
Vinnie yang baru kembali dari toilet pun menghampiri Daniel dan Ivy. Tak lama, giliran pemeriksaan untuk Vinnie pun tiba.
“Vy, aku masuk dulu ya,” kata Vinnie.
“Iya, sehat-sehat selalu ya. Jangan lupa kabar-kabari aku nanti,” kata Ivy.
“Tentu saja,” balas Vinnie tersenyum. Daniel langsung menggandeng tangan Vinnie dan mereka masuk ke dalam ruang pemeriksaan.
Keduanya memiliki memeriksakan kandungan ke RB Hospital karena dokter ini adalah kenalan Mom Hilda. Ivy pun pamit dari hadapan Daniel dan Vinnie. Hati Ivy semakin lega dan ia yakin bahwa kini ia sudah bisa melupakan perasaannya pada Daniel. Ia turut bahagia melihat kebahagiaan keduanya.
Ya ampun, Kak Sky! - batin Ivy sambil menepuk keningnya. Ia benar-benar lupa kalau tadi ia sudah berjanji dengan Sky akan bertemu di kantin.
Ivy segera berlari menuju kantin, namun ia tak mendapati sosok Sky di sana. Ia mencoba menghubungi pria itu, tapi panggilannya tidak dijawab sama sekali.
“Apa mungkin ia sedang buru-buru kembali ke kantor karena ada pekerjaan? Tapi ia tak menghubungiku,” gumam Ivy sambil menatap ponselnya.
Ivy pun akhirnya mengirimkan pesan singkat kepada Sky.
Kak, maaf tadi aku bertemu dengan teman. Kak Sky di mana? Tadi aku cari ke kantin tidak ada. Apa Kak Sky kembali ke kantor? (Ivy)
Ivy menatap ponselnya beberapa saat dan tak ada tanda-tanda ia akan mendapat balasan. Ia pun kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku dan berjalan kembali ke ruangannya. Ia tidak jadi makan siang karena ia harus kembali bersiap-siap melakukan pemeriksaan pada pasien-pasiennya.
Sementara itu di Perusahaan RB,
“Sky, lo kenapa?” tanya Sean yang melihat sahabat sekaligus atasannya itu hanya termenung saja. Ia menopang kepalanya dengan tangan dengan kertas-kertas yang bertebaran di atas mejanya.
Sky tidak menjawab pertanyaan Sean, hingga membuat sahabatnya itu penasaran.
“Sky, lo nggak apa-apa kan? Bukannya lo tadi keluar makan siang? Cepet amat baliknya. Kalau begitu, ayo ke ruang meeting, Mr. Kim udah nunggu di sana,” kata Sean mengingatkan.
Sky sedari tadi mendengarkan perkataan Sean, hanya saja ia malas untuk menjawab. Pikirannya masih berkelana pada kejadian yang ia lihat tadi di RB Hospital.
Sky akhirnya bangkit dari duduknya. Ia keluar menuju ke ruang meeting, mengikuti Sean. Sean yang melihat perilaku Sky hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Saat berada di ruang meeting, Sky sama sekai tidak bisa fokus dengan presentasi proposal yang dilakukan oleh perusahaan asal Korea tersebut. Pada akhirnya Sky menyudahi meeting tersebut dan berjanji akan membaca serta mengkaji ulang proposal tersebut.
Malam harinya, Sky pergi ke club. Sudah lama sekali ia tidak pernah pergi ke sana. Dulu ia pergi hanya sesekali saja dan itu hanya untuk menemani sahabatnya, Gil. Namun kali ini, justru dirinyalah yang mengajak sahabat-sahabatnya.
Sky mengambil botol minuman dan menuangkannya ke dalam gelas. Berulang kali ia menuangkannya san berulang kali ia menghabiskannya. Gil dan Sean melihatnya dengan heran.
“Sky, udah! Lo udah mabok gitu juga,” kata Gil.
“Kata siapa? Gue masih sadar sesadar-sadarnya,” Sky yang mulai kehilangan setengah kesadarannya mulai berbicara aneh-aneh.
Gil menoleh ke arah Sean, seakan bertanya pada sahabatnya itu. Namun tak ia temukan jawaban atas apa yang membuat sahabatnya menjadi seperti itu. Sementara Sean hanya mengendikkan bahu tanda ketidaktahuannya.
