
Dasha berlari mengejar Elisa yang hendak masuk kedalam mobil. "El." panggilnya membuat Elisa menoleh kearahnya, "ada apa?"
"kau meninggalkan tas mu disana." gerutu Dasha memegang tas milik Elisa. " Eh iyaa,makasih Sha." ucapnya menerima tas itu dan meletakkan di kursi penumpang.
"makasih Sha,udah ngawanin aku seharian." ucap Elisa tersenyum tipis. Dasha mencebik, "elah kayak nggak kau biasa aja El,aku ini sahabatmu,kau harus terbuka denganku apapun masalahmu. Sudahlah,aku harus segera pulang,Edward udah nangis." ucapnya memeluk Elisa sebentar lalu pamit pulang. Setelah menatap kepergian Dasha,barulah dirinya masuk kedalam mobil.
Ia melajukan mobilnya menyusuri kota,menatap sendu jalanan setiap ia lewat. Rasanya enggan untuk kembali pulang kerumah,ia pun memutuskan untuk menepikan mobilnya ditepi jembatan leton.
"indah." ucapnya menatap kelap-kelip Lampu yang menghiasi jembatan layang itu. Menghirup udara malam dan aroma jagung bakar menjadi satu. Ia pun memutuskan untuk membeli jagung bakar untuk mengganjal perutnya yang lapar. Ia memang lapar tetapi enggan untuk makan yang berat. Seolah tidak selera untuk makan apapun.
"ini mbaak." ucap penjual jagung bakar itu,Elisa tersadar dari lamunannya ia pun menyambut jagung bakar yang baru matang. Tak lupa ia membayar langsung jagung itu dan makan ditempat. Matanya menyipit saat melihat pria yang terlihat tidak asing dimatanya diseberang jalan. Rasa penasarannya membuncah dan ingin mengikuti langkah pria itu.
Elisa menyebrang ke sisi jalan lawan arah dan mengijuti pria yang sudah jalan terlebih dahulu menuju suatu gang kecil. Mata Elisa membulat saat melihat dengan jelas wajah pria itu. "kak Gazza." lirihnya langsung mengejar pria yang sudah berjalan lebih cepat masuk lebih kedalam gang. Elisa tidak memperdulikan gang yang terlihat sepi itu,apalagi dirinya hanya dengan tangan kosong tanpa membawa apapun. Elisa celingak-celinguk mencari jejak pria itu.
"cepat sekali dia menghilang." lirihnya lagi. Ia yakin kali ini ia tidak salah lihat. Dan itu benar-benar mirip dengan Gazza. Tetapi,kenapa pria itu terus berjalan padahal ia yakin tadi mata mereka sempat bertemu.
"huft,apa mungkin aku terlalu lelah?" gumamnya lagi,Elisa merasa putus asa dan memutuskan untuk keluar dari gang yang terlihat gelap itu. Memang sangat tidak baik seorang gadis berkeliaran malam-malam ditempat yang sepi itu.
"sial!" umpatnya saat melihat diujung jalan terdapat dua preman yang sedang mabuk-mabukan sambil memegang botol bir mereka masing-masing. Nyali Elisa seketika menciut melihat badan kekar mereka. Jelas jika ia lawan tentu saja akan kalah.
Mencari alat untuk melindungi dirinya sendiri, Elisa langsung mengambil batu bata yang tergeletak didekatnya. Ia pun langsung segera bersembunyi sebelum kehadirannya diketahui oleh kedua preman itu.
Sangking terlalu takutnya menunggu munculnya mereka berdua. Apalagi suara derap kaki semakin dekat dengannya membuat Elisa terpeleset tidak sengaja menginjak kulit pisang yang tergeletak disana.
Bruuuk
Kepala Elisa terasa berputar-putar, pandangannya mulai buram,sebelum ia menutup matanya,ia sempat melihat seseorang didepannya menatap datar kearahnya dan setelah itu Elisa tidak sadarkan diri.
***
Elisa perlahan membuka matanya,dan terkejut saat melihat ruangan yang ditempatinya saat ini. Elisa menyergit bingung menatap infus yang melekat ditangannya,perlahan ia bangun dari tempatnya dan melihat sekitarnya yang tampak asing itu.
"jangan bergerak dulu bodoh." ucap pria itu dingin.
Deg. Elisa langsung menoleh kearah seseorang yang tengah berdiri diambang pintu menatapnya dengan tatapan berbeda. Suara yang selama ini ia rindukan,kini kembali ia dengar. "kak Gazza." lirihnya pelan menatap pria itu.
