Please Forgive Me

Please Forgive Me
Bab 8



Dasha begitu antusias menunggu sahabatnya datang. Entah angin apa yang membuat Elisa membuat rencana mendadak itu,yang pasti ada sesuatu yang akan dibicarakan gadis itu.


Aku juga harus kasih tau dia tentang video itu. gumam Dasha pelan,ia memegang flashdisk yang mengganggu ketenangan mereka walaupun Elisa tidak menyadarinya. Ergin,pria itu cukup meresahkan saat Zayyan dan Gazza sedang berada diluar kota waktu itu.


"huft,lama sekali dia." gusar Dasha mondar-mandir didepan pintu.


"apa yang sedang kau lakukan?" tanya Zayyan menatap heran kearah istrinya yang terlihat seperti setrika.


"ah,itu aku sedang menunggu Elisa." jawabnya menghampiri suaminya. Zayyan tersenyum sambil mengelus perut Dasha.


"ada apa Elisa datang?" tanya mendongak menatap Dasha.


"dia nanti menginap sayang,aku akan tidur dengannya."


"apa?!" Zayyan terkejut dengan ucapan istrinya.


"kenapa? kau seperti tidak keliatan setuju?" tanya Dasha menatap suaminya tajam. Zayyan tidak ingin mood bumil ini naik,perlahan ia menenangkan wanita itu agar tidak jadi marah.


"tidak ada sayang,cuma terkejut Saja. Kenapa kau tidak bilang padaku dulu?"


"perasaan tadi udah bilang pas kamu lagi mandi. Apa kau sudah lupa?" tanya Dasha heran,Zayyan mengingat kembali saat Dasha mengatakan hal itu dan sialnya ia malah menjawab 'iya' pada istrinya.


Huft,sabar Zayyan... sabar. gumam Zayyan dalam hati.


"assalammualaikum." sapa seseorang diambang pintu,Dasha menoleh dan tersenyum riang menyambut Elisa yang baru saja datang.


"wa'alaikumsalam yey akhirnya datang juga. Kau lama sekali." gerutunya menatap Elisa.


"iya namanya juga tadi macet Sha,wajar dong. Ya ampun,oh yaa selamat yaa udah mau punya anak aja nih." ucap Elisa senang.


"hihihihi terimakasih,ayoo kita ke kamar!" seru Dasha menarik tangan Elisa.


"eh,tapi kak Zayyan nanti tidur dimana?" tanya Elisa canggung dengan suami Dasha. Dapat ia rasakan atmosfer dirumah ini berubah karena kedatangannya.


"biarlah dia,dia nanti tidur di kamar bang Gazza aja." seru Dasha santai tanpa merasa berdosa telah menelantarkan suaminya.


Kedua wanita itu langsung melesat menuju kamar Dasha tanpa mengingat jika Zayyan berada disini.


"nasib...nasib." gumamnya menatap kedua wanita itu. Zayyan menghela napas pelan,lalu duduk di kursi ruang tamu seraya menonton televisi untuk mengisi kebosanannya.


"hei enak sekali hidupnya berleha-leha seperti ini!" kesal Gazza yang baru saja pulang. Ia pun tanpa segan-segan melempar ranselnya kearah sahabat sekaligus adik iparnya itu.


"woii." gerutu Zayyan meringis mendapat serangan lemparan itu. Gazza duduk diseberang kanan Zayyan sambil membuka minuman kaleng yang ada diatas meja.


"apa kau tidak bekerja hah?" tanya Gazza menatap jengah kearah Zayyan.


"untuk apa aku bekerja jika rumah sakit itu milikku." ucap Zayyan dengan percaya diri.


"sialan,kau harusnya bekerja agar skill mu itu nggak sia-sia selama ini. Kau tau sendiri betapa susahnya menghapal anatomi gila tuh." gerutu Gazza.


"aku tidak menyangka kau kesusahan menghapal anatomi,padahal itu kan ada trik menghafalnya." ledek Zayyan kearah Gazza.


"terserahlah,tunggu dimana Dasha? biasanya dia udah kayak monyet berkeliaran aja." tanya Gazza sambil celingak-celinguk mencari adiknya.


"tuh diatas." jawab Zayyan tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar televisi. Gazza menyerngit bingung, "tumben kalian nggak lagi sama, kalian sedang berantam yaa??"


Zayyan menggeleng cepat, "nggak,cuman ada sahabatnya disitu." lesu Zayyan melirik sekilas kearah Gazza.


"sahabatnya? siapa?" tanya Gazza penasaran.


"Elisa."


Deg.


Gadis itu kenapa ada disini? mendengar namanya membuatku muak. gerutu Gazza dalam hati.


