Please Forgive Me

Please Forgive Me
Bab 25



Jay tersenyum sinis menatap pria yang berstatus suaminya Elisa itu. Ia pun menepis kasar tangan pria itu. "heh,baru juga digertak kau udah marah begini." ledeknya. Gazza menatap tajam kearah pria kurang ajar itu.


"itu bukan urusanmu! jangan dekati istriku!!" sarkasnya lalu membuka pintu apartemen Elisa.


"woah baru kau sebut dia istri? selama ini kemana yaa? kau laki-laki brengsek juga yaa." ketusnya membuat Gazza menghempaskan kasar koper yang ia pegang.


"jangan memancing emosiku bedeb*h!!" umpatnya lalu menutup pintu dengan kasar.


Braaak


"akan kurebut dia dari kau!!" gumamnya tersenyum smirk. Gazza memejamkan matanya dalam berusaha menetralkan emosi yang membuncahnya. Ia begitu kesal dengan pria tadi. Gazza menghidupkan semua lampu yang ada di apartemen.


"kenapa sepi? apa dia tidur?" gumamnya mengingat sekarang sudah tengah malam. Gazza berjalan menuju kulkas mengambil minuman didalam sana. Ia tertegun melihat isi kulkasnya tidak terlalu banyak makanan dan minuman.


"apa yang dia lakukan selama ini?" gumam Gazza gusar. Ia pun melirik kearah lemari tempat penyimpanan makanan.


"what? dia hanya banyak stok mie? kenapa dia nggak makan dengan benar?" gerutunya lagi. Ia berdecak kesal berjalan menuju kamar.


Tanpa basa-basi ia langsung membuka pintu kamar itu, "Elisa ka—" Ia langsung menghidupkan lampunya dan terkejut memandang kasur tampak rapi. Gazza menyerngit heran lalu sedetik kemudian ia menyadari ada yang tidak beres. Dengan cepat ia membuka lemari pakaian.


"dia pergi?" lirihnya saat melihat lemari pakaian terlihat kosong. Gazza mengacak rambutnya lalu melepas kasar syal melilit lehernya. Ia pun melempar asal syal itu ke lantai. Namun sedetik kemudian ia mengambil kembali syal itu dengan perasaan menyesal.


"sial." umpatnya sambil meletakkan syal itu dengan baik diatas kasur. Gazza menghela napas lalu menyambar handuk untuk mendinginkan dirinya didalam kamar mandi.


Setelah satu jam bersemedi didalam kamar mandi,Gazza keluar dan duduk dibibir kasur sambil mengamati ponselnya. Gazza sangat cemas dan khawatir dengan Elisa, ia takut gadis itu dalam bahaya. Tetapi,rasa gengsinya untuk menelpon membuat dirinya semakin galau hanya menatap benda pipih itu tanpa menyentuh tombol hijau untuk memanggil istrinya.


Gazza langsung merebahkan dirinya dikasur sambil memandang langit kamar dengan tatapan yang kosong.


"huft." helaan napas terus ia buang,lalu ia memiringkan badannya sambil memeluk guling. Dapat ia rasakan aroma harum yang menenangkan. Tanpa terasa bisa membuatnya tidur masuk kedalam mimpi.


"kak Gazza,aku ingin cerai." ucap Elisa menatap sendu kearah Gazza. Mata Gazza membulat seraya tidak percaya yang dikatakan istrinya didepannya ini.


Gazza mencengkram kedua bahu Elisa, "jangan pernah mengatakan hal itu!" ancamnya tetapi tidak membuat Elisa menciut menatap Gazza.


"kau membenciku kak, untuk apa kita pertahankan rumah tangga ini? tidak akan gunanya." lirihnya lagi sambil melepaskan cincin pernikahan yang tersemat manis dijari manisnya,lalu ia mengambil tangan Gazza lalu meletakkan cincin emas itu diatas tangan Gazza.


Gazza sontak membuang asal cincin yang ada ditangannya dan marah menatap Elisa, "aku tidak ingin kita bercerai!" sentaknya.


"tapi aku ingin bercerai kak,aku sudah ada orang lain dalam hatiku." ucap Elisa sambil tersenyum tipis.


"nggak...nggak jangan tunjukkan senyum itu padaku seolah-olah kau sudah tidak mencintaiku lagi."


"memang kak,aku sudah tidak mencintaimu lagi,mungkin takdir kita berakhir disini." ucap Elisa pelan,lalu ia mengelus pipi Gazza. "terimakasih sudah memaafkanku kak."


"memaafkanmu?! apa kau bercanda?! sampai kapanpun juga aku tidak akan pernah memaafkanmu. Kau tidak boleh pergi sebelum aku benar-benar memaafkanmu Elisa Qamela! kau tidak boleh pergi!!" ucap Gazza dingin.


