
“Aku mendapatkan telepon dari kantor karena ada urusan mendadak, jadi tidak sempat menghubungimu lagi. Maafkan aku,” jawab Sky berbohong.
“Ya sudah kalau begitu Kak. Jangan lupa diminum airnya, setelah itu kembali istirahat. Aku keluar dulu,” kata Ivy sambil memutar tubuhnya untuk berjalan keluar. Namun baru beberapa langkah, ia berhenti karena mendengar Sky memanggilnya.
“Vy …,” perkataan Sky terputus karena tiba-tiba saja kata-kata itu tidak dapat keluar dari bibirnya.
“Ya.”
“Ahh nggak apa-apa. Terima kasih ya,” kata Sky pada akhirnya.
Ivy tersenyum kemudian pergi meninggalkan Sky seorang diri di dalam kamar rawat.
Siallan!! ini pasti kerjaan tuh 2 cecurut! - batin Sky mengingat terakhir kali ia bersama dengan Gil dan Sean di dalam club.
Sky langsung mengambil ponselnya dan mengutak-atik layarnya. Ia bisa mendengar nada sambung, namun tak diangkat. Berkali-kali ia melakukannya, hingga pada akhirnya panggilan tersebut tersambung.
“Seannn!!! Rese lo pada ya!” teriak Sky di ujung telepon, membuat Sean langsung menjauhkan ponsel tersebut dari telinganya.
Sean yang memang sangat sensitif pada suara dan getaran kecil saat tidur pun jadi terbangun, bahkan setelah mendengar teriakan Sky, matanya langsung membulat dan sepertinya ia tak dapat tidur lagi.
“Ada apa?” tanya Sean tanpa rasa bersalah.
“Nggak usah pura-pura oon deh. Nanti oon beneran baru tahu rasa. Cepetan jemput gue!”
“Di mana, Sky?” tanya Sean.
“Lo nanya sekali lagi, gue potong insentif akhir tahun lo,” kata Sky dengan kesal.
“Ishhh … iya iya gue berangkat,” kata Sean pada akhirnya.
“Aishhhh, baru tidur bentaran udah kerja lagi aja. Itu bos belum ngerasain sekai-sekali gue jambak-jambak apa rambutnya,” Sean berganti pakaian sambil terus saja menggerutu.
Akhirnya Sean berangkat ke RB Hospital untuk menjemput sahabat sekaligus atasannya itu.
**
Seperti biasa, Ivy akan berkeliling untuk melakukan pemeriksaan rutin kepada beberapa pasiennya yang menjalani rawat inap. Selain itu, ia juga mendapat tugas dari salah satu dokter senior untuk melakukan pengawasan rutin kepada beberapa pasien dokter tersebut karena dokter tersebut sedang melakukan seminar di luar negeri.
Saat berkeliling, Ivy menyempatkan diri untuk mengunjungi Tuan Harlan, Dad dari Rey, temannya. Ia menyusuri koridor rumah sakit dan memasuki area khusus VVIP. Ia mengetuk pintu dan masuk setelah dipersilakan.
“Rey,” panggil Ivy saat ia memasuki ruanhan tersebut. Ivy melihat Rey yang duduk di sebelah brankar Tuan Harlan.
“Vy.”
“Kamu sudah makan atau belum?” tanya Ivy.
“Sudah tadi,” jawab Rey.
Ivy memang sangat perhatian pada semua pasiennya, maupun teman-temannya. Hanya saja tak semua orang menyadarinya karena mereka sudah menganggap Ivy sebagai pribadi yang buruk karena pengaruh dari Juliet dulu.
“Bagaimana keadaan Tuan Harlan kata Dokter?” tanya Ivy menanyakan keadaan Dad dari Rey.
“Sudah lebih baik. Beberapa hari lagi akan dilakukan pemeriksaan ulang. Kalau semua sudah oke, Daddy boleh rawat jalan saja,” jawab Rey.
“Wah bagus kalau begitu,” senyum Ivy.
“Makasih ya Vy, kamu udah bantuin aku.”
“Bukan aku yang bantuin kamu, tapi Kak Sky,” kata Ivy menjelaskan.
“Kalau begitu aku balik dulu ya, Rey. Kamu juga jaga kesehatan.”
“Pasti Vy. Sekali lagi thank you ya,” kata Rey.
