Only Love

Only Love
#26



“Ayo pesan, aku yang traktir. Anggap saja ini sebagai permohonan maafku karena dulu aku pindah sekolah nggak pamit sama kalian,” kata Ivy sambil tersenyum.


“Iya Vy, kamu itu main pergi aja nggak pamit. Sebenarnya kamu itu ke mana?” tanya Rey.


“Aku sempat ke Ontario, terus pindah lagi ke Jakarta, dan terakhir aku menetap di Jerman,” jawab Ivy.


“Terus, kamu juga nggak ngasih kabar sejak kejadian waktu itu,” Rey seperti mengingatkan Ivy tentang kejadian yang begitu heboh di sekolah hingga Dad Arthur mengalami kecelakaan.


“Uppss, sory Vy. Aku nggak bermaksud ngungkit masalah itu,” Rey menepuk mulutnya sendiri karena merasa bersalah telah mengingatkan Ivy tentang masa lalu yang pasti ingin ia lupakan.


“Nggak apa-apa. Aku udah lupain semua itu. Oya, gimana kabar Flora dan Juliet?” tanya Ivy mengalihkan pembicaraan.


“Flora sekarang memiliki salah satu agent property yang cukup dikenal di Kota California, sementara Juliet aku kurang tahu. Selepas kelulusan, kami sudah tidak saling kontak lagi.”


Mereka menyantap makanan di hadapan mereka sambil terus bercerita dan sesekali tertawa.


“Kamu sekarang terlihat berbeda Vy. Makin asyik ngobrol sama kamu,” kata Rey.


“Bisa aja kamu, tapi mungkin juga karena pengaruh lingkungan. Sejak menetap di Jerman, aku jadi lebih banyak bersosialisasi, hingga lebih membuka diri,” kata Ivy.


Ivy kemudian membuka tas kecil tang selalu ia bawa saat keluar makan siang. Ia mengeluarkan sebuah kartu nama, kemudian memberikannya kepada Rey.


“Rey, kalau ada apa-apa, kamu bisa hubungi aku di nomor yang tertera di kartu itu. Aku pasti akan bantu sebisaku.”


Rey menganggukkan kepalanya, “Thanks ya Vy. Aku nggak tahu mesti balas semuanya dengan apa.”


“Kamu tidak perlu membalas apapun. Dengan dirimu masih mau berteman denganku, itu sudah cukup bagiku.”


“Sekali lagi terima kasih ya Vy,” Rey menyimpan kartu nama itu di dalam dompet miliknya.


**


Sky yang sedang duduk, sambil terus menatap dokumen yang bertumpuk di atas meja kerjanya, tapi tak melakukan apa-apa.


Sudah sedari tadi ia hanya melamun, kemudian sesekali melihat kertas di hadapannya dan membolak-balikkannya. Ia tak bisa konsentrasi dalam bekerja karena bayangan Ivy selalu saja memenuhu pikirannya.


Sean yang sedang duduk di sofa sambil menyusun beberapa dokumen juga melihat perubahan sikap pada Sky. Ia hanya bisa menghela nafasnya pelan dan menggelengkan kepalanya.


“Sky, makan siang dulu yuk!” ajak Sean karena jebetulan sudah hampir jam makan siang.


Sky melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, “Baiklah. Lalu meeting dengan Dokter Frans jam berapa?”


“Setelah jam makan siang,” jawab Sean sambil memamerkan deretan gigi putihnya. Ia sebagai asisten pribadi Sky malah melupakan meeting itu karena sejak tadi ia malah sibuk memperhatikan Sky yang tidak fokus.


“Kalau begitu kita makan dekat rumah sakit saja, biar sekalian,” ajak Sky.


“Okay!”


Mereka akhirnya berangkat menuju RB Hospital dan sebelumnya mampir ke sebuah cafe yang lokasinya tidak jauh dari rumah sakit. Mereka hanya melakukan rutinitas makan siang karena setelahnya mereka akan berada di ruang meeting hingga malam.


**


Mereka sampai di sebuah cafe yang lokasinya tak jauh dari RB Hospital. Cafe itu memang selalu ramai dan pengunjungnya kebanyakan adalah dokter, perawat, staf rumah sakit, ataupun keluarga pasien.


Sean masuk dan langsung mencari kursi kosong yang bisa mereka tempati. Setiap kali datang memang mereka harus memicingkan mata untuk mencari tempat duduk karena ramainya cafe tersebut. Selain karena dekat dengan rumah sakit, makanan yang disediakan oleh cafe tersebut juga tergolong enak.


