
"anak sialan,kalian ini nggak tau tempat banget yaa!!" gerutu Dasha menatap mereka jengah. Niat ingin menghampiri mereka karena mendengar Gazza sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit malah melihat adegan bermesraan pasutri itu.
Elisa spontan menjauh dan memalingkan wajah sedangkan Gazza menghendus kesal menatap adik laknatnya yang datang disaat waktu yang tidak tepat.
"cih,menganggu saja."
"heh,kalian bisa melakukannya dirumah jangan disini bodoh! astaga."
"oh ya,bang kau harus kembali pulang kerumah,jangan kembali ke habitatmu. Ibu sama Ayah menunggu dirumah,dan Ed juga."
"iyaa...iyaa." jawab Gazza sedikit ketus,lalu melirik kearah Elisa. "El,cepatan dorong nih." suruhnya langsung dihadiahi tempeleng dari Dasha.
"ih nyusahin amat jadi orang. Minta tolong tuh baik-baik kek."
"awas sana,jangan ganggu kami. Elisa ayok tinggalkan Dasha sendirian disini." ajak Gazza memegang lengan Elisa.
"dasar Abang laknat!" Sedangkan Elisa hanya terkekeh pelan melihat perdebatan dua saudara itu. Rasanya sudah lama sekali tidak melihat mereka berdebat.
***
Gazza mendadak kalut menatap rumah yang sudah lama tidak ia lihat,tidak ada yang berubah dari rumahnya itu. Hanya saja ada tambahan anggota keluarga yang tak lain adalah anaknya Dasha, Edward.
"jadi ini anak kalian?" tanya Gazza menatap pria kecil yang sedang dipangku oleh Zayyan.
Zayyan mencebik, "iyalah nih bocah anak kami,kau kira dia anak siapa hah?"
"nggak mirip pun sama kalian berdua." ledek Gazza malah mendapat pukulan kecil dari istrinya. "hei kak,jangan ngadi-ngadi. Keponakanku yang lucu ini mirip banget sama Dasha." bela Elisa sontak Zayyan menatap sombong kearah Gazza.
"tuh dengarin istri kau Za,makanya jangan pandai melarikan diri,tuh nggak tau kan apa saja kejadian selama dua tahun belakangan ini. Kali ini kau harus bertanggung jawab mengurus rumah tangga kau Za,jangan melepaskan kesempatan kedua yang udah dikasih. Apalagi kedua orang tua Elisa galak amat." bisik Zayyan ditelinga Gazza.
"kalian ngomongin apa?" tanya Elisa heran menatap keduanya.
"nggak ada,hanya urusan lelaki saja El. Ya sudah kalian masuk aja dulu,aku mau ajak Edward jalan-jalan." pamitnya berjalan melewati mereka.
"bocah kesayangan papa,kita tinggalin Tante sama oom yang ngenesin disini,kita akan berjalan berdua okee." serunya pada Edward sekaligus mengejek Gazza dan Elisa.
"ck, kekanak-kanakan."
"udah-udah,ayo masuk kak. Kakiku udah pegel banget."
Gazza menoleh kearah kaki Elisa, "maaf." lirihnya lagi. Ia menggerutu kesal lagi-lagi tidak bisa membantu istrinya.
Elisa tersenyum tipis lalu dengan sabar mendorong kursi roda masuk kedalam rumah mereka. Didalam sana sudah banyak pasang mata langsung menatap tertuju pada mereka. Banyak ekspresi yang ditunjukkan pada mereka,lebih persisnya melihat kearah suaminya.
Ini hampir mirip seperti mimpiku waktu koma itu. gumam Elisa menatap seluruh keluarganya.
"Elisa,sini nak." seru Teresa menatap putrinya. Elisa mengangguk dan berjalan menuju tempat mamanya. Sedangkan Gazza mendorong kursi rodanya persis disamping ibunya.
"gimana keadaan kamu nak? masih sakit?" tanya Thalia prihatin menatap putra sulungnya. Gazza menggenggam tangan ibunya lalu menggeleng pelan. "tidak Bu,aku sudah lebih baik sekarang."
Gazza melirik kearah mertuanya yang enggan menatapnya. Wajar saja dirinya sudah melakukan kesalahan fatal terhadap putri mereka. "maa,paa maafkan aku."
"segampang itu kau bilang maaf Gazza setelah apa yang kau perbuat pada Elisa?!" geram Teresa menatap menantunya yang tidak ada akhlak itu.
Teresa hanya membuang napas kesal lalu menatap putrinya. "kau beruntung Gazza dicintai oleh gadis yang begitu tulus padamu. Tapi,sekali lagi kau mempermainkan pernikahan ini,kalian kubuat cerai!"
"mamaa." seru Elisa lagi,ia merasa tidak enak menatap mertuanya yang hanya diam mendengar ocehan mamanya. "ibu,ayah tolong maafkan mama saya."
