Please Forgive Me

Please Forgive Me
Bab 27



Lidah Gazza terasa keluh,hatinya ingin bilang bahwa pernikahan ini ia memang menginginkannya tetapi egonya lebih tinggi dibandingkan perasaannya sendiri. Elisa yang melihat tidak ada tanda-tanda Gazza ingin menjawab hanya tersenyum nanar,lalu bangkit dari tempatnya.


"hmm Ayah,ibu aku izin ke kamar dulu." pamit gadis itu berlalu,sedangkan yang lain hanya membiarkan gadis itu pergi dengan tatapan iba lalu memandang tajam kearah Gazza.


"aku kecewa dengan Abang." ketus Dasha berdiri dari tempatnya dan berjalan menuju kamarnya,Zayyan pun hanya menghela napas kasar lalu menyusul istrinya. Tinggallah Gazza dan orang tuanya yang ada diruang tengah mereka.


"Gazza,kamu jangan anggap pernikahan ini main-main. Kalau ada niatan lain dengan Elisa mending kamu cerai aja." ketus ayah sontak membuat Gazza mendongak langsung kearah Ayahnya.


"nggak,aku tidak akan bercerai padanya Yah." ucapnya spontan. Hatinya tidak ingin melepaskan Elisa begitu saja.


"lalu kalau kau tidak ingin menceraikannya,perlakukan dia dengan baik! jangan seenaknya meninggalkan Elisa sendirian,kamu itu keterlaluan Gazza." lirih ibu menatap putranya.


"maafkan aku ibu,ayah. Aku mungkin terlalu labil mengatasi rumah tanggaku. Beri aku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki semuanya." pinta Gazza sedangkan orang tuanya hanya menghela napas kasar.


"semua itu tergantung istrimu,mau ngasih kamu kesempatan lagi." ucap Ayah dingin lalu berlalu masuk kedalam kamarnya.


"sana,kamu susul istri kamu. Moga saja dia mau memaafkan kamu Gazza." ucap ibu sebelum menyusul suaminya. Gazza berdecak pelan memandang langit ruangan dengan tatapan kosong. Gazza berjalan menuju kamarnya,ia tidak menyangka kamarnya sekarang sudah ditempati oleh gadis cantik didalamnya. Sebelum mengetuk pintu kamarnya,ia tampak gugup dan cemas. Takut Elisa tidak mau memaafkan.


Ia menghela napas pelan lalu mengetuk pintunya.


Tok...tok...tok.


Tidak ada sahutan dari dalam,Gazza pun memberanikan dirinya masuk kedalam kamarnya. Dapat ia lihat gadis itu tengah berbaring membelakanginya saat ini. Gazza duduk dipinggir kasur mengamati punggung Elisa.


"maaf." ucapnya lolos dari mulutnya itu. Gazza benar-benar merasa bersalah telah meninggalkan Elisa sendirian disini. Ini keputusan yang sangat tidak tepat menurutnya.


Ia dapat melihat Elisa tampak enggan menoleh kearahnya dan tetap pada posisinya saat ini. Gazza terus berusaha membuat gadis itu menoleh kearahnya.


"apa?!" ketus Elisa berbalik badan menatap tajam kearah Gazza. Gazza sontak terkejut,ini baru pertama kalinya ia dibentak oleh seorang gadis selain adiknya. Gazza tertegun melihat mata sembab yang ditunjukkan Elisa,bisa dibilang gadis itu sedang menangis saat ini.


"aku minta maaf El, seharusnya aku tidak meninggalkanmu sendirian disini."


Elisa hanya diam menatap Gazza,ia mencari kebohongan Dimata pria itu,namun ia tidak dapat melihat kebohongan yang ditunjukkan pria itu.


"sudah terlambat kak,kalau saja Dasha tidak menemukanku saat itu..." ucapnya terputus,ia menghela napas dalam. "mungkin kita akan terus sembunyi-sembunyi seperti ini kak,aku juga tidak tau kapan kau kembali dari sana? atau jangan-jangan kau sudah memiliki kekasih disana,aku juga tidak tau kak." lirih Elisa.


"mana mungkin aku ada kekasih El,beri aku kesempatan lagi Elisa,akan aku perbaiki kesalahanku."


Elisa menghela napas,ia harus memberikan pelajaran yang pantas didapatkan suaminya itu. Kalau tidak,kejadian ini akan terulang lagi.


"tidak kak,aku tidak bisa memaafkanmu. Kau benar,aku patut dibenci karena kesalahan yang kulakukan pada kakak. Harusnya aku yang mati waktu itu kan?" lirihnya menatap sendu kearah Gazza.


Gazza menggeleng, "nggak,itu tidak benar. Aku yang terlalu menyimpulkan hal yang tidak-tidak. Aku tau kau tidak salah Elisa,kakakmu mengorbankan dirinya untukmu." terang Gazza. Ia akui selama ini,ia membenci istrinya dengan alasan yang tidak masuk logika,seharusnya ia menerima takdir dan mengikhlaskan kepergian Almira. Rasa sesal karena terlambat menyelamatkan Almira membuatnya membenci dari adik perempuan yang ia cintai itu.


"aku bertanya pada kakak sekarang,apa kau masih mencintai kak Al?" tanya Elisa menatap lurus kearab Gazza. Gazza terdiam,dirinya saja masih dilema dengan masa lalunya.


"diammu berarti kau masih mencintai kak Al. Kak mungkin rasa cintaku tidak bisa mengalahkan rasa cintanya kak Al. Padahal tadinya aku ingin memberikan kesempatan untuk memperbaiki semua ini,sepertinya itu tidak akan pantas untuk kita bertahan kak. Lebih baik kita cerai saja dari pada menikah dengan secara terpaksa seperti ini." ucap Elisa pelan.


