
“Hentikan!!” teriak Vinnie yang berada di ujung tangga lantai 2.
“Sayang, kembalilah ke kamar. Biar aku yang menyelesaikan semua ini,” kata Daniel.
“Jangan pernah berani Kak Sky memukul suamiku atau kamu akan berhadapan denganku,” kata Vinnie dengan tegas dan mata yang menatap tajam ke arah Sky.
“Suami lo ini nggak mau ngasih tahu di mana dia sembunyiin Ivy. Gue cuma mau tahu dia ada di mana sekarang,” kata Sky.
“Sebaiknya Kak Sky pergi. Kalau memang Kak Sky berjodih dengan Ivy, maka kalian akan bertemu kembali. Jika tidak, maka ikhlaskanlah,” kata Vinnie sambil memegang perutnya yang tiba-tiba twrasa sakit.
“Vin, sayang … k-kamu kenapa?” Daniel yang melihat Vinnie meringis sambil memegang perutnya, langsung berlari menghampiri istrinya itu.
“Sa-sakit … perut aku sakit sekali,” kata Vinnie dengan nada lirih.
Daniel langsung menggendong Vinnie ala bridal style, tapi sejurus kemudian ia merasakan sesuatu yang basah mengalir di tangannya.
“Sayang, sepertinya aku akan segera melahirkan,” ujar Vinnie, yang sontak membuat Daniel menjadi panik, padahal ia adalah seorang dokter.
Sky yang melihat kejadian itu, langsung memanggul pasangan itu, “ayo cepat! Kita bawa Vinnie ke rumah sakit.”
Daniel langsung menaikkan Vinnie ke dalam mobil milik Sky. Sky-lah yang mengemudikan mobil sementaa Daniel berada di kursi belakang untuk menemani Vinnie.
Sesekali Sky melirik pasangan tersebut dari kaca spion tengah. Dari tatapan mata keduanya, Sky bisa melihat bahwa kini Daniel sangat mencintai istrinya dan begitu pula sebaliknya. Sepertinya, ia yang sudah terlalu berlebihan dengan menganggap bahwa hubungan Daniel dan Ivy belum selesai.
**
Sky menemani Daniel yang terlihat begitu gelisah di depan ruang operasi. Vinnie terpaksa melakukan operasi caesar karena air ketubannya sudah banyak yang keluar, sementara jalan lagir belum terbuka secara sempurna.
Agar keadaan ibu dan bayi baik-baik saja, maka dokter menyarankan agar segera dilakukan operasi. Daniel memilih tidak ikut masuk ke dalam ruang operasi agar tak mengganggu prosesnya. Ia juga sudah menghubungi kedua orang tuanya, serta mertuanya.
“Nil, duduklah dulu. Aku yakin Vinnie akan baik-baik saja,” kata Sky menguatkan. Saat sampai di rumah sakit, wajah Vinnie mendadak pucat hingga ia langaung mendapatkan penanganan secara intensif.
“Ini semua gara-gara lo, Sky! Seharusnya HPL Vinnie masih 2 minggu lagi,” ujar Daniel dengan kesal.
“Ya, gue yang salah. Lagipula gue begitu juga karena lo nggak mau ngasih tahu di mana Ivy berada di mana sekarang.”
“Gue udah bilang, gue nggak akan kasih tahu lo. Gue nggak mau dia terluka lagi. Udah cukup gue nyakitin dia, gue mau dia bahagia sekarang,” kata Daniel.
“Gue nggak mau nikah sama Elena dan gue juga pastikan nggak akan nikah sama dia. Hanya saja saat ini gue lagi cari cara supaya pernikahan gue ini batal,” Sky terduduk lemas, menangkup wajah dengan kedua tangannya.
Daniel melihat ke arah Sky. Ia mengerti bagaimana perasaan sahabatnya itu. Perasaan yang sama saat ia dijodohkan dengan Vinnie. Hanya saja kini ia tahu bahwa Vinnie sangat berbeda dengan Elena. Pada akhirnya Daniel duduk di sebelah Sky.
“Gue juga nggak tahu di mana dia sekarang. Gue baru lihat dia lagi waktu dia video call sama Vinnie. Huhh … gue aja baru tahu kalau hubungan mereka sedekat itu,” kata Daniel sambil menggelengkan kepalanya.
“Gue bahkan nggak bisa hubungin dia, Nil,” kata Sky dengan gelisah.
“Nanti gue minta nomor ponselnya sama Vinnie ya. Untuk sementara ini lo balik aja dulu. Lo pikirin gimana caranya keluar dari masalah lo,” Daniel menepuk bahu Sky.
