
Elisa begitu terkejut dengan pengakuan yang baru saja dilontarkan Gazza,namun ia tidak ingin mendengarkan kata-kata yang selalu diharapkannya itu disaat seperti ini. Elisa terus mengguncangkan badan Gazza agar pria itu tetap bangun,melihat darah yang terus mengalir. "siapapun tolong!!!" teriaknya berharap bantuan segera datang.
"Gazza brengsek bangun!! aku tidak membencimu kalau kau nggak bangun juga!!! bangun kak! aku nggak suka kau mengungkap perasaan mu disaat ini!!!" histerisnya.
Jay juga terkejut,andai saja Gazza terlambat menyelamatkan Elisa,mungkin kedua kalinya ia akan melihat Elisa ditabrak. Kepalanya seketika pusing,tetapi ia tetap berjalan menghampiri Elisa yang terus menangis keras.
"Jay selamatkan suamiku!!!" teriaknya memohon pada Jay. Hati Jay begitu sakit mendengar Elisa menyebutkan Gazza sebagai suaminya,tetapi kini ia harus merelakan cintanya. Benar,ia harus segera menghapus nama Elisa yang sudah tertanam dihatinya. Pastinya tidak akan semudah itu melupakan orang yang ia sukai.
Jay langsung meminta bantuan dari orang lain agar membopong Gazza masuk kedalam mobilnya. Bukan hanya Gazza saja,melainkan Elisa juga ikut dibopong karena kaki gadis itu sedikit terluka. Dengan kecepatan tinggi Jay melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
Sampai dirumah sakit, Gazza langsung dibawa oleh tim medis untuk menyelamatkan nyawa pria itu. Sedangkan Elisa yang tidak tahan melihat Gazza masuk kedalam ruang ICU,ia pun langsung pingsan,beruntung Jay langsung menangkap Elisa.
"El bangun!!" seru Jay menepuk pelan pipi Elisa. Ia pun berdecak pelan lalu menggedong Elisa untuk segera diperiksa.
***
Elisa terbangun dari tempatnya dan melihat sekeliling,teringat dengan suaminya. Ia pun langsung bangkit dari tempatnya.
"Elisa apa yang kau lakukan??" tanya Jay langsung berlari mencegah Elisa agar tidak turun dari kasur. Elisa menoleh kearah Jay. "dimana kak Gazza? apa dia baik-baik saja Jay??" tanya Elisa panik.
Jay menghela napas pelan, "tenang,dia saat ini sedang ditangani oleh dokter. Kau berisitirahat aja dulu, kakimu itu masih terluka."
"tapi,Aku tidak bisa berdiam diri disini Jay! tolong biarkan aku melihat kak Gazza." lirihnya terus memohon. Jay akhirnya mengangguk pelan menuruti keinginan Elisa. "tunggu sebentar,aku ambil kursi roda." ucapnya berjalan keluar dari kamar. Tak lama kemudian ia datang membawa kursi roda itu dan menggedong Elisa untuk duduk disana. Ia pun langsung mendorong kursi roda Elisa menuju tempat Gazza ditangani.
"dok! dok tekanan darahnya menurun!" seru perawat tadi membuat Elisa terdiam. Dokter itu langsung berlari menuju Gazza. "dia harus segera dioperasi sekarang,kita harus menelpon dokter Zayyan sekarang!" pintanya pada perawat itu. Elisa menatap Gazza yang masih terbaring lemah dengan alat yang penuh dibadan pria itu.
Ingatan tentang Gazza untuk pertama kalinya tersenyum menatapnya sungguh hatinya menghangat. Keinginannya selama ini akhirnya terkabulkan. "kak kau harus sadar! aku mencintaimu kak." lirihnya hanya bisa menatap Gazza dari kejauhan.
Tak lama,Zayyan berlari menuju kearah mereka. Ia begitu terkejut mendapati Elisa kini kembali terluka lagi. "El, apa yang terjadi? bagaimana kau bisa?"
"tolong selamatkan kak Gazza dulu kak,aku bisa nanti." pintanya memohon pada Zayyan. Zayyan begitu terkejut dengan nama yang disebutkan Elisa tadi langsung ia menghampiri Gazza. Zayyan tidak percaya jika ia bertemu dengan sahabatnya yang dua tahun menghilang tanpa kabar,kini terbaring lemah disini.
"siapkan ruang operasi sekarang!!!"
