Only Love

Only Love
#44



“Ah serius lo? Jadi yang mau dijodohin sama lo itu si Mak Lampir, yang dulu pernah kita kerjain?” tanya Gil, dan Sky pun menganggukkan kepalanya.


“Terus, perjodohannya diterusin nggak?” timpal Sean.


“Mau dia terusin juga gue nggak bakalan mau. Gue akan cari cara buat ngegagalin rencana perjodohan ini. Lo pada pikir gue gila apa,” kata Sky sambil melahap makanan di hadapannya.


“Apa gara-gara itu Grandpa Luther masuk rumah sakit?” tanya Gil.


Sky kembali menganggukkan kepalanya, lebih tepatnya dirinyalah yang telah membuat Grandpa Luther masuk rumah sakit. Kalau saja ia tak berdebat, mungkin hal itu tak akan terjadi.


“Kalau begitu habis ini gue mau ke rumah sakit ah, sekalian ketemu sama Ivy. Udah lama nggak ketemu tuh anak, apa kabarnya ya?” kata Gil.


“Dia baik-baik aja, kemarin gue malah sempet makan siang bareng,” celetuk Sean.


Sky langsung melihat ke arah Sean ketika mendengar apa yang dikatakan oleh sahabat sekaligus asisten pribadinya itu.


“Berdua?” tanya Gil menegaskan.


“Hooh, berdua. Emang kenapa?” tanya Sean tanpa rasa bersalah.


“Lo nggak lihat itu ada tatapan membunuh di depan lo? kata Gil yang menyadarkan Sean bahwa Sky kini tengah menatapnya dengan intens.


“Tenang bro, tenanggg …,” kata Sean, “gue cuma ngobrol doank kok.”


“Oya, lo pada tahu nggak?” tanya Sean.


“Ya nggak tahu lha, lo belom ngomong apa-apa!” gerutu Gil yang lanngsung membuat Sean mencebik kesal.


“Istri Daniel, Vinnie, ternyata sedang hamil. Terus kemarin itu sempat mengalami pendarahan, tapi untung keduanya sekarang baik-baik aja,” kata Sean.


“Lo tahu dari mana?” tanya Gil.


“Ivy. Dia cerita kalau dia ketemu Daniel di rumah sakit pas lagi antar Vinnie untuk cek ke dokter kandungan.”


Jadi mereka bukan bertemu karena ingin kembali ke satu sama lain? - batin Sky sambil menyeruput minuman yang dipesannya.


“Balik yuk, kerjaan banyak nih,” ajak Sky.


“Okay lha. Kapan-kapan kita mesti ajak Daniel ikutan kumpul. Udah lama kita nggak kumpul berempat. Urusan masa lalu biarlah berlalu, yang penting kita harus menatap masa depan yang penuh cinta dan harapan,” kata Gil sambil merangkul kedua sahabatnya.


“Anjayyy!!! Sejak kapan lo puitis dan sok bijak begini?” kata Sean sambil tergelak.


**


Ivy kembali mendapati Grandpa Luther di rumah sakit. Seperti biasanya, Grandpa Luther selalu berada di taman belakang rumah sakit, namun kali ini ada 2 orang perawat yang menemaninya.


“Grandpa,” sapa Ivy.


Grandpa Luther menoleh ke arah asal suara dan tersenyum, “Eh ketemu Ivy lagi.”


“Grandpa sakit lagi?”


“Hmm … ya ini gara-gara cucu Grandpa yang nakal,” kata Grandpa Luther sembari tertawa kecil.


Ivy yang mendengar tawa Grandpa Luther pun ikut tertawa. Ntah mengapa tawa Grandpa Luther begitu menular baginya.


“Anak itu, ntah sampai kapan mau hidup seorang diri. Istri nggak punya, kekasih apalagi. Grandpa bingung menghadapinya, sementara usia Grandpa sudah tua. Grandpa ingin sekali melihat cicit-cicit Grandpa. Selain itu, sebelum akhir nafas, Grandpa ingin melihat ia berbahagia bersama keluarganya.”


Ivy memegang tangan Grandpa Luther, “Tenang Grandpa, Tuhan pasti akan mendengar soa Grandpa. Ivy yakin usia Grandpa masih panjang dan masih bisa bermain main dengan cicit-cicit Grandpa.”


Kalau saja ia memiliki keluarga yang harmonis, mungkin saat ini ia sudah berkeluarga. Ia pasti akan melihat bagaimana keharmonisan orang tuanya, tapi sayang kenyataan yang ada memang sungguh menyakitkan. - batin Grandpa Luther.