Elisa terasa sudah lama tidak melihat Gazza. Paras pria itu semakin tampan saja. Gazza tidak memperdulikan tatapan Elisa yang begitu menatapnya dengan lekat,lalu diletaknya teh hangat diatas nakas samping kasur yang ditempati Elisa.
"kenapa kau ada disini?" tanya Gazza menatap tajam kearah Elisa. Elisa terdiam,tatapan dingin itu masih tertuju padanya. Rasanya mimpi saat ia koma terasa sangat nyata,tetapi melihat pria itu menatapnya dengan tatapan dingin membuat Elisa menghela napas pelan.
"aku mencarimu kak." ucap Elisa pelan,ia sedikit meringis saat merasakan nyeri dibagian pinggangnya. Mungkin akibat jatuh terpeleset kulit pisang tadi.
"hah? kau masih menganggap kita masih suami istri?"
Deg. Elisa lagi-lagi terdiam,ah suaminya itu suka sekali menaruh garam diatas lukanya. Elisa hanya bisa menatap sendu kearah suaminya.
"jangan menatapku seperti itu,aku tidak butuh belas kasihanmu. Kita akan bercerai." ucapnya menyudahi percakapan dengan istrinya itu. Ia menyesali perbuatannya yang gegabah mengacaukan pernikahan Elisa dan Ergin,seharusnya ia tidak melakukan hal itu. Ia sendiri tidak tau apa alasannya waktu itu sehingga nekat menikah dengan Elisa.
Tetapi,daripada ia tidak menemukan jawaban yang tidak kunjung ia pahami,lebih baik melepaskan gadis itu dari ikatan semu yang ia sengaja buat. Ia tidak ingin membuat gadis itu terus menderita karenanya.
"kita masih suami istri kak. Kau itu masih suamiku!" ucapnya Elisa tegas. Gazza mendekati Elisa menatapnya dengan tatapan dingin. "kalau gitu mulai sekarang aku ta—" Mata Gazza membulat sempurna saat ia merasakan bibirnya menyentuh bibir gadis itu.
Deg.
Elisa melepaskan kecupan singkat itu, "jangan pernah mengucapkan kata keramat itu lagi,aku membencinya!" ucapnya menahan air mata yang hampir menetes membasahi pipinya. Sedangkan Gazza,perasannya menjadi tidak karuan setelah apa yang dilakukan Elisa tadi. Padahal dirinya sudah yakin dengan keputusannya,tetapi Elisa membuatnya menjadi ragu dengan keputusannya yang sudah ia buat.
"sial." umpatnya mengacak-acak rambutnya. Lalu ia melirik tangan Elisa yang sekarang sudah muncul banyak darah. "ck." kesalnya dengan cepat ia mengambil perban untuk membersihkan luka yang ada ditangan Elisa. Infus yang terpasang pada tangan Elisa lepas sehingga banyak mengeluarkan darah dari tangan gadis itu.
Dengan cekatan ia membalut kembali dan memasang kembali infus pada istrinya itu. "kau itu kenapa kurang cairan hah? apa kau tidak bisa makan dengan benar?" cercanya kesal menatap wajah Elisa yang terlihat pucat.
Elisa hanya diam tanpa menjawab pertanyaan pria itu,ia tersentuh dengan perhatian yang pria itu tidak sadari. "terimakasih kak." ucapnya tulus.
"sudahlah,kau tidur saja disini,besok pulanglah." ucap Gazza sambil membereskan peralatan medisnya. Pria itu langsung membaringkan dirinya disofa sambil meletakkan tangannya diatas wajah.
Elisa hanya melirik pria itu yang terlihat lelah,matanya langsung beralih kearah tangan Gazza yang terdapat balutan luka.
Kenapa dia dapat luka? kapan? sepetinya baru. gumamnya menatap perban yang melilit ditangan Gazza.
"jangan memandangku terus,tidurlah." ucap pria itu tanpa membuka matanya. Elisa jadi gelagapan lalu menuruti perintah suaminya itu. "aku mencintaimu kak." ucapnya sebelum memejamkan matanya. Kini ia bisa tersenyum lega setelah bertemu dengan Gazza.
Sedangkan pria itu kembali membuka matanya dan menatap kearah Elisa, "seharusnya kau tidak mencintaiku El." lirihnya menatap istrinya yang sudah tertidur pulas.
•
•
•
~Please Forgive Me~