Please Forgive Me

Please Forgive Me
Bab 52



Gazza berjalan masuk kedalam teras rumahnya. Ia tersenyum mendapati istri tengah bercanda ria dengan sang adik di dapur.


"eh kau sudah kembali kak." seru Elisa melihat suaminya baru saja tiba dirumah. Gazza mengangguk dan berjalan menghampiri istrinya.


"bang,dimana suamiku?" tanya Dasha melihat Gazza berjalan kearah mereka.


"dikolong jembatan." jawab Gazza asal. Dasha berdecak pelan mendengar ucapan abangnya,bergegas keluar mencari suaminya.


Elisa melihat raut Gazza yang terlihat buruk, "kak,kau kenapa? apa ada masalah dirumah sakit?" tanya Elisa pelan. Gazza menggeleng,ia pun memeluk istrinya erat.


Elisa terkekeh,Gazza semakin manja dengannya, "El,kita liburan yok."


"heh,enak aja kau belum kerja sehari dah minta libur!" ketus seseorang yang baru saja masuk kerumah bersama istrinya. Siapa lagi kalau bukan Zayyan dan Dasha.


"ish sahabat laknat,hei biarkan aku pergi liburan dengan istriku!"


"nggak bisa,kau masih harus kerja! mau ngasih makan apa istrimu itu hah? batu? Elisa minta pisah aja sama Gazza."


Gazza langsung menggenggam tangan Elisa posesif. "jangan menghasut istriku,sampai kapanpun dia tidak boleh berpisah dariku!"


"cih posesif." kesal Zayyan langsung menarik tangan Dasha menuju kamar mereka. Sedangkan Elisa terkekeh pelan melihat ekspresi suaminya.


Gazza langsung menoleh tajam kearah Elisa. "kau tidak akan berniat pisah kan?"


Elisa tersenyum lalu menggeleng cepat. "gila aja aku pisah darimu kak,udah capek-capek aku berjuang masa ditinggal gitu aja." seru Elisa mengecup bibir Gazza cepat.


Gazza mematung lalu menekan tengkuk Elisa dan menciumnya dalam. Sampai-sampai mereka tidak sadar jika tindakan mereka dilirik oleh ayah dan ibu mereka.


"astaga, kalian!!" pekik Thalia gemas melihat menantu dan anaknya tidak tau tempat. Sedangkan Edzhar hanya tersenyum tipis melenggang masuk kedalam kamar.


Gazza dan Elisa spontan memisahkan diri cepat dan tersenyum kikuk menatap sang ibu yang memergoki tindakan mereka tadi.


"ckckck kalian ini,kalau mau sayang-sayangan dikamar lah,jangan disini. Ya ampun!" gemas Thalia cekikikan meninggalkan kedua manusia yang kini menahan malu.


Elisa dan Gazza saling melirik lalu tertawa terbahak-bahak dengan kelakuan mereka. Gazza langsung menarik tangan Elisa ke kamarnya.


"ngapain kita ke kamar kak?"


"seperti kata ibu,kita mau sayang-sayangan. Jadi harus dikamar." cengir Gazza membuat Elisa bergidik ngeri,karena ia tahu apa yang dimaksud suaminya itu.


***


Jay berjalan menuju apartemennya. Ia sempat melirik apartemen sebelah yang sempat membuat kenangan singkat bersama Elisa. Yap,gadis itu yang membuat jantungnya berdegup kencang melihat sorot matanya yang sendu,tetapi kini gadis pujaannya itu sudah tidak bisa digapai lagi lantaran kembali dalam pelukan suaminya.


"huft,malang sekali aku menyukai istri orang lain." lirih Jay pasrah. Ia harus membuang jauh-jauh perasaan pada Elisa demi kebahagiaan gadis itu. Mengikhlaskan seseorang yang dicintai pergi bersama orang lain adalah pilihan terbaiknya saat ini.


Ia sadar jika memaksa egoisnya,Elisa tidak akan bahagia bersamanya. "aku harap kau bahagia bersama Gazza." ucapnya tulus lalu masuk kedalam apartemennya.


Baru saja ia masuk, tiba-tiba ia dikejutkan dengan sosok perempuan yang kini sedang tertidur disofanya sambil memegang cemilan dan makanan ringan berserakan dimana-mana membuatnya begitu kesal.


Jay langsung menarik kasar gadis itu hingga tersentak bangun. "siapa kau?!" tanyanya menatap tajam.


Gadis itu sedikit ketakutan,apalagi ia celingak-celinguk mencari seseorang. Matanya bertemu dengan mata tajam Jay yang membuatnya menciut.


"ka-kau siapa?? kenapa kau berada disini? inikan apartemen bibiku." ucapnya gemetaran membuat Jay menyerngit bingung.


Apa aku salah masuk apartemen? tapi memang benar ini apartemenku. Lagian tadi aku masukkan password. gumam Jay pelan. Tetapi,ia beramsumsi jika gadis ini hanya modus menipu.


"cepat telpon bibimu itu!" seru Jay meminta gadis itu segera menelpon keluarga gadis itu. Dengan penuh ketakutan gadis itu mencari ponselnya,namun ia tidak menemukan apapun. Gadis itu malah semakin menghamburkan sampah-sampah untuk mencari ponselnya.


"hei,kau tidak perlu menghamburkan sampah kau! cih,rumahku jadi kotor."


