Only Love

Only Love
#51



“Uncle Arthur meninggal,” Sky memberitahu Daniel.


“Uncle Arthur? Are you sure?” tanya Daniel yang seakan tak percaya.


“Iya, gue juga baru tahu setelah gue pulang dari Rio,” Sky menghembuskan nafasnya sedikit kasar. Saat ini dirinya benar-benar merindukan Ivy.


“Tapi … Ivy nggak ada cerita sama gue, Sky. Gue nggak tahu dia pergi ke mana,” kata Daniel.


“Gue juga tahu dia pasti nggak akan cerita ke siapa-siapa. Ia melakukannya sama seperti dulu. Gue cuma mikir, lo kan jauh lebih lama kenal sama dia dibandingkan gue. Apa dia pernah ada cerita sama lo, tempat yang mungkin mau ia datangi?” tanya Sky.


Daniel tampak berpikir, “Dia nggak pernah cerita, tapi …”


“Tapi apa?” Sky seakan mendapatkan sedikit pencerahan ketika mendengar Daniel mengetahui sesuatu.


“Uncle Arthur memiliki rumah di Jepang. Apa mungkin Ivy pergi ke sana?”


“Jepang?”


“Iya, Aunty Keiko kan orang asli Jepang. Gue pernah dikasih lihat foto rumahnya, kalau nggak salah di Daerah Otaru,” kata Daniel.


“Lo yakin?” tanya Sky penuh harap.


Daniel menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


“Kalau begitu, gue harus cepet. Thank you ya bro, gue pergi dulu!” Sky berdiri dan ingin segera beranjak dari ruangan kerja Daniel.


Daniel menepuk bahu Sky, memberikan semangat dan kekuatan kepada sahabatnya itu.


“Gue percaya, lo pasti akan menjaga dan melindunginya. Lebih dari apa yang telah gue lakukan,” kata Daniel pelan.


**


Sky langsung menghubungi Sean dan memintanya memesankan tiket untuk dirinya, sementara ia akan membereskan barang-barang yang akan ia bawa.


Di sinilah ia sekarang, Kota Otaru, di Negara Jepang. Sean telah menyiapkan seorang penerjemah untuk membantu Sky bercakap-cakap dengan warga Negara Jepang. Hal itu Sean yakini akan memudahkan Sky mencari tahu keberadaan Ivy.


Kota Otaru adalah salah satu kota terindah di Negara Jepang. Kota itu juga terkenal akan pariwisatanya. Ada sebuah sungai yang mengalir melintasi kota tersebut.


“Permisi, apakah anda mengenal wanita ini?” tanya Sky yang dibantu oleh penerjemahnya. Sekali lagi orang yang ia temui kembali menggelengkan kepalanya.


Sudah beberapa jam ia berkeliling, tapi belum mendapatkan hasil apa-apa. Akhirnya Sky memutuskan untuk kembali ke hotel. Ia harus mengistirahatkan tubuhnya yang terasa remuk. Ia juga harus mengumpulkan tenaga agar esok bisa kembali melakukan pencarian pada Ivy.


**


Keesokan harinya, Sky mencari di area yang berbeda. Ia berharap akan mendapatkan hasil yang lebih baik dari kemarin.


“Permisi, apakah anda pernah melihat wanita ini?”


Wanita tua itu mengerutkan dahinya dan melihat foto yang dipegang oleh Sky dengan seksama.


“Sora?”


Sky yang mendengar jawaban tersebut pun bertanya pada penerjemahnya. Penerjemah itu pun mengartikan kata yang dikeluarkan oleh wanita itu.


“Sky,” kata sang penerjemah. Penerjemah itu pada akhirnya terus mengajak wanita tua itu berbicara, kemudian mengucapkan terima kasih setelah mendapatkan beberapa informasi.


“Wanita itu berkata bahwa wanita di dalam foto tersebut adalah Sora, putri Keiko. Ia tinggal tidak jauh dari sini.”


“Tapi tadi anda berkata Sky? Apa maksudnya? Mengapa anda menyebut nama saya?” tanya Sky.


“Sora dalam bahasa Jepang artinya Sky,” kata si penerjemah.


Tiba-tiba, sekelebat memori memasuki pikiran Sky. Gadis kecil bernama Sora dan pin bunga tulip berwarna keemasan.


Sky meminta penerjemah itu untuk mengarahkan dirinya menuju alamat yang diberitahukan wanita tua tadi. Sky sangat berharap ia segera menemukan Ivy, gadis kecilnya.


