Please Forgive Me

Please Forgive Me
Bab 35



Dasha menghendus kesal menatap pasutri didepannya ini. Beberapa menit kemudian ia tersenyum tipis melihat mereka. Walaupun tampak berdebat tetapi Dasha bisa lihat mereka tanpa sadar semakin dekat. Dasha tidak ingin menganggu moment keduanya,ia pun memutuskan pulang. Beruntung kunci mobil Elisa bersama dengannya,tidak membuatnya ambil pusing langsung mengendarai mobil itu.


Walaupun ia hamil,tidak menghalangi ia kesusahan mengendarai mobil. Usia kandungannya belum terlalu besar,jadi dapat ia pastikan anak dalam kandungannya tidak sesak. "nak,kita biarkan mereka disitu. Biarkan saja mereka memikirkan cara pulangnya nanti." seru Dasha melajukan mobilnya keluar dari parkiran supermarket. Tak lupa ia memberi pesan pada Gazza jika dirinya sudah pulang terlebih dahulu tanpa menunggu mereka.


"dimana Dasha?" tanya Elisa saat baru menyadari celingak-celinguk melihat sekitarnya. Gazza langsung mendongak sambil memegang sayur-sayuran yang penuh ditangannya itu. "entah." ucap Gazza acuh tak acuh,ia tadi sempat melihat pesan yang tadi dikirim Dasha.


"ish kok entah si kak? gimana kalau Dasha diculik?apalagi dia sedang hamil kak." gerutu Elisa langsung meletakkan barang-barangnya di keranjang belanja mereka. Gazza menghela napas pelan,tidak menjawab ocehan istrinya dan fokus mendorong troli melihat barang-barang yang lain. Elisa berdecak kesal berlari menyusul suaminya.


"ayo kita cari Dasha kak! aku takut dia kenapa-kenapa!" rengek Elisa membuat Gazza langsung merogoh sakunya dan menunjukkan pesan yang dikirim Dasha tadi.


"Dashaaa nyebelin!!!" gemasnya setelah melihat pesan diponsel Gazza. Dirinya sibuk mengkhawatirkan gadis itu ternyata sahabatnya itu pulang,memang sahabat nggak ada akhlak.


Tapi tunggu?. gumam Elisa saat menyadari sesuatu. Ia pun merogoh saku celana bahkan ranselnya saat ini. Tidak menemukan apa yang dicarinya,ia pun mendongak kearah suaminya. "kak,kau lihat kunci mobilku?" tanya Elisa. Gazza melirik sekilas lalu kembali melihat nugget yang berjejeran didalam freezer.


"nggak,tadi kan sama kamu El."jawab Gazza membuat Elisa menghela napas, "lalu kuncinya dimana dong? tuh kita pulang gimana?" tanyanya gusar.


"Mobilnya dibawa Dasha El,sahabat laknat kau itu udah mengambil mobilmu tadi." ucap Gazza pelan. Bagus juga rencana yang dibuat adiknya hingga ia terus terjebak bersama dengan istrinya yang menggemaskan itu.


"ya ampun Dashaaa." pekiknya pelan,tidak habis pikir dengan sahabatnya yang satu itu.


***


Alhasil mereka pulang menggunakan taksi online smabil membawa beberapa kantong belanja untuk memenuhi keinginan bumil itu. Elisa menatap kesal kearah wanita hamil sedang berdiri diambang pintu sambil memperhatikan mereka kesusahan membawa belanjaan.


Melihat raut tidak bersahabat dari sahabatnya,ia hanya cengegesan sambil mengunyah biskuit ditangannya. Elisa menghentakkan kakinya menaiki satu persatu anak tangga.


"eh El,kau mau kemana?" tanya Dasha menahan tawanya.


"keatas." ketusnya tanpa menoleh sahabatnya itu. Sontak membuat Dasha tertawa pelan, "belanjanya juga ikutan masuk kamar?" tanya Dasha menyadarkan Elisa. Elisa berdecak pelan kembali turun menuju dapur.


Gazza menahan lengan Elisa, "kamu mau kemana?" tanya Gazza saat melihat istrinya hendak pergi dari dapur. Elisa mengerut dahinya, "kenapa?"


"kamu lupa,kalau kita harus membuat spageti untuk Dasha?" ucapan Gazza membuat Elisa urung pergi lalu menghampiri suaminya.


"huft,ya sudah. Kak kau buat pie bluberi biar aku buat spagetinya." titahnya menyuruh suaminya mengerjakan bagian yang lain. Gazza hanya pasrah mengikuti perintah Elisa,asalkan gadis itu senang.


Gazza menggerutu kesal karena tidak paham cara membuat pie bluberi itu. Bahkan dirinya sudah mencari di internet pun tidak membuahkan hasil. Tetap saja ia tidak paham dengan metode yang ada disana.


Cih,jangan salahkan aku kalau pienya tidak enak Dasha!. gerutunya dalam hati.