Dari ujung koridor, terlihat kedua orang tuanya dan juga mertuanya berjalan menghampiri mereka berdua.
“Bagaimana keadaan Vinnie?” tanya mereka.
“Vinnie masih di dalam,” jawab Daniel.
Tak lama terdengar suara tangisan bayi, mereka semua tersenyum bahagia. Sky yang melihat kebahagiaan mereka pun turut tersenyum. Ia berharap ia juga bisa merasakan kebahagiaan seperti itu.
“Nil, kalau begitu gue balik dulu ya. Salam buat Vinnie dan selamat buat kelahiran anak lo, usah jadi Daddy aja sekarang,” Sky menyalami Daniel dan menepuk bahu sahabatnya itu.
Sky pun meninggalkan Daniel bersama keluarganya, setelah sebelumnya ia berpamitan dengan mereka.
**
Sky kembali ke kediamannya. Ia masuk dan merasa rumahnya terlalu sepi. Ia tidak melihat siapapun, hanya ada keheningan yang ia rasakan di dalam rumah itu dan juga kesepian di dalam hatinya.
“Mam, di mana Grandpa?” tanya Sky saat melihat seorang pelayan wanita yang sudah berusia paruh baya.
Sky pun melangkahkan kakinya ke sana. Ia harus mengatakan pada Grandpa Luther kalau ia tidak menginginkan perjodohan ataupun pernikahan ini.
Sky mengetuk pintu ruang kerja Grandpa Luther, lalu dengan perlahan membukanya, “Grandpa.”
Sky melihat Grabda Luther yang sedang tertidur di sofa, masih sambil memegang sebuah buku di tangannya. Awalnya ia ingin berbicara dengan Grandpa Luther, namun akhirnya ia mengurungkannya. Ia tak ingin mengganggu istirahat Grandpa Luther. Sky akhirnya merebahkan tubuh Grandpa Luther, menyelimutinya, kemudian keluar perlahan dari ruang kerja tersebut.
Grandpa Luther membuka matanya saat Sky telah keluar. Ia hanya bisa tersenyum melihat apa yang telah dilakukan oleh cucunya itu. Grandpa Luther tentu tidak akan tega melihat keadaan Sky belakangan ini. Ia mengetahui semua yang dialami dan dirasakan oleh Sky, hanya saja ia ingin melihat apakah Sky mampu mengatasi semua permasalahan yang sedang ia hadapi saat ini.
**
Aku biasa memanggilmu cinta.
Cinta yang tak pernah kumiliki.
Saat aku memikirkanmu,
Aku tidak tahu harus berbuat apa.
Aku sangat merindukanmu,
Bahkan lebih dari kata-kata yang bisa kuucapkan.
Setiap menit setiap jam setiap hari,
Aku sangat sedih ketika cintamu tak ada.
Aku merindukanmu,
Sangat merindukanmu.
Tak bisakah kamu melihat bagaimana perasaanku?
Tak bisakah kamu melihat bahwa rasa sakitku begitu nyata?
**
Sky terduduk di lantai kamar, bersandar pada tepi tempat tidurnya. Matanya terpejam, pikirannya melayang.
“Aku harus segera melakukan sesuatu! Aku tidak bisa hanya diam menunggu wanita itu bersenang-senang di atas penderitaanku,” kata Sky sambil mengambil ponsel dari dalam saku jas miliknya.
“Se, siapkan konferensi pers. aku akan membatalkan pertunanganku.”
“Whatt??!!” teriak Sean yang kaget mendengar pernyataan Sky yang tiba-tiba.
“Sudah lakukan saja, segera!!” perintah Sky.
Tak lama, sebuah notifikasi masuk ke dalam ponsel milik Sky, dilanjutkan dengan sebuah panggilan.
“Sky, gue udah kasih lo nomor ponsel Ivy. Gue berharap lo lakuin apa yang harus lo lakukan. Jangan sampai lo nyakitin dia lagi atau lo bakalan berhadapan sama gue,” kata Daniel.
“Pasti!”
Sky menekan kembali layar ponselnya dan kembali menghubungi Sean.
“Iya Sky, ini lagi dikerjain,” kata Sean di ujung telepon.
“Gue ada kirim pesan singkat ke lo. Tolong lo cek di mana keberadaan nomor ponsel itu. Cepet!! Nggak pakai lama.”
“Ya ampun, Skyyyy!!!” Sean langsung lemas mendengar perintah dari Sky. Ia serasa dihujani berpuluh-puluh ember air dari langit.
🌹🌹🌹