Only Love

Only Love
#59



Saat pagi menjelang dan matahari sudah menampakkan wajahnya, Sky baru terbangun. Ia mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan dengan cahaya yang masuk melalui celah gordennya.


Ia mengambil ponsel yang berada di atas nakas. Ia melihat apakah ada panggilan ataupun pesan dari Ivy, namun nyatanya tidak ada apapun di sana.


Mengapa ia tidak menghubungiku? Apa dia pergi meninggalkanku lagi?” - batin Sky.


Pikiran Sky mulai bermain. Hal-hal negatif mulai berada di sana. Kekuatiran dan ketakutan kan kehilangan Ivy juga terus menghinggapinya, hingga membuatnya gelisah. Oleh karena itu, Sky langsung melakukan panggilan pada Sean.


Panggilan pertama, panggilan kedua, hingga panggilan ketiga, tidak dijawab oleh Sean. Akhirnya, pada panggilan yang ke empat, barulah Sean mengangkatnya.


“Halo.”


“Se, lo cek posisi Ivy sekarang ada di mana!”


“Asemm lo Sky! Ini hari Sabtu, gue mau tidur. Gila, bangun siangan aja masa nggak bisa sih,” ungkap Sean kesal.


“Bangun lo! Olahraga kek, apa kek!”


“Ogahh!! Lo minta tolong Gil aja sana. Gue mau lanjut tidur dulu. Lagian hari Sabtu kan gue nggak dibayar,” kata Sean dengan kesal.


“Gue bayar 2 kali lipat deh,” kata Sky.


“Nggak! Gue lagi nggak butuh duit. Gue cuma butuh tidurrr … gue udah mau pingsan rasanya Sky, kerjaan lo numpuk semua di gue.”


Sean pun memutuskan sambungan ponsel tersebut dan melanjutkan kembali tidurnya.


“Begini nih kalau punya asisten itu sahabat sendiri, semau-maunya aja. Gue pindahin ke Afrika baru tahu lo,” ungkap Sky dan kembali meletakkan ponselnya di atas nakas.


Sky mulai merasa putus asa dan hanya bisa berteriak untuk meluapkan rasa kesalnya.


**


“Tuan, dipanggil Tuan Luther ke bawah,” panggil salah seorang pelayan.


“Hmm … katakan pada Grandpa, aku akan segera turun.”


Saat ini, Grandpa Luther sedang berada di ruang keluarga bersama dengan Gil. Sedari tadi mereka berbincang-bincang, layaknya seorang kakek dengan cucunya.


“Grandpa, apa Sky mengetahui semua rencanamu?” tanya Gil setengah berbisik.


“Tentu saja. Oleh karena itulah sejak kemarin ia merasa kesal dengan rencana perjodohan ini.”


“Lalu mengapa Grandpa melakukan semua ini? Bukankah Grandpa menyayangi Sky?” tanya Gil penasaran.


“Grandpa hanya menginginkan ia segera berkeluarga. Grandpa tak ingin ia merasa sendirian nantinya ketika Grandpa sudah tidak ada.”


“Mengapa Grandpa mengatakan seperti itu? Bukankah Sky masih memiliki orang tua?”


“Hmm … tapi hidupnya teraaa seperti tak memiliki orang tua. Kedua orang tuanya sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing. Grandpa sudah tidak mengharapkan mereka, karena yang terpenting saat ini adalah Sky dan bagaimana hidupnya nanti.”


“Lalu kali ini, siapa yang Grandpa pilih untuk menjadi pasangan Sky?” tanya Gil.


Grandpa Luther tertawa, “yang pasti dia adalah anak yang baik.”


“Tapi bagaimana dengan kekasih Sky?” Gil juga merasa kuatir pada Ivy. Ia tidak tahu apa yang akan Ivy rasakan.


“Apa wanita ini mau dijodohkan dengan Sky?” tanya Gil lagi.


“Grandpa hanya mengajaknya makan malam saja, tidak mengatakan mengenai rencana perjodohan.”


Tak lama, Sky turun dari kamar tidurnya yang berada di lantai atas. Ia langsung menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.


“Bro, are you ready?” tanya Gil sambil memperlihatkan seringai di wajahnya.


“Ready apaan?”


“Melepas kejombloan,” jawab Gil.


