Only Love

Only Love
#67



Acara resepsi pernikahan berlangsung dengan lancar dan sukses, meskipun tak ada Sean yang mengawasi jalannya acara hingga selesai. Itu semua karena memang Sean telah mempersiapkan semuanya dengan baik.


Sudah 1 bulan, Sean mempersiapkan semuanya dan sudah pasti ia tidak menginginkan adanya kesalahan, sekecil apapun.


Kesalahan terbesar justru terjadi pada dirinya sendiri ketika ia mendapatkan buket bunga pengantin. Bukan itu saja, ia bahkan berlari meninggalkan ruangan perhelatan acara sambil membawa bunga tersebut.


Kini, Sky sudah berada di dalam sebuah penthouse Di RB hotel. Ivy duduk di depan meja rias, mencoba melepaskan beberapa hiasan yang tersemat di rambutnya.


“Aku mandi dulu ya, Love,” kata Sky sambil memegang bahu Ivy.


“Ya.”


Setelah Sky selesai, ia keluar dari kamar mandi. Ia melihat Ivy yang sedang kesusahan membuka resleting gaun pengantinnya.


“Apa memerlukan bantuanku?” tanya Sky.


Ivy pun menganggukkan kepala sambil tersenyum. Ia merasa malu dan ia sangat tahu bahwa wajahnya kini pasti sudah semerah tomat.


Dengan perlahan, Sky menarik resleting gaun pengantin yang berbentuk buliran air berwarna putih itu ke bawah. Ia bisa melihat punggung Ivy yang terlihat begitu putih dan mulus, membuatnya ingin langsung menyentuhnya.


“Sudah,” kata Sky yang berusaha menahan tangannya untuk tidak berbuat lebih jauh dulu.


“Aku mandi dulu,” kata Ivy, dan kini Sky yang mengiyakan.


Apa aku bisa menahan gejolak ini sampai ia menyelesaikan mandinya? Atau aku masuk saja ke dalam dan menemaninya? - batin Sky yang langsung mengusap wajahnya karena gusar.


Sudah hampir 45 menit Ivy berada di dalam kamar mandi dan belum juga keluar. Sky yang berada di luar berjalan mondar-mandir karena gusar sekaligus kuatir. Sky pun akhirnya mengetuk pintu kamar mandi tersebut.


“Love, apa kamu tidak apa-apa?” tanya Sky.


“Aku tidak apa-apa. Tapi … bisakah aku minta tolong sesuatu?”


“Ada apa? Katakanlah.”


“Bisakah kamu mengambilkan piyamaku? Aku meletakkannya di dalam tas di dekat meja rias. Aku lupa membawanya,” kata Ivy.


“Ya ampun, aku kira ada apa. Jadi dari tadi kamu tidak keluar dari sana karena kamu lupa membawa piyama?” tanya Sky sambil tertawa kecil.


“Apa kamu menertawakanku?” ujar Ivy yang memicingkan matanya yang mengintip dari balik pintu kamar mandi.


“Ahh tidak, tidak Love. Keluarlah dengan menggunakan bathrobe.”


“Tolong ambilkan saja piyamaku. Aku tidak terbiasa keluar menggunakan bathrobe, apalagi aku tidak sedang sendiri.”


“Aku ini sudah menjadi suamimu. Janganlah kamu malu. Ayolah Love, lagipula ku rasa kamu tidak akan membutuhkan piyama itu sekarang,” kata Sky dengan tersenyum.


Mendengar hal itu membuat Ivy semakin malu. Ia sangat sadar bahwa Sky kini telah menjadi suaminya. Namun, membayangkan apa yang akan ia lalui malam ini bersama pria itu, membuat wajahnya semakin memerah.


Ivy menggelengkan kepalanya untuk menghapus segala pikiran mesum yang ada dalam otaknya.


“Ada apa Love? apa kamu sedang memikirkan hal yang luar biasa bersamaku?” tanya Sky dengan senyumnya.


“Love, kamu wangi sekali,” tiba-tiba saja Sky sudah memeluknya dari belakang. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Ivy dan menyesap harum rambut istrinya itu.


“Sayang, tunggu! Aku pakai piyamaku dulu.”