“Grandpa kenapa? Wajah Grandpa terlihat lelah. Sebaiknya kita kembali ke kamar ya.”


Grandpa Luther pun mengangguk, kemudian bangkit berdiri. Sebenarnya Grandpa Luther tidak terlalu terlihat tua. Tubuhnya masih tegap, namun karena beberapa kali terkena serangan jantung, membuat tubuhnya seperti kehilangan daya tahannya.


**


Siang ini, Sky berniat untuk mengunjungi Grandpa Luther di rumah sakit. Ia pergi bersama dengan Gil dan Sean, yang juga ingin menjenguk Grandpa Luther.


Mereka pun berkumpul dan makan siang bersama di cafe dekat rumah sakit.


“Halo,” kata Sean, “Iya Vy, kan tadi gue udah bilang lo siang ke sini aja, kita makan bareng. Ya udah, gue tunggu ya.”


Sean pun memutus sambungan ponselnya. Ia kembali melihat buku menu.


“Lo ajak Ivy?” tanya Gil.


“Ngajak makan bareng doang. Kasihan dia, kadang siang nggak makan,” terang Sean.


Kenapa Sean jadi lebih tahu tentang Ivy dibanding gue? - batin Sky berkecamuk.


Tak lama kemudian, Ivy pun datang, ia masuk ke dalam cafe kemudian menuju tempat duduk di mana ketiga pria itu berada, setelah Sean melambaikan tangannya.


“Duduk, Vy,” kata Sean.


Ivy duduk bersebelahan dengan Sean dan berhadapan dengan Sky.


“Kamu mau pesan apa Vy?” tanya Sean.


Ishhh nih orang kok jadi perhatian banget sama Ivy. Bikin gue kesel aja. - Sky pun memalingkan wajahnya, tak ingin melihat interaksi keduanya.


Sean yang melihat gelagat Sky pun semakin senang. Ia pun mulai melancarkan aksinya. Setelah makanan mereka datang, mereka mulai menyantap makanan sambil sesekali berbicara.


“Sky, gimana perjodohan lo? Berhasilkah?” tanya Sean.


Uhukk uhukk


Sky tiba-tiba tersedak ketika Sean membicarakan tentang perjodohan. Sementara Ivy yang mendengar kata perjodohan, merasa dadanya menjadi sesak. Ntah mengapa ketika ia mendengar Sky juga akan dijodohkan, membuat dirinya seakan mati rasa.


Apakah semua orang kaya akan selalu menikah karena dijodohkan? Apa karena mereka akan selalu memikirkan bibit bebet bobot untuk keluarga mereka? - batin Ivy yang berusaha tetap tenang.


Sky melihat ke arah Ivy yang terlihat diam saja, tidak terpengaruh sedikitpun.


“Ya biasa aja,” jawab Sky tanpa memperlihatkan adanya ketertarikan sama sekali.


“Bro, lo tahu nggak Sky dijodohin sama siapa?” tanya Gil pada Sean.


Sean yang memang tidak tahu pun menggelengkan kepalanya. Meskipun ia bekerja sebagai asisten pribadi Sky, tapi untuk hal yang satu itu ia belum mengetahuinya. Belakangan ini ia sangat sibuk dengan pekerjaan yang diberikan oleh Sky.


“Pasti lo kaget,” kata Gil.


“Ahhh cepetan! Lo jangan bikin gue penasaran,” Sean mulai menendang kaki Gil yang berada di hadapannya.


“Elena Brandon.”


“Whatt??!! Are you kidding?” Sean kaget dan sedikit menganga.


Ivy hanya diam membisu dan tidak ingin ikut campur dalam urusan ini. Sky memperhatikan gerak-gerik Ivy saja, berharap ia bisa melihat sedikit saja tanda apakah wanita di hadapannya memiliki perasaan padanya. Namun, Ivy begitu pandai menyimpan perasaannya.


Sejujurnya, di dalam hatinya ia mulai menaruh rasa kepada pria yang ada di hadapannya. Mulai dari sifatnya yang baik, ia juga tidak sombong meskipun bisa dibilang sebagai anak orang kaya. Dan yang paling membekas di hati Ivy adalah perhatian Sky yang begitu besar padanya.


Ivy merasakan sakit di dalam hatinya, tapi ia tak ingin menjadikan perasaannya sebagai beban bagi orang lain.


Betapa bodohnya aku, mengharapkan cinta dari seseorang yang tidak akan mungkin kugapai. - batin Ivy.


🌹🌹🌹