Please Forgive Me

Please Forgive Me
Bab 15



# Flashback On


Tepat dini hari,di hari Jum'at berkah. Acara pernikahan Elisa dan Ergin dilaksanakan. Tampak banyak orang lalu lalang masuk kedalam rumah Elisa. Ruang tengah rumah sudah ada penghulu beserta keluarga mempelai duduk disana. Sedangkan para pengantin masih mempersiapkan dirinya didalam kamar mereka masing-masing.


Ergin tersenyum puas menatap dirinya dicermin,sebentar lagi Elisa menjadi miliknya ralat harta Elisa menjadi miliknya. Ergin tidak mencintai wanita itu,ia hanya menginginkan harta dari keluarga Elisa yang kaya raya itu.


"tampan sekali anak mama satu ini." puji Zeline memandang putranya yang tengah bercermin. Ergin berbalik menatap mamanya, "maa aku akan bahagiain mama,mulai besok mama bisa belanja sepuasnya." serunya tersenyum lebar pada Zeline.


Zeline pun tersenyum puas, "bagus,ini baru anak mama yang pinter. Kemarin-kemarin kamu itu bodoh sekali,untung saja Elisa tidak tau." ucap Zeline sambil tersenyum seringai.


Ergin kembali menatap dirinya dicermin, "aku akan menjadi direktur di perusahaan itu." ucapnya yakin. Zeline maju merapikan dasi putra kesayangannya, "ayo tunjukkan pada mereka,kau adalah menantu yang sangat baik dan penyayang." ucap Zeline penuh tekanan setiap kata-katanya. Ergin mengangguk yakin, "mama tenang saja,aku udah ahli bersandiwara."


"yok,kita keluar." ajak Zeline berjalan kearah pintu,Ergin yang baru hendak mengikuti mamanya,ia pun merogoh saku celananya. Ergin menyergit bingung menatap layar ponselnya yang berdering dengan nomor tidak dikenal.


"siapa yang nelpon?" tanya Zeline saat melihat anaknya tengah memegang ponsel itu.


Ergin mendongak kearah mamanya, "nggak tau tuh,salah nyambung mungkin." sahutnya langsung memasukkan ponselnya kedalam sakunya lagi.


Namun,baru beberapa langkah ia berjalan ponselnya itu kembali berbunyi dengan nomor yang sama. Ergin berdecak pelan lalu menyuruh mamanya untuk duluan pergi keluar. Ergin pun kembali masuk kedalam kamarnya dan mengangkat nomor asing itu.


"halo siapa?" tanyanya ketus.


"maaf apa benar ini tuan Ergin?" tanya sipenelpon itu. Ergin menyergit bingung, bukannya menjawab tetapi ia malah bertanya balik.


"kau siapa?"


"maaf anda tidak perlu tau siapa saya. Saya harap anda mau mendengarkan saya tuan Ergin. Anda segera sembunyi sebelum masalah besar datang. Saya dengar anda memesan barang terlarang kan?" ucap si penelpon asing itu membuat Ergin terkejut.


Bagaimana pria ini bisa tau,kalau aku memesan barang itu?? gumamnya gugup. Tetapi,Ergin berusaha menetralkan dirinya agar tidak membuat si penelpon itu curiga.


"halo tuan,anda bisa dengar saya?" tanya si penelpon itu sekali lagi.


"ah,iya...iyaa aku dengar. Hei,kau tidak bisa sembarangan menuduhku. Aku tidak ada memesan apapun tentang barang itu!!" sentaknya langsung mematikan teleponnya. Ia pun membanting ponselnya ke kasur.


"sialan!!" umpatnya mengepal tangannya, ia masih cemas tentang orang itu. Padahal selama ini ia memesan barang haram itu dengan sangat hati-hati. Sudah dua bulan ia menggunakan itu,tetapi dirinya belum pernah sekalipun tertangkap.


"fyuuh aku harus cepat-cepat menikah. Kalau tidak bisa kacau semua." gerutunya cepat berjalan membuka pintu kamarnya. Namun saat ia berada diambang pintu, tiba-tiba seseorang memukul tengkuknya dari belakang hingga Ergin pingsan.


Gazza dengan cekatan menyeret Ergin kembali masuk kedalam kamarnya. Ia pun meletakkan pria brengsek itu diatas kasur. Setelah itu,ia langsung menyuruh wanita bayarannya masuk kedalam kamar itu.


