Please Forgive Me

Please Forgive Me
Bab 46



"Vana?"


Livana tersenyum tipis lalu menghampiri mereka berdua. "kalian disini?"


Dasha mengangguk pelan, "iyaa. Kau sedang apa disini?" tanya Dasha. Ia bisa menebak jika wanita itu ingin menjenguk Gazza.


Livana menunjukkan keranjang buah ditangannya, "aku mau jenguk Gazza."


Zayyan berdeham pelan, "saat ini Gazza tidak bisa dijenguk." kilahnya berbohong. Mana mungkin ia membiarkan Livana satu ruangan dengan Elisa, bisa-bisa akan terjadi perang dunia ketiga nantinya.


Wajah Livana murung, lalu menatap sendu kearah Zayyan. "atau kau yang tidak mengizinkanku bertemu Gazza?" tebaknya.


Zayyan hanya menatap datar kearah Livana, "menurutmu gimana? sadar Vana dia itu suami orang lain."


"AKU TIDAK PERCAYA!!!" teriaknya membuat semua orang yang berada dirumah sakit menoleh kearahnya.


"jangan teriak Vana!" ucap Zayyan dingin. Ia mengusap kasar wajahnya sekilas, "kalau kau tidak percaya silahkan temui istrinya!" pintanya langsung berjalan menuju kamar Gazza.


Sedangkan Livana mematung mendengar istri Gazza ada diruangan Gazza. Dasha yang melihat hal itu lantas menarik tangan Livana untuk ikut dengan mereka. "yok." ajaknya berjalan menuju kamar inap Gazza.


***


"siapa Livana kak?" tanya Elisa to do point. Dirinya begitu bingung sekaligus curiga dengan orang yang bernama Livana. Terbesit dibenaknya apakah suaminya punya kekasih diluar? apakah Livana adalah orangnya? Pikiran negatif terus bersarang dikepalanya.


"hanya orang asing yang kuselamatkan." ucapnya Gazza lalu memiringkan badannya melihat Elisa. "kenapa? kau cemburu?"


Elisa berdesis pelan,bagaimana bisa pria itu percaya diri sekali tentangnya? Elisa menggeleng keras lalu memalingkan wajahnya.


Sedangkan Gazza terkekeh pelan melihat reaksi yang ditunjukkan Elisa. "kau tidak perlu malu seperti itu El,aku suka kau cemburu." ucapnya membuat istrinya menoleh kearahnya.


Baru saja ia hendak mengatakan sesuatu, tiba-tiba ada suara pintu terbuka membuat mereka menoleh kearah pintu itu.


Zayyan masuk berjalan mendekati mereka. "ada yang ingin menjenguk kalian,jadi aku beri waktu lima belas menit untuk bicara dengannya." ucap Zayyan terdengar datar,tetapi Elisa tidak terlalu memperdulikan hal itu.


Matanya mengarah pada sosok wanita cantik yang masuk kedalam ruangan mereka. "hai." ucapnya dengan riang bahkan tanpa segan ia langsung menghampiri Gazza sambil membawa keranjang buah ditangannya.


Livana tanpa memperdulikan tatapan tajam yang ditunjukkan oleh semua orang didalam ruangannya. Sungguh ia tidak bisa melupakan Gazza,cinta pertamanya. Ia juga tidak ingin mendengar fakta jika Gazza sudah menjadi milik orang lain.


"apa kau masih sakit Za? serius aku mengkhawatirkan mu." ucapnya memelas,tangannya menyentuh lengan Gazza. Pria itu berdecak pelan menepis tangan Livana yang dengan lancang menyentuhnya. "jangan sentuh aku. Aku sudah menikah Livana dan orang disampingku itu adalah istriku." ucap Gazza tegas.


Hati Elisa berdesir saat Gazza menyebut dirinya sebagai istri dari pria itu,lalu ia menatap lekat kearah Gazza. "maaf Livana,dia memang suamiku." ucapnya lagi.


Livana geram bahkan tatapannya seakan mengibarkan bendera perang pada Elisa. Elisa tidak takut,dirinya menganggap Livana itu rival yang biasa saja. "aku tidak berbicara denganmu." ketusnya lalu menatap Gazza dengan tatapan dalam.


Kau harus menjadi milikku Gazza,aku tidak akan pernah menyerah dengan apa yang aku inginkan. gumamnya lagi.


