanyanya dengan suara seraknya.
"lihat." seru Elisa menunjuk kearah rumah pohon disana. Gazza menyerngit menoleh kearah Elisa. "kenapa dengan rumah pohon itu?"
Elisa tersenyum tipis,"itu adalah rumah pohon kami kak,banyak kenangan disana." lirihnya pelan lalu melenggang keluar berjalan menuju rumah pohon itu.
"sejak kapan kalian ada rumah pohon ini?" tanya Gazza berjalan dibelakangnya.
Elisa memejamkan mata menikmati udara yang menerpa wajahnya,lalu berbalik badan menatap suaminya. "sudah lama,dan hanya kami berdua yang tau kak." serunya menaiki tangga.
Sudah lama ia tidak mengunjungi rumah pohon kesayangannya,rumah dimana tempat pelarian ketika mereka mengalami masalah. Elisa membuka pintu rumah itu perlahan dan memandang sekelilingnya.
Lusuh dan banyak berdebu,tetapi barang mereka masih tetap utuh ditempatnya. Elisa menyentuh bingkai foto. Diusap secara perlahan foto imut itu DNA menggenggamnya erat.
Elisa tersenyum tipis menatap wajah sang kakak tersenyum lebar sambil merangkulnya. Gazza berjalan mendekati istrinya dan memeluk dari belakang. Elisa terkejut dengan tindakan Gazza yang begitu tiba-tiba.
"biarkan seperti ini El." lirihnya semakin memeluk Elisa erat. Seolah-olah tidak ingin melepaskan gadis yang sudah berhasil mencuri hatinya.
Elisa terkekeh pelan,mengelus tangan kekar yang kini merengkuh tubuhnya. "kau akhir-akhir ini sangat manja kak." serunya.
Yup,suami ghostingnya itu akhir-akhir ini sangat manja dengannya. Setiap malam,pria itu selalu memeluk Elisa layaknya bantal guling. Setiap Elisa hendak membuang air kecil tengah malam,pasti Gazza terbangun dan mencarinya panik. Bahkan mertuanya heran melihat tingkah suaminya yang sangat berubah 180 derajat.
Mata Elisa menyipit saat melihat sesuatu dibalik kotak diatas meja. Ia pun menggeser kotak itu dan menemukan flashdisk disana.
"eh ini punya siapa?" tanya Elisa memegang benda kecil itu. Gazza pun ikut penasaran dengan benda yang ada ditangan istrinya.
Saat Elisa membalikkan flashdisk,ia tertegun saat melihat tulisan yang tertempel di flashdisk itu.
Untuk Elisa tersayang.
Deg. Flashdisk milik kakaknya,Gazza pun hanya diam menatap flashdisk itu dengan tatapan yang susah diartikan.
"kau ingin melihat isinya?" tanya Gazza langsung dianggukan semangat oleh Elisa. Gazza tersenyum simpul sambil mengacak rambut istrinya. "ayok kita pulang." ajaknya sambil menggandeng tangan Elisa.
***
Usai makan malam,Elisa dan Gazza langsung buru-buru masuk kedalam kamar membuat penghuni rumah menatap heran pada mereka.
"mereka kenapa buru-buru sekali?" tanya Dasha menatap heran melihat kekompakan keduanya.
Zayyan mengedik bahu,ia lebih menikmati makanan dihadapannya. "paling buat anak." ucapnya tanpa saring.
Plaaak.
"Edward belum paham,mana dia tau." serunya membuat Dasha semakin gemas ingin menendang suaminya keluar. Pria tampan berkedok culun itu kini sangat berbeda. Mengingat pertemuannya dulu membuatnya tertawa kecil.
"kau sudah gila sayang?" tanya Zayyan menatap heran kearah istrinya. Dasha mendadak memasang raut datar dan menggedong Edward.
"tidur diluar!" titah ibu satu anak itu melenggang menaiki tangga tanpa menoleh suaminya merengek dimeja makan.
Sedangkan pasangan yang lainnya, Elisa dan Gazza langsung menghidupkan laptop dan mengambil hedset lalu telungkup dikasur. Elisa memasang flashdisk milik kakaknya dan membuka file didalam sana.
Mereka berdua tertegun melihat beberapa video yang muncul disana. Elisa memutar salah satunya.
"Hai Elisa sayang,kalau kamu menemukan flashdisk ini itu artinya kakak sudah tidak ada lagi didunia." seru Almira tersenyum tipis mengarahkan wajahnya pada kameranya.