Deg. Rahang Gazza mengeras,ia tidak terima Elisa mengucapkan kata keramat itu. Tanpa sadar pria itu langsung mengecup bibir mungil istrinya dan diam tanpa enggan melepaskan ciuman itu.


Jantung Elisa seperti berpacu cepat,ia tidak menyangka suaminya akan menciumnya. Mata Elisa membelalak menatap Gazza yang menciumnya sambil terpejam. Dapat ia lihat buliran air mata turun membasahi pipi pria tampan itu.


Elisa mendorong pelan bahu Gazza agar menjauhi darinya,ia tidak ingin goyah dengan pendiriannya. Ia masih belum tau apakah suaminya itu hanya untuk menghiburnya sesaat atau memang sudah menyesali apa yang diperbuatnya. Memaafkan tidak semudah kata yang diucapkan.


"maaf kak." ucap Elisa lalu turun dari kasur langsung berjalan menuju ke luar. Gazza mengacak-acak rambutnya frustasi karena terlalu gegabah dalam mengambil tindakan.


"kau mau kemana Elisa?" tanya Gazza menatap istrinya membawa bantal dan selimut tipis.


"aku tidur diluar." jawabnya dingin. Gazza berdecak kesal langsung merampas bantal dan selimut yang dipegang Elisa, "aku saja." ucapnya langsung menutup pintu.


"Dasha kau sedang apa?" tanya Zayyan heran melihat istrinya menempelkan telinganya didinding seolah-olah ingin menguping penghuni kamar sebelah.


"cih,diamlah dulu bang. Aku ingin mendengar apa yang mereka bicarakan,atau jangan-jangan mereka..." ucap Dasha bersemangat membuat Zayyan menggeleng-geleng kepala.


"hei,jangan membuat anak kita mendengar hal yang tidak-tidak ya bumil. Daripada kau mendengar mereka mending kita urus diri sendiri." ucap Zayyan menggedong Dasha langsung. Dasha memberontak ingin minta diturunkan dari gendongan Zayyan. Ia memberengut menatap suaminya yang tidak peka itu.


"dasar menyebalkan."


"kau yang menyebalkan sayang."


"apa?! aku?! kau itu suami yang menyebalkan!!!" gerutu Dasha sambil menunjuk kearah Zayyan.


"kau Dasha!" seru Zayyan tak mau kalah.


"oke,kalau gitu kau tidur diluar sayang." ucap Dasha tersenyum seringai. Sontak wajah Zayyan langsung berubah pias dan melemas menatap istrinya.


"oh come on,jangan gitu sayang. Aku nggak bisa tidur kalau nggak meluk kamu."


"idih,anda terlambat. Sudah membuat guling anda merajuk. Tidak ada protes,silahkan keluar tuan. Pintu keluar ada disana!" tunjuk Dasha mengarah ke pintu kamar mereka.


Zayyan menggerutu terus memohon pada Dasha, "ayolah sayang,masa kaya gitu sama suami sendiri." rengeknya memeluk Dasha dari belakang,ia pun mengecup bahu istrinya supaya tidak jadi tidur diluar.


Dasha untung saja tidak terhasut oleh setan dibelakangnya ini,ia menepis tangan suaminya dan mengecup singkat bibir suaminya. "aku dah baik loh sama suami sendiri, contohnya disuruh tidur diluar doang. Daripada aku suruh beli sesuatu,mending suamiku yang tampan ini tidur diluar." seru Dasha tersenyum lebar menatap wajah masam suaminya.


"yaa mending aku beli yang kamu idamkan sayang daripada tidur diluar. Ayo cepat katakan padaku,Apa yang kau inginkan?" tanya Zayyan mengelus perut Dasha dengan lembut.


"hmm dedeknya ingin kamu tidur diluar sayang hehehehe..." cengir Dasha berjalan santai kearah kasur. Tidak memperdulikan wajah tekut yang ditunjukkan suaminya.


"masa iya itu permintaan anak kita? atau hanya akal-akalan mu saja?" tanya Zayyan tidak percaya.


"tidak percaya ya sudah." ucap Dasha acuh tak acuh. Ia pun membaringkan dirinya dengan santai menguasai satu kasur itu sendirian. Zayyan menghela napas lalu mengambil bantal dengan terpaksa. Ia pun melangka berat menuju pintu.


"aku keluar." serunya berharap istrinya mencegahnya keluar,namun ia salah. Istrinya malah sudah memejamkan matanya untuk masuk kedalam bunga tidur tanpa memperdulikan ocehan suaminya.


"sial." umpatnya namun terdengar oleh istrinya.


"denda ya kak,kirim uang dendanya ke rekening kita." ucap Dasha sambil menutup matanya. Zayyan menghela napas kasar lalu menutup pintu kamarnya.


Zayyan terkejut melihat Gazza bernasib sama dengannya sambil membawa bantal. "kau juga?" tanya mereka bersamaan. Mereka berdua sama-sama mengangguk.


"kenapa kau tidur diluar?"


"ini ngidam anehnya Dasha aku disuruh tidur diluar,kalau kau sendiri gimana bro? Elisa udah memaafkan kau?" tanya Zayyan sedikit penasaran.


Gazza menggeleng keras, "belum,aku yang mengalah tidur diluar."


Zayyan tertawa terbahak-bahak,"mampus,makanya kalau ada istri jangan dighostingin." ledek Zayyan.


"sialan kau!" umpat Gazza kesal melempar bantal kearah Zayyan.





~Please Forgive Me~