Zayyan dapat melihat raut wajah Gazza yang tidak biasanya. Ia tahu sahabatnya ini ada masalah dengan gadis yang bernama Elisa. Tetapi,sama halnya dengan Dasha,ia pun tidak ingin mencampuri urusan keduanya.


"kenapa kau tanya tentang dia? apa kau suka dengannya?" tanya Zayyan sambil meledek kearah Gazza.


Gazza langsung melempar bantal kearah muka Zayyan, "cih,mau kupatahkan tanganmu itu hah?!" sarkasnya menatap Zayyan dengan tatapan mematikan.


"yalah...yalah,dia hari ini nginap." jawab Zayyan pasrah ralat acuh tak acuh.


Gazza menatap tidak suka kearah Zayyan, "nginap? untuk apa?"


"yaa mana kutahu,itu urusan wanita." jawab Zayyan santai menikmati makanan ringan ditangannya tanpa memperdulikan seseorang menatap kearah kamar istrinya dengan tatapan tidak suka.


Gazza langsung beranjak dari tempat menuju keluar,membuat Zayyan menoleh kearahnya. "kau mau kemana Za?"


"cari udara segar." jawab Gazza asal,sedangkan Zayyan terkekeh pelan. "sebesar apa kau membenci Elisa Za? hmm info baru nih,nanti ajalah gosip sama Dasha." seru Zayyan melanjutkan acara santainya.


***


Dasha menyerngit bingung menatap Elisa yang menatapnya dengan tatapan cemas,membuat bumil itu penasaran.


"ada apa? tumben sekali kau menginap disini?" tanya Sasha menyamakan posisi duduknya dengan Elisa.


"cih,bukannya senang sahabatnya nginap sini malah nyengir pula dia. Huft,aku kesini untuk curhat." lirih Elisa membaringkan tubuhnya menatap langit kamar dengan tatapan kosong.


"masalah?"


"iyaa,dan ini menyangkut masa depanku Sha." lirihnya lagi.


"apa ini ada hubungannya dengan Ergin?" tebak Dasha membuat Elisa menoleh cepat kearahnya.


"bagaimana kau bisa tau?" tanya Elisa terkejut.


"kan kau sendiri yang ngasih tau padaku tentang calon suamimu itu." terangnya membuat Elisa menepuk jidatnya pelan.


"oo iya yaa lupa," cengir Elisa lagi.


"kau tau Dasha,keluarga Ergin datang kerumahku,trus mereka meminta segera menikah dalam waktu dekat nih. Dan lebih parahnya lagi dia Minggu lagi aku jadi istri orang." lirihnya. Dasha merasa iba melihat permasalahan sahabatnya ini.


"kau terima aja El?" tanya Dasha pelan.


Elisa mengangguk sambil menyeka air matanya, "iyaa mau gimana lagi. Ditolak pun nanti aku kena lagi."


Dasha langsung memeluk Elisa dengan erat, "nangislah beb,kalau kau ingin nangis." ucap Dasha membuat tangisan Elisa langsung pecah.


Dasha yang mendengar suara tangisan Elisa ikut merasakan kesedihan juga. Ia bersyukur jika pernikahannya dulu karena kemauannya sendiri. Tetapi,tidak untuk Elisa yang mau tak mau harus menerima perjodohan ini.


Setelah puas Elisa menangis,barulah aku melonggarkan pelukannya. "udah lebih baik kan?"


Elisa mengangguk,ia pun mengambil tisu untuk mengelap hidungnya. Lalu Elisa memandang nanar kearah Dasha.


"Dasha,sepertinya aku udah nggak ada kesempatan untuk mengejar kak Gazza. Setelah dipikir lagi,kak Gazza juga nggak memperdulikan keberadaanku dan..." Elisa menahan tangisannya,


"s-syal kemarin dia langsung merobek didepan mataku." Elisa kembali menangis. Ia sangat ingat waktu ulang tahun Gazza,mereka semua bekerja sama mendekor kamar Gazza jadi pesta kecil. Namun ekspetasi tidak sesuai realita. Gazza begitu marah dan kesal. Bahkan hadiah jerih payahnya dirobek dengan kasar.


Elisa menarik napas panjang sambil mengibas wajah sembabnya. "fyuuh,aku akan menerima Ergin jadi suamiku." lirihnya lagi.


Dasha sejenak terdiam,ia sangat tahu perasaan Elisa pada Gazza sangatlah besar. Tetapi,yang menjengkelkannya abangnya itu tidak berperikemanusiaan. Entah apa yang membuat dia sangat membenci Elisa.


wait,apa ada hubungannya dengan video di flashdisk?? gumam Dasha sejenak.





~ Please Forgive Me~