Please Forgive Me

Please Forgive Me
Bab 16



Teresa tersenyum lega memandang pernikahan putrinya berjalan lancar walaupun pengantin prianya diganti. Ia bersyukur anaknya tidak jadi menikah dengan pria brengsek. Tetapi,sekarang masalahnya Elisa sama sekali belum mengetahui suami penggantinya. Ia tampak bingung menjelaskan pada putrinya.


"apa yang kau resahkan sayang?" tanya Hans melihat raut khawatir yang muncul diwajah istrinya.


"hmm Elisa belum tau sama sekali tentang hal ini. Aku takut dia nggak menerima Gazza menjadi suaminya."


"aku yakin dia menerimanya sayang,kau tau kenapa aku langsung setuju saat Gazza mengajukan dirinya?" ucap Hans membuat Teresa menoleh kearah suaminya.


"apa?"


"karena dia pria yang baik,aku memang baru pertama kali melihatnya tetapi aku yakin dia bisa menjaga Elisa."


"yaa kau benar,Semoga Elisa menerima suaminya nanti." ucap Teresa menunggu Elisa turun.


Tepat saat Elisa turun bersama Dasha,sontak semua tamu yang diundang menoleh kearah pengantin perempuan itu,walau sempat terbesit tentang pengantin prianya yang berbeda tetapi semuanya langsung sirna saat melihat pengantin perempuannya yang begitu cantik.


Zayyan menyenggol pundak Gazza yang sedari diam saja ditempat. "hei,lihatlah istrimu Za cantik sekali."


"diamlah." ketusnya tanpa mau menoleh kearah Elisa. Lalu ia menoleh tajam kearah Zayyan, "aku bilang Dasha kau memuji sahabatnya yaa." ancamnya membuat Zayyan kelimpungan.


"hei kau jangan membuat perang dunia yaa." gerutunya kesal,namun mereka langsung terdiam saat Elisa dan Dasha sudah dekat mereka.


Gazza hanya bergeming tetapi dalam hatinya begitu gugup tidak percaya jika rencana gilanya berhasil dengan lancar tanpa hambatan. Ia tidak menyangka dirinya sudah menikahi adik dari kekasihnya.


Al,maaf aku menikahi adikmu. Entah kenapa aku tidak terima jika Elisa bersanding dengan pria lain,hatiku begitu kesal membayangkannya. gumam pria itu dalam hati.


Deg.


Elisa masih bingung dengan situasi saat ini,antara senang atau sedih ia tidak tau harus mengungkapkannya seperti apa. Dirinya masih terkejut dengan apa yang terjadi sekarang.


"baik kepada pengantin perempuan salam punggung tangan suaminya,dan suami cium kening istrinya." instruksi dari penghulu, keduanya tampak canggung. Elisa begitu gugup meraih tangan Gazza dan mencium tangan pria itu. Rasanya seperti mimpi saat merasakan keningnya dicium oleh Gazza,jika ini mimpi ia berharap terus dalam mimpi itu.


Elisa tersadar saat Teresa menepuk bahunya pelan,menatap wajahnya dengan sendu dan memeluknya. "maafkan mama sayang." lirih Teresa. Elisa tersenyum tipis dan mengeratkan pelukan sang mama.


"kenapa mama minta maaf?"


Teresa melonggarkan pelukannya dan menatap putrinya yang terlihat baik-baik saja. "kamu tidak marah nak? karena tidak jadi menikah dengan Ergin?" tanya Teresa bingung menatap Elisa.


Elisa menggeleng, "aku malah bersyukur maa,aku memang tidak suka dari awal dengan Ergin. Tetapi,aku juga tidak menyangka bisa menikah dengan Gazza." bisiknya. Ia takut jika suaminya mendengarkan ucapannya bisa gawat nantinya.


Elisa juga merasa ada yang janggal dan aneh,harusnya ia senang Gazza orang yang sangat ia cintai menjadi miliknya. Namun, hatinya tersentil dengan kenyataan pahit. Kenyataan jika pria itu sangat membenci dirinya karena kesalahan yang dilakukannya waktu dulu.


"kenapa kamu tidak bilang dari awal sayang? apa kamu sudah tau rencana jahat Ergin??"


Elisa mengangguk, "aku tidak ingin membuat mama khawatir. Aku memang sengaja mengorban diriku agar tau rencana Ergin." jelas Elisa,Elisa pun menceritakan semua yang terjadi saat bersama Ergin,Teresa yang mendengar fakta dari mulut putrinya begitu geram.


"Hans!" panggilnya menoleh kearah suaminya. Papa Elisa berjalan menghampiri istrinya. "Ada apa?"


