
Bercanda,akan kurebut dia dari kau. gumam Jay bersenandung riang memasuki apartemennya. Ia akan pastikan bisa membuat Elisa bahagia. Tetapi,bukan saat yang tepat baginya untuk muncul dihadapan gadis dingin itu.
***
Gazza berlari kesana-kemari mencari Elisa. Ia terus menghubungi nomor Elisa,namun tidak diangkat oleh gadis itu sehingga rasa cemasnya semakin membesar.
Ya Allah dia ada dimana?. gumamnya cemas,ia pun bolak-balik bertanya pada orang disekitar sana tentang istrinya,namun tidak ada yang melihat istrinya sama sekali.
Aku gagal jadi suami,cih apa-apaan ini?! gerutunya dalam hati. Seharian ia seperti orang gila mencari istrinya yang tidak tau kemana.
Elisa aku minta maaf, tolong jangan pergi. lirihnya berharap bisa menemukan Elisa segera.
Sementara orang yang dicari Gazza,malah menikmati SPA bersama adik iparnya. Saat mereka pulang kerumah kemarin,banyak yang terkejut dengan kedatangan Elisa tanpa bersama Gazza. Hal itu membuat tanda tanya pada kedua orang tua Dasha dan Dasha menceritakan semua kejadian yang dialami Elisa. Sontak kedua orang tuanya marah dan akan memberikan pelajaran yang pantas untuk putra sulungnya saat datang nanti.
"kau yakin tidak memberitau kepada mama dan papamu El?" tanya Dasha menatap Elisa yang sedang dipijit. Elisa menoleh sekilas kearah Dasha.
"tidak,aku tidak akan memberitau mereka." jawabnya.
"kenapa? bukannya orang tuamu harus tau kelakuan bang Gazza?" tanya Dasha penasaran.
"kalau aku kasih tau mereka,saat aku sudah memaafkan kak Gazza belum tentu kedua orang tuaku memaafkannya Sha." jelas Elisa lagi.
Dasha tertegun dan sekilas tersenyum pada Elisa, "hatimu sangat baik sekali." ucapnya pelan.
Setelah mereka selesai dengan urusan SPA,akhirnya mereka berjalan menyusuri warung sate yang ada di pinggir jalan.
"aku ingin dua porsi lah." seru Dasha antusias menunggu pesanan. Elisa melotot kearah Dasha, "hei,satu porsi aja belum habis nih dah mau pesan dua langsung." protes Elisa.
"yah kan benar,aku kan berdua dengan anakku didalam perut." seloroh Dasha sambil mengelus perut buncitnya.
"oh ya ampun." ucap Elisa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Eh El,sate pedas enaknya didampingi sama air akar deh. Tolong pesanin dong."
"okee yang asam atau santan?" tanya Elisa.
"hmm asam ajalah."
"okee bentar,aku kesana." ucap Elisa berdiri berjalan menuju gerobak yang menjual air akar itu. Setelah memesan air akar ia hendak berjalan menuju mejanya Dasha namun matanya menyipit saat melihat seseorang yang ia kenal.
Kak Gazza?. gumamnya pelan,namun ia menggeleng kepala, "tidak mungkin,kan dia masih di Kanada. Sepertinya aku berhalusinasi saja nih." gumamnya lagi tidak ingin mempercayai yang ia lihat.
"kau lihat apa El?" tanya Dasha yang sedari tadi melihat raut wajah Elisa. Elisa menoleh kearah Dasha, "tidak ada,aku salah liat kayaknya tadi." jawab Elisa asal. Setelah mereka berdua mengisi perut mereka, barulah mereka berjalan menuju mobil mereka yang terparkir tak jauh dari tempat mereka makan tadi.
"aduh." gerutu Dasha memegang perutnya,sontak membuat Elisa langsung cemas menghampiri Dasha.
"kenapa? kenapa? perutmu sakit?" tanya Elisa khawatir.
"iyaa,nggak tau nih tiba-tiba kram. Aku mau pulang El." lirihnya menahan rasa sakit perutnya. Elisa mengangguk cepat,ia langsung membukakan pintu untuk Dasha dan memapah bumil itu masuk kedalam mobil baru dirinya memutar dan duduk dikursi kemudi.
"minumlah dulu." ucap Elisa sambil menyodorkan air mineral yang ada didalam mobil. Dasha meneguk kandas air mineral itu lalu merebahkan dirinya pada kursi mobil.
"masih terasa sakit El." lirihnya lagi.
"apa perlu kedokter sekarang kita Sha?" tanya Elisa cemas.
"oo oke...okee kita pulang,kau mau video call dengan kak Zayyan sekarang?" tanya Elisa lagi. Dasha menggeleng, "aku ingin langsung menemuinya." sahutnya pelan.