"maaf kak,tapi Jay sudah menungguku diluar dan aku tidak bisa berada disini terlalu lama. Sampai jumpa kak." pamit Elisa berjalan keluar. Gazza ingin meraih tangan Elisa namun Jay tiba-tiba datang dan langsung menghadang tangannya, "sampai jumpa di pengadilan dasar pengecut!" remehnya membuat Gazza langsung memukulnya secara brutal.


Deg.


"ayo Jay kita kerumah sakit sekarang!" seru Elisa memapah Jay berjalan keluar,Jay menoleh kearah Gazza sambil mengejeknya. Sedangkan Gazza hanya terdiam ditempat dengan wajah penuh luka. Terasa ngilu dan perih yang ia rasakan,bukan karena luka yang ia dapatkan melainkan hatinya yang sakit mendengar gadis yang ia cintai mengatakan benci padanya. Sungguh ia tidak terima ditinggal begitu saja oleh Elisa.


"Elisa...Elisa!!!!" teriaknya terus memanggil istrinya tanpa sadar ia jatuh dari kasur.


Bugh.


Gazza tersentak sambil meringis menahan lututnya yang membentur lantai,lalu ia mendongak menatap sekeliling kamar dan mengusap wajahnya kasar.


"tunggu? tadi itu mimpi?" gumamnya langsung bangkit dan meraih ponselnya. Dengan napasnya terengah-engah melihat jam menunjukkan pukul enam pagi.


"astaga,mimpi itu terasa nyata." gumamnya menghela napas lega. Ia tidak menyangka orang yang ia pikirkan malah masuk kedalam mimpinya. Mimpi buruk,Gazza tidak ingin mimpi itu menjadi kenyataan.


Cepat-cepat Gazza meraih handuk dan mandi ala bebek lalu ia bersiap-siap keluar mencari istrinya.


Bodoh,kenapa kau tidak mencarinya semalam? kenapa kau malah mencarinya dihari esok? suami macam apa kau ini Gazza?!. sesalnya dalam hati. Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang buruk pada Elisa tadi malam? apa dia akan memaafkan dirinya??


Begitu banyak masalah yang ia pikirkan,apalagi ponselnya terus berdering dari kampusnya yang ada di Kanada. Gazza tidak ingin mengangkat telepon itu dan membiarkan ponselnya terus berbunyi.


"sial." umpatnya mematikan ponselnya langsung. Ia sudah tidak peduli lagi dengan urusan kampusnya,yang penting baginya saat ini adalah menemukan keberadaan Elisa.


Gazza berjalan keluar dari apartemen,ia mengumpat kesal saat membuka pintu yang ia lihat pertama kali adalah pria yang tadi malam membuat emosinya meningkat.


"apa yang kau mau hah?!" ucapnya dingin. Melihat wajah pria didepannya ini malah mengingatkannya dengan mimpi buruknya itu. Rasanya ia ingin membuang pria itu jauh atau bahkan sangat jauh dari jangkauan Elisa. Tidak ada yang boleh membuat Elisa jatuh cinta selain dirinya,hanya dirinya saja yang boleh dicintai Elisa.


"kau sudah lah tidak tau malu,malah santai-santai di apartemen tanpa mencari istrimu. Makin buruk citra kau sebagai suami." ledeknya lagi menatap remeh kearah Gazza.


"diamlah!" ketusnya lalu berjalan menuju lift. Sedangkan Jay menggeleng-gelengkan kepalanya melihat pria yang berstatus suami Elisa itu.


"cih kakak adik sama aja, sama-sama menyebalkan." gerutunya,dapat ia lihat wajah suami Elisa mirip dengan sahabatnya Elisa yang menjemput gadis itu kemarin. Tanpa bertanyapun ia sudah tau jika pria itu adalah kakak dari perempuan hamil yang menyebalkan kemarin.


"nampaknya dia nggak tau istrinya ada dimana,baguslah carilah sampai dapat." ocehnya lalu masuk kedalam apartemennya.


Jay awalnya sedikit sakit hati dengan penolakan Elisa apalagi saat wanita itu mengumumkan fakta jika dirinya sudah menikah membuat Jay harus melangkah mundur untuk tidak menganggu rumah tangga wanita itu. Ia sadar,jika dirinya menjadi orang ketiga tentu ia akan terus melihat tangisan Elisa. Ia tidak ingin melihat Elisa mengeluarkan air matanya lagi.


"aku harap kau bahagia El,dan untuk suamimu biarkan saja dia kalang kabut mencarimu." lirih Jay pelan. Ia sudah yakin akan membuang jauh-jauh perasaannya pada Elisa. Jay menghela napas dalam lalu masuk kedalam apartemennya.





~Please Forgive Me~