
Di RB Hospital,
Ivy yang baru saja menjejakkan kaki di lobby setelah memberekan barang-barangnya dan berencana untuk pulang, menangkap sesuatu. Matanya terhenti dan mengikuti sosok yang baru saja memasuki pintu utama rumah sakit sambil menggendong seseorang.
Ivy langsung berlari mengikuti ke arah pria itu pergi, ruang gawat darurat. Setelah pria itu meletakkan wanita yang digendongnya ke atas brankar, ia langsung menghapus air mata yang terjatuh di sudut matanya. Ivy pun menghampiri pria itu.
“Kak, apa yang terjadi dengan Vinnie?” tanya Ivy dengan wajah kuatir, pasalnya tadi sore ia baru saja berbalas pesan dengan wanita itu.
“Aku yang salah, Vy. Seharusnya aku nggak ninggalin dia sendirian,” kata Daniel dengan suara yang bergetar.
Ivy mengajak Daniel untuk duduk di kursi yang berada persis di depan ruang gawat darurat, “sebaiknya kakak tenang dulu. Kalau kakak panik seperti ini, nanti malah Vinnie yang merasa kuatir.”
“Anak aku, Vy. Aku nggak mau kehilangan mereka berdua,” Daniel menutup wajah dengan kedua tangannya.
Ivy berdiri dan berjalan menuju salah satu mesin yang menjual minuman.
“Minum dulu Kak, biar lebih tenang,” Ivy menyodorkan sebotol air mineral pada Daniel. Daniel meraih botol air mineral tersebut dan meminumnya.
“Aku yakin mereka berdua akan baik-baik saja. Vinnie adalah wanita yang kuat, jadi Kak Daniel harus tenang dan berpikiran positif juga.”
Sky yang berada di ujung koridor, tepatnya di ruang gawat darurat yang lain, melihat pemandangan yang kembali menyesakkan dadanya. Perasaannya semakin berkecamuk, membuatnya ingin membanting ataupun melemparkan sesuatu.
**
Ivy akhirnya meninggalkan Daniel setelah pria itu sudah kembali tenang. Dokter sudah menjelaskan kepada Daniel bahwa Vinnie dan bayinya dalam keadaan baik, hanya perlu istirahat di rumah sakit untuk sementara waktu.
Ia berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Ia yang awalnya berencana pulang cepat jadi gagal. Saat ia melihat Daniel memasuki rumah sakit aambil menggendong Vinnie, ia pun menjadi kuatir.
Ivy berdiri di depan lobby rumah sakit. Ia memegang ponsel di tangannya. Ia menekan beberapa kali pada layar ponselnya, kemudian meletakkannya di telinga.
“Dad, Dad sudah makan belum?” tanya Ivy.
“Sudah sayang, tadi kebetulan ada jamuan makan malam di kantor dan Dad juga diberi makanan untuk dibawa pulang. Kamu sudah makan sayang?”
“Belum, Dad.”
“Kalau begitu langsung pulang saja. Kamu bisa makan makanan yang Dad bawa pulang,” kata Dad Arthur.
“Baik, Dad. Aku akan segera pulang.”
“Hati-hati sayang. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi Dad, okay?”
“Okay, Dad.”
Ivy memutuskan sambungan ponselnya. Ia mencari taksi yang biasa selalu tersedia di halaman rumah sakit, namun kali ini tidak kelihatan sama sekali. Ia pun mulai menekan kembali layar ponselnya untuk memesan taksi online.
Sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti tepat di hadapan Ivy. Kaca mobil bagian penumpang terbuka, membuat Ivy bisa melihat siapa yang berada di dalam.
“Kak.”
Ivy membuka pintu mobil tersebut. Ia tahu Sky akan marah jika ia berdebat tidak mau ikut pulang. Ia pun segera masuk kemudian memasang seatbeltnya.
Sky mengantarkan Ivy tanpa berbicara sama sekali kepada wanita itu. Ivy agak bingung dengan kediaman Sky dan ia merasa kehilangan sesuatu. Ia ingin sekali memulai pembicaraan agar suasana di antara mereka tidak terasa begitu canggung, namun ia takut kalau nanti dia akan salah bicara. Akhirnya, Ivy juga menutup bibirnya rapat-rapat.
