Only Love

Only Love
#21



Ivy kini sedang berdiri di depan kediaman keluarga Lewis. Besok ia sudah mulai bekerja di Robert Hospital, jadi hanya hari ini ia bisa leluasa menggunakan waktunya.


Rumah yang sangat besar, begitulah rumah anak seorang putra pengusaha ternama. - batin Ivy tersenyum kecil.


Ivy menarik nafas dalam kemudian membuangnya perlahan. Ia mengumpulkan kekuatan dan keberaniannya. Ia berjalan menuju pos security yang terdapat persis di samping pagar yang begitu tinggi menjulang.


“Selamat siang,” sapa Ivy dengan sopan.


“Selamat siang, Miss. Ada yang bisa dibantu?”


“Maaf sebelumnya, apa benar ini kediaman keluarga Lewis?” tanya Ivy.


“Benar sekali, Miss.”


“Apa Kak Daniel ada?” tanya Ivy lagi.


“Ohh Tuan Daniel kebetulan sedang pergi keluar bersama dengan Tuan Donald.”


Ivy menghela nafasnya pelan. Jujur ia baru mengetahui bahwa Daniel adalah putra dari seorang pengusaha besar di Kota New York. Jadi sudah bisa dipastikan bahwa akan sulit untuk menemuinya.


“Apa saya boleh titip pesan?” Ivy mulai menuliskan sesuatu pada selembar kertas kemudian melipatnya setelah ia mendapat anggukan dari petugas security yang berjaga.


Ivy kemudian memberikan kertas itu, “Terima kasih banyak atas bantuannya, Tuan,” kata Ivy. Setelahnya ia pun segera meninggalkan kediaman keluarga Lewis.


**


Sebuah mobil sedan berwarna hitam terlihat memasuki kediaman keluarga Lewis.


“Kamu sudah mengerti kan sekarang mengapa Dad membutuhkanmu?” Kata Dad Donald tegas.


Daniel hanya bisa diam melihat ke arah Dad Donald, tanpa menjawab sepatah kata pun. Dad Donald pun meninggalkan Daniel yang terdiam di area parkir.


“Tuan Daniel,” panggil Herry, seorang petugas security yang sedang mendapat giliran jaga. Daniel yang awalnya akan mengikuti langkah Dad Donald masuk pun menghentikan langkahnya.


“Ya, ada apa?” tanya Daniel sedikit dingin. Sejak dirinya tahu akan dijodohkan, sikap Daniel seakan berubah terhadap sekelilingnya.


“Maaf Tuan, tadi ada seorang wanita datang dan menitipkan surat ini untuk Tuan,” Herry pun memberikan selembar kertas yang masih dalam keadaan terlipat rapi kepada Daniel.


“Terima kasih.”


Daniel membuka kertas tersebut dan membacanya. Ia sangat mengenali tulisan yang tertera di sana.


...Kak, Ivy tunggu di cafe XX jam 7 malam ini. Kita perlu bicara....


“Buka gerbangnya!” Perintah Daniel pada Herry.


Ia pun langsung kembali masuk ke dalam mobil dan keluar dari kediaman keluarga Lewis. Sudah beberapa lama ia tidak menghubungi kekasihnya itu. Bukan karena ia tidak mau, tapi aksesnya tengah dibatasi oleh Dad Donald. Ke mana pun ia pergi, maka harus ada yang mengawalnya dan semua itu tidak lepas dari pengawasan.


Namun kali ini, ia ingin bertemu dengan Ivy, kekasihnya, wanita yang ia cintai. Wanita itu berada di sini, di Kota New York. Ia tidak akan membuang kesempatan untuk bertemu.


Daniel memarkirkan mobilnya di area parkir cafe XX. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 lebih, ia pun bergegas turun dari mobil dan masuk ke dalam cafe.


Ia langsung mencari keberadaan Ivy di dalam cafe tersebut. Matanya menangkap sosok wanita cantik yang sedang duduk seorang diri sambil sesekali memainkan sedotan pada minuman yang berada di hadapannya. Daniel pun tersenyum dan langsung menghampiri.


“Ivy!”