**


Sky kembali termenung di dalam ruang kerjanya. Perjalanannya ke Negara Jepang ternyata juga tidak membuahkan hasil. Ia tidak dapat menemukan Ivy.


“Kamu pergi ke mana, Vy?” Kata Sky sambil memegang kepala dengan kedua tangannya.


Sementara itu, Grandpa Luther sudah mulai mempersiapkan acara pernikahannya dengan Elena, padahal sudah dengan jelas sekali Sky menentang hal tersebut.


Sky bahkan mengancam Grandpa Luther bahwa ia akan pergi meninggalkannya. Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Penyakit jantung Grandpa Luther menjadi kumat dan membuat Sky tak tega untuk meninggalkannya.


Meskipun Grandpa Luther selalu memaksakan kehendaknya, tetapi Sky sangat menyayanginya. Hanya Grandpa Luther yang ia miliki, yang mau merawatnya saat kedua orang tuanya justru menelantarkannya.


Tiba-tiba, pintu ruang kerja Sky terbuka. Sky langsung berdiri ketika melihat siapa yang memasuki ruangannya, tetapi justru ia mendapatkan sebuah pukulan tepat di pipinya, yang membuat ia terjatuh dan sudut bibirnya berdarah.


“Ternyata lo sama aja kayak gue. Gue kira lo bisa pebih berani, tapi ternyata …,” Daniel mengepalkan tangannya ingin kembali memukul Sky, namun langsunh ditahan oleh Sean.


“Sabar Nil,” kata Sean sambil menahan tubuh sahabatnya itu.


Sean memang pernah melihat Daniel marah, hanya saja kali ini ia tidak mengetahui apa penyebabnya. Sky mengelap sudut bibirnya yang berdarah dengan ibu jarinya, kemudian dengan rasa kesal ia langsung mengangkat kursi yang berada di depan meja kerjanya dan membantingnya.


“Lo kira gue mau kayak begini?!”


Daniel langsung menarik kerah baju Sky kemudian menghempaskan sahabatnya itu ke sofa. Sean langsung kembali menahan Daniel dengan memegang bahu sebelah kanannya.


“Tenang Nil, tenang. Kita bisa bicarakan semuanya baik-baik,” kata Sean menengahi.


“Ivy udah gue anggap sebagai adik gue sendiri. Jangan pernah lo nyakitin dia. Kalau emang dari awal lo tahu bakalan begini akhirnya, setidaknya lo jangan memulai hubungan itu dengan Ivy. Shittttt!!!” Daniel menghempaskan sebuah pukulan ke udara, ia merasa sangat kesal.


“Kalau gue tahu lo begini, nggak bakalan gue kasih tahu di mana Ivy. Ngerti lo! Gue akan buat dia semakin jauh dari lo,” ancam Daniel. Ia pun segera pergi dari ruangan tersebut, meninggalkan Sean dan Sky yang terdiam.


Flashback on


“Sayang, dari tadi kamu nggak berhenti memainkan ponselmu, sambil senyum-senyum pula. Lagi chat sama siapa?” Tanya Daniel pada istrinya, Vinnie.


“Sama Ivy,” jawab Vinnie.


“Ivy?” Vinnie menganggukkan kepalanya.


“Ivy lagi kasih video lucu. Anak-anak yang ada di dekatnya begitu polos dan lugu. Ditanya apa, jawabnya apa,” Vinnie tertawa kembali.


“Kata Ivy, kalau aku sering tertawa saat sedang hamil seperti ini, akan membuat mood-ku bagus dan tentu saja akan baik untuk perkembangan bayi kita,” lanjut Vinnie yang tak tahan justru kembali tersenyum.


“Ivy di mana?” tanya Daniel.


“Loh kamu nggak tahu, sayang?” Daniel menggelengkan kepalanya, kemudian Ivy melakukan panggilan video pada Ivy.


“Halo, Vy!” Vinnie melambaikan tangannya ke arah layar ponsel.


“Tumben nih pakai video call, mau ketemu sama Ken lagi?” tanya Ivy. Ken adalah salah satu anak yang berada di tempat tinggal Ivy saat ini.


“Mauuu!! Mana Ken?” tanya Vinnie dengan penuh semangat.


“Lagi main tuh di sungai, kamu mau ikutan nggak, Vin? Seger banget loh!” goda Ivy.


“Ivy!”


🌹🌹🌹