
Gazza menginjakkan kakinya pertama kali di Kanada,ia pun menyeret kopernya menuju tempat yang sudah ia persiapkan sebelumnya. Kanada,tempat yang ingin ia kunjungi dari dulu saat bersama Almira. Memang mereka dulu berharap bisa mengunjungi negara daun maple yang indah ini. Tetapi,itu semua kembali lagi menjadi angan-angan semata. Gadis itu sudah tidak ada lagi di dunia ini.
"bodoh." kesalnya saat teringat kembali kejadian itu. Ia pun akhirnya sampai di apartemennya miliknya. Perasaan Gazza saat itu tiba-tiba berkecamuk tanpa sadar ia menutup pintunya dengan keras.
Braak.
"aku benci suasana ini." ucapnya dingin sambil melempar kopernya asal lalu berjalan ke dapur. Guna untuk meredahkan rasa gelisahnya,ia pun meneguk kandas air mineral didalam kulkas itu.
Ia pun memandang kearah jendela dan menampakkan kota Toronto dengan gedung-gedung yang menjulang tinggi. Gazza hanya termenung,terbesit dihatinya merasa menyesal meninggalkan istrinya.
"istri? huh aku sudah gila berani menikah dengannya." ucapnya pelan,Gazza langsung menyambar handuk dan segera membersihkan dirinya. Usai dirinya mandi,ia pun segera mengambil koper yang ia lempar asal tadi diluar kamar. Gazza langsung meletakkan koper diatas kasur dan membukanya. Ia sempat tertegun saat membuka koper yang pertama ia lihat adalah syal merah. Diatas syal itu terdapat surat kecil,Gazza pun membuka surat itu.
To : My Hubby
...Selamat Ulang Tahun kak, walaupun udah lewat dua bulan yang lalu. Aku membuat syal ini untuk hadiahmu,semoga kau suka. Aku juga meminta maaf,tolong maafkan aku atas kesalahan kejadian itu. Aku merasa sangat menyesal kak....
^^^From : Your Wife^^^
Gazza menarik napas pelan, memandang kartu kecil yang dibuat istrinya itu. Ia memegang syal itu dan membentangnya, "jahitannya tidak rapi,ternyata dia membuatnya sendiri." ucapnya memandang syal merah itu. Seketika dirinya teringat dengan kejadian dimana ia merobek syal itu tanpa perasaan didepan Elisa.
Gazza termenung dan ada sedikit terbesit dihatinya perasaan bersalah. "sudah berapa kali kubilang,kalau permintaan maafmu tidak membuat Almira kembali." lirihnya lagi lalu ia melempar asal syal merah itu. Ia pun membantingkan dirinya ke kasur menatap langit kamarnya.
ck,sial. umpatnya langsung menyambar kasar syal yang tadi ia buang tadi. Ia pun menggenggam syal itu dengan raut yang tak bisa diartikan.
"huft,anak itu buat pikiran ku kacau." gerutunya,daripada ia tidak karuan di apartemennya. Gazza memutuskan keluar untuk menghirup udara segar sejenak.
***
Elisa menghela napas pelan memandang apartemen yang terlihat mewah tetapi terasa kosong. Ia merasa kesepian disini,Elisa pun beranjak dari kasurnya mengambil ponselnya diatas meja riasnya.
"huft,apa dia sudah sampai disana?" gumamnya memandang ponselnya. Ia seperti orang bodoh yang menunggu kabar dari suaminya yang jelas sangat membenci dirinya. Tak ingin kembali larut dalam kesedihan,Elisa mencari kegiatan lain untuk mengalihkan kesedihannya.
"astaga." ia terkejut saat melihat nomor Dasha terpampang jelas diponselnya. Ia bingung harus mengatakan alasan yang bagus untuk Dasha. Sahabatnya itu tidak boleh tau dirinya ada disini.
"yaa hallo?" apanya mengangkat telepon itu. Elisa membesarkan volume televisinya supaya suara Dasha tidak terlalu dengar.
"haloo Elisa,kenapa ditempatmu ribut sekali?" tanya Dasha bingung.
"apa??"
"ck,tempatmu sangat berisik El,kalian ada dimana sih?" tanyanya jengah harus berulangkali mengulangi perkataannya.
"aku kesusahan mendengarmu Sha,nanti aja kita telponnya lagi yaa,bye." ucap Elisa langsung memutuskan teleponnya.
Maaf Sha. lirihnya pelan,ia pun mengambil sereal dan menuangkan susu kedalamnya. Ia pun duduk disofa sambil mencari tayangan yang seru di televisi.
"hmm setidaknya aku bisa meetime lah." gumamnya lagi. Tidak buruk juga,ia tinggal sendirian disini. Malah terasa ada kebebasan yang dirasakannya.
Elisa tersenyum tipis,timbul idenya untuk berkeliling hal yang disukainya. Dengan semangat ia menghabiskan serealnya dan bergegas ke kamarnya.
"hmm apa aku pakai baju rumah aja? lagian cuma mau ke supermarket doang." gumamnya menatap dirinya di cermin.
"ah,masa bodoh lah diliat orang." ucapnya lagi,ia pun mengambil beberapa lembar uangnya dan tak lupa ia memakai jaket hitam kesayangannya. Untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan,Elisa memakai masker.
