
Elisa terperanjat kaget melihat suaminya sudah sadar. Ia pun langsung menggenggam tangan suaminya erat.
"ka-kakak udah sadar?"
Gazza menoleh kesamping,ia hanya mengangguk pelan sambil meringis kesakitan. Elisa panik langsung menekan tombol didekat kasur mereka. "kak,bertahan dulu,jangan banyak gerak." Ia bahkan melupakan kakinya yang masih sakit dan terburu-buru turun dari kasur.
Bruuuk
Gazza ingin beranjak membantu Elisa,namun tubuhnya masih lemah. Ia menggerutu kesal menatap istrinya yang terlihat meringis menahan sakit kakinya.
"aw,sakit." lirih gadis itu,beruntung perawat masuk keruang mereka dan segera berlari membantu Elisa untuk duduk kembali ke kasur. "pelan-pelan saja nona."
"terimakasih sus." ucap Elisa tulus,lalu ia memandangi kakinya yang kembali mengeluarkan darah segar dibalik perban putih yang mulai berubah menjadi merah karena darahnya.
"tunggu sebentar nona,saya akan membersihkan darahnya." ucap perawat itu langsung buru-buru mengambil peralatan untuk mengobati kaki Elisa. Gazza mengulurkan tangannya hingga mencapai tangan Elisa. Elisa menoleh kebelakang menatap kearah Gazza. "kak,apa kau masih sakit? maaf aku malah jadi tidak bisa membantumu." lirihnya sendu. Sedangkan Gazza menggeleng pelan.
"maaf karena membuatmu terluka."
Elisa menggeleng keras, "kak,kau itu ngomong apa sih? untuk apa minta maaf kak,kau itu tidak salah. Kau mengorbankan nyawamu untukku,kalau saja kau telat mungkin aku yang ditabrak."
"jangan ngomong kayak gitu,aku udah susah payah menyelamatkanmu El." gerutu Gazza.
Elisa kembali menatap Gazza lekat membuat Gazza salah tingkah. "kenapa kau memandangku seperti itu?"
Elisa mendadak senyum,ia terus menatap Gazza dengan lekat tanpa memperdulikan pria itu salah tingkah. "kalau kau keberatan,kenapa kau menyelamatkanku?"
Gazza berdecak kasar langsung menoyor kepala Elisa. Bisa-bisanya gadis itu berkata demikian sementara dirinya dengan spontan menyelamatkannya. Gazza langsung membelakangi Elisa dan memejamkan matanya.
Elisa kesal melihat tingkah Gazza. Harusnya disini ia yang marah bukan suaminya. Huh,menyebalkan. gerutunya. Lalu pandangannya menoleh kearah pintu yang terbuka. Perawat yang tadi langsung masuk sambil membawa peralatan medisnya. "ayoo saya obatin non." ucapnya langsung melakukan pekerjaannya itu. Sementara Elisa memandang punggung Gazza dengan tatapan yang susah diartikan.
***
"ish,kau seharunya membiarkanku menjaga kalian,nah liat akibatnya. Kau juga yang jadi beban,manalagi kalian berdua sama-sama masuk rumah sakit! kau ini ngenyel benar deh." omel Dasha panjang lebar. Baru saja mereka tinggal semalam kedua pasutri itu malah mendapatkan kabar yang kurang enak didengar.
Gazza menutup telinganya dengan bantal,tidak ingin mendengar celoteh panjang lebar adiknya. Sudah lama sekali ia tidak mendengar suara cempreng adiknya.
"cih,kau masih ada muka juga kesini." cibir Zayyan yang baru saja masuk dan langsung ketempat bangsal Gazza. Sambil mengecek keadaan sahabatnya itu sekalian ia memberikan siraman rohani pada pria yang meninggalkan tanpa kabar pada semuanya.
"kau masih sama menyebalkan seperti dulu." ketus Gazza menatap tajam kearah Zayyan. Zayyan berdecak pelan, "kau ini sudah kuselamatkan tidak tau terimakasih sialan. Dua tahun menghilang eh pas baru muncul kau udah sekarat gini."
"diamlah,yang penting aku ada disini,puas??"
"aku tidak puas. Kau bahkan tidak melihat keponakanmu itu."
Alis Gazza terangkat menatap Zayyan dan Dasha secara bergantian. "anak kalian udah lahir?"
"udah bang,masa iyaa sampai sekarang dipwrut trus. Kau ini ada-ada saja." gerutu Dasha. Dalam hatinya ia sangat bersyukur bisa bertemu dengan abangnya lagi. Dasha menoleh kearah Elisa yang sedikit meringis dalam tidurnya. Ya memang,saat ini Elisa belum bangun dari mimpinya lantaran tadi malam tidak bisa tidur karena terus merasakan nyeri dibagian lukanya itu.
