
Pagi cerah di kota kelahiran Elisa,membuat gadis itu terbangun lebih awal. Dirinya bersiap-siap untuk check-out dari hotel tempat ia menginap semalam. Ia pun melajukan mobilnya menuju suatu tempat,tentu saja ia mengurus paspor dan visanya. Tekad dan kenekatannya itu tidak membuatnya gentar untuk menemukan suaminya.
"terimakasih." ucapnya saat selesai mengurus paspor dan segala keperluan yang dibutuhkan. Kini,ia akan pergi ke Bandara,tentu saja tanpa sepengetahuan siapapun termasuk Dasha. Ia tidak ingin membuat sahabatnya itu khawatir dengan dirinya.
Tetapi,sebelum itu ia berniat membeli beberapa baju yang akan digunakan nantinya. Melihat ada diskon besar-besaran di toko baju tentu saja membuat Elisa bersemangat membelokkan mobilnya kesana.
"disini kau rupanya." ucap seseorang menepuk bahu Elisa. Elisa terperanjat spontan berbalik menatap orang itu. "ish,kau buat aku kaget saja Sha." gerutunya pelan.
"kau lagi beli baju?" tanya Dasha sambil memegang beberapa baju yang sudah dipilih ditangannya. Elisa berusaha untuk tidak gugup dan membuat sahabatnya itu curiga. Entah dunia sempit atau Elisa hanya mutar-mutar disitu, bisa-bisanya ia bertemu dengan sahabatnya itu. Sejenak ia menepuk jidat saat mengingat sahabatnya itu suka sekali dengan baju yang ada diskon besar-besaran.
Elisa mengangguk, "kau dengan siapa kesini?" Dasha menoleh sebentar lalu melirik baju yang dipajang, "sendiri. Bang Zayyan kerja,dan Edward dia sama ibu." terangnya. Elisa manggut-manggut mengerti,dirinya tidak bertanya lebih lagi. Ia harus cepat segera pergi dari sana.
"Elisa." panggil Dasha membuat gadis itu menoleh kearah sahabatnya. "yaa?"
"kau tidak berniat pergi jauh kan?" tanya Dasha spontan membuat Elisa terdiam tidak berkutik.
Astaga,apakah sahabatku itu cenanyang? bagaimana dia bisa tau aku mau pergi? ckck, Dasha sangat menyeramkan.
"ternyata aku benar." ucapnya tersenyum kearah Elisa, "pergilah,aku akan membelamu disini." lanjutnya seolah tau apa yang dipikirkan sahabatnya. Elisa melongo,ternyata sahabatnya mendukung rencananya.
"ba-bagaimana kau bisa tau aku akan pergi?"
Dasha tertawa pelan, "tentu saja aku tau,kan kita sahabat El. Kau itu punya kebiasaan aneh, kalau ingin berpergian jauh kau pasti selalu beli baju baru." kekehnya pelan. Elisa menggaruk tengkuknya tidak gatal,ia saja tidak sadar memiliki kebiasaan seperti itu. "tapi jangan beritahu yang lain ya Sha."
"aman tuh,tapi bilang padaku kau akan pergi kemana kali ini?" tanya Dasha serius. Elisa sejenak terdiam,ia ragu memberitahu Dasha tujuannya. "hmm aku mau Kanada."
"Kanada? ngapain? tunggu...jangan bilang kau—" ucapnya terjeda saat mendapati Elisa mengangguk. Dasha menepuk jidatnya pelan, "ya ampun El,kau nekat sekali beb,tapi apa kau memang berniat pergi kesana? apa sudah pasti dia ada disana?"
"entahlah,tapi aku liat petunjuk dari diary kakakku,mungkin saja kak Gazza pergi ke sana."
"bisa jadi tidak El,kau ini ada-ada saja,aku yakin dia nggak ada disana." sela Dasha membuat Elisa menyerngit heran.
"kenapa kau seyakin itu?"
Dasha celingak-celinguk memastikan pembicaraan mereka tidak terdengar dengan pelanggan lain. "bang Gazza tidak akan pernah pergi ketempat orang yang membuatnya teringat dengan kekasihnya itu. Sungguh, percayalah padaku."
"benarkah? tapi kenapa rasanya ada yang janggal." gumam Elisa masih tidak puas mendengar jawaban Dasha.
"aku pernah diam-diam mendengar dia menangis sepanjang malam waktu itu,tapi waktu itu aku nggak tau dia menangisi apa." lirihnya mengingat abangnya itu menangis tanpa mengeluarkan suara,bahkan pria itu membenamkan wajahnya di bantal agar tidak ada yang mendengar tangisannya. Tetapi,tanpa ia sadari jika Dasha mengintip semuanya. Tubuh Gazza bergetar dan sesekali menumbuk kasur dengan keras, seolah-olah menyesali suatu hal. Kini Dasha baru tau penyebab abangnya saat itu terpuruk,karena kehilangan kekasih yang tak lain adalah kakaknya Elisa,Almira.