"layani pria brengsek ini!" titahnya dingin pada wanita itu. Wanita itu mendongak kearah Ergin dan terkejut.


"Ergin?!" serunya langsung menutup mulutnya.


Gazza menyerngit lalu menatap wanita itu, "kau mengenalnya?"


"dia pacarku tuan." serunya menatap Ergin.


"baguslah,layani saja priamu itu!" ucap Gazza berlalu menutup pintu dengan kasar. Ia pun langsung masuk mengendap-endap keluar dari rumah Elisa dan masuk kedalam mobilnya.


Sesampai dimobilnya,ia pun langsung membuka masker,sarung tangan,jaket dan topinya. Lalu memasukkan semua barang-barang yang ia kenakan tadi kedalam kantong kresek dan ia sembunyikan dibagasi mobilnya.


"fyuuh Gazza kau sudah gila." umpatnya lagi,tetapi ia juga tidak bisa mundur dari rencana yang sudah ia jalankan setengah. Mau tak mau ia harus cepat menyelesaikan rencana gilanya itu.


Gazza merapikan kemejanya,lalu keluar dari mobil dengan santai masuk kedalam rumah Elisa.


"Gazza kau darimana saja sialan?!" tanya Zayyan saat melihat Gazza baru saja datang,Zayyan menarik tangan Gazza menjauh dari kerumunan.


"apa rencanamu berhasil hah?" bisiknya langsung dianggukan Gazza. Gazza tersenyum smirk kearah Zayyan, "tinggal kita tunggu mangsa masuk kedalam perangkap." ucapnya memandang kedua orang tua Elisa yang tengah berbincang-bincang dengan kedua orang tua Ergin.


Tampak mama Teresa celingak-celinguk mencari seseorang,membuat Gazza berjalan mendekati beliau.


"Zel,dimana putramu? kok nggak muncul-muncul?" tanya Teresa resah. Bagaimana pun semuanya harus terlihat sempurna didepan rekan bisnisnya. Ia tidak ingin keluarganya dipermalukan.


"tadi katanya dia angkat telpon dulu,tapi nggak tau sampai sekarang kemana anak itu." ucap Zeline dengan santai,ia merasa anaknya itu tengah mempersiapkan diri untuk bersandiwara didepan besannya ini.


Zeline begitu kesal dan iri melihat kekayaan yang dimiliki Teresa. Dari pakaian saja sudah terlihat Teresa seperti miliader terkenal,sedangkan dirinya hanya remahan.


Tenang Zeline,sebentar lagi kau akan merebut semua miliknya. gumamnya dalam hati.


"maaf nyonya tuan,apa mempelai prianya sudah ada?" tanya penghulu yang dari tadi menunggu para mempelai yang akan menikah.


"maaf pak,saya akan menjemput menantu saya. Sebentar." seru Teresa langsung turun tangan berjalan menuju kamar yang ditempati Ergin.


"Zel ikut aku!" pinta Teresa menarik tangan Zeline untuk ikut menjemput mempelai pria. Hans,suami Teresa pun ikut bersama mereka.


Gazza yang melihat mereka sudah berjalan menuju kamar Ergin dengan segera ia menghampiri kedua orang tuanya. "Bu,yah tadi dipanggil sama Tante Teresa." ucapnya pada orang tuanya.


Ibu menyerngit heran, "dimana dia?"


"gila si Gazza, ada-ada aja akal liciknya." gumam Zayyan dari kejauhan, Sedangkan dirinya hanya berdiam diri sambil menikmati makanan yang telah terhidang disampingnya. Andaikan ia bersama Dasha,tentu ia tidak kesepian seperti anak malang.


"huft sabar,istriku lagi sama Elisa." gumamnya lagi.


Gazza tersenyum puas saat orang tuanya ikut menyusul dengan keluarga Elisa. Memang keluarga Elisa dan keluarganya akrab semua itu berkat adiknya. Gazza menarik tangan Zayyan, "hei kau, ayo ikut aku!"


"ogah,aku nggak mau liat drama." tolaknya.


"kau nyesel nggak liat adegan live,cepatlah!" serunya memaksa Zayyan untuk ikut bersamanya. Dengan sangat terpaksa Zayyan mengikuti Gazza yang terburu-buru menuju kamar Ergin.


Sesuai dugaannya,para orang tua itu begitu syok dengan apa yang terjadi didalam kamar Ergin. Apalagi Zeline yang tak kalah syok melihat putranya tengah bersama seorang wanita tidak mengenakan pakaian apapun. Sontak membuat Teresa dan Hans begitu geram dengan kelakuan Ergin.


