Please Forgive Me

Please Forgive Me
Bab 12



Rintikan hujan seolah-olah menggambarkan perasaan Elisa saat ini. Ia kini kembali merajut syal yang prosesnya sudah hampir jadi. Yap,ia harus segera menyelesaikannya sebelum besok membuka lembaran kehidupan yang baru bersama calon suaminya nanti.


Suara gedoran membuyarkan lamunan Elisa. Ia berjalan pelan untuk membukakan pintu kamarnya,


"mama?" ucapnya pelan saat mendapati mamanya ada didepan pintu.


"boleh mama masuk?" Elisa mengangguk dan mempersilahkan mamanya masuk. Mama Teresa tersenyum tipis menatap syal tergeletak diatas kasur.


"kamu yang buat sendiri?" tanya mama takjub memegang syal merah itu,Elisa mengangguk pelan.


"luar biasa,mama nggak nyangka kamu ada bakat merajut. Ngomong-ngomong kamu buat untuk siapa?"


Oh tidak,mama nggak boleh tau kalau syal itu untuk kak Gazza. Bisa-bisa kacau sudah pernikahan besok . gumamnya lesu.


Sebenarnya ia bisa saja mengatakan pada mamanya jika dirinya tidak ingin menikah dengan Ergin, mengingat pria itu kasar dan memiliki niat buruk tanpa sepengetahuan mamanya. Tetapi,Elisa tidak bisa mengungkapkan semua itu lantaran Ergin memiliki video tentang kecelakaan itu. Ia tidak mau trauma kedua orangtuanya kembali terbuka gara-gara melihat kronologi kecelakaan kakaknya itu.


"sayang,kamu melamun?" tanya mama menatap Elisa yang termenung. Elisa tersentak saat mamanya menepuk pundaknya pelan.


"oh maaf maa,mama tadi bilang apa?"


Mama menghela napas menatap putrinya yang sebentar lagi akan menjadi milik orang lain.


"apa kamu ada masalah nak?" tanya mama mengelus tangan Elisa lembut. Elisa hampir saja menangis didepan mamanya,ia pun menggeleng pelan sambil tersenyum tipis.


"tidak ada maa,aku agak sedikit lelah aja." kilahnya pelan.


"ya ampun,maafkan mama ganggu kamu nak. Ya sudah kamu tidur aja lagi,besok kita bicara." ucap mama berdiri,Elisa menahan tangan mamanya.


"maa,mama tadi mau ngomong apa? sepertinya penting."


Mama berbalik menatap Elisa, "iyaa,tapi karna kamu lelah kayaknya waktunya nggak tepat sekarang sayang. Besok saja kita bicara pagi." ucap mama lembut.


Elisa mendongak menatap wajah mamanya, "hehehe tapi aku penasaran sekarang maa." cengirnya membuat mama menggeleng pelan menatap Elisa.


"ya ampun nih anak. Ya sudah biar mama ngomong sekarang. Ini masalah serius nak." ucap mama mulai serius, Elisa sedikit gugup menunggu penjelasan dari mamanya.


"apa maa?"


"nak,kamu sudah besar dan kamu juga sebentar lagi akan menjadi seorang istri. Mama harap kamu akan bahagia dengan pernikahanmu nanti. Mama juga berharap agar kamu tidak merasa bersalah lagi tentang kejadian yang dialami kakakmu dulu. Mama sekarang udah ikhlas dengan kepergiannya,jadi kamu nggak perlu khawatir." jelas mama panjang lebar.


Elisa terkejut,lalu ia memeluk mamanya erat. Tangisannya mulai pecah dipelukan mamanya. "hiks...ma...ma maafkan aku." lirihnya sesenggukan.


Mama Teresa menitik air matanya dan membalas pelukan anaknya, "sayang, kamu nggak sengaja waktu itu. Jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri."


Elisa semakin mengeratkan pelukannya,setidaknya ia bisa lega sekarang walau pernikahan tetap berlanjut. Elisa tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya lagi,ia harus berkorban dan menguburkan perasaannya pada Gazza. Gazza bukan miliknya,walau begitu ia sangat senang bisa menyukai pria itu.


tidak apa-apa aku ikhlas menikah dengan Ergin,aku senang karena bisa menyukai orang seperti dirinya. Semoga kau bahagia juga kak. gumamnya tenang.


