
“Aku ingin bercerai,” permintaan Vinnie bagaikan petir bagi keluarga Lewis, terutama kedua orang tua Daniel. Jika Daniel dan Vinnie bercerai, maka mereka harus siap dengan ditariknya investasi oleh seorang Davis Martin.
“Apa maksudmu?” tanya Dad Davis.
“Aku lelah Dad. Aku lelah hanya menjadi bonekamu. Atau lebih baik aku mati saja? Aku sudah bertemu dengan Mom dan kurasa ia akan dengan senang hati menerimaku untuk menemaninya,” kata Vinnie.
Deggg
Dad Davis dan Daniel menatap ke arah Vinnie.
“Apa dia menyakitimu?” tanya Dad Davis sambil melihat ke arah Daniel.
“Tidak, Dad. Daniel sangat baik padaku. Kurasa aku yang tidak baik untuknya. Aku tidak bisa mencintainya, aku mencintai orang lain. Kalau Dad tidak mau mengabulkan permintaanku, maka aku akan secepatnya menyusul Mommy,” Vinnie segera kembali menutup tubuhnya dengan selimut dan memejamkan matanya. Ia tak ingin Dad Davis bertanya lebih panjang lagi.
Perbuatanku sudah sejauh itu padamu, bahkan mungkin menyakitimu hingga ke titik terdalam, tapi mengapa kamu masih saja membelaku di depan Daddymu. - batin Daniel melihat ke arah tempat tidur di mana Vinnie berbaring.
“Baiklah, Dad akan mengabulkan permintaanmu,” Vinnie memutar tubuhnya dan melihat ke arah Dad Davis.
“Tapi janji padaku tidak menarik investasi ataupun mengganggu keluarga mereka. Ini keinginanku,” kata Vinnie.
“Ya,” Dad Davis terpaksa mengikuti permintaan Vinnie. Ini bukan permintaan yang sulit dan ia merasa gelisah ketika Vinnie menyinggung akan menyusul istri tercintanya. Ia tak bisa kehilangan Vinnie, sesuatu yang ditinggalkan istrinya.
Daniel tak menyangka Dad Davis dengan mudah akan mengabulkan permintaan Vinnie.
“Tidak! Aku tidak mau bercerai!” Daniel tiba-tiba saja berdiri.
Apa dia masih belum puas menyiksaku dan membalaskan rasa sakit hatinya? - batin Vinnie.
Dad Davis menghela nafasnya pelan dan melihat ke arah Vinnie. Ia juga tak ingin ada perceraian di dalam pernikahan putrinya, tapi memang semua ini adalah kesalahannya. Sangat terlihat di wajah Vinnie bahwa ia tidak bahagia.
“Bisakah aku bicara berdua dengannya?” tanya Daniel.
Pada akhirnya Dad Davis dan kedua orang tuanya meninggalkan ruangan di mana Vinnie ditempatkan. Kini hanya tinggal Daniel dan Vinnie saja.
“Apa kamu serius ingin bercerai denganku?” tanya Daniel membuka pembicaraan.
“Bukankah itu juga keinginanmu?” Vinnie balik bertanya. Kini ia menatap mata Daniel dengan tajam tanpa takut ataupun merasa terintimidasi.
“T-tapi …”
“Jangan kuatir, Dad tak akan menarik investasi dari perusahaan keluargamu dan jantung yang diberikan pada adikmu tak akan diambil kembali. Tanda tangani saja surat perceraian yang kuberikan, maka kamu akan bebas,” mulai saat ini, Vinnie tak ingin terlihat lemah di hadapan siapapun. Tak akan ada lagi yang bisa mengatur hidupnya.
“Sekarang keluarlah, aku ingin sendiri,” kata Vinnie yang kemudian memalingkan wajahnya dari Daniel. Ia juga tak ingin luluh melihat wajah Daniel yang sepertinya terlihat sangat menyesal dengan apa yang terjadi padanya saat ini.
**
Dad Davis memindahkan perawatan Vinnie ke rumah sakit miliknya, Martin Hospital. Ia menugaskan dokter dan perawat dengan kompetensi tinggi agar putrinya segera pulih. Ia tak mengetahui mengenai kekerasan yang dialami oleh Vinnie karena Dokter Rose memang tidak memberitahukan karena menurutnya itu adalah masalah pribadi di antara suami istri.
