Only Love

Only Love
#25



“Aku nggak mau jadi mantan yang seperti di novel-novel itu, yang ngegangguin rumah tangga mantan kekasihnya,” kata Ivy.


Terdengar kembali Sky yang tertawa mendengar penuturan Ivy. Ternyata Ivy bukanlah wanita yang kaku. Ia wanita yang berbeda dari wanita yang pernah ia kenal.


Pantas saja Daniel tertarik padamu. Aku iri karena cintamu hanya padanya. - batin Sky.


Mobil yang dikendarai oleh Sky berhenti di persimpangan, terlihat lampu lalu lintas berwarna merah.


“Tinggal belok kanan, kemudian lurus aja Kak. Apartemen RB di sebelah kiri,” kata Ivy.


Ternyata kamu tinggal di sini. - batin Sky.


Sky menoleh ke arah Ivy dan tiba-tiba saja matanya berhenti pada sebuah bros yang ada di dada bagian atas Ivy. Ia mengerutkan dahinya seakan mengenali bros berwarna keemasan itu.


“Bros kamu bagus, Vy,” puji Sky.


“Ohh ini … Iya kak. Bros ini adalah pemberian seseorang. Sudah lama sekali, tapi masih terlihat sangat bagus,” Ivy tersenyum sambil memegang bros tersebut.


Sky berusaha mengingat di mana ia pernah melihat bros dengan gambar yang sama, seperti yang dimiliki oleh Ivy. Namun, ia tak bisa mengingatnya.


Sky menghentikan mobilnya persis di depan lobby RB Apartement.


“Makasih ya kak sudah mengantarkanku,” Ivy membuka seatbelt dan membuka pintu. Namun perkataan Sky menghentikannya.


“Vy, aku boleh minta nomor ponsel kamu?” Tanya Sky. Dalam dirinya, ia sedikit ragu kalau Ivy akan memberikannya.


“Boleh, Kak,” Ivy menyebutkan nomor ponselnya pada Sky. Setelah itu ia pamit kembali dan turun dari mobil.


“Kapan-kapan kita kumpul bareng lagi ya Vy, bareng Gil dan Sean,” kata Sky yang menurunkan jendela di bagian kursi sebelah kemudi.


Ivy menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Ia juga melambaikan tangan sebelum masuk ke dalam lobby. Sky menunggu hingga Ivy masuk, baru ia menjalankan mobilnya pergi dari sana. Seulas senyum terbit di wajahnya.


Apakah kali ini takdir akan berpihak padaku? - batin Sky.


**


Di sebuah kamar hotel yang luas, kini diisi oleh 2 insan manusia yang sedari tadi tidak saling bicara. Yang satu duduk di atas tempat tidur, sementara yang satu lagi duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.


Vinnie menghela nafasnya pelan, kemudian bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi. Ia membersihkan diri setelah seharian ini beraktivitas, membuat tubuhnya terasa begitu lelah dan lengket.


Awalnya Vinnie ingin berendam untuk merelakskan dirinya, namun ia memikirkan kalau-kalau Daniel ingin menggunakan kamar mandi juga. Ia pun tak berlama-lama di dalam.


Saat Vinnie keluar dari kamar mandi, ia tak mendapati Daniel di sofa, bahkan tak ada di setiap sudut kamar. Ia tak ingin ambil pusing, bukankah pernikahan ini hanyalah sebuah kepalsuan.


Vinnie mengambil pakaian tidurnya di dalam lemari, kemudian pergi ke tempat tidur. Ia sangat lelah san sangat yakin bisa tertidur dengan cepat. Namun ketika ia meletakkan kepalanya ke atas bantal, bayang-bayang Elliot seakan muncul di hadapannya.


Apa yang sedang kamu lakukan saat ini? Apa kamu merindukanku? Aku sangat-sangat merindukanmu. - Vinnie mengusap matanya yang mulai mengeluarkan air mata. Ia terus memikirkan Elliot hingga pada akhirnya terlelap.


