Please Forgive Me

Please Forgive Me
Bab 38



Sudah berhari-hari Elisa dirawat dan melakukan terapi dirumah sakit,tinggal dua hari lagi ia baru diperbolehkan pulang. Orang tuanya bolak-balik melihat kondisinya.


"kamu ingin makan apa nak?" tanya mama sambil melirik kearah putrinya. Ia bersyukur putrinya sudah mulai pulih.


Elisa menggeleng pelan sambil tersenyum pada mamanya, "maa...boleh nggak jangan bahas cerai dulu. Aku tidak ingin bercerai dengan kak Gazza. Bantu aku maa buat bujuk papa." lirihnya memohon padanya mamanya. Mama Teresa menghela napas kasar, permohonan ini sudah berulang kali ia dengar dari mulut Elisa. Anaknya itu tetap bersikukuh menjaga rumah tangganya yang diambang runtuh itu.


"kenapa kamu masih mempertahankan pernikahanmu nak? kamu tau,suamimu itu pengecut. Padahal dia sudah janji untuk menjaga dan tidak akan menceraikan mu,tapi lihat sekarang. Sudah dua tahun,dan kamu selama itu koma tidak ada satupun kabar muncul dari dia. Dia seperti hilang dimakan angin,mama tidak ingin kamu menderita lebih dari ini El. Cukup,sudahi saja pernikahan ini." ucap mama menatap iba kearah Elisa.


Elisa menatap sendu kearah mamanya,memang benar yang dikatakan mamanya itu. Namun,hati kecilnya sangat ingin tetap mempertahan rumah tangganya ini. Apalagi masih ada harapan kecil karena Gazza belum pernah mengucapkan kata talak padanya,itu artinya ia masih menjadi istri dari pria itu.


"selama kak Gazza belum mengucapkan kata keramat itu,aku masih istrinya maa. Maafkan aku yang sedikit egois ini maa." lirihnya.


"lalu kamu mau dengan status tidak jelas gini? kamu aja nggak tau dimana suami kamu nak. Bahkan keluarga suamimu saja frustasi mencari suamimu." gerutu sang mama,sebenarnya mama Teresa juga merasa kasihan dengan besannya itu. Tidak hanya keluarganya saja yang menderita melainkan keluarga besannya ikut terseret karena ulah anaknya. Ia tidak ingin menyalahkan keluarga yang baik itu.


"status ku masih jelas maa...dimata hukum sama agama. Aku akan mencari suamiku." ucapnya dengan yakin.


"Elisaaa." seru Mama sedikit kesal,anaknya ini snagat keras kepala. Apakah cintanya begitu besar pada menantu kurang ajarnya itu?


"please maa,kak Gazza kayak gini karena kesalahanku juga." lirihnya membuat mama menoleh lagi kearahnya.


"kenapa kamu yang salah? emangnya apa yang kamu lakukan?" cerca mama penasaran.


"karena kesalahanku dulu." ucapnya pelan. Ia kembali mengingat memori yang kelam itu,memori yang membuatnya sampai sekarang masih membekas dihatinya.


"Elisa,bisa kamu jelaskan pada mama apa yang terjadi sebenarnya? kenapa kamu merasa kamu yang salah hah?" tanya mama sedikit frustasi.


"mungkin lain kali aku akan cerita maa." elaknya,ia merasa saat ini belum tepat membicarakan hal itu pada mamanya. Jika saja ia bercerita mungkin mamanya akan mendukung papanya untuk membuat surat cerainya,ia tidak ingin pernikahannya selesai.


Mama Teresa tidak bisa menemaninya terlalu lama,ada hal penting yang ia urus,ia pun meminta bantuan pada Zayyan untuk menemani Elisa.


"gimana perasaanmu El?" tanya Zayyan saat mama Teresa sudah keluar dari ruangan Elisa. Elisa mengangguk pelan, "baik kak,terimakasih sudah merawatku." ucapnya,ia kembali menunduk lagi.


"apa kau masih mencintai Gazza?" tanya Zayyan tiba-tiba membuat Elisa mendongak kearah adik iparnya itu. "iyaa, aku masih sangat mencintainya."


Zayyan hanya menghela napas pelan, "tapi dia meninggalkanmu sendiri disini El,apa kau tidak membencinya?"


"buat apa aku membenci orang yang aku cintai kak? Aku ingin tanya sesuatu kak." seru Elisa membuat alis Zayyan terangkat satu.


"kau kan sahabatnya kak Gazza, ceritakan padaku apa saja yang ia sukai, benci,atau segala aktivitas yang biasa dia lakukan. Aku ingin tau semuanya." ucap Elisa tampak memohon. Zayyan menggaruk tengkuknya canggung,dirinya pun berdeham pelan lalu menatap kakak iparnya itu.


"kau memang ingin tau semua tentangnya? aku saja yang sahabatnya kurang tau banyak tentang dia. Dia sedikit tertutup."


"ceritakan saja apa yang kau tau kak." desak Elisa lagi.


"baiklah."


***


Tepat hari ini ia akan kembali pulang kerumahnya,soal apartemen yang diberikan Gazza waktu itu,ia tetap bersikukuh mempertahankannya untuk tidak dijual.


