Please Forgive Me

Please Forgive Me
Bab 24



"hmm Sha,bukannya tadi kau bilang kita mau ngecek kandungan,kenapa kita kesini?" tanya Elisa heran saat Dasha mengarahkannya ke Mall. Dasha hanya tersenyum lebar kearah Elisa sambil merogoh ranselnya mengambil sesuatu didalam.


"nggak jadi,dokternya lagi nangani operasi pasien lain. Aku ada vocher belanja. Skuy belanjaa!!" ajaknya semangat sambil menunjukkan vocher belanja ditangannya. Elisa menepuk jidatnya pelan, alih-alih ingin membantu Dasha menemani untuk mengecek keadaan janin perempuan itu,malah nyasar ke Mall.


"ish kau ini,nanti capek gimana? aku dengar wanita hamil tidak boleh capek." gerutunya.


"emang,tapi aku kan lagi pingin beli baju. Mumpung ada vocher nih lumayan. Ayoklah." ajaknya lagi sambil menatap Elisa dengan puppy eyesnya membuat Elisa tidak bisa menolak permintaan Dasha.


"yalah...yalah,ayok. Tapi ingat kalau kau sudah lelah,kita stop belanja dan langsung pulang yaa." pinta Elisa langsung dianggukan oleh Dasha, "okee siap aunty!!"


Mereka berdua bersenandung riang masuk kedalam Mall,Dasha paling bersemangat menarik tangan Elisa memasuki satu persatu toko yang mereka lewati. Melihat antusiasnya bumil itu membuat Elisa sedikit khawatir dengan keponakannya yang ada didalam perut Elisa.


Oh ya tuhan, sahabatku ini semangat sekali. Aduh,bisa kena marah nih sama kak Zayyan. gumamnya cemas.


Dasha melihat toko baju khusus menjual pakaian bayi,tanpa berpikir panjang ia pun masuk kedalam sana.


"haiss nih anak, tungguin Sha!!" teriak Elisa langsung mengejar Dasha yang sudah masuk kedalam toko itu.


"El,lihat ini comel kalii." ucapnya gemas menatap sepatu kecil ditangannya.


"masih lama loh Sha,kau masih empat bulan."


"iya juga yaa,hmm aku jadi penasaran anakku laki-laki atau perempuan yaa?? pasti mereka comel." gemasnya lagi.


"yang penting mereka sehat Sha."


"hmm ayok Kita keluar,aku lapar."ajaknya keluar dari toko itu.


Elisa melongo,padahal sahabatnya itu tadi sudah menghabiskan cemilan diapartemen ya dua bungkus dan sekarang mengatakan lapar? ya ampun Elisa sungguh takjub dengan porsi makan Dasha.


"kau lapar El?" tanya Dasha melihat menu makanan. Elisa menggeleng, "aku sudah kenyang tadi."


"yaaah masa aku makan sendiri,ayoklah ikut makan juga. Dedeknya pingin auntynya ikut makan." ucapnya mencurutkan bibirnya.


"ini mamanya yang mau,dedeknya nggak pernah minta yaa maa." gemas Elisa,ia merasa kasihan pada bayi yang terus saja terfitnah oleh mamanya sendiri.


Kalau lagi hamil memang bawaannya kaya gini yaa?? apa aku kalau hamil juga begitu? gumam Elisa pelan dalam hati.


Elisa tidak tahan melihat wajah cemberut Dasha,dan akhirnya ia ikut makan walaupun perutnya sudah kenyang.


"El,aku mau nanya sesuatu." ucap Dasha sedikit serius membuat Elisa menatap kearahnya.


"apa?"


"kau masih mencintai abangku kan?"


Elisa mengangguk, "iyaa aku masih mencintainya,tanpa kau tanyapun dihatiku masih tersemat namanya. Aneh kan? udah dibenci tapi menyukainya? apa aku bodoh mencintai pria yang membenciku Sha?"


"kau bukan bodoh El,tetapi tulus. Aku salut dengan cintamu,apalagi waktu pernikahan itu kau benar-benar ikhlas melepaskan abangku. Eh rupanya kalian malah terikat janji suci. Bukankah kalian sudah ditakdirkan bersama?" ucap Dasha pelan.


"aku tidak tau itu takdir atau hanya kebetulan saja Sha. Bisa jadi kami bercerai karena dia sangat membenciku."


Dasha menghela napas lalu menggenggam tangan sahabatnya, "dengar,cinta dan benci itu sangat tipis El. Hati manusia itu bolak-balik,aku berharap bang Gazza akan segera menyadari kalau kau itu mencintainya dengan tulus. Lagian kalian tidak bisa bercerai." jelas Dasha sambil menyeruput minuman yang baru saja datang.