***
Sudah hampir dua jam Elisa menunggu didepan ruang operasi,dan terus berharap operasi suaminya berjalan dengan lancar. Pikirannya kacau terus diserang oleh pikiran negatif,ia berharap semuanya akan baik-baik saja.
"El,sebaiknya kau istirahat dulu diruanganmu. Kakimu itu masih sakit El." ucap Jay pelan,ia menatap sendu kearah Elisa yang masih setia menunggu Gazza didepan ruang operasi.
Orang yang ia tumbuk tadi kini sedang berjuang nyawa didalam sana,seketika ia menyesal dengan perbuatannya tadi. Kau memang pantas mendapatkan Elisa Za,walaupun kita pertama kali bertemu dan langsung bertengkar seperti tadi,tapi kau lebih berani dariku. Kau bahkan tidak memperdulikan nyawamu demi menyelamatkan Elisa. gumam Jay.
Elisa menggeleng pelan,"aku akan tetap disini Jay." tolak Elisa. Ia tidak akan pernah tenang sampai operasi ini berjalan lancar.
"Abang..." lirihnya menatap pintu operasi yang masih tertutup itu. Dirinya tidak bisa membayangkan jika abangnya tiada,ia tidak ingin terjadi.
Ibu dan Ayah cemas menunggu operasi itu selesai. Bahkan ayah yang yang terlihat dingin itu,kini menitik air mata saat mendengar kabar buruk anak sulungnya.
"Gazza yaah." lirih ibu memeluk ayah. Dua tahun menghilang tetapi mendengar berita buruk tentang anaknya,sungguh perasaannya kini tercabik-cabik.
Mereka semua terus sabar menantikan kabar dari Zayyan yang bertugas mengoperasi Gazza. Sampai lampu hijau pintu operasi itu mati,barulah pintu operasi itu terbuka.
"Zayyan,bagaimana keadaan Gazza? apa dia baik-baik saja kan?" tanya ibu langsung menghampiri menantunya. Zayyan menghela napas pelan, "Alhamdulillah operasinya lancar Bu,tapi keadaan Gazza masih kritis,kita harus memantau perkembangan keadaannya." ucapnya pelan, ia pun langsung menghampiri Elisa.
"El,tadi Gazza sempat menyebutkan namamu. Mungkin kau bisa menemaninya nanti." ucap Zayyan pelan. Air matanya keluar begitu saja,lalu ia mengangguk.
"kau harus kuat El, kakimu masih sakit dan kau butuh istirahat. Akan ku atur ruangan untuk kau dan Gazza." ucapnya lagi. Setelah itu muncullah Gazza yang masih terbaring dengan alat yang masih menempel di pria itu. Banker Gazza didorong beberapa perawat untuk dibawa keruangan.
"ibu ayah, dan yang lain aku permisi sebentar." pamitnya berjalan mendahului mereka dan membantu perawat mendorong banker Gazza ke ruangan.
***
Elisa hanya diam menatap kesamping melihat suaminya yang masih belum sadarkan diri. Bahkan dirinya meminta pada Zayyan untuk membuat kasur mereka menyatu dan ia bisa leluasa melihat Gazza dari dekat.
Ia memiringkan badannya menatap begitu tenangnya Gazza masih memejamkan matanya. "kak,cepatlah sadar,aku membutuhkanmu kak." lirihnya.
"cih,kenapa kau mengungkapkan perasaanmu disaat sekarat sih kak? kenapa nggak saat kau baik-baik saja ungkapinnya? apa menurut kau keren kayak gitu kak? kau menyebalkan sekali." ocehnya pelan sesekali menyeka air matanya yang terus menetes membasahi pipinya.
Keluarganya yang lain sudah pulang kerumah,itu semua permintaan Elisa. Elisa menyakinkan keluarganya jika ia bisa menjaga Gazza disini. Egois sekali,tetapi ia tidak bisa mengendalikan dirinya yang terus ingin bersama Gazza. Orang tua Elisa juga sama halnya terkejut dengan kabar yang mereka dapatkan. Marah bercampur sedih menyaksikan anaknya kembali masuk kerumah sakit. Mereka pun tanpa sungkan meminta agar Elisa mengurus surat perceraian disaat seperti ini. Jelas Elisa langsung menolak permintaan orang tuanya itu,ia tidak ingin berpisah dengan Gazza sampai selama-lamanya.
"aku tidak akan pernah berpisah denganmu kak,tidak akan." lirihnya memegang rambut Gazza.
"aku juga tidak mau berpisah denganmu Elisa."
Deg.
•
•
•
~Please Forgive Me~