Please Forgive Me

Please Forgive Me
Bab 20



Dengan napas terengah-engah Elisa berlari menuju apartemennya dan lagi-lagi ia tidak sengaja menabrak seseorang didepannya karena sangking paniknya takut ketahuan Dasha.


"ma-maaf." lirihnya tertunduk.


"cih,kau lagi." desisnya menatap Elisa tajam,Elisa langsung mendongak dan terkejut melihat pria yang ia temui di supermarket ada disini.


"eh kau? kenapa kau disini? kau penguntit yaa?!" cerca Elisa kesal.


Pria itu berdecak kasar, "nggak jelas nih orang. Hei,nggak ada faedah aku ngikutin kau. Lagian kau itu ngapain sih lari-lari nggak jelas? masa kecil kau kurang bahagia yaa?" ledek Pria itu. Elisa mengendus geram dan memukul lengan pria itu.


"sialan." umpatnya langsung menekan password apartemennya dan masuk sambil menutup pintu dengan dengan keras.


Braak.


Sedangkan pria tadi tersenyum simpul sambil menikmati minuman soda ditangannya, "gadis yang unik." gumamnya lalu melempar kaleng kosong itu kedalam tong sampah yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Setelah itu ia masuk kedalam apartemennya yang bertepatan disamping apartemen gadis itu. Walaupun dirinya belum melihat wajah gadis itu karena memakai masker tetapi watak gadis itu terlihat unik dimatanya.


Elisa langsung meletakkan kantong belanjaannya di atas meja,lalu melepaskan masker dan topi yang ia kenakan tadi. Elisa langsung meneguk kandas segelas air.


"fyuuh ya ampun,aku kayak ******* aja. Sembunyi-sembunyi nggak jelas gini. Manalagi ada orang gila diluar,huft lengkap sudah penderitaanku." dumel Elisa menyambar ponselnya.


Elisa kembali termenung menatap ponselnya yang sama sekali tidak muncul pesan dari orang yang ia harapkan. Entah pria itu melupakannya atau tidak,sekarang dirinya malah seperti dighosting suami sendiri.


"cih,kak apa kau lupa kalau kau itu punya istri??" gerutunya. Mulutnya mengomel tidak jelas tetapi tidak dengan hatinya. Hatinya menjerit ingin menangis kencang detik ini juga. Tetapi,Elisa tidak ingin membuang airmatanya yang berharga. Ia pun mengalihkan perasaan sedihnya dengan mie instan yang ia beli tadi.


"wow, sepertinya ditambah cabe pasti enak nih." gumamnya asyik sendiri,ia pun dengan tenang memasak mie kesukaan semua dunia.


Lain hal dengan seseorang di negeri orang,tampak uring-uringan dengan perasaannya. Padahal ia bisa saja menikmati dengan tenang angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah tampannya,namun hatinya begitu gelisah akan suatu hal. Entah ia sadar atau tidak sepertinya dirinya merasa ada sesuatu yang janggal.


Gazza berjalan menyusuri kota yang indah itu,ia menggerutu kedinginan mengingat kota ini sedang musim salju. Gazza menghela napas seperti orang bodoh yang berjalan menyusuri kota tanpa memakai pakaian yang hangat membungkus dirinya. Banyak pasang mata menatapnya aneh sekaligus kasihan.


Lalu matanya tidak sengaja melirik kearah toko yang memajang baju-baju musim dingin itu. Bukan kearah baju-baju tersebut melainkan matanya fokus pada syal yang ada di patung manekin itu,mengingatkannya dengan syal merah yang dibuat istrinya.


Ada apa denganku? cih menyebalkan. gerutunya lagi. Gazza memutuskan untuk kembali ke apartemennya lagi.


***


"huft." helaan napas berulang kali Elisa luapkan,sudah seminggu yang lalu sejak ia tinggalkan Gazza dan sampai sekarang ia belum mendapat kabar dari suami ghostingnya itu.


"lama-lama aku lelah kak,apa harus kita begini?" lirihnya langsung menyibak selimutnya dan beranjak ke kamar mandi. Elisa terus merasa bersalah telah berbohong pada keluarganya,bagaimana tidak ia terus diteror menanyai keadaan mereka. Tetapi,Elisa terus menjawab baik-baik saja. Dirinya juga harus berpikir keras mencari alasan saat suaminya ditanyai oleh keluarganya. Dan untungnya mereka percaya dengan semua perkataan Elisa.