"tunggu? kenapa aku tidak bisa bercerai dengan kak Gazza?" tanya Elisa bingung.


"karena suamimu itu sudah berjanji pada ayah dan papamu untuk tidak menceraikanmu." jawab Dasha.


"semua keputusan ada ditangan mu El,kalau memang kau mau bercerai dengan abangku tidak masalah. Tapi,aku sarankan pikirkan matang-matang dulu sebelum mengambil keputusan. Aku tidak mau kau menyesal nanti." saran Dasha.


Elisa mengangguk mengerti,ia beruntung memiliki sahabat dan adik ipar seperti Dasha. "kalau aku mengambil keputusan bercerai apa kau akan kecewa Sha?"


Dasha terdiam ia memandang sendu kearah Elisa. "mungkin iyaa aku akan kecewa. Tapi apapun yang terbaik untuk sahabatku aku akan mendukungmu trus kok." ucap Dasha membuat Elisa tersenyum lega.


"terimakasih."


"tapi kita akan tetap bersahabatkan jika memang itu keputusanmu nanti?" tanya Dasha sedikit cemas,wanita itu takut kehilangan sahabatnya.


"tenang,aku akan selalu menjadi sahabatmu kok. Walaupun jika memang iyaa aku bercerai,aku akan bedakan yang mana urusan pribadi yang mana urusan sahabatku. Kita bukan anak kecil lagi Dasha yang tidak bisa membedakan yang ini dan itu." terang Elisa sambil tersenyum tipis.


"iyaa kau benar,semoga abangku yang sialan itu bisa menyadari sebelum dia menyesal." gerutunya pelan.


***


"fyuuh akhirnya aku sampai juga." ucapnya bernapas lega setelah melewati perjalanan yang begitu panjang. Ia pun sempat khawatir dan cemas saat pesawat yang dinaikinya mengalami turbelensi. Untungnya masalah itu cepat diatasi dengan baik. Gazza yang begitu tidak sabar pulang,tanpa sadar ia menabrak seseorang didepannya.


"aduh." keluh wanita yang ditabrak Gazza tadi.


"maaf,apa kau tidak apa-apa?" ucap Gazza pelan. Wanita tadi mendongak kearah Gazza sontak ia terkagum dengan ketampanan Gazza. Gazza menyerngit bingung menatap wanita itu yang hanya diam saja menatap dirinya, "maaf,aku harus segera pergi." ucapnya sekilas mendahului wanita itu.


"eh tunggu!" cegahnya membuat Gazza malas berbalik menatapnya, "ada apa?"


"kenalkan aku Livana." ucapnya tersenyum sambil mengulurkan tangannya pada Gazza. Gazza tidak membalas uluran tangannya, "Gazza." ucapnya singkat langsung menarik kopernya menuju taksi. Livana yang melihat punggung pria tampan yang kian menjauh itu sontak tersenyum lebar.


"Gazza nama yang bagus." ucapnya lalu berjalan menuju tempat check-in.


Gazza dengan cepat-cepat ia menaiki taksi yang ada didekat bandara.


"pak ini kita ke alamat sini." ucapnya menunjukkan lokasi apartemennya di GPS dalam taksi itu.


"baik pak." ucap sang supir melajukan mobilnya menuju tempat yang dituju kliennya. Gazza tetap setia memakai syal merah itu melingkar dilehernya, seolah-olah enggan melepaskan syal berharga itu. Akhirnya ia sampai juga di Apartemennya. Ia pun langsung bergegas berlari menuju apartemennya.


"tunggu,kenapa apartemen ini gelap?" tanya Gazza bingung. Tetapi,ia menekan password apartemen itu dan membukanya.


"apa kau suaminya Elisa?" tanya seseorang sambil melipat tangannya didada.


Suara ini? tunggu...yaa suara ini yang mengangkat telpon Elisa kan? cih,ternyata dia ada disini. geram Gazza lalu menoleh dingin kearah pria itu.


"tau darimana kau?" tanyanya dingin.


"cih,suami tidak tau diri meninggalkan istrinya sendirian disini. Dengar,kalau kau ingin bercerai padanya serahkan dia padaku. Aku akan menjaganya dan tidak akan meninggalkannya sendirian. Tidak seperti orang lain." sindirnya membuat amarah Gazza membuncah. Gazza langsung mencengkram kerah baju pria itu.


"dasar brengsek!!"





~Please Forgive Me~