"ya Tuhan Elisa,kenapa kamu tidak menjual punya suami brengsek mu itu?" kesal mama jengah melihat anaknya keras kepala dan susah diatur.


"aku udah janji sama mama tinggal dirumah,asalkan apartemen itu tidak dijual dan kuncinya aku yang pegang." Sungguh,Elisa tidak suka berdebat dengan mamanya,tapi mau bagaimana lagi cintanya terlalu buta untuk suaminya itu.


Akhirnya mereka sampai dirumah orang tua Elisa. Elisa berjalan pelan masuk menuju kamarnya yang sudah lama tidak ditempati. Tidak disangka sudah dua tahun berlalu,rumahnya itu masih tetap sama seperti terakhir kalinya ia lihat. Ia pun langsung merebahkan dirinya dikasur sambil menatap langit kamarnya.


"empuknya." lirihnya lagi,suasana menjadi hening dan hanya terdengar suara jarum jam dinding yang berdetak. Menatap kosong dengan kesunyian itu snagat cocok untuknya yang sedang merasa kesepian. Dirinya berdecak pelan lalu duduk dipinggir kasur. Ia sempat memikirkan apa yang dibilang Zayyan tentang Gazza tadi.


Tunggu,tadi kak Zayyan ada bilang sesuatu,kalau kak Gazza sangat tidak suka disentuh lemarinya? apa ada rahasia?. gumamnya semakin penasaran.


Ia juga teringat saat menginap dirumahnya Dasha dulu,sahabatnya dulu pernah mengingatkan jika dirinya tidak boleh menyentuh lemari milik Gazza. Semakin penasaran,membuat Elisa langsung bergegas menyambar jaketnya. Dengan tergesa-gesa ia memakai jaket dan hanya memakai piyama tidur. Padahal cuaca diluar saat ini tengah hujan.


"Elisa kamu mau kemana?" tanya Mama terkejut melihat anaknya tampak bersiap-siap keluar. Elisa tersenyum sambil menyalami punggung tangan mamanya.


"aku kerumah Dasha sebentar maa."


"eh,kamu kan masih sakit nak. Lebih baik istirahat dulu." ucap mama khawatir.


"hmm aku harus sekarang kerumah Dasha,aku janji aku akan baik-baik saja maa. Aku mengendarai mobil hati-hati kok." ucapnya sambil menyambar kunci mobil diatas meja. Tanpa menghiraukan panggilan sang mama,ia bergegas menuju bagasi rumahnya dan menghidupkan mesin mobil. Tanpa memakam waktu lama,ia melajukan mobilnya keluar dari perkarangan rumahnya itu.


"astaga Elisa, kamu ini benar-benar." gerutu mama tidak habis pikir dengan jalan pikiran anaknya. Dengan segera ia menghubungi besannya.


***


Elisa akhirnya sampai dirumah Dasha dengan selamat,bukannya ia disambut dengan haru malah mendapatkan tatapan tajam dari sahabatnya itu.


"ck,apa kau sudah gila? kau itu baru saja keluar dari rumah sakit El." gerutunya gemas. Bagaimana tidak? ia sangat terkejut mendengar berita dari mamanya Elisa,anaknya itu sungguh nekat sekali.


"maaf,tapi aku penasaran." ucap Elisa membuat Dasha menyerngit bingung. Saat ini mereka masih di teras rumah,dengan segera ia menarik tangan Elisa masuk kedalam rumah karena cuaca saat ini sedang dingin.


"boleh aku masuk kedalam kamar kak Gazza?" Elisa izin pada Dasha.


"ya ampun El,ngapain pakai izin segala,itu kan kamarmu juga. Kau bisa langsung masuk saja." seru Dasha. Elisa dengan semangat berjalan menuju kamar Gazza diikuti oleh Dasha.


"tunggu,kau ingin membuka lemari bang Gazza?" tanya Dasha terkejut saat Elisa hendak membuka lemari abangnya. Elisa mengangguk, "siapa suruh dia membuat orang penasaran dengan lemari ini,selagi dia tidak ada disini,aku akan membuka lemarinya." seru Elisa sambil membuka lemarinya yang terkunci itu. Ia sedikit kesal karena tidak bisa membuka lemari itu,matanya celingak-celinguk mencari obeng untuk menghancurkan kunci lemari itu.


Hatinya bersorak ria saat menemukan barang yang dicarinya ada didekat meja belajar suaminya itu,dengan bar-bar ia menghancurkan kunci lemari itu.


"ada apa ini?" tanya Zayyan sambil menggendong Edward,ia mendengar suara keras dari kamar Gazza dan langsung bergegas ketempat itu,ia menatap bingung sekaligus terkejut dengan kedatangan Elisa yang baru saja keluar dari rumah sakit. Sedangkan Dasha mengedik bahu kearah suaminya.


Elisa menoleh sekilas,ia sempat melirik keponakannya yang sangat tampan itu. "maaf mengganggu kalian,tapi aku harus membuka ini." ucap Elisa tidak enak hati.


Akhirnya kunci lemari itu lepas sehingga lemari Gazza terbuka. Dasha yang ikut penasaran,ia pun melangkah mendekati Elisa,begitu juga dengan Zayyan.


"iniii?"





~Please Forgive Me~