Rey sangat bersyukur bisa bertemu kembali dengan Ivy dan ia lebih bersyukur lagi karena berkat Ivy ia bisa mengenal Sky lebih jauh hingga ia mendapatkan bantuan hingga sejauh ini.
Ivy keluar dari kamar tempat Tuan Harlan dirawat. Ia berjalan sambil membawa beberapa catatan kesehatan pasien. Ia meletakkan catatan tersebut di bagian administrasi kemudian berjalan ke arah taman. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri seperti mencari seseorang.
Namun, orang yang dicarinya tidak ada. Mungkin sebaiknya ia segera menyelesaikan pekerjaannya dan pulang. Ia ingin sekali menghabiskan waktu bersama dengan Dad Arthur.
**
“Usia kamu itu sudah berapa, Sky?!” tanya Grandpa Luther dengan nada penekanan.
“T-tapi ….”
“Nggak ada tapi-tapian. Besok kita ada acara makan malam dengan keluarga Brandon. Ingat! Kamu harus pulang sebelum jam 6. Grandpa tidak mau mendengar bantahanmu,” Grandpa Luther meninggalkan Sky yang duduk sendirian di ruang keluarga.
Kenapa sih zaman begini masih aja ada yang namanya perjodohan. Apa pada nggak bisa nyari sendiri? Menyebalkan! - batin Sky menggerutu.
Ia langsung pergi ke kamar tidurnya dan meraih kunci mobilnya. Ia memerintahkan petugas jaga untuk membukakan gerbang karena ia akan pergi. Sky ingin menemui sahabat-sahabatnya untuk menumpahkan segala keluh kesahnya.
Namun, tiba-tiba ia menghentikan mobilnya di tepi jalan. Tak mungkin ia mengatakan pada sahabat-sahabatnya tentang hal ini, ia bukan mendapat simpati tapi justru hanya tertawaan. Akhirnya Sky memutar balik mobilnya kembali ke kediaman Robert.
Keesokan harinya,
Suasana hati Sky masih sangat tidak baik, bahkan semalam ia sulit sekali untuk memejamkan matanya. Ia masih sangat kesal dengan apa yang dikatakan oleh Grandpa Luther. Ia tak ingin ada yang mencampuri kehidupannya, terutama masalah cinta dan pernikahan.
Apakah Grandpa Luther tidak bisa melihat pengalaman kedua orang tuanya. Ia tak ingin gegabah dalam memilih pasangan, bahkan ia tak pernah memikirkan pernikahan, sebelum akhirnya ia bertemu dengan Ivy.
“Sky!! My bro!!!” teriak Gil saat ia memasuki ruang kerja Sky.
Sky masih diam dan menekuk wajahnya. Gil berjalan mendekatinya dan menepuk bahu sahabatnya itu.
“Lo kenapa bro? Jelek amat,” kata Gil sembarangan.
“Arghhhh!!!” teriak Sky.
Gil yang melihat Sky seperti sedang menghadapi masalah langsung menjauhkan tangannya. Ia berjalan ke arah sofa dan duduk di sana sambil melihat ke arah sahabatnya.
Sky menempelkan keningnya di atas meja kerjanya, kemudian ia mengangkat kepalanya lagi dan melihat ke arah Gil.
“Gil, lo mau nikah nggak?” tanya Sky pada Gil.
“Hah nikah? Gue? Nggak salah lo nanya gituan sama gue?” tanya Gil sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Arghhhh!!! Gue kesel bener deh. Masa zaman sekarang masih ada aja sih Siti Nurbaya,” kata Sky sambil mengacak-acak rambutnya.
“Siapa Siti Nurbaya?” tanya Gil yang merasa gagal paham.
“Masa lo nggak tahu Siti Nurbaya sih? Kurang pengetahuan ih, baca sono. Itu cerita dari Negara Indonesia. Ceritanya tentang perjodohan antara seorang cewe namanya Siti Nurbaya dengan Pria yang udah berumur, namanya Datuk mendidih. Dia masih mending cewe, lha gue cowo,” Sky kembali menggeram kesal.
“Lo kali yang mendidih,” goda Gil yang ingin tertawa. Sky kembali meletakkan kepalanya menghadap ke bawah. Ia bingung apa yang harus ia lakukan.
“Lo dijodohin?” tanya Gil memastikan lagi.
🌹🌹🌹