“Kamu sudah membuatku menunggu selama 45 menit. Apa kamu akan membuatku menunggumu memakai piyamamu lagi yang ntah memerlukan waktu berapa lama? Hmmm ...”


Sky memutar tubuh Ivy hingga mereka kini berdiri berhadapan. Ia mengecup kening Ivy perlahan dan kemudian dengan lembut memperdalamnya. Ia mengecup kedua mata, beralih ke hidung, kemudian ke pipi, selanjutnya turun ke bibir pink Ivy yang sudah sangat menggodanya.


Ciuman yang awalnya perlahan, lembut dan penuh kehangatan, lama-kelamaan berubah menjadi semakin panas dan bergairrah. Sky pun menggendong Ivy ke arah tempat tidur berukuran king dan membaringkannya, tanpa melepaskan ciuman mereka.


Sesaat kemudian, Sky melepaskan ciuman mereka dan menatap manik mata wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu.


“I love you,” kata Sky kemudian mencium kening Ivy.


“I love you too.”


Mereka pun kembali menyatukan bibir mereka dan melummat dengan perlahan. Sky kini menyusuri leher jenjang Ivy dengan bibirnya, kemudian meninggalkan beberapa jejak kemerahan di sana.


“Ahhh … sayangg,” dessah Ivy.


Sky menarik tali bathrobe Ivy sambil terus memberikan ciuman di setiap inch tubuh wanita itu. Dessahan yang keluar dari bibir Ivy, membuat Sky semakin panas dan terus membuka bathrobe yang digunakan Ivy dan pakaian yang ia gunakan sendiri.


Ivy mulai merasakan hawa dingin menerpa kulitnya. Ia pun tersadar dan melihat bahwa kini tubuhnya telah polos, tanpa sehelai benang pun, begitu juga dengan tubuh Sky. Tiba-tiba Ivy merasa malu sehingga ia menutup wajahnya.


Sky yang melihatnya menjadi semakin gemas, membuatnya ingin menggoda Ivy, “Love, wajahmu memerah.”


“Kamu sengaja membuatku malu ya?”


“Tentu saja tidak, Love. Lagipula saat ini kita hanya berdua, tak akan ada yang melihatmu menggemaskan seperti ini,” kata Sky.


“Kenapa kamu berubah menjadi me …,” belum selesai Ivy berbicara, bibirnya kembali dibungkam oleh bibir Sky.


Tangan Sky mulai bermain dengan kedua aset milik Ivy, memainkannya dengan tangan dan juga dengan lidahnya. Hal itu membuat dessahan kembali keluar dari mulut Ivy dan sentuhan tangan Sky membuat sesuatu di bawah sana mulai berkedut menginginkan lebih.


“Aku akan melakukannya sekarang, Love,” bisik Sky setelah ia selesai memainkan inti Ivy dengan jari jemarinya. Ivy yang sudah berada di puncak gairrahnya pun menganggukkan kepalanya.


Sky mengelus pahha Ivy sehingga membuat iatrinya itu lebih relax. Lalu dengan perlahan, ia mulai memasukkan juniornya ke dalam inti milik Ivy, membuat Ivy mengerrang dan mencengkeram sprei dengan kedua tangannya.


“Sa … kit sa … yang,” hingga Ivy mengeluarkan air matanya.


Sky kembali melummat bibir Ivy, untuk membuat istrinya itu kembali relax, “aku akan melakukannya dengan lebih perlahan. Aku tahu itu sakit, tapi itu semua hanya di awal saja.


Setelah itu, Sky kembali mencoba dan pada akhirnya ia berhasil menembus barikade di dalam sana. Ia menahannya sebentar agar tubuh Ivy bisa menyesuaikan dengan sesuatu yang baru.


Perlahan, Sky mulai menggerakkan tubuhnya maju mundur, membuat suasana semakin panas. Yang terdengar hanya suara dessahan dan errangan yang memenuhi kamar mereka. Gairrah Sky semakin membara karena merasakan milik Ivy yang begitu sempit dan menjepit miliknya. Ia pun mempercepat gerakannya dan pada akhirnya mereka mengalami pelepasan bersama-sama.


🌹🌹🌹