“Apa gue masih kurang perhatian sama dia sampai dia masih dekat dengan mantan kekasihnya itu? Apa dia nggak bisa ngerasain kalau gue itu suka sama dia?” Sky meracau sambil meminum beberapa gelas lagi.
Arah bicara Sky sudah mulai ke mana-mana. Gil dan Sean pun mulai mengerti maksud dari apa yang dikatakan oleh Sky. Sahabat mereka ini sedang membicarakan tentang Ivy.
Gil mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya, ia pun menghubungi Ivy.
“Vy.”
“Iya, Kak,” Ivy langsung mengenali karena ia sudah menyimpan nomor ponsel Gil.
“Kamu di mana?” tanya Gil.
“Di rumah sakit. Hari ini aku dapat giliran shift malam. Ada apa Kak?”
“Ooo ya sudah, kamu tunggu di sana. Sebentar lagi akan ada pasien mau masuk, sepertinya perlu perawatan.”
Gil memutuskan sambungan ponselnya. Ia bersama Sean membawa Sky yang mulai kehilangan kesadarannya menuju RB Hospital, tempat di mana Ivy bekerja.
Sesampainya di sana, Ivy melihat Gil dan Sean yang datang membawa Sky, menjadi terkejut karena kondisi Sky.
“Kak … Kak Sky kenapa?” tanya Ivy.
“Sepertinya ada gangguan hati. Sejak tadi ia terus memegang dadanya, mungkin hatinya bermasalah,” kata Gil.
“Ia juga harus diperiksa tekanan darahnya. Sepertinya ia terkena darah tinggi karena dari tadi siang kerjaannya hanya marah-marah melulu,” ujar Sean menambahkan.
Ivy menggelengkan kepalanya. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Sky. Ia bisa mencium bau alkohol dari tubuh Sky.
“Bawa pulang saja Kak,” kata Ivy.
“Nggak bisa tidur di sini aja Vy?” tanya Gil.
“Bawa pulang saja Kak, ini Kak Sky cuma mabuk aja.”
“Tidur tempat lo aja Gil!” kata Sean.
Pletakkk
Gil memukul kepala Sean, “Enak aja! Bos lo nih, masa tidur tempat gue.”
“Ihhh, gue nggak mau bawa pulang, ntar Mommy gue ngoceh lagi dikira gue ikut-ikutan mabok,” timpal Sean.
Gil dan Sean terus berdebat mengenai siapa yang harus membawa Sky pulang karena tidak mungkin jika mereka membawa Sky ke kediaman Robert, karena itu akan membuat Grandpa Luther sakit.
Pada akhirnya Ivy mengijinkan Sky untuk berada di sana meskipun pria itu hanya mabuk saja. Ia membuka satu ruangan untuk Sky. Sementara Gil dan Sean tersenyum penuh kemenangan karena mereka sudah berhasil meyakinkan Ivy dengan akting mereka.
“Titip Sky ya Vy,” senyum Gil sambil melambaikan tangannya dan pergi berlalu bersama dengan Sean.
**
Sky mengerjapkan matanya, mengumpulkan kesadarannya. Ia melihat ke sekeliling dan mendapati dinding berwarna putih di bagian atas dan coklat muda di bagian bawah.
Ia memijat pelipisnya. Kepalanya masih terasa pusing akibat terlalu banyak minum semalam. Sky menyadari bahwa saat ini ia tengah berada di rumah sakit. Namun, apa yang telah terjadi hingga ia berada di sana, ia pun memeriksa keadaan dirinya sendiri.
Seketika pintu terbuka,
“Kak Sky sudah sadar?”
Sky melihat ke arah Ivy yang masuk ke dalam kamar rawat yang ia tempati sambil membawakan sebotol air mineral.
“Jam berapa sekarang?” tanya Sky.
“Jam 4 pagi,” jawab Ivy.
Sky kembali memegang pelipisnya karena sakit di kepalanya masih sangat terasa.
“Istirahat lagi saja, Kak. Besok pagi bisa langsung pulang, nanti aku urus surat pulangnya,” kata Ivy.
“Oya Kak, tadi siang Kak Sky ke mana? Aku cari di kantin nggak ada. Aku coba telepon juga nggak diangkat,” tanya Ivy.
“Aku ….”
🌹🌹🌹