"penjarakan bajingan sialan itu!" ucap mama Teresa kesal,Elisa begitu terkejut saat mendengar umpatan yang dilontarkan mamanya.


"dia berzina dengan perempuan lain dirumah kita." ucap mama penuh kemarahan. Mata Elisa melebar saat mendengar hal itu.


"kenapa lagi dia?" tanya Papa Hans yang menyerngit heran menatap istrinya yang masih marah dengan kejadian tadi.


"dia menikah dengan Elisa untuk berniat mengambil harta kita. Aku tidak mau orang jahat itu berkeliaran bebas disana. Penjarakan semuanya Hans!" seru Mama,Hans menghela napas pelan. "tenang sudah aku lakukan." ucap Hans lagi.


Sementara Elisa melirik suaminya terlihat berbincang dengan orang tuanya. Entah apa yang dibicarakan Elisa pun tidak tau. Baik Elisa dan Gazza tampak diam dan terlihat canggung,apalagi foto pernikahan mereka harus berulang kali diambil karena muka mereka terlihat datar dan dingin.


"ayoo senyum pengantin baru,jangan kaku begitu." gerutu sang fotografer menatap kearah pengantin baru itu. Gazza yang terlihat kelelahan,mau tidak mau ia merangkul pinggang Elisa dan mendekat kearahnya. Elisa tiba-tiba terkejut dengan tindakan suaminya. Ia begitu gugup saat melihat wajah Gazza terlalu dekat dengannya.


ceklek.


"nice. nah gitu bagus." seru fotografer tersenyum puas menatap hasil jepretannya. Setelah menyambut para tamu akhirnya Elisa dan Gazza bisa beristirahat dikamarnya.


"melelahkan,kakiku rasanya mau patah." keluh Elisa memegang pergelangan kakinya. Ia ingin segera merendamkan kakinya kedalam air hangat.


"Elisa kamu kecapean nak?" tanya papa menatap putrinya. Elisa mengangguk pelan, "iyaa paa,apa boleh aku istirahat?"


"Gazza antar istrimu ke kamar. Kalian boleh istirahat,sisanya biar kami aja yang urus." titah Hans langsung dianggukan Gazza.


Gazza membimbing Elisa menuju kamarnya,terlihat seperti perhatian tetapi Elisa masih belum percaya dengan perubahan sikap manis Gazza. Gazza membukakan pintu dan membimbing Elisa masuk kedalam kamar dan mendudukkan Elisa dikasur.


"maafkan aku." lirih Elisa menatap punggung Gazza yang hendak berjalan keluar. Gazza terdiam lalu menoleh kebelakang, "mau berapa kalipun kau bilang maaf,tidak akan mengembalikan Almira ke dunia lagi." ucapnya dingin langsung menutup pintu.


Sudah kuduga dia masih belum memaafkanku. lirih Elisa dalam hati,tanpa terasa air matanya kembali menetes membasahi pipinya.


Elisa kembali menatap wajahnya dicermin, menyedihkan. Wajahnya yang cantik dengan riasan kini memerah karena tangisannya. Terdengar suara langkah kaki menuju ke kamarnya,Elisa dengan cepat-cepat menghapus air matanya dan bersikap normal. Ia pun tampak membuat senyum menghiasi wajahnya.


Elisa tampak terkejut saat mendapati Gazza tengah membawa sebaskom air hangat dan diletakkan di lantai. "rendam kakimu dulu." ucapnya pelan tanpa menoleh kearah Elisa. Ia pun langsung segera membuka jasnya dan meletakkan disandarkan kursi. Ia pun berjalan kearah balkon dan duduk disana.


Elisa tertegun dengan perhatian Gazza walaupun pria itu masih terlihat dingin,ia pun segera merendamkan kakinya didalam baskom itu. Ia melirik kearah suaminya yang tampak membelakanginya,entah sedang apa pria itu disana.


Huft,aku gugup sekali sekamar dengannya. gumamnya gugup,ia berusaha menetralkan jantungnya berdetak kencang tanpa seizinnya. Apalagi langit sudah menunjukkan malamnya membuat Elisa begitu gelisah dan bertambah gugup.


"kau bisa tidur dikasur,biar aku disofa." ucap pria itu menyambar handuknya dan segera ke kamar mandi. Elisa hanya menghela napas pelan melihat punggung suaminya itu,walaupun pria itu suaminya tetapi masih sangat dingin dengannya.


"apa aku bisa membuatnya jatuh cinta padaku?" gumamnya pelan.





~Please Forgive Me~