Elisa pun tertegun mendengar hal itu,sungguh ternyata bukan dirinya saja yang menahan luka tetapi suaminya juga ikut terpuruk dihari yang sama. Almira sungguh membawa pengaruh besar terhadap kehidupan mereka.
"aku akan bantu cari keberadaan bang Gazza. Kita tidak bisa hanya diam seperti ini." lirih Dasha lagi. Dua tahun abangnya tanpa memberi kabar membuat bumerang untuk keluarganya dan keluarga Elisa. Dimana disaat Elisa yang sekarat waktu itu membutuhkan sosok dirinya,tetapi pria itu menghilang bagai ditelan bumi.
"kemana? kita harus cari kemana?" ucap Elisa tampak putus asa. Ia sangat merindukan suaminya itu.
"huft,kita harus berkepala dingin sekarang El,ya sudah kita bayar dulu baju yang kita pilih,abis tuh kita duduk di cafe." usul Dasha.
"boleh." sahut Elisa. Ia sepertinya harus menunda lagi keberangkatannya ke Bandara. Beruntung,ia mendengar kabar orang tuanya kini dalam perjalanan bisnis ke luar negeri,yang pastinya membutuhkan waktu lama.
***
"kau mau pesan apa El?" tanya Dasha menatap menu yang tersaji di cafe itu. Elisa melirik sebentar, "aku es capuccino aja."
"okee,bentar." serunya langsung menuju kasir untuk memesan minuman mereka. Setelah membayar,barulah Dasha duduk kembali ditempatnya.
"Oke,kita langsung berpikir aja sekarang. Pinjem kertas sama pena El." seru Dasha.
"nah."
Dasha langsung merampas buku dan pena milik Elisa, dirinya langsung menulis sesuatu.
"kau bilang negara impian kakakmu ada di Kanada kan?"
"iyaa. Lalu?"
"okee, kemungkinan besar abangku tidak ada disana. Coba kau ingat lagi,siapa tau kau ada mengingat kata-katanya yang sempat dia ngomong sebelum pergi."
Elisa mencoba mengingat memori dua tahun yang lalu,untung saja koma yang ia alami tidak membuatnya amnesia dengan kehidupannya. Tetapi,tidak ada satupun yang ia ingat tentang omongan pria itu. "dia tidak bilang apa-apa."
"ck,huft abangku itu. Tunggu,kau tadi mau pergi ke Kanada kan?" tanya Dasha lagi, lagi-lagi hanya jawaban anggukan oleh Elisa.
"kau tadi mengurus paspor dan visa?"
"iyaa."
"bagus,manatau kita dapat informasi dari pihak sana." seru Dasha menyeruput latte miliknya yang sempat diantar oleh pelayan tadi.
Elisa menepuk jidatnya pelan,merutuki kenapa dia tidak menanyakan ke kantor pengurusan paspor,pasti ia akan mendapatkan informasi punya suaminya. Semangatnya kembali terbit,ia pun langsung membawa es capuccino itu dan menarik tangan Dasha keluar Cafe.
"ayo kita ke sana Sha." ajaknya pada Dasha.
***
"pak,apa tidak bisa dibuka informasi tentang suami saya?" ucap Elisa memohon. Mereka sudah satu jam berada di Kantor pengurusan paspor,dirinya terus merengek agar diperbolehkan melihat data Gazza.
"pak yang benar sajalah,dia itu Abang saya,masa iya keluarga saya nggak boleh." gerutunya lagi.
"maaf nona-nona tetap tidak bisa,ini privasi klien."
"pak,saya mohon sekali saja bapak bantu saya. Saya harus mencari keberadaan suami saya pak," lirih Elisa lagi. Membuat bapak itu menghela napas pelan, "tunjukkan bukti kalian jika memang kalian keluarga klien ini." ucapnya membuat keduanya bersorak ria. Beruntung ia sempat membawa buku nikah dan berkas-berkas penting lainnya,membuat gadis itu dengan cepat menemukan informasi tentang suaminya.
Setelah mendapat izin untuk melihat,dengan semangat Elisa membaca data milik Gazza. Sontak matanya membelalak saat melihat riwayat data suaminya tidak ada pergi keluar negeri. Lalu dia ada dimana?
"Abang kampret,kau itu sebenarnya ada dimana sih?!" gerutu Dasha.
"awas kalau ketemu yaa bang,aku cincang daging kau dan aku lempar ke lubang buaya. Nggak usah balik-balik!!!" teriaknya saat mereka sudah diluar kantor.
"hush,Sha kau mau aku cepat-cepat jadi janda hah??" gerutu Elisa memukul pelan pundak sahabatnya.
"habis suamimu itu ghosting banget." gerutu Dasha lagi. "El,ayo kita cari dia,hebat banget dua tahun bisa bersembunyi kayak gini." gemasnya lagi.
Disisi lain,seorang pria yang baru saja selesai mandi langsung bersin tiba-tiba seolah-olah ada yang membicarakan dirinya.
"hachi...hachi." a pun langsung mengambil tisu. "sial,kenapa tubuhku tiba-tiba merinding?" gumamnya pelan.
•
•
•
~Please Forgive Me~