
Mereka yang awalnya tadi tergesa-gesa masuk kedalam kamar seketika canggung saat sudah berada didalam kamar. Baik Elisa maupun Gazza sama-sama melepaskan tangannya dan memalingkan wajah mereka.
Elisa bingung mau harus melakukan apa,ia pun lebih memilih duduk di sofa mengambil asal buku yang ada disana. Sedangkan Gazza ia lebih memilih duduk di kasur sambil membaringkan badannya. Cukup lama mereka terdiam didalam kamar sampai akhirnya Gazza memecahkan keheningan diantara mereka.
"Elisa." panggilnya membuat siempunya nama menoleh kearahnya, "ada apa?"
"hmm tidak jadi." ucapnya lagi. Entah kenapa kata-kata yang sudah ia siapkan didalam otaknya langsung buyar saat mulai berbicara dengan Elisa.
"hmm baiklah." gumam Elisa langsung beranjak dari tempatnya. "kak,apa yang kau ucapkan tadi benar?" tanya Elisa sebelum masuk kedalam kamar mandi. Gazza menyerngit bingung,bangun dari posisinya sambil menyilang kan kakinya diatas kasur.
Gazza tampak salah tingkah lalu mengangguk pelan,Elisa langsung tersenyum tipis melihat tingkah laku Gazza yang terlihat imut dimatanya.
"aku juga mencintaimu kak." serunya buru-buru masuk kedalam kamar mandi. Gazza yang mencerna ucapan Elisa langsung bersorak ria,memang selama ini ia tahu istrinya itu mencintainya,namun tidak disangka istrinya itu mau menerima perasaannya.
Gazza guling-guling tak jelas di kasur,karena sangking senangnya. Namun senyuman itu kembali luntur lantaran satu pesan yang muncul diponselnya. Yah,dari kampusnya yang diujung sana.
"sial." umpatnya seketika kesal.
***
Elisa duduk menatap suaminya yang tengah menelpon dengan seseorang,ia yakin orang yang menelpon Gazza adalah kampus di Kanada itu. Setelah Gazza selesai menelpon dirinya langsung berjalan masuk dan mengunci pintu balkon,terkejut menatap istrinya yang sedang duduk menunggunya.
"kau belum tidur?" tanya Gazza menghampiri istrinya,diletaknya ponselnya itu diatas nakas lalu menggenggam tangan Elisa. Elisa tersenyum tipis menyambut tangan Gazza. Ia menatap suaminya lekat, "kan sudah kubilang, pergilah kesana. Kau harus menyelesaikan studimu kak." ucap Elisa pelan membuat Gazza menghela napas pelan.
"tidak,aku sudah tidak tertarik lagi kesana. Aku ingin disini saja bersamamu." ucapnya mengecup pelan kening Elisa. Elisa memegang pipi Gazza, "kak,aku tau kau mencemaskanku tapi aku ingin kau menyelesaikan studimu itu kak. Aku ingin kau bangga dengan prestasi yang kau dapat dan tidak menyia-nyiakannya kak. Please lakukan ini untukku." ucap Elisa memohon.
Gazza menatap istrinya lekat, "kalau kau pergi,aku akan membawamu juga." ucap Gazza memutuskan keputusannya. Elisa tersenyum lalu menggeleng pelan, "aku tidak ikut kak,karena aku mengejar impian ku juga disini." ucap Elisa berdiri mengambil sesuatu didalam lemari lalu menunjukkannya pada Gazza.
"apa ini?" tanyanya menatap amplop coklat itu. "bukalah kak." seru Elisa menyuruh Gazza untuk membuka amplop itu. Gazza penasaran ia membuka amplop milik istrinya, "kau diterima kerja diperusahaan ini?" tanyanya setelah membaca proposal itu.
Elisa mengangguk semangat, "iyaa kak,kau tau ini impianku bisa masuk diperusahaan itu,tidak disangka baru lulus aku sudah masuk kedalam perusahaan ternama, keren kan??" seru Elisa menggebu-gebu,Gazza tersenyum lebar menatap istrinya bahagia lalu mengelus pelan kepala istrinya itu.
"kau hebat sayang,selamat aku bangga padamu." ucap Gazza pelan membuat Elisa terdiam. Suaminya tadi barusan bilang kata sayang padanya?
"coba kau ulangi lagi kak." desak Elisa menatap lekat kearah Gazza. Gazza pura-pura tidak mengerti, "kata-kata yang mana?"
Elisa berdecak pelan, "itu kata yang baru saja kau ucapkan tadi kak." Gazza pura-pura berpikir sejenak,ia tau yang dimaksud istrinya itu apa,tetapi ia ingin menjahili istrinya itu.
"aku bangga padamu?"
"ck,bukan kak. Sebelumnya." desis Elisa.
"perasaan cuma itu yang aku katakan El." sahut Gazza membuat Elisa menghela napas pelan. "coba ingat lagi kak."
"ya memang itu El,emangnya aku tadi bilang apa?" tanya Gazza sedangkan Elisa terdiam. Tidak mungkinkan ia bilang kalau suaminya itu menyebutkan kata sayang,jika memang ia salah dengar mungkin nanti malu sendiri.
"ah sudah lupakan saja kak." ucapnya pasrah berdiri dari tempatnya. Lebih baik ia membasuh muka terlebih dahulu sebelum tidur. Baru saja ia hendak berjalan, tiba-tiba tangannya ditarik oleh suaminya. Alhasil ia jatuh duduk dipangkuan suaminya itu.