"nggak papa nak,yang dikatakan mama kamu itu benar. Gazza udah melakukan kesalahan dan dia harus bertanggung jawab." ucap Ibu. Melihat ibunya menitik air mata membuat Gazza merasa bersalah.
"ibu maafkan aku." lirihnya tidak ingin melihat ibunya menangis lagi.
"kan sudah ayah bilang padamu Gazza,untuk tidak mempermainkan pernikahan ini apalagi menghilang tanpa mau bertanggung jawab. Apa kamu tidak ingat janji kamu dua tahun yang lalu hah?" tanya Edzhar menatap tajam pada putranya. Ia sungguh kecewa dengan perbuatan putranua yang tidak bertanggung jawab itu.
Gazza menghela napas pelan,memang semua ini salahnya. Terlalu plin-plan dalam mengambil keputusan. "maaf ayah,aku mengecewakan ayah,dan juga maaf semuanya aku malah membuat luka baru." lirihnya pelan,sekilas ia menatap istrinya yang tengah menatapnya dengan tatapan sendu.
Semuanya hanya diam tenggelam dengan pikiran mereka masing-masing,ingin marah tetapi kondisi pria itu tidak memungkinkan. Apalagi keluarga Elisa berhutang nyawa pada Gazza yang rela menyelamatkan Elisa dari kecelakaan itu.
Itulah yang membuat Teresa dan Hans berpikir dua kali untuk pernikahan anaknya. Mereka tidak ingin putri satu-satunya mengalami hal yang berat.
"kami sudah memberimu kesempatan sekali lagi Gazza. Tolong jaga itu dengan baik-baik. Kalau kau tidak bisa menjaga Elisa kembalikan dia pada kami dengan baik-baik." ucap Hans tegas.
***
Sudah dua hari berlalu,kini Elisa kembali beraktivitas seperti biasanya,dan Gazza mulai membiasakan dirinya untuk berjalan pelan walaupun menggunakan kruk.
"kak,kau makan apa?" tanya Elisa sambil membereskan kamar mereka. Bukannya menjawab Gazza langsung memeluk Elisa dari belakang,merengkuh gadis itu erat dan mencium aroma wangi gadis itu.
"nyaman." lirihnya pelan membuat Elisa tersipu malu. Ia pun membiarkan Gazza terus memeluknya sampai ia merasakan bahunya basah membuat Elisa bingung dan berbalik menatap Gazza.
"kak,kau menangis??" tanya Elisa terkejut mendapati pria itu tengah menangis. Gazza menyeka kasar air matanya lalu memeluk kembali istrinya itu. "biarkan saja seperti ini dulu El." lirihnya lagi.
Elisa tidak banyak bicara,ia pun membalas pelukan Gazza dengan erat. Sesekali ia menepuk pelan punggung suaminya untuk menenangkan pria itu.
"aku mencintaimu kak." ucapnya pelan membuat pria itu menguraikan pelukannya dan menatap Elisa dengan intens. Elisa bingung mendongak kearah Gazza yang hanya diam menatapnya.
"ada apa kak? apa ucapanku salah?" tanyanya pelan. Gazza menggeleng pelan. "aku suka ucapanmu Elisa. Tapi,aku nggak menyangka bisa dicintai oleh seorang gadis yang begitu tulus. Padahal aku selalu menyakiti perasaanmu Elisa." sesalnya dalam.
Elisa menangkup wajah Gazza sambil tersenyum, "kak,entah mengapa aku tidak bisa membencimu walaupun sedikit. Aku berusaha menyukai orang lain tetapi tidak bisa juga kak,Karna bayangan wajahmu selalu muncul dikepalaku,aneh bukan? huft,Dasha saja bilang aku terlalu bucin dan tidak bisa melihat laki-laki lain yang lebih baik darimu." oceh Elisa panjang lebar.
Gazza mengumpat kesal dalam hatinya, bisa-bisanya adiknya itu bilang seperti itu pada istrinya. Untung saja Elisa tetap mencintainya.
"hampir saja aku membuang sebongkah berlian hanya karena aku tidak bisa keluar dari masa laluku. Padahal kau lebih menderita kehilangan Almira dibandingkan aku yang hanya orang luar saja."
Elisa tersenyum tipis, "kalau gitu,akan ku bantu kakak keluar dari masa lalu." seru Elisa lagi.
"caranya?"
Elisa mengecup cepat pipi Gazza, "besok akan ku kasih tau." serunya berlari keluar kamar. Sedangkan Gazza terdiam membeku sambil memegang pipinya yang tadi dicium Elisa,ia tersenyum tipis memandang pintu yang sudah tertutup itu.
"aku mencintaimu Elisa."
~Please Forgive Me~