Dengan perlahan Ivy menarik tangannya dari genggaman Daniel. Namun Daniel tak membiarkannya dan langsung kembali menarik tangan Ivy dan menggenggamnya.


“Vy, maafin aku. Bukan maksudku tidak menghubungimu, tapi ….”


“Aku mengerti Kak, tidak perlu kuatir,” kata Ivy, masih dengan senyum di wajahnya.


“Kamu pasti sudah mengetahui semuanya. Aku tidak menginginkan semua ini, Vy … sungguh. Tapi saat ini aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku menyayangimu, Vy,” Daniel mempererat genggaman tangannya pada Ivy.


Ivy meliha ke arah Daniel kemudian menarik perlahan tangannya, kemudian berganti ia yang memegang tangan Daniel dan menepuk punggung tangan pria itu.


“Kak, Ivy juga sayang sama Kakak. Tapi jika aku diharuskan memilih antara Kak Daniel atau Dad, maka aku akan memilih Dad. Keluarga adalah yang terpenting, Kak,” Ivy menghela nafasnya pelan, “kakak nggak perlu merasa bersalah karena apapun yang kakak lakukan, itu pasti demi keluarga. Aku mengerti. Aku hanya kehilangan perhatian dan cerewetnya Kakak saja.”


“Vy, aku …,” Ucapan Daniel terpotong karena Ivy sudah berbicara kembali.


“Kakak tidak perlu kuatir, karena aku kuat. Aku ingin bertemu kakak hanya untuk melihat keadaan kakak,” Ivy mulai meneteskan air mata yang sudah ia tahan sejak tadi. Daniel langsung menyeka air mata Ivy dengan ibu jarinya. Hatinya terasa sakit melihat kekasihnya menangis.


“Kak, kita memulai hubungan ini dengan baik-baik, dan kita akan mengakhiri hubungan ini secara baik juga,” kata Ivy sambil menatap manik mata pria di hadapannya.


Daniel menundukkan kepalanya, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Cinta yang ia pendam selama 8 tahun berhasil ia dapatkan, tapi kini terlepas begitu saja.


“Sudah, Kak. Jangan bersedih lagi. Aku lebih mengkuatirkan keadaan kakak yang dijodohkan,” Ivy berusaha bercanda untuk mencairkan suasana, tapi sepertinya tidak berhasil.


“Kamu tidak sedih?” tanya Daniel.


“Sedih? Pasti. Masa kehilangan seorang kekasih yang tampan, baik, lembut, dan perhatian seperti ini tidak sedih. Tapi kalau Kak Daniel mendapatkan wanita yang lebih baik dariku, aku pun turut berbahagia. Mungkin memang ini bukan jalan untuk kita,” kata Ivy.


Daniel kembali menggenggam tangan Ivy, “Maukah kamu menungguku?”


Ivy langsung menautkan kedua alisnya mendengar perkataan Daniel, “Apa maksud kakak?”


“Aku akan segera menceraikannya jika semuanya selesai. Tunggu aku, aku akan kembali padamu.”


“Kak! pernikahan itu bukan permainan seperti itu.”


“Tapi aku hanya mencintaimu, aku tak bisa hidup dengan wanita lain,” kata Daniel lagi.


“Kakak tidak seperti Kak Daniel yang kukenal. kak Daniel tidak akan mempermainkan hati seorang wanita atau membuatnya menangis. Ia adalah seirang pria baik, berhati lembut dan penuh tanggung jawab.”


“Vy …”


“Kak, hiduplah dengan baik. Kita masih bisa berteman. Aku berjanji akan hidup bahagia,” kata Ivy.


Seorang pria tiba-tiba datang mendekat ke arah Daniel, “Tuan.”


Daniel tahu saat ini dirinya sedang diawasu oleh anak buah Dad Donald. Pria yang datang itu pun membisikkan sesuatu kepadanya, membuat Daniel langsung berdiri.


“Maafkan aku, Vy. Aku harus pergi,” Ivy pun tersenyum dan melihat kepergian kekasihnya.


Sementara itu, persis di belakang meja tempat Ivy dan Daniel berbincang, seorang wanita tengah mendengarkan semuanya. Ia menoleh ke arah Ivy dan akhirnya berdiri untuk menghampiri.


🌹🌹🌹