"Elisa kayaknya sakit banget." ucapnya khawatir,Zayyan langsung berpindah ke bangsal Elisa dan mengecek luka gadis itu. "El,kau sudah bangun?" tanyanya pelan membuat kelopak mata gadis cantik itu terbuka dan mengangguk pelan.
"masih nyeri El?" tanya Dasha meringis menatap luka dikaki Elisa. Lagi-lagi Elisa hanya bisa menjawab sambil mengangguk. Zayyan langsung mengambil Scala nyeri yang ada disana.
"El coba tunjuk angka skala nyerinya disini,seberapa besar nyerinya?"
Alis Gazza mengerut,begitu juga dengan Elisa yang kembali membuka mata menatap bingung antara keduanya. "Tante siapa?"
"tanteku,Livana." ucapnya sambil menunjukkan foto Livana diponselnya kearah Gazza.
Gazza tertegun melihat foto itu dan mendongak kearah Zayyan, "Livana itu tantemu? serius?"
Zayyan mengangguk, "iyaa dia anak terakhir kakekku. Tapi,kenapa kau bisa kenal dengannya?"
"waktu itu aku sempat menolongnya dari preman yang mau menculiknya." jawab Gazza pelan.
Zayyan mengangguk tetapi sorot matanya menerawang membuat Gazza heran. "kenapa memangnya?"
"aku harap kalian tidak dekat Za,jauhi dia." ucapnya dingin setelah itu berjalan keluar ruangan. Dasha dan Elisa yang daritadi menjadi penyimak antara keduanya saling menoleh dengan pikiran masing-masing. Atmosfer dalam ruangan seketika mendadak hening tanpa ada yang membuka suara setelah Zayyan keluar tadi.
Suamiku sialan,kau meninggalkanku disini. Ada apa ini? kenapa aku tidak tau apa-apa? apa ada yang salah sama Vana?. Pertanyaan itu terus berputar dikepala Dasha. Dasha langsung bergegas mencari suaminya dan meminta penjelasan lebih dari pria itu.
Sementara tinggallah pasutri yang masih terdiam dengan pikiran masing-masing. Gazza yang masih bingung dengan ucapan Zayyan sedangkan Elisa tiba-tiba memikirkan negatif tentang suaminya? apa pria itu ada hubungan dengan orang disebut Zayyan tadi? kenapa adik iparnya menyuruhnya untuk menjauh? apa yang terjadi sebenarnya?
***
"bang!!" panggilnya membuat Zayyan menghentikan langkahnya dan menoleh kearah istrinya. "kau pasti penasaran dengan yang aku bilangkan?" tebak Zayyan sambil memasukkan tangannya ke saku. Dasha mengangguk mantap dan menyuruh suaminya untuk duduk.
"cepat katakan padaku bang,kenapa Vana tidak boleh dekat dengan Gazza?" tanya Dasha.
"huft,waktu itu aku tidak sengaja mendengar percakapan Vana dengan kakek di ruangan kerja kakek."
"trus?"
"aku dengar dia ingin segera menikah dengan orang yang ia sukai, awalnya aku senang akhirnya Vana segera menikah tapi,ketika mendengar nama calon suami yang ia maksud membuatku sangat marah. Aku langsung menerobos masuk dan menentang pernikahan itu,dan yaa Vana sangat marah dan kecewa."
Dasha membulat matanya sempurna,"apa Vana tidak tau jika bang Gazza sudah menikah?"
Zayyan menggeleng, "Vana tidak tau jika Gazza sudah menikah. Bahkan walaupun aku sudah kasih tau kalau Gazza sudah menikah,ia pun tetap kukuh menikah. Karena baginya Gazza adalah penyelamat hidupnya."
"ya ampun,Aku harus bicarakan ini dengan Vana. Ini tidak boleh dibiarkan trus menerus."
Zayyan langsung menahan pergerakan Dasha membuat istrinya itu menoleh kearahnya. "sepertinya lebih baik Gazza sendiri yang ngasih tau ke Vana,kalau kita yang jelasin nggak bakalan didengar sama Vana." ucap Zayyan pelan.
"kenapa denganku?" tanya seseorang berdiri yang tak jauh dari mereka duduk saat ini. Zayyan langsung menoleh begitu juga dengan Dasha dan terkejut melihat wanita yang memakai rompi maron itu.
"Vana?"
•
•
•
~Please Forgive Me~