
2 minggu kemudian, di kediaman keluarga Dharmawangsa, Daniel, Vinnie, Dad Donald dan Mom Hilda tengah duduk bersama di ruang keluarga.
“Nil, acara ulang tahun kamu minggu depan mau Mommy rayakan di Hotel XZ. Kamu undang teman-teman kamu ya, biar makin ramai. Dad dan Mom akan mengundang kolega bisnis dan sahabat agar kamu juga bisa mengenal mereka lebih dekat,” kata Mom Hilda.
“Iya Nil, benar. Kamu kan sekarang sudah mulai membantu Dad di perusahaan, jadi kamu harus kenal dengan pengusaha-pengusaha lain,” ujar Dad Donald.
“Tapi Dad, sebenarnya Daniel ingin kembali praktek saja. Dad bisa mencari orang yang ahli dan bisa dipercaya untuk membantu Dad di perusahaan,” terang Daniel.
Vinnie yang duduk di antara keluarga Lewis hanya bisa diam mendengarkan pembicaraan antara Daniel dengan orang tuanya.
“Sudah! Sebaiknya kamu tidak perlu lagi membahas ilmu kedokteranmu itu. Bukankah sedari dulu Dad memang tidak memberikan kamu izin untuk kuliah kedokteran,” kata Dad Donald dengan sedikit keras.
Daniel bangkit dari duduknya kemudian pergi ke kamar tidurnya. Ia meraih kunci mobil dan segera meninggalkan Vinnie serta kedua orang tuanya di ruang keluarga, yang menatap kepergiannya begitu saja.
“Itu anak, hahhh …,” Dad Donald menghela nafas kasar.
“Vin, kamu harus segera hamil, punya anak. Biar Daniel bisa mengerti perasaan kami sebagai orang tua,” kata Mom Hilda.
Maaf Mom, aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu. Aku sudah memiliki perjanjian dengannya bahwa kami akan segera berpisah setelah semua ini selesai. - batin Vinnie.
**
Daniel mengemudikan mobilnya hingga kini ia telah sampai di depan gedung apartemen yang ditempati oleh Ivy. Secara diam-diam, Daniel sudah memeriksa jadwal praktek Ivy di RB Hospital. Oleh karena itu, ia sangat yakin bahwa saat ini Ivy pasti sudah kembali pulang ke apartemen. Ivy bukanlah tipe wanita yang suka keluyuran. Ia akan lebih memilih berada di rumah untuk memasak, menonton TV, ataupun membaca buku.
Daniel menekan layar ponselnya dan menunggu bunyi sambungan pada panggilannya itu. Ketika panggilannya diangkat, ia pun langsung berbicara.
“Vy, aku di bawah. Aku ingin bertemu dan bicara denganmu.”
Daniel masih berada di dalam mobil, menunggu Ivy. Saat ia melihat Ivy keluar dari apartemen, ia langsung membunyikan klakson secara perlahan, hanya agar Ivy mengetahui posisinya.
“Kak, ada apa ke sini?” tanya Ivy.
“Naiklah dulu, aku butuh kamu,” perkataan Daniel seakan menyiratkan betapa mereka sebenarnya masih saling mencintai, tapi sayangnya takdir belum berpihak kepada mereka.
Daniel melajukan kendaraannya dan mengarahkan mobilnya menuju ke sebuah cafe yang lokasinya tak terlalu jauh dari apartemen.
“Teh hangat.”
“Kopi hitam,” pinta Daniel pada seorang pelayan, tanpa melihat buku menu sama sekali.
Ivy sedikit heran karena tak biasanya Daniel meminum kopi hitam.
“Kak, kamu kenapa?” tanya Ivy.
“Vy, kita lari dari sini bersama. Aku akan menceraikan Vinnie,” kata Daniel dengan tergesa-gesa.
Ivy yang mendengarnya tentu saja merasa kaget. Meskipun ia mencintai Daniel, namun tak pernah terpikir untuk lari bersama dengan Daniel. Selain karena Daniel sudah menjadi suami seseorang, Ivy tak mungkin mengorbankan Dad Arthur demi Daniel.
“Kak, tenang! Kak Daniel sebenarnya kenapa?” tanya Ivy karena melihat wajah Daniel yang tidak tenang.
“Vy, aku sudah mencoba selama 2 bulan ini, tapi aku nggak bisa. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu.”