Elisa yang sibuk meracik bumbu spageti sekilas ia melirik suaminya yang tengah membuat adonan,namun ada yang aneh. Buru-buru ia menghampiri suaminya.


"astaga kak bukan yang ini dimasukkan!" pekiknya langsung mencegah Gazza yang hampir memasukkan telur itu. Pria itu tadi sudah memasukkan dua butir telur kedalam adonan,jika ditambah lagi bisa-bisa adonannya jadi kacau rasanya.


Gazza hanya tersenyum kikuk,tetapi dirinya melihat ketelatenan istrinya saat mengaduk adonannya. "lihat kak,seperti ini caranya." jelas Elisa sambil memasukkan pengembang kue,dan mentega yang sudah dicairkan secukupnya. Gazza tidak terlalu fokus memperhatikan apa yang dijelaskan Elisa,dirinya fokus mengamati wajah istrinya yang begitu cantik dimatanya.


Gazza manggut-manggut paham dengan apa yang dijelaskan Elisa,setelah selesai mengajarkan beberapa step pada Gazza. Barulah Elisa menyelesaikan bagian punyanya. Ia memasukkan minyak secukupnya lalu menunggu hingga minyaknya panas. Tak lupa ia merendam mie itu supaya bisa lunak.


Elisa kembali melirik kearah suaminya,ia terjingkat kaget langsung menghampiri suaminya. "ya ampun kak,jangan dimasukkan dulu kedalam cetakan. Kasih mentega dulu disekitar tempat cetakannya,baru masukkan adonannya." jelas Elisa lagi.


Ya ampun salah lagi aku.


Usai membuat dapur berantakan,akhirnya mereka telah siap membawakan makanan itu pada Dasha. Dasha dengan sumringah menyambut makanan yang ada didepan matanya. Dengan tidak sabaran ia memasukkan spageti kedalam mulutnya.


"yummy enak banget!!" puji Dasha sambil mengacungkan jempol kearah Elisa. Elisa terkekeh pelan,lalu mengangguk pelan. Bumil itu menikmatinya tanpa beban.


Sedangkan Gazza menggerutu pelan memandang pie buatannya terlihat sedikit gosong, jika saja Elisa tidak segera membantunya mungkin pienya itu tidak layak dimakan. Elisa tersenyum tipis memandang suaminya,ia pun menghampiri suaminya sambil menepuk bahu pria itu.


"kau pasti bisa buat lagi kak." hiburnya membuat senyum Gazza merekah. "lain kali bantu aku ya buat ini." serunya sambil mengacak rambut Elisa tanpa ia sadari.


"okee." sahut Elisa senang,suaminya sekarang tampaknya sudah mulai memperhatikannya. Sampai mata mereka bertemu menatap lekat satu sama lain. Gazza hendak memajukan wajahnya mendekati wajah istrinya,namun ada suara cempreng yang mengganggu menjadi buyar.


"jangan disini dong ciumannya,mending dikamar." gemas Dasha menyerling menatap mereka,ia masih menikmati spagetinya tanpa memperdulikan tatapan tajam dari abangnya, sedangkan Elisa mendadak tertunduk malu menyadari hal tersebut.


"cih, nggak senang banget liat orang bahagia." cibir Gazza memandang adiknya. Dasha mengedik bahu acuh tak acuh,memang hobi menjahili abangnya masih mendarah daging.


Gazza tanpa tau malunya langsung memegang tengkuk Elisa lalu menciumnya sekilas didepan mata Dasha. Membuat bumil satu itu langsung tersedak karena tindakan abangnya yang kurang ajar itu.


"uhuk! sialan kau bang!!!" kesalnya melempar serbet kearah Gazza. Gazza menjulurkan lidahnya sambil menggandeng istrinya yang masih syok dengan tindakannya tadi ke kamar. Mereka layaknya sedang dikejar buronan berlari kencang ke kamar mereka.


"sial,masa aku ditinggal sendirian sih?! pasutri nggak ada akhlak!" kesalnya menggerutu.


"ehem." suara dehaman itu membuat Dasha terperanjat kaget lalu menoleh kebelakang, "ish kau itu! bagaimana kalau aku kaget trus anakmu langsung keluar hah?!" cerocosnya menatap suaminya yang sudah berdiri dibelakangnya. Zayyan tertawa pelan sambil mengelus perut istrinya, "anakku akan keluar saat sudah waktunya,tapi mamanya tadi ada ngomong sesuatu yaa??" sindir Zayyan menatap istrinya.


Dasha menggigit bibirnya saat mengingat jika ia tadi sempat mengumpat lantaran kesal dengan pasutri gila tadi,Ia pun cengegesan menatap suaminya.


"hehehehe."


Zayyan merogoh sakunya dan mengambil ponselnya, "cepat transfer dendanya ya sayangku." seru Zayyan gemas menatap wajah cemberut istrinya. Dasha dengan malas mengambil ponselnya lalu mentransfer uangnya di rekening mereka berdua. Rekening tempat mereka meletakkan uang jika melanggar aturan yang mereka buat sendiri.





~Please Forgive Me~