Please Forgive Me

Please Forgive Me
Bab 47



"sebenarnya...ah sudahlah jangan dibahas."


Elisa memberengut menatap curiga kearah suaminya. "katanya cinta sama aku,tapi masih ada rahasia disembunyiin,ya udah lah aku minta cerai aja." ucap Elisa kesal namun membuat pria itu langsung mengukungnya dan menatap tajam.


"kau bilang apa tadi?!" tanya dengan sorot mata yang menakutkan. Elisa menelan saliva tidak berani menatap langsung mata Gazza. "kau ti—"


Deg. Pandangan Gazza tiba-tiba kabur,bahkan tubuhnya tidak berdaya menohannya bebanya. Tak lama kemudian Gazza langsung tidak sadarkan diri mengimpit Elisa. "kak,kak!"


Elisa berusaha menggapai tombol darurat didekatnya.


Tak lama kemudian datang perawat yang berlari masuk kedalam ruangan mereka. "ada apa nona?"


"to...tolong." lirihnya pelan. Rasanya ingin menangis saja melihat suaminya seperti ini. Perawat langsung memanggil dokter. Zayyan langsung berlari masuk kedalam ruangan mereka. "Gazza,sadar!!" sentaknya. Ia pun langsung menyuruh tenaga medis yang lain untuk membawa Gazza keluar.


Elisa menahan lengan Zayyan. "kak sebenarnya apa yang terjadi? kenapa dia jadi terluka seperti itu?" lirihnya


"aku akan melakukan usaha terbaik,jadi jangan khawatir oke." ucap Zayyan pelan lalu berlari untuk menyelamatkan nyawa Gazza.


Elisa menangis sesunggukan. Apalagi ujian yang datang padanya? kenapa ia tidak bisa merasakan kebahagiaan dalam waktu lama?


Tanpa sengaja ia melirik benda asing yang baru saja jatuh dari kasur. Entah kenapa ia sangat penasaran dengan benda itu,dan Elisa mencoba melirik benda itu. Ia menyergit bingung,sejak kapan jarum suntik ada disana. Seharusnya tenaga medis tidak akan meninggalkan benda tajam yang sensitif itu disana,lalu kenapa benda itu berada dilantai?


Ia pun meraih jarum suntik itu lalu mengamati benda tajam itu. Seketika ia menyadari sesuatu.


Deg. "mungkinkah??"


***


Livana tersenyum tipis memandang makam seseorang. Seseorang yang membuatnya terlahir kedunia ini. "ibu...aku disini." lirihnya pelan.


"ayah tidak pernah mendengarkan ku apapun Bu. Dia hanya mementingkan cucunya saja dibandingkan anaknya sendiri. Lihat,ketika aku jatuh cinta saja Zayyan sangat marah padaku,apa salahnya mencintai Gazza Bu? aku snahat mencintainya setahun belakangan ini." lirihnya pelan. Lalu dielusnya batu nisan yang cantik itu.


"apa aku salah mencintai seseorang Bu? kenapa dia sudah menikah? kenapa bukan menikah denganku? kenapa harus wanita itu?!" frustasinya geram mengingat wajah istri Gazza. Ia snagat membenci Elisa walaupun belum pernah saling menyapa dan kenal.


Baginya siapapun yang mendekati orang yang ia sukai,maka siap-siap menerima kebencian darinya. Ia sungguh bertekad akan membuat Gazza jatuh hati padanya,namun pria itu tetap tidak meliriknya sama sekali.


"aku mencintai Gazza Bu, sangat mencintainya Bu." lirihnya lagi. Sejenak Livana tertawa pelan, "ibu,aku akan memperkenalkan calon suamiku pada ibu disana,kami akan menyusul ibu." ucapnya pelan.


"aku sudah memasukkan sesuatu kedalam infusnya tanpa mereka sadari,aku membenci mereka benar-benar membenci mereka!!!" teriaknya histeris menangis sesunggukan disamping makam ibunya.


Tiba-tiba ada tangan yang menarik bajunya membuat ia terhuyung berdiri menatap orang itu. "jadi kau pelakunya hah?!" bentak Dasha mencengkram kuat kerah baju Livana.


"huh,kenapa adik ipar? kau marah kalau aku membawa kakakmu ke alam lain?"


Plaaak.


"jaga ucapanmu Livana!! aku bukan adik iparmu! kau sungguh keterlaluan. Jangan pernah ganggu mereka!!" bentaknya lagi. Sungguh ia sangat kecewa melihat Livana yang ia anggap baik ternyata bermuka dua.