"ka-kak." ucap Elisa gugup. Jarak antara dirinya dan suaminya itu terlalu dekat. Gazza tersenyum menatap lekat istrinya,memang ia dulu menyukai kakak dari istrinya itu tetapi sekarang ia menyukai Elisa. Gazza tidak menyangka akan hal ini terjadi padanya. Padahal ia dulu sangat membenci istrinya itu yang menyebabkan kematian kekasihnya.
Seharusnya ia tidak menyalahkan Elisa dengan kejadian semua ini,ini hanyalah takdir yang sudah ditentukan. Ia sendiri juga ikut andil bersalah karena terlambat menyelamatkan Almira dari kecelakaan maut itu. Ia ingat jika Almira sangat menyayangi adiknya,jika mereka sedang berkencan Almira selalu menceritakan kisah adiknya yang menggemaskan itu baginya. Bahkan Almira pernah bilang jika dirinya akan selalu melindungi Elisa.
"aku mencintaimu Elisa." gumam Gazza memeluk istrinya erat. Sontak mata Elisa membulat sempurna,ini kedua kalinya ia mendengar pernyataan itu terlontar dari mulut suaminya. Bahkan air matanya jatuh membasahi pipinya karena merasa terharu dengan semua ini.
***
"Dasha aku titip Elisa ya." ucapnya pada adiknya itu. Dasha terlihat tidak suka dengan keputusan yang diambil oleh suami istri itu. Ia takut hubungan yang sudah dekat itu kembali merenggang karena mereka berjauhan. Tetapi,dirinya juga tidak mencegah mereka berdua karena itu adalah urusan pribadi mereka sendiri.
"kau disana jangan jelalatan Za." seru Zayyan berjalan menghampiri mereka. Gazza menatap tajam kearah sahabatnya yang nggak ada akhlak itu. "nggak akan bodoh,kau jangan buat masalah ya." ketusnya membuat Zayyan terkekeh pelan.
"hati-hati." ucap Elisa memandang suaminya. Ada sedikit terbesit dihatinya tidak rela ditinggal suaminya. Namun,ia tidak boleh goyah dan tetap kepada keputusan yang sudah mereka buat. Gazza tersenyum lalu mengecup kening Elisa.
"kau juga hati-hati disini,jangan dekati Jay kalau bisa." ketusnya kembali mengingat pria yang masih mendekati istrinya itu.
"iya...iya akan kuusahakan kak,lagian aku mencintaimu kok." seru Elisa membuat Gazza gemas sendiri. Tanpa merasa malu ia mengecup bibir istrinya cepat, "aku pergi dulu, assalammualaikum." pamitnya sambil menarik kopernya.
"ish tidak tau tempat sekali kau bang." gerutu Dasha jengah dengan adegan tadi. "wa'alaikumsalam." lanjutnya menatap abangnya sudah mulai menjauh dari mereka.
Elisa menatap punggung suaminya itu namun pandangannya mulai membuyar. Seketika lingkungan disekitarnya menjadi putih,ia menyerngit bingung lalu menoleh kebelakang dan terkejut tidak menemukan siapapun disana.
"Dasha,kak Zay kalian dimana?" tanyanya bingung,apalagi dirinya sekarang sendirian ditempat putih itu,harusnya ini adalah bandara,mengapa tiba-tiba menjadi tempat berwarna putih tidak jelas seperti ini?
Elisa mulai ketakutan dirinya terus mencari jalan keluar dari tempat yang asing itu,berjalan ke ujung tanpa tau arah yang benar untuk keluar. Dirinya terus memanggil nama suaminya dalam hati,berharap suaminya akan muncul dihadapannya.
"Dok! tangan pasien bergerak!" teriak seseorang yang terdengar nyaring ditelinga Elisa. Elisa terus berputar mencari asal suara itu tetapi ia tidak menemukan siapapun disana.
"siapa yang berbicara?" gumamnya bingung. Rasanya ia ingin menangis disaat itu juga,ia benar-benar tidak paham dengan semua ini. Elisa terus berjalan lagi tanpa menyerah kedepan,ia ingin segera keluar dari sini sampai cahaya putih didepannya itu menyilaukan matanya.
Perlahan mata Elisa terbuka,kini pertama kali ia lihat adalah ruangan putih dan terdengar suara mesin EKG atau disebut elektrokardiogram yang berfungsi untuk mendeteksi detak jantung pasien.
Deg. Sejenak Elisa menyadari tempat ini yang tak lain adalah rumah sakit,ia pun sedikit kesusahan menggerakkan tangannya yang seperti mati rasa. Matanya menoleh kearah pintu yang terbuka dan menampakkan dua orang tergesa-gesa menghampirinya.
kak Zayyan?. gumamnya bingung menatap adik iparnya itu memakai jas dokter. Zayyan langsung memeriksa keadaan Elisa.
"Elisa kau bisa dengar aku?" tanya Zayyan pelan menatap Elisa. Elisa mengangguk pelan.
"Elisa kau bisa melihat ini angka berapa?" tanya Zayyan lagi sambil mengangkat dua jarinya.
"Du...a" ucap Elisa pelan membuat Zayyan lega. "Alhamdulillah syukurlah akhirnya kau sadar juga El." ucapnya Zayyan lega.
Elisa bingung,mengapa Zayyan mengatakan demikian. "a..ku kena...pa?" lirihnya. Zayyan menatap sendu kearah Elisa, "kau kecelakaan saat menyebrang ke kampusmu El,dan kau sudah koma hampir dua tahun ini." ucap Zayyan pelan.
Deg. Elisa masih bingung, "sejak kapan aku koma? mak...sudku lebih tepatnya kapan aku komanya?" tanya Elisa pelan.
"sejak kau tinggal di apartemen itu El." jawab Zayyan lagi membuat mata Elisa membulat sempurna.
Apa semua tadi hanyalah mimpi?
•
•
•
~Please Forgive Me~