“Apa kamu masih tak ingin bertemu dengannya?” tanya Dad Davis pada Vinnie. Sejak ia berbicara terakhir kali dengan Daniel, ia tak mengijinkan siapapun untuk masuk kecuali Dad Davis.
“Akan lebih baik seperti itu, Dad. Apa Dad sudah mengurus perceraianku?”
“Sayang, apa tidak sebaiknya kamu memikirkan sekali lagi? Dad hanya tak ingin kamu menyesal jika melakukannya. Meskipun pernikahan ini diawali dengan sebuah perjodohan, tapi Dad sangat tahu bahwa Daniel adalah pria yang baik.”
Vinnie terdiam sesaat. Ia tahu Daniel adalah pria yang baik, bahkan bisa dikatakan Daniel adalah pria yang setia. Vinnie sangat yakin, bahwa sampai saat ini Daniel masih sangat mencintai Ivy.
“Dad, aku tidak mencintainya. Aku tak ingin dia terjebak di dalam pernikahan di mana tak ada cinta di dalamnya. Bukankah itu suatu penderitaan?” Kata Vinnie menjelaskan.
Ia tidak mencintaiku, Dad. Ia hanya merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada diriku karenanya. Sejak awal menikah, aku sudah perlahan belajar untuk mencintainya, tapi kurasa ia tak pernah merasakannya. - batin Vinnie.
Brugghhh
Dad Davis dan Vinnie mendengar sesuatu dari arah luar. Suara beberapa orang dan perawat turut meramaikan.
“Dad ke depan sebentar untuk melihat apa yang terjadi,” kata Dad Davis.
“Hmm.”
Dad Davis yang keluar dari ruangan mendapati Daniel yang sudah tergeletak di lantai tak sadarkan diri. Ia segera meminta perawat untuk membawa Daniel untuk dilakukan pemeriksaan.
“Ada apa, Dad?” tanya Vinnie saat Dad Davis kembali masuk ke dalam ruangan.
“Da-daniel …”
Vinnie menautkan alisnya mendengar nama suaminya kembali disebut, “ada apa, Dad?”
“Dia pingsan.”
Vinnie membulatkan matanya. Ia langsung mencabut infus yang berada di tangannya dan turun dari brankar. Ia berjalan menuju pintu.
“Sayang, kamu mau ke mana?” tanya Dad Davis.
“Di mana Daniel di bawa, Dad?” tanya Vinnie dengan panik.
“Dia …”
“Cepat katakan, Dad!”
Dad Davis mengambil kursi roda dan meminta putrinya untuk duduk, “Dad akan mengantarkanmu, duduklah.”
Di perjalanan menuju kamar rawat Daniel, Dad Davis kembali membuka pembicaraan, “Kamu mengkuatirkannya?”
“T-tidak. Aku hanya ingin memastikan keadaannya. Aku tidak mau dianggap sebagai penyebab dari apa yang terjadi padanya,” jawab Vinnie.
Dad Davis tahu bahwa putrinya kini sedang mengkuatirkan keadaan menantunya, hanya saja ia tak mau mengakuinya.
Mereka sampai di ruang rawat yang berada di ujung koridor. Dad Davis membuka pintu dan mendorong kursi roda Vinnie masuk ke dalam. Ia langsung berdiri dari kursi dan menghampiri brankar Daniel.
Vinnie melihat wajah Daniel yang sedikit pucat dengan bibir yang begitu kering, “apa dia sudah diperiksa, Dad?”
“Sudah, tapi dokter sedang mengecek sampel darahnya. Hanya untuk memastikan kesehatannya,” jawab Dad Davis.
Vinnie sedikit bernafas dengan lega.
“Apa yang terjadi padamu? Bukankah kamu menginginkan perceraian? Mengapa kamu masih bersikeras mempertahankan pernikahan ini?” Gumam Vinnie di samping brankar Daniel.
“M-maaf … m-maafkan aku. A-aku … ,” Vinnie langsung memegang tangan Daniel ketika mendengar pria itu mulai meracau.
“Dad, dia demam,” Vinnie memegang dahi Daniel dan langsung menoleh ke arah Dad Davis.
“Sebentar lagi dokter akan datang untuk memeriksanya lagi dan membawa hasil uji laboratorium dari sampel darahnya. Kamu tenanglah. Bukankah kamu tidak mencintainya? Kalau begitu jangan terlalu mengkuatirkannya.”
🌹🌹🌹