“Sky! Di situ,” tunjuk Sean ke salah satu kursi yang kosong.


Sky mengikuti Sean, tapi ujung matanya menangkap sosok seorang wanita yang sejak semalam sudah membuat jantungnya terus berdetak cepat san membuyarkan konsentrasinya. Sky melihat bahwa Ivy sedang duduk dengan seorang pria.


Sky ingin menghampiri untuk sekedar menyapa, hanya saja sebelum ia melakukan itu, Sean sudah terlebih dulu menahan tangannya, “Duduk, Sky.”


“Pesan dulu, Sky,” Sean menghela nafasnya karena sahabat sekaligus atasannya ini malah terus memandang ke arah Ivy, sementara mereka harus makan dan pergi meeting.


Selang beberapa lama, makanan yang mereka pesan pun datang. Sky menyantap makanannya dengan cepat, seperti langsung ditelan tanpa melalui proses pengunyahan. Sean yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Tak lama, pria itu pergi dari cafe dan tinggallah wanita itu seorang diri. Ivy memandang ke arah luar jendela, memperhatikan orang yang berjalan lalu lalang. Wajah yang awalnya ceria saat berbincang dengan Rey, seketika berubah menjadi tatapan yang menyimpan banyak kesedihan.


Sky yang memperhatikan sejak awal pun menyadari perubahan raut wajah Ivy.


Apa dia sedang memikirkan Daniel? Sebesar itukah cintanya - batin Sky.


Sky yang telah menghabiskan makanannya, langsung bangkit dan menghampiri Ivy. Sementara Sean masih menyantap makan siangnya sambil sesekali memeriksa pesan singkat ataupun email di dalam ponselnya.


“Vy,” sapa Sky.


Ivy menoleh ke arah asal suara, dilihatnya Sky sudah berdiri di sisi mejanya, “Kak Sky.”


“Kamu sendirian?” tanya Sky berbasa-basi, meskipun sebenarnya ia sudah tahu dengan siapa tadi Ivy berada di sana.


“Tadi ada teman, cuma udah balik duluan. Kak Sky?”


“Sama Sean,” Sky menunjuk ke arah Sean yang sedang duduk menyantap makan siangnya.


“Boleh duduk di sini?” tanya Sky.


“Silakan, Kak. Tapi, apa nggak kasihan Kak Sean ditinggalin sendirian?”


“Ah dia mah kalau udah pegang ponselnya, nggak bakalan peduli kanan kiri depan belakang. Fokusnya cuma ponselnya aja.”


Ivy kembali melihat ke arah jendela, tapi tatapannya seakan kosong.


“Kamu nggak apa-apa, Vy?” tanya Sky dengan sedikit kuatir.


“Nggak apa-apa, Kak,” kata Ivy sambil tersenyum tipis.


Sampai kapan perasaan ini akan terus ada? Aku sudah berusaha ikhlas dan melepaskan, tapi mengapa masih terasa begitu sakit jika mengingatnya. - batin Ivy.


Sky terus memperhatikan Ivy. Ia merasa Ivy tidak terlalu peduli ia ada di sana atau tidak. Pikiran Ivy seperti mengawang ntah di mana. Mungkin raganya berada di sana, tapi tidak hatinya.


“Sky! Ayo! Dokter Frans udah siap katanya,” Sean datang menghampiri Sky dan menyadarkan sahabatnya itu dari lamunannya.


“Vy, mau ikut sekalian? Kita mau ke RB Hospital,” ajak Sky.


“Nggak usah, Kak. Terima kasih. Nanti aku jalan aja, lagipula nggak jauh.”


“Sekalian aja, Vy. Masa kamu mau sendirian di sini?” tanya Skyz


“Aku nggak sendirian, Kak. Tuh pengunjung masih banyak. Lagipula jadwal praktekku masih 1 jam lagi,” kata Ivy sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


“Kalau begitu kita duluan ya, Vy. Mau meeting soalnya,”


“Okay, Kak!” balas Ivy.


“Ayo Sky!” Sky sebenarnya tak ingin meninggalkan Ivy seorang diri, tapi ia tak mungkin membatalkan meeting hari ini.


Jika ia tetap berada di dekat Ivy, ia juga tak tahu apakah dirinya akan berguna karena Ivy tak terlalu menggubris kehadirannya. Seperti tak ada Sky di mata Ivy.


🌹🌹🌹