"brengsek!" umpat Teresa membuat semua orang langsung terkejut menoleh kearahnya.


"kurang ajar! apa kau sudah gila?! untung saja kau belum menikah dengan anakku,aku tidak sudi punya menantu brengsek seperti kau!!" bentak Teresa lalu ia melirik kearah Zeline.


"Dan kau Zeline,kau sangat tidak becus mendidik anakmu!. Kita nggak bisa melanjutkan pernikahan ini sekarang kalian keluar dari sini!!!" usir Teresa.


"Hans tolong jangan usir kami,ini pasti salah paham. Dan wanita jal***ng ini pasti merayunya!!" ucap Zeline memohon pada besannya.


"nyonya dia ini pacarku!!" seru wanita penghibur yang tak tau malu itu.


"diam kau!!" bentak Zeline.


"jangan menyalahkan orang lain Zeline!! aku paling benci dengan pengkhianatan. Kalian hampir membuat Elisa menderita,aku tidak ingin istri dan anakku mengalami trauma lagi,sekarang kalian keluar!!!" bentak Hans namun mereka masih bergeming dan terus memohon padanya.


Hans yang sudah kesal langsung memanggil satpam dan mengusir mereka paksa,dan tidak lupa juga mengusir wanita penghibur itu ikut bersama Ergin lewat pintu belakang,ia tidak ingin para tamu undangannya melihat kejadian tidak senonoh itu. Kini tinggallah mereka para keluarga lainnya berdiam diri di kamar itu. Teresa seketika terduduk dilantai memandang nanar, "untung saja kita tidak menikahkan Ergin dan Elisa." ucapnya sambil terisak.


Hans memeluk istrinya erat, "kita harus membatalkan pernikahan ini sayang."


Teresa menggeleng, "nggak,aku tidak mau kau dipermalukan dengan rekan bisnismu. Apalagi Elisa nanti tidak akan ada yang menikah dengannya setelah kejadian ini Hans." lirih Teresa,ia membayangkan kehidupan putrinya begitu menyedihkan.


"aku akan menikah dengan Elisa menggantikan pengantin prianya." ucap Gazza sontak membuat semua menoleh kearahnya. Kedua orang tua Gazza menatap tajam kearahnya.


"apa maksudmu Gazza?" tanya Ayah menyergit heran sekaligus terkejut dengan ucapan putranya.


"aku bersedia menikah dengan Elisa ayah."ucapnya yakin. Teresa menyeka air matanya dan berjalan kearah Gazza.


"kamu kakaknya Dasha kan?" tanya Teresa langsung dianggukan oleh Gazza.


Teresa tersenyum lalu menepuk pelan bahu Gazza, "aku setuju." ucapnya lalu ia melirik kearah suaminya, "bagaimana suamiku? kau juga setuju kan?"


Hans tampak menimbang,lalu ia melirik kearah teman bisnisnya itu. "bagaimana tuan Edzhar dan Bu Tresya kalian setuju?"


"tunggu sebentar,saya ingin bicara dengan putra saya." ucap ibu menghampiri Gazza.


"Gazza dengar,pernikahan bukan main-main kamu tau kan?" tanya Ibu langsung dianggukan Gazza.


"apa kau yakin dengan keputusanmu?" tanya Ayah menatap kearah putranya.


"aku yakin ayah,ibu lagian Elisa adalah sahabatnya Dasha. Dan aku juga mengenalnya."


Ibu menghela napas lega dan mengelus putranya, "ya sudah,ibu setuju kau menikah dengan Elisa."


"Gazza,ingat satu hal!" pinta Ayah seketika membuat suasana menjadi tegang.


Gazza seketika gugup menatap ayahnya, "iya ayah?"


"dalam kamus ayah,tidak ada kata perceraian. Jadi apapun masalah kalian nantinya,jangan mengungkit perceraian sampai maut memisahkan kalian,kamu bisa janji?" ucap ayah tegas begitu juga Hans yang ikut melihat kearah Gazza.


"iyaa ayah,aku janji."


"bagus, Alhamdulillah terima kasih Gazza." ucap Hans tulus menatap Gazza. Ia yakin,pemuda itu bisa menjaga putrinya.


"kalau gitu persiapkan dirimu nak." ucap ibu menatap Gazza.


#Flashback Off





~Please Forgive Me~


maaf yaa ada sedikit revisi tadi🙏