Only Love

Only Love
#31



Keluarga Lewis hanya menginap 1 malam saja di hotel tempat perhelatan acara ulang tahun Daniel diselenggarakan. Mereka langsung pulang keesokan harinya.


Keberadaan Daniel ntah di mana hingga Vinnie pulang seorang diri bersama supir yang telah disiapkan oleh mertuanya. Ia juga membawa semua barang-barang milik Daniel.


Sesampainya ia di rumah, ia langsung berjalan masuk ke dalam kamar tidur karena barang-barang akan dibawakan oleh supir. Saat Vinnie membuka pintu, ia melihat Daniel sedang tertidur dengan masih mengenakan pakaian yang ia gunakan semalam.


Vinnie langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Setelah selesai, ia mendekati Daniel dan melihat wajah pria yang berstatus suaminya itu.


“Kamu ingin segera lepas dariku kan? Tenang saja, aku akan segera membebaskanmu. Kamu hanya perlu membubuhkan tanda tanganmu dan setelahnya aku akan meminta pengacara menyelesaikan prosesnya,” gumam Vinnie.


Malam harinya, saat mereka sudah selesai makan malam, Daniel dan Vinnie kembali ke daam kamar tidur yang mereka tempati. Daniel mengambil laptop dan sibuk dengan alat elektronik tersebut. Sesekali juga ia melihat ke arah ponsel.


Vinnie yang telah memperhatikan Daniel sedari tadi akhirnya berjalan ke arah nakas dan mengambil sebuah map di dalamnya. Dengan keberanian dan menghela nafas pelan, ia telah menetapkan keputusan untuk memberikan surat cerai itu saat ini.


“Ini untukmu,” kata Vinnie sambil menyerahkan sebuah map kepada Daniel.


Daniel menautkan kedua alisnya. Ia jarang melihat Vinnie yang berbicara terlebih dulu dengannya. Daniel menerima map tersebut dan membukanya, matanya membulat tak percaya kalau Vinnie telah mempersiapkan semuanya.


“Ini …?”


“Ya, kamu hanya perlu membubuhkan tanda tanganmu, lalu berikan padaku. Aku akan memberikannya pada pengacaraku agar menyelesaikan prosesnya,” kata Vinnie.


“Aku akan melihat dan memeriksanya nanti. Aku sedang sibuk sekarang, banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan,” Daniel seakan mengalihkan pembicaraan. Ntah mengapa melihat surat cerai yang telah siap di tangannya dengan tanda tangan Vinnie yang sudah tertera di sana, membuat hati dan pikirannya tak sinkron.


“Baiklah. Berikan padaku setelah kamu menandatanganinya,” Vinnie pun segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan gigi kemudian pergi tidur. Meskipun ia tak menginginkan sebuah perceraian dalam pernikahannya, tapi ia juga tak bisa mempertahankan sebuah pernikahan yang hanya akan membawa luka bagi mereka berdua.


**


Sudah 1 minggu berlalu sejak acara ulang tahun Daniel. Apakah kini Daniel sudah membenci dirinya? Ivy sebenarnya ingin dan berharap hubungannya dengan Daniel bisa tetap baik meskipun mereka sudah berpisah, tapi sepertinya hal itu tidak mungkin.


Hari ini, Ivy tidak ada jadwal operasi. Jadwal prakteknya pun sudah selesai sejak tadi. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, ia ingin segera pulang. Sudah lama ia tidak memasak dan menikmati waktu bersantai bersama dengan Dad Arthur.


Ivy menunggu taksi di teras rumah sakit. Sesekali ia melihat ke arah jam di pergelangan tangannya. Tiba-tiba saja Daniel berjalan ke arahnya dan menarik tangannya. Pria itu membawa Ivy ke tempat yang lebih sepi.


“Kak, sakit,” Ivy meringis karena Daniel menarik dan terus menggenggam pergelangan tangannya dengan keras.


Daniel menghentikan langkahnya ketika sudah tiba di sebuah taman yang persis berada di samping gedung apartemen. Ia memutar tubuhnya hingga kini menghadap ke arah Ivy. Tatapan mata Daniel sudah tak bisa digambarkan oleh Ivy. Lingkaran hitam di bawah mata yang terlihat lelah, begitu tercetak dengan jelas.


