Please Forgive Me

Please Forgive Me
Bab 7



Sudah cukup lama Elisa meratapi nasibnya,ia pun menyudahi tangisannya. Ia teringat jika Dasha tadi tengah kesakitan dan dirinya malah menangis tidak jelas disini. Ralat,bukan tidak jelas tetapi ini semua gara-gara pria itu.


"huft." Elisa menghela napas pelan,Ia melangkah pelan menuju kamarnya.


"apa kau menyiksa dirimu sendiri hah?" seru seseorang tengah bersandar disamping pintu kamar mandi. Elisa lagi-lagi terkejut dengan Gazza yang masih ada disini. Gazza berdecak kesal langsung melempar handuk kearah Elisa.


"kalau kau merasa bersalah jangan menyerah dulu!" ketus Gazza melenggang pergi. Elisa yang menatap bingung dengan situasi saat ini,ia hanya diam memandang handuk yang baru saja ia dapat dari Gazza.


"Elisa kenapa bajumu basah?" tanya mama tiba-tiba datang dan bingung menatap putrinya basah kuyup. Padahal dirinya tadi baru saja pulang dari supermarket karena ingin membeli cemilan untuk besannya nanti.


"ta-tadi lagi mandi." ucap Elisa asal. Mama mengangguk pelan lalu mengelus kepala Elisa, "sudah,sana ganti baju." ucap mama menyuruh Elisa mengganti baju dikamarnya.


"oh ya dimana Dasha?" tanya mama celingak-celinguk mencari keberadaan Dasha.


"Dasha,dia sudah pulang ma." bohong Elisa. Tidak mungkin kan Elisa mengatakan jika sahabatnya itu tengah merintih kesakitan tadi. Elisa sempat melirik mencari Gazza,namun jejak pria itu sudah tidak terlihat lagi seperti bayangan. Oh,mengingat sahabatnya,ia pun langsung bergegas mencari ponselnya.


"halo Sha!" serunya.


"Elisaa kau tadi ada dimana??" tanya Dasha


"maafkan aku,aku tadi ada sedikit kendala. Makanya tidak menemanimu Sha."


"it's okay El,oh ya mau dengar berita luar biasa nggak?" tanya Dasha terdengar antusias.


"apa tuh?" tanya Elisa penasaran.


"aku hamil!!" pekiknya senang. Elisa yang mendengar hal itu turut senang sekaligus terharu. Sahabatnya tengah berbadan dua,membuatnya ikut senang.


"MasyaAllah,selamat yaa bumil!!" serunya lagi.


"hehehehe,eh tapi kau mau tidak?" tanya Dasha Lagi-lagi membuat Elisa penasaran.


"aku baru tau usia kandunganku tiga bulan nih,astaga ternyata perutku yang buncit ini ada isinya. Aku sampai ngakak tadi pas cek kehamilan." seru Dasha mengingat pemeriksaan tadi.


"tiga bulan? ya ampun lama kali kau tau nya Dashaa."


"iyaa tulah,serius aku baru tau ternyata aku lagi hamil. Ckckck gila berarti yang makan semua kuliner kemarin bukan aku tetapi anakku."


"kan benar apa yang kubilang,kau itu hamil Sha. ckckck,eh tapi yaa...kata kau tadi kau tidak ada mengalami gejala yang biasanya orang hamil."


"iyaa,tadi udah aku tanya dokter. Katanya tidak semua orang yang hamil mengalami gejala yang serupa." jelas Dasha lagi. Elisa mengangguk pelan mengerti.


"ooo baguslah kalau gitu,sekali lagi selamat yaa beb,yey bentar lagi aku punya keponakan nih!!" seru Elisa lagi.


"aku berharap kau segera menyusul juga El." seru Dasha lagi.


"insyaallah,semoga aja." ucap Elisa diaminkan oleh Dasha.


"Elisa! Elisa!" panggil sang mama dari luar,membuat Elisa mau tidak mau harus mengakhiri obrolannya.


Elisa melirik kearah pintu sambil berteriak sedikit, "bentar maa," serunya lalu lanjut bicara dengan Dasha.


"ya sudah Sha,aku pergi dulu yaa. Nanti kita bicara lagi." ucap Elisa.


"okee,byee." jawab Dasha langsung mengakhiri teleponnya. Elisa dengan cepat mengganti bajunya dan segera menemui mamanya.


"kenapa lama nak?" tanya mama sambil menyiapkan makanan. Elisa berkerut menatap banyak makanan yang disajikan dimeja makan, ia pun menoleh kearah mamanya.


"maa ini kita ada acara?" tanya Elisa.


