
Daniel terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara barang pecah. Ia mengerjapkan matanya dan mengumpulkan kesadarannya. Ia melihat kamar tidurnya yang begitu terang dan mulai menyatukan memorinya.
Ia melihat ke samping tempat tidurnya dan ternyata kosong. Daniel juga melihat bercak darah yang ia yakini adalah milik Vinnie.
“Vin?” Daniel yang mulai tersadar dari semuanya, termasuk amarahnya mulai memindai sekeliling kamar tidurnya dan tak menemukan Vinnie. Ia mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi dan menghela nafasnya pelan karena meyakini bahwa Vinnie sedang berada di dalam.
Hampir 15 menit Daniel terus mendengar bunyi gemericik air yang tak berhenti. Ia bangkit dari tidurnya dan mengenakan celananya.
“Vin, Vin, kamu di dalam?” Daniel mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali, tapi tak terdengar jawaban dari dalam, hanya suara air yang terus terdengar.
Daniel akhirnya mencari kunci cadangan yang biasa ia letakkan di dalam laci nakas, kemudian membuka pintu kamar mandi. Ia melihat piyama milik Vinnie berada di lantai, persis di depan meja wastafel.
Ia masuk lebih ke dalam lagi karena area shower memang berada di ujung setelah bathtub. Matanya membulat ketika melihat Vinnie yang terduduk dengan mata terpejam dan Daniel bisa melihat lantai shower yang sedikit memerah.
Daniel mengambil sebuah handuk dan menyelimuti Vinnie setelah sebelumnya mematikan kran shower. Ia membawa Vinnie ke atas tempat tidur dan memakaikan baju. Ia langsung membawa Vinnie ke rumah sakit setelah membungkus pergelangan tangan Vinnie yang tersayat.
Waktu masih menunjukkan pukul 4 pagi, Daniel pergi ke rumah sakit tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Ia tidak tahu apa yang akan orang tuanya katakan jika melihat keadaan Vinnie saat ini.
Daniel mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Untung saja jalanan kala itu sedang sepi hingga ia bisa sampai di rumah sakit dengan cepat. Ia tidak mendatangi RB Hospital ataupun Martin Hospital, ia mencari rumah sakit yang terdekat saja, meskipun fasilitas mungkin tak sehebat kedua rumah sakit besar itu. Selain itu, ia juga menghindari kemungkinan keluarganya mengetahui keadaan Vinnie.
Ia langsung menuju ke bagian gawat darurat dan meminta mereka memberikan fasilitas yang terbaik. Para dokter dan perawat yang mendapat giliran jaga malam langsung bergegas melakukan tindakan.
Daniel terdiam di luar ruangan. Ia meremas kedua tangannya dan pikirannya saat ini sedang kacau. Kembali ia mengingat apa yang telah ia lakukan sepanjang hari kemarin. Mulai dari ia mendatangi Ivy dan hampir memaksa mencium wanita itu, dan kembali ke rumah dan melakukan tindakan kasar pada Vinnie.
Ia melihat ke arah pintu ruang ICU di mana Vinnie tadi langsung di bawa oleh dokter dan beberapa perawat. Ia meremas rambutnya dan mulai menyesali apa yang telah ia lakukan.
Selang beberapa waktu, dokter yang menangani Vinnie pun keluar dari ruangan. Ia menghampiri Daniel yang tidak menyadari kehadirannya.
“Tuan,” sapa Dokter.
Daniel yang tersadar langsung berdiri dan menatap dokter tersebut, “ba-bagaimana keadaannya?”
“Saat ini keadaannya sudah stabil. Untung saja anda membawanya tepat waktu karena ia sudah kehilangan banyak darah.”
Daniel sedikit bernafas lega. Namun, perkataan dokter wanita itu selanjutnya membuat Daniel terdiam.
“Maaf sebelumnya, hubungan anda dengan pasien?” tanya Dokter yang bernama Rose itu.
“Di-dia istri saya.”
Dokter Rose menghela nafasnya pelan, “bisa kita berbicara di ruangan saya?”
Daniel pun mengangguk dan mengikuti Dokter Rose. Ada sedikit perasaan tidak tenang ketika Dokter Rose mengajaknya berbicara di dalam ruangan. Ia juga adalah seorang dokter dan ia tahu bahwa pembicaraan ini pastilah sangat penting.