"kamu tau ini tempat apa? Yap,ini adalah rumah pohon kita,suka cita semuanya ada disini. Kenangan kita berdua." serunya merekam seluruh isi rumah pohon itu.
"huft,aku hidup didunia saja sudah bersyukur El. Apalagi memiliki adik secantik dirimu,itu sebuah anugerah buatku sebagai kakak." serunya lagi sambil memegang foto kecil Elisa.
"kamu begitu menggemaskan." pekik Almira senang. Ia mengambil beberapa lembar foto yang diyakini semua itu miliknya dan Elisa.
"oh yaa,kau ingat Gazza bukan? yang sering aku ceritakan waktu itu,tapi kau sama sekali belum melihat wajahnya. Apa kau tau? dia adalah pria yang sangat baik dan tampan,aku beruntung bertemu dengannya,beruntung mencintainya." Ungkap Almira.
Senyum lebar diwajah Almira tadi perlahan melengkung kebawah. Seolah-olah gadis itu tampak menyembunyikan sesuatu.
"Elisa,aku ingin mengatakan sesuatu padamu dan berjanji padaku,kau tidak akan sedih setelah apa yang aku ucapkan saat ini." ucap Almira pelan menatap ragu kearah kameranya.
Almira menarik napas, bibirnya terasa bergetar."aku leukimia El,mama sama papa tidak mengetahui hal itu. Aku sengaja menyembunyikan hal itu dari mereka agar tidak mengkhawatirkanku dan malah mengabaikanmu nantinya."
Air mata Almira lolos membasahi pipi tembamnya, "aku juga baru-baru ini mengetahui setelah mimisan. Aku memang sudah curiga ada sesuatu didalam diriku dan yaa setelah cek ke dokter aku dinyatakan leukimia dan umurku tidak lama lagi."
"ah,rasanya dunia waktu mendengar tentang penyakitku seolah-olah sendu,aku bahkan tidak bisa berekspresi seperti apa saat itu,stadium empat dan aku baru mengetahui penyakitku. Rambutku mulai rontok saat itu,dan terpaksa aku menggunakan wig agar kau tidak curiga El dan memakai lipstik biar tidak keliatan pucat."
"Karna aku tau usiaku tak lama lagi El,aku mau minta sesuatu darimu." ucap Almira sambil mengusap air matanya.
"aku mencintai Gazza,dan aku ingin kau yang menggantikan posisiku nantinya. Karena aku sangat menyayangi kalian berdua,mama sama papa juga."
"Aku berharap kalian berjodoh,jika memang iyaa aku adalah orang yang paling bahagia. Setidaknya Adel kesayanganku bersama orang yang akan selalu melindungi dan menjaganya sampai maut memisahkan."
"Gazza,kalau kamu memang benar menikahi adikku,tolong jaga dia untukku yaa. Kamu pria yang baik,aku berterimakasih karena kau mencintaiku dengan tulus. Aku dapat merasakan cinta tulus itu." lirihnya sesunggukan.
"ah..iyaa untuk mama sama papa,tolong jangan terpukul dengan kepergianku nanti. Aku tidak ingin kalian bersedih,jangan salahkan Elisa karena kalian lebih memperhatikan dia dibandingkan aku. Aku menyayangi kalian semua." ucapnya lagi.
"ah sepertinya baterai kameraku mulai habis,mungkin memang itu aja yang mau aku sampaikan. Sudah yaa Almira Qamela sangat menyayangi kalian semua. Please forgive me,all." serunya menunjukkan senyum indah didepan kamera dan videonya berhenti tepat diwajah senyum indahnya itu.
Elisa yang melihat itu langsung menangis sesunggukan begitu juga dengan Gazza. Tidak menyangka jika Almira mengalami hal seberat ini dan ia menahan beban itu sendirian.
"Al maafkan aku." lirih Gazza membenamkan wajahnya dibantal,ia menangis kuat melepaskan rasa sesak didadanya.
Elisa meringkuk meluapkan semua rasa sesak didadanya. Malam itu,mereka menangis sesunggukan berdua mengingat sosok perempuan berhati malaikat yang membuat mereka bersatu. Masa lalu yang mereka lalui begitu kelam,dan menyesal karena tidak bisa memberikan kesan yang baik untuk Almira.
~Please Forgive Me~