"ya ampun masa kamu lupa sayang,kan bentar lagi keluarga Ergin datang."


Deg. Hari ini menyebalkan sekali baginya. Sudahlah tadi ia dituduh tidak-tidak oleh Gazza kini ia harus menghadapi Ergin yang orangnya sok tau dan sok paling tampan.


"ish,jangan gitu. Minum obat sana,kamu harus tetap nyambut mereka nanti."


Elisa menghela napas kasar,memang percuma berdebat dengan mamanya,karena mamanya akan selalu menang dalam perdebatan antaranya. Elisa mengangguk pasrah berjalan menuju tangga.


***


Pertemuan dua keluarga ini tampak harmonis, mereka berbincang-bincang masalah perjodohan antara Ergin dan Elisa. Para orang tua itu tampak antusias menentukan tanggal yang tepat untuk pernikahan anak-anaknya.


Elisa hanya diam sesekali mengangguk pelan saat ada yang bertanya padanya.


"kenapa kau diam?" tanya Ergin sambil berbisik disebelah Elisa. Elisa melirik tajam sedikit menggeser duduknya menjauh dari Ergin. Ergin tersenyum miring langsung merapatkan duduknya dengan Elisa.


"ya ampun manis sekali mereka." seru orang tuanya Ergin. Elisa mencubit keras paha Ergin agar pria itu segera menggeser tempatnya.


Elisa hanya tersenyum kikuk menanggapi ucapan calon mertuanya itu. Rasanya ingin segera cepat-cepat ke kamarnya.


Ergin terus memandangi Elisa dengan tatapan yang tidak biasa. Pria itu terus menatap Elisa dari awal sampai akhir pertemuan membuat Elisa sangat tidak nyaman.


"gimana kalau pernikahan mereka dilaksanakan dua Minggu lagi,itu tanggal yang bagus menurut saya." sahut ibunya Ergin.


Elisa membelalak terkejut menoleh kearah kedua orang tuanya. Namun, ekspetasi tidak sesuai realita,keduanya malah ikut setuju dengan pendapat Orang tua Ergin.


sial,kenapa pernikahannya dimajukan?! umpat Elisa dalam hati. Ia begitu sesak memikirkan semua ini, bagaimana cara keluar dari situasi yang menyesakkan ini?


Setelah perbincangan kedua calon besan itu, barulah keluarga Ergin pamit undur diri pulang kerumah.


Elisa menatap nanar kearah mobil calon mertuanya yang meninggalkan perkarangan rumahnya. Tetapi calon suaminya masih menetap disini membuat Elisa begitu kesal dengannya.


"kenapa kau tidak ikut pulang bersama orang tuamu hah?!" tanya Elisa begitu jengkel melihat wajah Ergin.


"hei,kau jangan kasar gitu. Aku ini calon suamimu. Kau akan menjadi istriku,lihat saja nanti." bisiknya ditelinga Elisa sambil tersenyum smirk.


"aku pulang sayang." pamitnya sambil bersiul riang masuk kedalam mobil,ia pun langsung menancap gas keluar.


"damn!!!" umpat Elisa memandang kesal kearah mobil Ergin. Ia pun berjalan masuk kedalam kamarnya,dan segera menghubungi Dasha.


"Sha,aku boleh menginap dirumahmu sehari? ada yang mau aku bicarakan." ucapnya sambil menelpon Dasha untuk meminta bantuan pada Dasha. Ia tidak bisa memendam Masalah ini sendirian,ia butuh teman curhat untuk masalahnya.


Setelah menelpon Dasha,ia pun bersiap membawa perlengkapan baju satu set,dan peralatan make-upnya. Elisa memakai ranselnya dan bergegas kebawah. Melihat penampilan Elisa membuat mama sangat menyerngit bingung, "kamu mau kemana?"


"aku nginap dirumah Dasha yaa maa." seru Elisa melenggang pergi,Elisa pun menghidupkan mesin mobil dan segera melaju ke kampus.


"kau baik-baik saja kan El?" tanya Dasha cemas melihat raut sahabatnya. Elisa menggeleng pelan, air matanya tidak dapat dibendung lagi. Elisa memeluk Dasha,sangking melownya membuat keduanya terisak dalam tangisannya.


"El,udah lebih baik sekarang?" tanya Dasha menghapus air mata Elisa. Elisa mengangguk pelan,


"ceritakan padaku,apa masalahmu?" tanya Dasha menatap sendu kearah Elisa,


"ada yang mau aku sampaikan."


"apa itu?"


"nanti saja pas dirumahmu. Aku nanti kerumahmu yaa." seru Elisa.





~ Please Forgive Me