Elisa mengenakan baju santai sambil mengeringkan rambutnya yang basah sehabis keramas tadi. Ia pun melirik malas saat melihat tong sampahnya sudah dipenuhi bekas makanannya selama seminggu ini.


"haiis banyak sekali sampahnya,padahal aku tinggal sendiri disini." gerutunya tetapi ia tetap membawa tong sampah itu keluar. Elisa baru saja ingin menghirup udara segar pagi hari seketika sirna saat kedatangan tetangga resehnya itu. Pria yang selalu berdecak kesal setiap bertemu dengan Elisa,entah apa masalahnya Elisa pun tidak tau.


"kau lagi." ucap Elisa malas,saat hendak pria itu membuka suaranya. Ucapan pria yang selalu sama selama seminggu ia tinggal disini sampai ia hapal.


Elisa melirik malas sekilas, "tidak perlu." ketusnya sambil membuang sampah ditempat sampah yang akan diangkut truk sampah nanti.


"ish,kenalkan aku—" belum sempat pria itu menyebutkan namanya,Elisa berjalan mendahuluinya tanpa mendengar ucapan pria itu.


"tidak perlu kenalan,kita cukup jaga jarak saja." ucap Elisa seperti memperingati pria itu untuk tidak dekat dengannya.


Pria itu menghela napas kasar,belum mulai udah kalah duluan. Memang sejak pertama bertemu gadis itu,rasa ketertarikannya muncul bahkan lama-lama rasa itu tumbuh bersemayam didalam hatinya.


"huft,sial." umpatnya,tetapi tidak membuatnya putus asa untuk mendapatkan hati gadis cuek itu. Tanpa mengetahui jika dirinya tengah mengejar istri orang lain.


Elisa menutup pintu apartemennya,lalu meletakkan tong sampah itu ketempat semula. Perutnya mulai berdemo untuk diisi asupan,ia pun beranjak menuju ke dapur.


"malasnyaaa." lesunya lagi,ia hari ini tidak berminat ingin melakukan apapun. Tetapi,perutnya yang berbunyi itu membuat Elisa berdecak pelan menuju kamar. Ia memakai Hoodie dan celana jeans serta tak lupa memakai masker agar tidak ada yang mengenalinya.


Dengan bermodal dompet dan ponsel,ia berjalan keluar apartemen menuju halte. Melihat Elisa pergi,membuat pria yang merupakan tetangga Elisa itu mengikutinya dari belakang.


Apa yang akan dilakukannya? dia mau kemana?. Gumamnya dalam hati.


Elisa menaiki bus untuk menuju tempat yang ingin ditujunya,ia pun memiliih untuk duduk didekat jendela sembari menikmati angin sepoi yang menerpa wajahnya. Tanpa Elisa sadari jika pria itu mengamatinya tepat dibelakang Elisa. Sama halnya dengan Elisa,pria itu memakai masker.


Sesampai ditempat tujuannya,Elisa langsung berjalan menuju restoran yang ia inginkan. Berjalan kaki masuk kedalam restoran itu dan duduk dipojok sudut restoran. Elisa tengah mengamati sekitar restoran langganannya.


"mau pesan apa?" tanya salah satu pelayan restoran itu. Jika biasanya dirinya tidak memakai masker,mungkin pelayan restoran itu tau dirinya. Ia dan Dasha sering berkunjung langganan makan disini.


Elisa menunjuk kearah menu makanan yang diinginkannya, "aku ingin ini." ucapnya pelan sedikit mengubah suaranya agar pelayan itu tidak curiga.


"baik,ditunggu sebentar yaa." jawabnya langsung meninggalkan tempat Elisa. Elisa menghela napas pelan,matanya mengamati jalanan lalu lalang yang melewati restoran itu.


Sampai pesanannya tiba, Elisa memakan makanannya seperti cara wanita cadar saat lagi makan. Sedangkan pria itu menggeleng heran dengan cara makan Elisa yang sangat tidak nyaman menurutnya.


Dia ini sedang ngapain? kenapa wajahnya tidak ingin dilihat siapapun??. gumamnya heran. Tetapi ia tetap melihat dari jauh gadis itu.


Elisa yang lagi asyik mengunyah tersedak saat melihat seseorang yang sangat ia kenali masuk kedalam restoran ini.


Haduh,kenapa dunia ini begitu sempit sih?! aku harus cepat-cepat pergi dari sini. gerutunya dalam hati.





~Please Forgive Me~