Ketika mereka telah sampai di ruangan Dokter Rose. Dokter Rose kembali menghela nafasnya pelan sebelum berbicara dengan Daniel.
“Tuan …?”
“Daniel.”
“Tuan Daniel, sebelumnya saya mohon maaf karena akan berbicara langsung pada intinya. Apa anda melakukan hubungan suami istri dengan kasar?”
Degggg
Daniel terdiam, ia tahu ia telah melakukan kesalahan. Ia pun akhirnya keluar dari ruangan Dokter Rose setelah pembicaraan mereka selesai dan bergegas kembali ke ruang ICU.
Vinnie akan segera dipindahkanke ruang rawat biasa. Daniel meminta izin untuk masuk sebentar ke dalam ruang ICU. Ia ingin melihat keadaan Vinnie.
Daniel melihat wajah Vinnie yang pucat dan menggunakan ventilator. Ia memejamkan matanya dan meremas tangannya, melihat hasil perbuatannya. Ia tahu ini semua kesalahannya. Jika saja semalam ia tak memaksa Istrinya itu dan memperlakukannya dengan kasar, tentu semua ini tak akan terjadi.
Cepatlah sadar. Pukul saja aku jika kamu marah, tapi jangan melakukan hal seperti ini. Kamu membuatku merasa sangat bersalah. - Daniel menarik kursi dan duduk di samping brankar Vinnie.
**
“Mom.”
“Vinnie sayang, apa yang kamu lakukan di sini?”
“Aku merindukan Mommy. Bolehkah aku di sini bersamamu?” tanya Vinnie.
“Sayang, putri Mommy yang cantik dan baik hati, serta lemah lembut, belum waktunya kamu bwrada di sini, sayang. Kembalilah.”
“Aku tidak mau, Mom. Aku ingin bersama Mommy. Tak ada yang menyayangiku. Bahkan Dad juga tidak menyayangiku,” Vinnie meletakkan kepalanya di pangkuan Mom Irene.
Mom Irene mengelus kepala putrinya dan tersenyum, “Mereka menyayangimu, sayang.”
“Tidak Mom, mereka tidak menyayangiku. Mereka jahat padaku. Aku hanya ingin bersamamu, Mom,” Vinnie mulai mengeluarkan air matanya. Ia merasakan kehangatan dan kenyamanan saat bersama dengan Mom Irene.
“Mereka menyayangimu, sayang. Mommy harus pergi dulu sekarang,” pandangan Vinnie kini melihat sosok Mom Irene yang semakin lama semakin menjauh. Ia sudah terus mencoba berlari dan meraih tangan Mom Irene tapi tetap tak tergapai.
“Mommm!!!” teriak Vinnie dan matanya langsung terbuka.
Daniel, Dad Davis, Dad Donald, dan Mom Hilda yang berada di ruanhan tersebut langsung mendekati Vinnie. Daniel langsung menekan tombol agar dokter segera datang.
Setelah 3 hari tak sadarkan diri, akhirnya kini Vinnie telah siuman. Daniel yang melihat bahwa Vinnie belum sadar ketika efek obat bius telah habis, menjadi kuatir hingga pada akhirnya ia menghubungi kedua orang tuanya dan juga mertuanya.
Vinnie melihat satu persatu wajah keluarganya yang berada di dalam ruangan dan berakhir saat ia melihat ke arah Daniel. Vinnie memejamkan matanya dan menghela nafasnya dalam, kemudian kembali menoleh ke arah Dad Davis.
“Dad.”
“Iya, sayang,” Dad Davis terlihat lebih lembut dari biasanya. Vinnie seakan tak mengenali Daddynya itu.
“Apa Dad menyayangiku?” tanya Vinnie.
“Tentu saja,” Dad Davis yang mendapatkan pertanyaan itu secara spontan menjawab. Ia sangat mencintai Irene, tentu saja ia akan menyayangi Vinnie, putrinya, karena itulah ia selalu ingin memberikan yang terbaik untuknya.
“Maukah mengabulkan permintaanku?”
“Apa? Katakan.”
“Aku ingin bercerai.”
🌹🌹🌹