Sementara itu di salah satu club di hotel tersebut, Daniel tengah duduk di depan bartender. Ia meminta segelas minuman. Ia bukan peminum, namun saat ini ia masih tidak terima dengan statusnya yang sudah berubah.


**


Ivy kembali menjalani aktivitasnya seperti biasa. Seperti hari ini, ia ada jadwal praktek siang hari, kemudian dilanjutkan dengan jadwal berkeliling untuk memeriksa beberapa pasien yang melakukan rawat inap.


Ivy baru berusia hampir 26 tahun, tapi ia dikenal sebagai salah satu dokter spesialis jantung yang disegani karena ia begitu teliti dan detail dalam melakukan setiap pemeriksaan.


Mengapa Ivy mengambil spesialis jantung? Hal itu semua karena Mom Keiko. Saar itu Mom Keiko masih terbilang muda, namun tak menyangka bahwa ia bisa terkena serangan jantung.


Ketika Mom Keiko mengeluh sakit, orang-orang hanya berkata bahwa Mommynya kelelahan. Sampai pada akhirnya Mom Keiko tidak sadarkan diri di tengah malam. Saat itu semua sudah terlambat. Mom Keiko dibawa oleh ambulance, namun penanganannya di rumah sakit sangat lama. Mereka meminta administrasi ini dan itu, hingga akhirnya Mom Keiko tak terselamatkan.


Ivy yang melamun, kini berjalan menyusuri koridor rumah sakit sambil memegang laporan kesehatan pasien. Sesekali ia melihatnya sebelum memasuki kamar rawat. Baru saja ia melewati bagian administrasi, Ivy mendengar suara seorang pria yang berbicara dengan memohon. Ivy pun mendekat untuk mencari tahu.


“Ada apa ini?” tanya Ivy.


“Maaf Dok, orang ini belum membayar biaya awal perawatan, jadi kami belum melakukan tindakan lebih jauh,” kata salah seorang staf administrasi menjelaskan.


“Tolong, saya pasti akan membayarnya, tapi berikan saya waktu. Saat ini saya sedang mengumpulkan uang. Bisakah dilanjutkan dulu penanganannya? Kalau terjadi sesuatu yang buruk nanti bagaimana?” kata pria itu.


“Tolong dilanjutkan dulu perawatannya, biar saya yang akan bertanggung jawab,” Ivy merasa tidak tega melihat pria itu bersimpuh dengan terus menundukkan wajahnya dan memohon.


Pria itu mendengar perkataan Ivy dan pangsung menoleh. Ia ingin mengucapkan terima kasih.


“Ivy?” tanya pria itu dengan tatapan yang sulit diartikan.


“K-kamu … Rey?”


Rey menganggukkan kepalanya. Ivy pun mengajaknya keluar setelah memberikan arahan kepada bagian administrasi. Ivy mengajak Rey duduk di salah satu kursi panjang yang terdapat di koridor.


“Siapa yang sakit?” tanya Ivy.


“Daddy,” jawab Rey dengan getir, “Perusahaan Daddy mengalami kebangkrutan karena ada salah satu stafnya yang melakukan kecurangan. Ia shock dan stress, kemudian mengalami serangan jantung. Gue juga sekarang kerja serabutan karena biasanya gue bantuin Daddy di kantor.”


“Rey, kamu tenang ya. Sebusa mungkin aku akan bantu kamu. Kesehatan Daddy kamu sekarang adalah hal yang paling penting.”


“Thank you, Vy. Gue nggak tahu gimana tadi kalau nggak ketemu lo.”


Ivy menepuk bahu Rey untuk menyemangati teman sekolahnya itu, “Kamu udah makan, Rey?”


Rey menggelengkan kepalanya.


“Makan yuk, temenin aku. Sekalian kita ngobrol-ngobrol,” ajak Ivy.


Rey dan Ivy bangkit dari duduknya dan berjalan menuju cafe yang lokasinya dekat dengan rumah sakit. Mereka hanya perlu berjalan kaki ke sana. Sesampainya di sana, mereka duduk dan mulai memesan makanan.


🌹🌹🌹