Zayyan ingin sekali rasanya menjitak kepala tantenya itu. Wanita itu sudah tidak waras menyukai seorang pria yang sudah beristri. "Vana jangan bicara ketus seperti itu dengannya!"


Livana menoleh malas kearah Zayyan. "kenapa aku tidak boleh marah dengannya? dia ini hanya beban Gazza dan tidak lebih dari itu. Kalau memang istri Gazza orang yang paling penting didunia ini,lalu kenapa Gazza tidak bersama istrinya dua tahun ini? kemana istrinya? apa benar dia mencintai Gazza?" cerca Livana justru bukan menohok pada Elisa melainkan Gazza.


"jangan salahkan dia,disini aku yang salah." ucapnya tidak suka memandang Livana. "kalau kau ingin cari ribut mending kau keluar aja dari sini. Aku dan istriku mau istirahat." usir Gazza menatap kesal kearah Livana.


Livana begitu sakit hati mendengar perkataan Gazza. Tetapi,Livana tetaplah Livana,tidak akan menyerah untuk mendapatkan sesuatu yang ia inginkan.


Kali ini akan kubiarkan kalian bermesraan berdua,tapi lihat saja nanti apa yang kuperbuat. Livana dengan langkah kesal keluar dari ruangan inap Gazza.


Gazza melirik kearah istrinya yang masih menunduk kebawah. "tenang,ini bukan salah mu kok."


"jangan suka menyalahkan diri sendiri El." ucap Dasha pelan. Daritadi ia hanya diam sebagai penonton dari percakapan orang itu. "Dan dia hanya manusia yang tidak tau malu,bang jangan pernah berpaling dari Elisa atau kau menyesal selamanya." ucap Dasha langsung melenggang keluar dari ruangan diikuti oleh Zayyan.


Tinggallah mereka berdua disini,hanya menatap langit kamar tanpa ingin mengeluarkan sekatapun. Semua ini menjadi canggung lantaran ocehan Livana.


"kak,aku ingin tanya sesuatu." serunya sambil memiringkan badannya dikasur. Gazza tampak berpikir sejenak, "kenapa? apa yang mau kau tanyakan?"


"hmm aku mau nanya sesuatu."


"ck,cepat ajalah ngomongnya El." gerutu Gazza membuat Elisa terkekeh pelan melihat wajah gemas suaminya. "kenapa kau bisa mengenal Livana?"


"kenapa harus bahas dia sekarang? apa kau tidak tau kepalaku saat ini sakit." gerutunya memegang kepalanya membuat Elisa khawatir dan tanpa sadar berjalan pelan menuju kasur Gazza. "kak,coba rileks sebentar. Kepalamu sakit karna banyak yang kau pikirkan kak." serunya menatap prihatin Gazza. "sini kak,biar aku pijitkan."


"hei,kau sendiri masih sakit El,kenapa kau mengurusku?" ketus Gazza melihat kaki Elisa masih dalam pemulihan.


"ah nggak sakit lagi kok kak,sini biar aku pijitkan." ucapnya lagi. Tanpa menunggu jawaban Gazza,gadis itu sudah memijit kepala Gazza.


"ish, padahal aku belum jawab kau udah langsung bertindak aja."


"aku yakin kau pasti bilang nggak,daripada menunggu tidak jelas mending langsung gas."


Gazza terkekeh, "ckckck kau memang unik."


"oh iya dong,gimana masih sakit kepalanya?" tanya sembari memijit pelipis Gazza perlahan. Gazza tampak menikmati pijatan istrinya,rasa sakit kepalanya mulai berkurang.


"aku masih penasaran dengan Livana? bagaimana kalian bisa kenal? dan apa yang terjadi dimasa lalu kalian?" cercanya dengan beberapa pertanyaaan. Ia tidak bisa tenang sebelum semuanya jelas siapa sosok Livana bagi suaminya?


"kenapa kau membahas hal yang tidak penting."


"kak,tatap aku kenapa ini sangat tidak penting?"


Gazza mendadak migran,daripada diserbu pertanyaan konyol oleh istrinya lebih baik ia menghindari yang namanya pelakor.


"ceritakan cepat kak, mumpung belum bobo." rengeknya membuat Gazza sedikit kesal. "ish."


"sebenarnya...."


~ Please Forgive Me~