“Eh catet ya catet! Gue nggak jomblo ya. Jangan ngajak-ngajak kalau mau ngejomblo.”


“Aduhhh!!! Grandpa ketemu di mana lagi sih?”


“Grandpa sering bertemu dengannya dulu. Ia adalah anak yang baik, bahkan ia sering menjenguk dan menemani Grandpa di rumah sakit,” kata Grandpa Luther.


“Wah, calon lo ternyata udah curi start duluan,” kata Gil memanas-manasi Sky.


“Lo lagi nyoba ngomporin gue ya?”


“Nggak! Lo aja kali yang ngerasa kepanasan,” jawab Gil.


“Tenang! Lo nggak perlu panas-panasin juga, gue udah bakalan melesak sendiri.” Kata Sky dengan ketua, “Lo sendiri, ngapain datang ke sini? Kayaknya nggak ada yang ngundang lo ke sini.”


“Grandpa yang mengundangnya ke sini. Grandpa juga mengundang Sean dan Daniel. Bukankah mereka adalah sahabat-sahabatmu?” tanya Grandpa Luther.


“Iya. Tapi, apa perlu Grandpa mengundang mereka ke sini? Yang ada mereka merasa senang.”


“Bagus kalau mereka turut senang, itu tandanya sahabat-sahabatmu senang dengan kebahagiaanmu.”


“Mereka tuh lebih senang kalau melihat Sky menderita. Apa Grandpa nggak bisa lihat tuh wajah Gil, udah excited banget kayaknya.”


Tak lama, Daniel terlihat mendatangi kediaman keluarga Robert. Ia datang bersama dengan Vinnie dan bayi kecil mereka yang diberi nama Allen Martin Lewis.


“Halo, Grandpa,” Daniel menyalami Grandpa Luther.


“Wahhh ponakan gue,” Gil langsung bangkit dan menghampiri Vinnie yang sedang menggendong Allen.


“Eits, eits , stop!! Jangan deket-deket! Ntar anak gue ketularan sifat jelek lo,” kata Daniel.


Gil langsung mencebik kesal dan menatap kedua sahabatnya itu, “Lo berdua tuh kenapa sih? Nasib banget gue punya sahabat kayak lo berdua. Yang satu curigaan, yang satu pagi ngejelekin gue. Payah ah lo pada! Gue kan cuma mau gendong, siapa tahu ketularan,” kata Gil yang tetap duduk di sebelah Vinnie.


Daniel dan Vinnie duduk berhadapan dengan Sky, sementara Gil masih sibuk menggoda Allen, putra pertama Daniel san Vinnie.


Tatapan mata Daniel mengarah pada Sky seakan bertanya, apa maksud dari acara makan malam ini? namun, Sky hanya bisa mengendikkan bahunya dan setengah menunduk.


“Grandpa, sebenarnya ini acara apa ya? Tumben Grandpa mengajak kami makan malam,” tanya Daniel sedikit penasaran.


“Noh, mau ngejodohin si Sky lagi,” timpal Gil.


“Benarkah Grandpa?” tanya Daniel.


“Ya, Grandpa sudah menyiapkan calon yang cocok untuknya. Dia sama sekali tak memiliki hak untuk membantah!”


Apa maksud Grandpa? - Daniel menatap tajam ke arah Sky sambil berbicara dengan kedua matanya.


Gue juga nggak tahu.


Trus, Ivy gimana?


Gue juga udah pusing! Gue nggak mau kayak begini. - Sky meremas rambutnya, sementara Daniel melihat kegelisahan di wajah Sky.


“Grandpa hanya menginginkan Sky mendapatkan yang terbaik,” kata Grandpa Luther.


“Tapi, semua itu tidak sesuai dengan keinginanku!”


“Sudah! Grandpa tak ingin kamu membantah lagi. Saat ini Grandpa sudah meminta Sean untuk menjemput calon cucu menantuku.”


Tak lama, Sean yang baru saja mereka bicarakan, sudah berdiri di depan pintu dengan senyum yang sumringah.


“Sialll lo!! Gue menderita di sini dan lo masih bisa senyum-senyum bahagia,” Sky melemparkan sebuah bantal kursi ke arah Sean.


“Tenang bro, santai … santai …”


“Kamu sudah membawa wanita itu ke sini, Se?” tanya Grandpa Luther.


“Sudah, Grandpa.”


🌹🌹🌹