"hanya karna kau mencintainya kau hampir membuatnya mati!! dan aku akan menuntutmu ke penjara!" cercanya lagi,ia menangis mendengar kabar buruk itu dari suaminya. Ia tidak menyangka jika niatnya mengikuti Livana yang terlihat mencurigakan saat keluar dari rumah sakit tadi,kini hampir saja nyawa Gazza melayang.


"tidak,Gazza tidak boleh hidup. Dia harus bersamaku." Livana mendorong keras Dasha dan berlari keluar pemakaman.


"sial." umpatnya lalu menyuruh pengawalnya untuk menangkap wanita itu. "tangkap wanita itu sekarang!!"


Plaaak


"maaf Livana,mungkin tindakanku kurang sopan karena kau keluarga suamiku. Tapi,jika kau berani mengganggu abangku dan Elisa aku tidak akan tinggal diam." ancamnya


"AKU TIDAK PEDULI!! GAZZA MILIKKU!!"


Dasha tidak memperdulikan ocehan Livana ia langsung l


menyuruh orang suruhannya itu membawa Livana ke kantor polisi. Setelah melihat kepergian Livana yang dibawa paksa,ia hanya menghela napas kasar.


"kenapa takdirmu seperti ini El?" lirihnya mengingat kehidupan sahabatnya cukup rumit.


***


Elisa termenung menatap suaminya yang kini masih belum sadarkan diri. Beruntung pria itu masih bisa diselamatkan cepat,ia tidak menyangka Livana akan melakukan hal senekat itu.


"kan sudah aku bilang, aku sudah ada firasat buruk Sha. Livana bukan orang yang seperti kita lihat." suara Zayyan menggema dibalik pintu kamar Elisa. Elisa samar-samar mendengar suara perdebatan suaministr itu.


"aku sudah membawanya ke kantor polisi bang,jadi kita nggak perlu khawatir lagi."


"lain kali jangan kesana sendirian Sha,aku mengkhawatirkan mu." lirih Zayyan.


Elisa tersenyum mendengar ucapan itu, ia pun menoleh kearah Gazza. "kak,sahabatku pasti bahagia memiliki suami seperti kak Zayyan,yang perhatian."


"huh,sepertinya aku sangat jauh dari list tipemu ya El." keluh seseorang membuat Elisa terdiam.


Deg. Elisa melotot melihat Gazza menjawab ocehannya,dapat ia lihat kelopak mata Gazza perlahan terbuka dan menatap kearah Elisa.


"ish kau ini,kalau sadar bilang dong!" gerutunya melempar bantal kearah Gazza. Ia kesal sekaligus lega dapat melihat mata pria tampan itu lagi. Padahal dirinya hampir saja putus asa melihat betapa pucatnya kulit Gazza.


"hiks...kak kau hampir saja pergi dariku!!" gerutunya sambil melempar buah yang ada dinakas kearah Gazza. Gazza hanya membenteng dirinya dari serangan Elisa. "aku menyesal pernah meninggalkanmu selama dua tahun ini."


"iyaa!! kau harus menyesal kak,kau kira aku hidup damai selama dua tahun nih hah?! tidak kusangka kejadian itu hanya bunga tidurku selama koma. Ku kira nyata,betapa frustasinya aku kak." geramnya lagi.


"hei...hei,kau ini masih mengungkit nya lagi,aku kan sudah minta maaf El. Memang kesalahanku snagat fatal meninggalkanmu seperti itu setelah kita menikah. Aku sebenarnya hanya ingin menghindari mu saja."


"untuk apa kau menghindari ku kak? apa keuntunganku menghindariku."


Gazza diam sejenak. "karena melihatmu,aku seperti melihat Almira. Aku membencimu karena kau adiknya,aku lebih membencimu karena kau membuat Almira tewas waktu itu. Tapi,aku sadar bahwa yang dilakukan Almira itu benar. Dia tanpa berpikir panjang menyelamatkanmu walau nyawanya terancam." ucap Gazza menerawang membuat Elisa hanya diam mendengar ucapan pria itu.


Gazza mengusap wajahnya kasar, "huh,aku terlalu labil mengambil tindakan setelah apa yang kulakukan padamu El. Melihatmu waktu itu menikah dengan orang lain justru membuatku kesal dan tidak tau mengapa kau itu membuatku terpikir terus." Lalu Gazza memiringkan badannya menatap istrinya lekat.


"dan aku sadar,ternyata selama ini aku bukan menyukai Almira melainkan kau."


Deg. Apa maksudnya? Elisa hanya diam menatap Gazza dengan tatapan yang susah diartikan,ia masih terus memikirkan kata-kata yang diucapkan Gazza tadi.


"apa maksudmu kak?"


~ Please Forgive Me~