Ivy menarik nafasnya dalam dan membuangnya perlahan. Ia juga merasakan sama seperti apa yang dirasakan oleh Daniel, tapi ia tak ingin egois dan melakukan tindakan seperti yang Daniel inginkan.
“Kak, dengarkan aku. Supaya kakak tahu, sebenarnya aku pun tidak rela jika Kak Daniel menikah dengan wanita lain. Namun, karena itu Vinnie, aku belajar untuk ikhlas, karena aku tahu dia adalah wanita yang baik.”
“Apa maksud kamu? Apa dia yang memintamu mengatakan semua ini? Katakan padaku Vy, apa dia yang memaksamu?” tanya Daniel dengan nada yang mulai meninggi.
“Tak pernah sekalipun Vinnie memintaku mengatakan semua ini. Aku pernah bertemu dengannya dan saat ini pun aku masih berkomunikasi dengannya. Dia tahu, bahkan sangat tahu kalau kita saling mencintai. Oleh karena itu ia pernah mengatakan bahwa ia tidak akan berlama-lama dengan pernikahan ini. Ia berjanji akan berbicara dengan orang tuanya agar tetap bekerja sama dengan perusahaan Lewis. Ia akan pergi jauh, bahkan sejauh mungkin hingga kamu tidak akan melihatnya lagi.”
Daniel terdiam sesaat. Selama 2 bulan pernikahannya, tak pernah sekaipun Vinnie mengeluh. Bahkan ia tidak pernah menganggap Vinnie sebagai istrinya, meskipun Vinnie selalu melayani kebutuhannya sehari-hari.
“Kamu tahu Kak, ia melakukan semua ini hanya untuk membantu keluargamu. Mungkin di sini, dialah yang paling tersakiti. Ia meninggalkan seseorang yang sangat ia cintai dan mencintainya demi perjodohan ini, demi keluargamu. Ia terpaksa melepaskan pria itu karena orang tuanya mengancamnya, ditambah lagi dengan dirimu yang seperti ini. Apa kakak tahu berapa besar pengorbanannya?”
“Kita harus bisa saling melepaskan, Kak. Meskipun kita tahu itu tidak mudah. Aku sendiri juga membutuhkan waktu. Ingatlah Kak, aku tak akan pernah mau masuk sebagai orang ketiga dalam pernikahan siapapun. Masih memiliki perasaan pada Kakak saja saat ini sudah membuatku merasa seperti orang jahat,” kata Ivy, berusaha menyadarkan Daniel dari segala keinginannya yang tidak benar.
“T-tapi Vy …,” kata Daniel terpotong karena Ivy kembali berkata.
“Kak, sudahlah. Jangan membuat semua ini menjadi lebih sulit lagi bagi kita berdua. Pulanglah, Vinnie pasti sedang menunggumu. Apa kakak ingin bercerai dan membiarkan dia kembali kepada kekasihnya? Semua keputusan ada di tangan kakak dan aku tak ingin terlibat di dalamnya,” kata Ivy.
Daniel mulai membayangkan ia bercerai dengan Vinnie dan Vinnie kembali kepada kekasihnya. Ntah mengapa ia merasa sedikit tidak rela. Apa dia egois? Namun ia juga tak mau jika wanita yang sekarang sedang duduk di hadapannya menjadi milik orang lain.
Ahhh berapa serakahnya diriku! - batin Daniel sambil meremas rambutnya.
**
Di kediaman Lewis, Vinnie yang saat ini berada di dalam kamar tidur di mana ia dan Daniel tidur, hanya bisa berdiri di balik jendela ke arah balkon. Ia memperhatikan langit malam yang tidak berbintang sama sekali kemudian tersenyum tipis.
“Bahkan bintang pun tak ingin melihatku,” gumam Vinnie.
Ia pun berbalik dan duduk di tepi tempat tidur. Ia membuka nakas dan mengeluarkan selembar kertas yang berada di sana. Tanpa sepengetahuan Dad Davis, ia telah membayar seorang pengacara untuk menyiapkan sebuah surat perceraian untuknya. Setelah perusahaan Lewis stabil dan kesehatan Daisy membaik, ia akan memberikan surat itu kepada Daniel dan pergi dari sana.
Aku akan segera membebaskanmu. - batin Vinnie.
🌹🌹🌹