Please Forgive Me

Please Forgive Me
Bab 30



"kau akan pergi lagi kan kak?" tanya Elisa sendu. Gazza melirik kearah istrinya sebentar.


"nggak." jawab Gazza langsung.


"kak itu bukannya impianmu ya lanjut studi disana,lebih baik kau pergi saja kak."


Gazza menatap tajam kearah Elisa,"kau tidak suka aku disini?" tanyanya dingin membuat Elisa langsung menggeleng.


"tapi kau harus mengutamakan pendidikanmu dulu kak."


"ck,aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama Elisa. Aku akan tetap disini." ucapnya tegas.


"tapi kak."


"sekali lagi kau berbicara aku akan mengeluarkanmu dari sini Elisa." ancamnya tidak membuat Elisa takut.


"oke,silahkan kak,kalau itu yang kakak mau." ucapnya menantang suaminya itu. Entah dari mana keberaniannya muncul.


Gazza mencengkram tangan Elisa kuat membuat gadis itu sedikit meringis, "sa-sakit kak." rintihnya membuat Gazza langsung tersadar dan melepaskan tangannya.


"maaf." sesal Gazza,ia pun langsung keluar dari mobil.


"kenapa dia jadi sensi begini? apa yang sebenarnya rencanamu kak?" lirihnya pelan.


***


"Eh kalian pulang sama?" tanya Dasha memandang pasutri itu baru saja melangkah masuk kedalam rumah. Dasha berdecak pelan melihat mereka yang sepertinya lagi tidak bersahabat itu.


Elisa mengangguk lemah, "aku ke atas dulu Sha." ucapnya berlalu begitu juga dengan Gazza mengikuti istrinya.


"bang,jangan sakiti sahabatku!" seru Dasha menatap tajam kearah abangnya.


"kapan aku nyakitin dia?"


"cih,nggak sadar diri. Kau memang nggak menyakitinya secara fisik tapi secara mental bang, apa kau tidak tau betapa menderitanya dia." kesal Dasha meninggalkan Gazza yang masih termenung ditempat.


"sepertinya aku membuat kesalahan yang sangat fatal ya." lirih Gazza,ia menghela napas sebentar lalu berjalan menuju kamarnya.


Gazza membuka pintu dan melihat Elisa baru saja keluar dari kamar mandi. Ia pun hanya melirik istrinya yang beranjak ke kasur. Gazza langsung menghentikan langkah istrinya yang hendak keluar dari kamar sambil membawa bantal.


"jangan tidur diluar,nanti dilihat ibu sama ayah nggak bagus."


Elisa bungkam tetap menuruti Gazza,ia pun duduk dibibir kasur tanpa berbicara satu katapun. Gadis itu menarik selimutnya membelakangi Gazza.


"aku minta maaf El." lirihnya lagi,namun gadis itu tidak ada merespon ucapannya.


"Elisa?" panggil Gazza lagi,ia pun menarik gadis itu agar menatap kearahnya.


Elisa menepis tangan Gazza dan membalikkan badannya menatapnya pasrah. "apa lagi kak?"


"aku minta maaf."


"huft,sekarang aku ingin bertanya pada kakak,kenapa kakak mau menjadi suami penggantiku? apa benar kau penyebab semuanya kemarin?" tanya Elisa menatap dalam kearah Gazza.


Gazza tersentak,dalam hatinya mengumpat pada Zayyan yang berani membongkar rahasianya.


Awas saja kau Yan. gerutunya.


"a-aku..." Lidah Gazza seketika terasa keluh,ia bingung harus mengatakan apa pada Elisa,sedangkan dirinya hanya diantara semu tak berujung jelas.


"apa kak?" desak Elisa lagi.


"a-aku..."


"apa kak?" ucap Elisa mulai kesal,karena jawaban Gazza masih ambigu.


"aku tidak suka pria lain bersanding denganmu Elisa." jawab Gazza lagi.


Deg. Apa artinya kak Gazza cemburu? tapi,dia sangat membenciku,ck apa maksudnya semuanya ini?! gerutu Elisa lagi. Tidak ingin menguras emosi terlalu lama,ia pun akhirnya memilih tidur membelakangi Gazza.


"jangan mengangguku kak." peringatannya saat hampir memejamkan matanya.


Gazza menghela napas,setidaknya ia masih bisa melihat Elisa satu kamar dengannya. Gazza pun memilih tidur disamping Elisa. Baru saja matanya terpejam,ia kembali dikejutkan dengan panggilan telepon dari kampusnya yang ada di Kanada.


"berapa lama lagi kau ada disana? tugasmu semakin menumpuk disini."