"baiklah,tahan sebentar." ucap Elisa lalu ia fokus mengemudikan mobilnya. Dengan kelihaian Elisa membawa mobil akhirnya mereka berhasil pulang kerumah dengan selamat. Elisa langsung memapah Dasha masuk kedalam rumah. Elisa baru saja membuka pintu ia dikejutkan oleh seseorang yang selama ini ia rindukan.
"kak Gazza?" gumamnya terkejut mendapati suaminya itu berdiri diam menatapnya lekat. Begitu juga halnya dengan Dasha,ia menatap tajam kearah abangnya.
"baru pulang?!" ketus Dasha menatap tajam kearah Gazza,sepertinya Dasha tidak ingin berbicara pada Gazza setelah abangnya itu lakukan pada Elisa. Gazza hanya diam, tatapannya tidak beralih dari Elisa,Elisa yang merasa salah tingkah ia pun membantu Dasha untuk duduk disofa tanpa menoleh kearah Gazza.
Elisa menatap mertuanya sudah duduk diruang tengah,ia dapat merasakan suasana tampak hening dan mencengkam. Tepat disaat itu,Zayyan datang masuk kedalam rumah.
"assalammualaikum." ucapnya masuk,saat ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan,ia terkejut mendapati sahabatnya berada disini.
"wa'alaikumsalam." ucap mereka kompak,lalu menyuruh Zayyan ikut duduk bersama mereka. Zayyan menghampiri Dasha yang terlihat menahan sakit.
"sayang,kau kenapa?" tanya Zayyan mengelus perut Dasha. Saat merasakan sentuhan Zayyan,rasa sakit yang dirasakan Dasha langsung menghilang.
"dedeknya kangen papanya." ucapnya pelan membuat Zayyan terkekeh.
"enak banget yaa jalan-jalannya sampai lupa sama suami sendiri." sindir Zayyan disambut cengiran oleh Dasha. Lalu pandangan mereka beralih kearah Gazza yang hanya diam menatap lekat kearah Elisa.
"kalau kau ingin bicarakan sesuatu, ngomong lah." ucap Zayyan memecahkan keheningan diantara mereka. Ia tahu masalah yang akan dibahas oleh sahabatnya itu,tak lain adalah masalah rumah tangga Gazza.
"kau sudah tau dimana letak salahmu Gazza?" tanya Ayah menatap tajam kearah putra sulungnya. Gazza mengangguk pelan. "tau Yah." ucapnya pelan.
Sedangkan Elisa hanya diam mengamati interaksi antara suami dan ayah mertuanya.
"apa alasanmu melakukan itu Gazza?" tanya Ayah lagi. Gazza menghela napas pelan lalu ia menatap Elisa sekilas. "karena aku membencinya Yah." ucapnya pelan.
Deg. kata benci itu terucap lagi dimulut Gazza membuat Elisa menahan tangisnya agar tidak keluar. Begitu Dasha langsung merangkul sahabatnya, "kau gila bang,kau membencinya karena kejadian itu kan?"
"kejadian yang mana?" tanya ibu menatap serius kearah Dasha.
"kejadian kecelakaan maut kakaknya Elisa Bu,pacarnya bang Gazza." lirih Dasha pelan.
"kamu pacaran?!" tanya ibu terkejut mendengar fakta itu. Memang dikeluarga Gazza sangat tidak dibenarkan untuk pacaran. Karena orang tuanya selalu mendidik anak laki-lakinya untuk tidak bergaul bebas,begitu juga dengan anak perempuannya untuk selalu menjaga dirinya.
Gazza mengangguk dan menceritakan semua kisah asmaranya empat tahun yang lalu. Bahkan ia juga menceritakan bagaimana kronologi kecelakaan itu dan bagaimana Elisa dirawat dirumah sakit. Semuanya Gazza ungkapkan tanpa melewatkan apapun. Ia tahu ini salah,ini tidak masuk akal membenci orang yang bukan salahnya. Tetapi,rasa penyesalan dan amarahnya tidak terima dengan kenyataan membuatnya membenci gadis polos itu.
"kau membencinya tidak masuk akal Za. Kau hanya melampiaskan amarahmu dengannya." seru Zayyan berdecak kesal dengan kelakuan Gazza.
"ibu sangat kecewa denganmu Gazza,apa jangan-jangan kau mengambil kesempatan menikah waktu pernikahan Elisa kacau saat itu? apa kau ingin menyiksanya?" lirih ibu sedikit kecewa dengan apa yang diperbuat kan anaknya. Sungguh rasanya ia gagal mendidik anaknya dengan benar.
"iya,aku tau aku salah. Aku memang salah. Kalian boleh memarahiku sepuasnya,aku menyesal telah melakukan ini semua." sesal Gazza.
"termasuk kakak sengaja menikah denganku? apa kau juga menyesal melakukan hal itu kak?" tanya Elisa buka suara menatap sendu kearah suaminya. Semua mata langsung tertuju pada Gazza. Menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut pria itu.
•
•
•
~Please Forgive Me~