"ma-maaf nanti aku bereskan." lirihnya lagi. Sudah diberbagai sudut ruangan namun ia tidak menemukan ponselnya.


"a-aku tidak menemukan ponselku."


"maaf,aku tidak tau apa-apa,aku akan bereskan ini semuanya dan pergi dari sini." ucapnya cepat membuat Jay melepaskan tangan gadis itu.


"huft,ya sudah cepat bereskan semua ini!" titahnya langsung meletakkan belanjaannya tadi diatas meja. "sekalian masukkan belanjaan ini kedalam kulkas!"


"okee."


Jay berjalan masuk kedalam kamarnya,ia merebahkan dirinya dikasur. Namun,badannya terasa tidak nyaman membuatnya merabah permukaan kasur. Jay duduk dan memeriksa sesuatu dibalik selimut dan menemukan ponsel berwarna putih.


"apa ini punya gadis itu?" tanyanya pelan memperhatikan ponsel itu,seketika matanya melotot memandang pintu yang tertutup. "sialan,jadi dia tadi masuk kedalam kamarku?! astaga,ini sudah keterlaluan!" geramnya hendak beranjak dari kasur.


Namun,matanya melirik kearah pesan yang baru saja masuk kedalam ponsel itu. Seketika terdiam tanpa sengaja membaca pesan pribadi gadis itu.


Bibi


Suha,kau sudah disana kan sayang? maaf bibi nggak bisa datang. Tapi,ada seorang pria yang akan datang kesana,nanti kau dibayar kalau membuatnya senang. Oke.


Jay tertegun,bagaimana ada manusia seperti itu tega melakukan hal itu pada keponakannya sendiri? menyuruh sang keponakan yang ia lihat polos itu melayani pria brengsek? astaga tidak pernah ia lihat sebelumnya.


Jay langsung membuka pesan tersebut tanpa memperdulikan privasi orang lain,dapat ia lihat pesan-pesan yang sebelumnya dan terkejut jika apartemen yang dimaksud adalah apartemen disampingnya. Pemilik apartemen tetangganya yang selalu gonta-ganti membawa wanita. Beruntung,pria berhidung belang itu tidak mengincar Elisa saat gadis itu masih tinggal disamping apartemennya.


"jadi nomor apartemenku mirip dengan pria brengsek itu,sialan aku harus ganti password. Untung saja gadis itu salah masuk apartemannya. Tetapi ia ingin memastikan sesuatu pada gadis itu.


Jay berjalan keluar kamarnya dan tertegun melihat apartemen yang seperti kapal pecah tadi kini sudah mengkilat sempurna. Bahkan gadis itu tengah membuat sesuatu didapurnya.


"kau sedang membuat apa?" tanya Jay berjalan mendekati Suha yang masih sibuk memasak. Suha terkejut lalu berbalik menatap pria tinggi itu.


"ah,sebagai ucapan permintaan maaf ku. Aku membuatkan makan malam untukmu."


"kenapa kau bisa masuk kedalam apartemenku?" tanya Jay smabil bersandar di meja makan menatap kearah Suha.


"a-aku tadi diberi tau oleh bibi,katanya dia tinggal disini. Jadi aku disuruh kesini duluan." jawabnya.


"apa bibimu salah alamat atau password?"


"entahlah,tadi sekilas aku ingat waktu tuh bibi kirim pesan nomor sama passwordnya. Tapi,aku tidak tau kenapa aku nyasar ke apartemenmu dan passwordnya terbuka sendiri."


Huft,ini kecerobohan ku membuat password yang begitu mudah dibuat. Kenapa pula aku baru sadar pria brengsek itu password nya sama denganku?


"sekali lagi maaf,hmm aku akan pergi tapi sebelumnya aku mencari ponselku dulu. Daritadi aku tidak menemukan ponselku."


"apa ini ponsel kau?" tanya Jay menunjukkan ponsel Suha ditangannya. Gadis itu menghela napas lega, "akhirnya,dimana kau temukan ponselku kak?"


"ck,kau berani masuk kedalam kamarku." gerutu Jay.


"hehehe,maaf kukira itu kamar bibi. Soalnya aku belum pernah merasakan kasur yang empuk itu."


Alis Jay terangkat keatas,memandang gadis yang terlihat begitu polos tanpa menyadari jika bibinya itu ingin menjualnya.


"apa bibimu itu sangat baik?"


Suha mengangguk semangat,"aku bersyukur punya bibi. Waktu dulu,aku tidak punya keluarga dan hidup pas-pasan. Tapi,saat bertemu dengan bibi,hidupku sekarang lumayan baik dan aku tinggal menyelesaikan skripsiku yang belum selesai."


"eh,maaf aku terlalu semangat berbicara." sesalnya pelan. Sedangkan Jay menghela napas pelan,gadis ini benar-benar polos.


"ya sudah,ini sudah malam. Kau bisa kembali besok,jangan pergi tanpa izin dariku." titahnya membuat Suha bingung.


"tidak mungkin kak,masa saya sama kakak satu apartemen. Itu sangat tidak baik dilihat orang lain."


"apa kau sadar kalau kita sedang berdua? untuk apa kau takut. Tenang saja aku tidak akan macam-macam. Lagian tidak baik kau keluyuran malam-malam begini." selanya tidak ingin dibantah. Terserahlah apa yang dipikirkan gadis itu,yang penting gadis itu tidak dalam bahaya.


~Please Forgive Me~