Ikhlas adalah keputusan terbaik yang ia ambil saat ini,ia akan belajar melupakan Gazza dan menyukai Ergin. Itu tantangan baru baginya.


kalau begitu,aku harus membuat Ergin menjadi lebih baik. gumamnya membuat muncul solusi dalam permasalahannya saat ini. Ia kini sudah lega dan berpikir jernih,sekarang ia yakin dengan keputusannya.


"hehehe."


Mama mengelus kepala Elisa sambil menyelimuti anaknya. Mama mengelus kepala Elisa,lalu mematikan lampu kamar Elisa.


Elisa tersenyum sambil memejamkan mata untuk tidur. Ia akan menyambut hari esoknya dengan tenang.


Sementara pria yang disisi lain menatap adiknya yang berdiri diambang pintu sambil melipat tangannya didada.


"kau tau besok Elisa menikah." ucap Dasha ketus menatap Gazza yang terlihat santai bermain ponselnya.


Gazza mendongak kearah Dasha, "baguslah lebih cepat lebih baik." ucapnya singkat.


Dasha menghela napas kasar, "kau akan menyesal nanti,karena nggak memperjuain orang yang tulus mencintaimu bang." ketusnya lalu membanting pintu keluar dari kamar Gazza.


Setelah kepergian Dasha,Gazza membuang ponselnya asal. Ia menghela napas kasar dan menyambar jaketnya. Tak lupa ia mengambil dompet dan kunci motornya pergi keluar rumah. Gazza dengan cepat menuruni anak tangga dan keluar dari rumah. Semua itu tak luput dari pandangan Zayyan yang baru saja selesai membuat susu ibu hamil untuk istrinya.


"kemana dia??" tanya Zayyan heran. Penasaran dengan yang dilakukan sahabatnya,ia pun berlari ke kamar istrinya dan memberikan susu itu pada Dasha.


"kenapa buru-buru bang?" tanya Dasha heran menatap suaminya terengah-engah mengambil jaket hitamnya.


"aku mau tau sesuatu,nanti aku ceritain semua. Ini tentang Gazza,tadi aku liat dia mau keluar." ucap Zayyan cepat,ia pun mencium kening istrinya sebelum pergi.


"ya sudah,cepat sana pergi bang. Ayoo berguna jadi Intel sekarang!" seru Dasha semangat.


"ish kau ini memanglah." gerutu Zayyan menggeleng-geleng dengan kelakuan abstud istrinya. Ia pun langsung bergegas keluar menyusul Gazza.


Jangan ditanya jika Zayyan yang bisa berhasil menyusul Gazza. Jika dirinya sedang sendirian ,Zayyan membawa mobil seperti layaknya aktor film barat.


"dia mau pergi kemana?" tanya Zayyan bingung dengan arah tujuan Gazza. Ia pun melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


"dia ini suka sama Elisa atau nggak sih? akhir-akhir ini kelakuan dia aneh." gumam Zayyan sendiri. Tak habis pikir sahabatnya ini sekarang mudah emosian. Entah penyebabnya karena Elisa,ia pun tidak tau.


"kalau dia suka,lalu kenapa dia merobek syal itu didepan mata Elisa, cih dasar pria labil!" ketus Zayyan memaki-maki pria yang sedang ia ikuti saat ini.


Zayyan menggeleng heran dengan kelakuan Gazza waktu pria itu ulang tahun. Dimana Elisa semua yang merancang rencana itu untuk memberikan kejutan pada Gazza. Namun, ekspetasi tidak seindah realita atau bahkan lebih tak terduga lagi. Gazza murka saat menerima hadiah dari Elisa yang dibuat oleh tangan gadis itu sendiri. Tanpa hati dan tidak berperasaan,dengan seenaknya ia merobek syal itu didepan muka Elisa. Entah apa penyebab pria itu merobek syal itu.


Tanpa terasa,akhirnya Gazza berhenti disuatu tempat membuat Zayyan menyerngit bingung. Sahabatnya itu turun dari motor besarnya dan memakai masker untuk menutupi wajahnya. Zayyan semakin penasaran yang akan dilakukan sahabatnya itu. Zayyan pun memakai masker seperti Gazza.


"anak itu mau kemana?" tanya Zayyan keluar dari mobil dan mengikuti Gazza dari belakang. Alangkah terkejutnya pria itu saat mengetahui sahabatnya pergi ketempat haram dan memekakkan telinga siapapun yang masuk kesana.


"astagfirullah,sahabatku sudah sesaaat!!" serunya menatap tidak percaya Gazza sudah masuk kedalam tempat itu.





~Please Forgive Me~