“Terima kasih, Kak,” kata Ivy ketika mereka sudah sampai di depan apartemen. Ivy membuka seatbelt kemudian turun dari mobil.
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Sky, semakin membuat hatinya resah. Tiba-tiba aaja ia merasa sedih karena Sky seperti mengacuhkannya.
Sky merasa keaal melihat kebersamaan di antara Daniel dan Ivy, tapi ia tak tega saat melihat Ivy akan pulang sendirian malam-malam. Meskipun hatinya sedang marah dan kesal, namun ia tak menginginkan ada hal yang buruk menimpa wanita yang ia sayangi, meskipun wanita itu tidak pernah tahu tentang perasaannya.
Sky mulai berpikir untuk mengatakan bagaimana perasaannya pada Ivy, tapi ia takut jika nantinya Ivy akan menjauhinya. Jadi untuk sementara waktu, biarlah ia menyimpan perasaannya, setidaknya sampai ia merasa hubungan mereka lebih dekat dari saat ini.
**
1 minggu berlalu,
Sky sangat disibukkan dengan pekerjaannya yang menumpuk. Bahkan ia sering mengirimkan Sean untuk menemui para klien bisnis mereka karena ia terlau lelah. Acara tutup tahun membuat perusahaannya sangat sibuk dengan banyaknya laporan dan meeting yang harus dilaksanakan setiap harinya.
Saat pulang dari perusahaan ataupun di sela-sela kesibukannya, Sky harus menjenguk Grandpa Luther di rumah sakit. Kadang ia juga meminta bantuan Sean ataupun Gil untuk bergantian menemui dan melihat perkembangan kesehatan Grandpa Luther.
“Sky, makan siang dulu yuk! Lo udah sering banget ngelewatin makan siang. Jangan sampai nantinya malah lo yang sakit,” ajak Sean.
“Lo nggak lihat apa kerjaan gue banyak begini. Kadang gue pengen punya keahlian membelah diri aja,” terang Sky.
“Ayolah sekali-sekali. Udah lama gue nggak makan siang bareng sama lo. Gil juga bentar lagi bakalan dateng. Dia mau ngasi laporan tentang pembelian mobil yang perusahaan kita lakukan.”
“Untuk masalah itu, bilang sama Gil untuk langsung nemuin Tuan Harsen aja. Gue percaya kok sama dia,” kata Sky.
“Emang dia mau ketemu langsung kok sama Tuan Harsen, tapi dia juga pengen banget ketemu sama lo. Kangen berat katanya,” goda Sean.
“Cihh!!! Kangen? Geli banget gue dengernya,” kata Sky sambil berakting ingin memuntahkan sesuatu.
Tak berselang lama, suara pintu terbuka membuat mereka menghentikkan pembicaraan mereka.
“Hello My Bro!” Gil langsung menyapa sahabat-sahabatnya itu saat dirinya memasuki ruangan.
“Gila banget ya pada masuk ruangan gue udah kayak masuk ke ruang publik. Nggak ada yang pada ketok pintu. Mau ke toilet aja mesti lihat-lihat ada orang apa nggak, nggak nyelonong gitu aja. Gue jadi berasa jadi CEO kaleng-kaleng,” gerutu Sky sambil mencebikkam bibirnya.
Hal itu sontak membuat Sean dan Gil tertawa terbahak-bahak.
“Makan yuk bro! Lo udah bwrapa tahun nggak makan bareng gue. Gue kan kangen banget. Dulu sesibuk-sibuknya kita, kita pasti bisa luangin waktu buat makan bareng. Setidaknya kita harus tetep ngumpul, biar makin deket,” kata Gil sambil mengedipkan sebelah matanya dan bergaya seperti menyelipkan rambut di belakang telinganya.
“Astaganaga, geli banget sih gue lihat lo sekarang. Ya udah ayo! daripada gue ketularan gila gara-gara kelamaan ngadepin lo,” kata Sky bangkit dari duduknya. Mereka pun akhirnya pergi menuju restoran favorit mereka.
🌹🌹🌹