"aku tidak akan kembali kesana lagi." ucap Gazza lansgung mematikan ponselnya sepihak. Ada terbesit didalam hatinya menyesal karena menyia-nyiakan kesempatan yang sudah ada digenggamannya, namun ada yang lebih penting ia lakukan.


"fyuuh pelan-pelan saja." ucap Gazza sambil mengusap wajahnya pelan,benar ia harus mendekati Elisa dengan perlahan-lahan namun pasti. Ia tidak ingin jika hubungannya semakin renggang dan berujung penyesalan yang dalam. Gazza tidak mau lagi kehilangan orang yang ia cintai.


Deg. Tunggu,aku menyukainya?. gumam Gazza bermonolog sendiri. Ia melirik kearah Elisa dan terpana dengan paras cantik yang dimiliki Elisa.


"cantik." gumamnya spontan,Gazza langsung menutup mulutnya cepat.


"cih,sepertinya otakku abis terbentur,ah sudah lah mending aku minum dulu." gusarnya langsung beranjak dari kasurnya.


***


Elisa menyerngit bingung menatap suaminya yang sudah duduk manis didepan kaca sambil menyisir rambutnya. Gazza yang menyadari istrinya bangun,ia pun menampilkan senyum lebarnya pada Elisa.


"pagi." serunya semangat ceria bagaikan sinar mentari. Elisa sedikit kikuk lalu mengangguk pelan, "pagi."


"ayo cepat kita sarapan."


"kakak duluan saja." tolak Elisa sungkan.


"ayoo jangan membantah." ajak Gazza memaksa menarik tangan Elisa. Ia pun menyambar handuk dan memberikan pada istrinya, "tapi sebelum kita sarapan,kau mandi dulu sana." serunya mendorong Elisa masuk kedalam kamar mandi.


Elis hanya pasrah dan masuk kedalam kamar mandi. Bukannya segera membasuh wajahnya,ia malah termenung menatap cermin besar dihadapannya.


"kak,kau sangat aneh hari ini." gumamnya mengerut dahinya. Bukannya tidak senang dengan perhatian suaminya,namun ini masih terlalu gegabah untuknya, terlebih ia masih ingat jelas jika suaminya itu masih membencinya.


"hmm tapi ya sudahlah,anggap saja aku memberikan kesempatan kedua untuknya." ucapnya pelan,lalu melakukan ritual mandinya cepat.


"kau lama sekali El." gerutu Gazza lelah menunggu Elisa mandi. Elisa menatap aneh kearah Gazza, "aku tidak ada menyuruh kakak untuk nungguin yaa."


Gazza terdiam,ia merasa malu. Gazza pun labsgung mengalihkan pembicaraan mereka, "kau hari ini sidangkan?" tanya Gazza antusias.


Elisa mengangguk, "iyaa."


"kalau begitu,biar aku antar." tawar Gazza semangat,baru saja Elisa membuka mulutnya langsung ditutup dengan tangan Gazza.


"tidak ada kata penolakan,kau harus nurut El." ucapnya tegas. Elisa lagi-lagi menghela napas panjang.


"kalian masih bertengkar?" tanya Dasha menyorot tajam kearah abangnya itu.


"siapa yang berantam?" tanya ibu yang tidak tau menahu.


"itu Bu, pasutri yang baru." jawab Dasha pelan, sedangkan Gazza melotot tajam kearah adik laknatnya itu.


Kalau saja tidak ada keponakanku didalam perutmu,aku akan ceburin kau dikolam buaya!! gerutunya pada sang adik.


"kami nggak ada bertengkar."


"apa pula nggak ada bertengkar, kau tau bang Elisa sering menangis." ucap Sasha semakin memprovokasi Gazza.


"sudah...sudah,kami memang bertengkar tapi sekarang sudah baikan." sela Elisa menenangkan suasana.


"kau sedang tidak diancamkan El?" tanya Dasha menyelidik curiga. Sedangkan Zayyan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat istrinya masih ada dendam pribadi dengan Gazza.


"kau kira aku sejahat itu hah?" ketus Gazza kesal.


"Manatau,kau mengancamnya bang." jawab Dasha asal.


"Sha,dia tidak ad mengancamku kok,kau tenang saja." ucapnya lagi-lagi menenangkan suasana yang sempat kembali mencengkam. Sedangkan kedua orang tua Gazza hanya sebagai penonton yang diam menikmati makanan yang sudah ada didepan mata.


"kalau kau merasa terancam,kaduin ke aku ya El." seru Dasha lagi. Elisa mengangguk pelan sebagai jawabannya.





~ Please Forgive Me~