Apa dia tidak tidur? - batin Ivy.


“Vy …,” kata Daniel lirih.


“Kak, kamu kurang tidur?” tanya Ivy sambil mengusap kantung mata Daniel dengan ibu jarinya. Ivy tahu ia harus menjaga jarak, tapi ia juga kuatir melihat keadaan Daniel yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja.


Daniel menepis tangan Ivy, “Nggak usah pura-pura perhatian! Selama 2 tahun kita berpacaran, aku selalu menjaga kamu. Ciuman yang kuberikan hanya sebatas pipi dan kening, tapi kamu …”


Daniel memegang bahu Ivy dengan kedua tangannya, “Vy, lihat aku! Tatap mata aku! Katakan kalau kamu udah nggak sayang lagi sama aku! Katakan kalau kamu udah nggak cinta lagi sama aku!”


Daniel terus mengguncang tubuh Ivy, membuat hati Ivy terasa sakit karena perlakuan Daniel yang begitu kasar. Sebelum ini, tak pernah sekalipun Daniel bersikap kasar padanya.


Daniel mendorong Ivy ke sebuah pohon besar, kemudian mendekakan wajahnya pada wajah Ivy. Ivy yang melihat kemarahan di wajah Daniel langsung memalingkan wajahnya, tapi dengan sebelah tangan Daniel memegang dagu Ivy dan mengarahkan wajahnya untuk tetap mengarah pada dirinya. Dengan kasar ia menempelkan bibirnya pada bibir Ivy.


Plakkk


Ivy yang kaget langsung mendorong tubuh Daniel dan menampar pria yang merupakan mantan kekasihnya itu. Namun, kemarahan Daniel yang begitu besar seperti memberi tenaga lebih hingga membuat Ivy tak kuasa melawannya.


Brughhh


Tiba-tiba ada seseorang yang mendorong Daniel ke samping hingga terjatuh. Ia menjauhkan pria itu dari Ivy yang sudah mulai mengeluarkan air mata.


“Kak Sky,” kata Ivy.


“Lo lagi lo lagi!!” teriak Daniel sambil mengarahkan telunjuknya ke arah Sky.


“Tenang bro, lo nyakitin dia,” kata Sky mencoba menengahi.


“Ini semua gara-gara lo! Dari dulu juga semua gara-gara lo! Lo selalu jadi biang masalah,” ungkap Daniel dengan kesal.


Tak ayal, sebuah pukulan keras dilayangkan Daniel ke wajah Sky secara tiba-tiba, hingga membuat Sky terjatuh.


Ivy yang melihat itu langsung menghampiri Sky, “Kak, Kak Sky nggak apa-apa?”


Ivy bisa melihat adanya memar di pipi Sky dan sudut bibirnya juga mengeluarkan darah. Ivy melihat ke arah Daniel dan berdiri. Dengan berani ia berdiri di hadapan Daniel dan menatap pria itu dengan tajam.


“Kak, tolong … Jangan membuat semua ini jadi lebih sulit lagi buatku. Kalau memang kakak sayang padaku, tolong lepaskan aku,” kata Ivy dengan sedikit memohon. Ivy juga menyeka air matanya yang kembali turun.


Daniel berdiri diam mematung melihat tatapan Ivy yang berubah menjadi tatapan kesedihan.


“Jika kakak terus seperti ini, sebaiknya kita tidak perlu bertemu lagi. Anggap saja aku sudah mati!” kata Ivy dengan tegas.


Ivy kemudian menghampiri Sky, memegang lengannya, dan membantunya berdiri.


“Ayo, Kak. Kita obati dulu lukanya,” Ivy akhirnya pergi bersama Sky, meninggalkan Daniel yang hanya bisa melihat kepergian Sky dan Ivy begitu saja.


Daniel berteriak dan menjatuhkan tubuhnya ke bawah. Ia menundukkan wajahnya dan mengepalkan tangannya.


Kalian semua tidak memikirkan aku! Kalian semua tidak mengerti bagaimana perasaanku! Argghhhh!!! - batin Daniel.


🌹🌹🌹