"yuhuu skuyy pergi!" serunya menyambar topinya. Ianpun bersenandung riang keluar dari apartemen. Sangking semangatnya,Elisa tidak melihat seseorang didepannya.
bruuk.
"aduh." gerutunya memegang pangkal hidung mancungnya,lalu ia mendongak kearah seseorang didepannya.
"maaf,saya tidak sengaja." ucapnya pelan lalu mendahului pria itu. Pria tadi berbalik dan menatap punggung Elisa yang kian mulai menjauh, lalu kembali melanjutkan perjalanannya menuju apartemen miliknya.
"apa kau bisa minggir?" tanyanya sedikit ketus,belum Elisa menjawab pria itu langsung menyenggol Elisa dan mengambil minumannya. Setelah itu ia berjalan ke kasir.
"cih,tidak sopan." gerutunya pelan,akhirnya Elisa memutuskan untuk mengambil minuman latte kaleng dan beberapa Snack.
"hmm apa di apartemen masih ada sampo atau sabun gitu?" gumamnya lagi sambil menunggu antrian pembayaran.
Sejenak Elisa langsung menepuk jidatnya pelan membuat pria yang tengah membayar itu menolehnya kebelakang dengan raut bingung.
"ah iyaa pembalut. Aku hampir lupa." ucap gadis itu santai tanpa beban menyebut roti khusus wanita itu. Pria itu sempat terkekeh pelan melihat kelakuan gadis yang berjalan menuju ke tempat pembalut.
"maaf mas,ini kembaliannya." ucap petugas kasir menyerahkan kembalian pria itu.
"oh, terimakasih." ucapnya lalu sekilas menoleh kearah Elisa lalu melenggang keluar dari supermarket.
Gadis yang unik. gumamnya sebelum meninggalkan supermarket itu.
Elisa memandang macam-macam pembalut itu,disaat dirinya hendak mengambil pembalut favoritnya tiba-tiba ia melihat Dasha dan Zayyan dari kejauhan. Mereka tampak sedang memilih sayuran yang tak jauh dari Elisa.
"mampus aku." umpatnya panik,ia pun mengambil cepat pembalutnya dan segera membayar di kasir. Elisa berdecak kesal karena antrian pembayaran cukup panjang,ia begitu gelisah karena takut ketahuan oleh sahabatnya itu. Bisa dibilang sahabatnya itu cukup jeli mengenali dirinya,walaupun sudah menggunakan masker menutupi wajahnya.
"oh ya tuhan,tolong cepatlah sedikit." gumamnya lagi menggerutu.
Napasnya langsung mencekat saat mendengar suara Dasha tepat dibelakangnya. Membuat tubuhnya langsung merinding.
"Bang,ada lagi nggak yang mau dibeli?" tanya Dasha melirik troli belanjaannya. Zayyan tampak berpikir lalu ia melirik kearah kasir yang didepannya berjejer baterai.
"ah iyaa untung liat. Jam dinding kita habis baterai." serunya menunjuk kearah tempat baterai itu. Tetapi,Zayyan tidak menggapai baterai tersebut lantaran ada seseorang didepannya.
"hmm permisi." ucapnya sopan pada gadis berjaket hitam itu. Elisa menghela napas berusaha untuk tetap tenang dan memiringkan sedikit wajahnya kebelakang.
"boleh tolong ambilkan baterai itu?" pintanya menunjuk baterai yang ia maksud. Elisa mengangguk tanpa mengeluarkan suaranya mengambil baterai dan menyerahkannya pada Zayyan.
"terimakasih." ucapnya lagi lalu dianggukan oleh Elisa. Ia terus berharap agar dirinya bisa pergi dari situ. Elisa bersorak ria dalam hatinya saat giliran dirinya membayar belanjaannya.
"totalnya dua ratus lima puluh delapan puluh perak." ucap kasir itu menyebutkan total belanja Elisa. Elisa langsung cepat mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan uang tersebut pada kasir. Ia pun langsung menyambar kantong belanjaannya dan melenggang keluar tanpa mengambil struk belanjanya.
"ya ampun nona itu,struknya ketinggalan." gerutu kasir itu memandang Elisa yang sudah hilang dari pandangannya. Sedangkan Dasha tampak diam seperti memikirkan sesuatu membuat Zayyan menoleh kearahnya.
"ada apa sayang?" tanya Zayyan memandang raut wajah Dasha yang terlihat serius.
"ah,tidak apa-apa. Aku seperti mengenali dompet itu." ucap Dasha lagi.
Zayyan yang sambil mengeluarkan barang-barang dari troli menyergit bingung kearah Dasha. "maksudmu?"
"dompet gadis tadi,terlihat mirip punya Elisa." jawab Dasha pelan.
"hei,Elisa kan lagi di Kanada sama Gazza. Lagian dompet itu bisa aja orang lain yang punya. Kan bukan punya Elisa doang." ucap Zayyan pelan. Ia paham jika istrinya tampak khawatir dengan sahabatnya,terlebih saat Dasha tau jika fakta kakaknya Elisa yang merupakan kekasih Gazza.
"hmm mungkin iyaa." sahut Dasha lagi sambil mengeluarkan uang dari dompet Zayyan yang dititip padanya dan menyerahkan uang itu pada kasir tersebut.
Entah kenapa firasatku jika gadis tadi adalah Elisa. Huft,semoga saja tidak sesuai dugaanku. gumamnya dalam hati.
•
•
•
~ Please Forgive Me~