Only Love

Only Love
#56



Hari sudah sangat malam ketika Sky menginjakkan kaki ke Negara Bagian Arizona, yang terkenal dengan wisata air terjun Grand Canyon.


Setelah mendapatkan perintah dari Sky, Sean langaung memesankan tiket dan meminta pelayan di kediaman Robert untuk mempersiapkan semua kebutuhan Sky, yang selanjutnya akan dibawa oleh supir langsung ke bandara.


Mereka memasuki mobil dan langsung menuju ke hotel tempat mereka akan menginap malam ini.


“Se, apa kamu yakin Ivy berada di sini?” tanya Sky.


“Aku tidak terlalu yakin, tapi hasil deteksi ponsel, menunjukkan kalau ia berada di sini,” jawab Sean.


“Jadi ke mana kita harus mulai mencarinya?”


“Sebaiknya kita beristirahat dulu. Besok kita akan memulai pencarian dengan patokan titik yang ada pada GPS,” jawab Sean lagi.


Di dalam kamar hotel, Sky berbaring di atas tempat tidur dan terus memandangi langit-langit kamarnya. Ia sangat tidak sabar untuk mencari dan bertemu dengan Ivy, membuatnya sulit sekali untuk memejamkan mata. Jika bisa, ia ingin langsung mencarinya saat ini juga, tapi ia juga memerlukan istirahat setelah apa yang ia lalui beberapa hari belakangan ini.


Tubuhnya terasa sangat lelah dan kurang istirahat, terutama sejak Ivy pergi tanpa kabar. Namun, mengetahui keberadaan Ivy, membuatnya kembali bersemangat. Ia ingin langsung membawa pulang wanita itu dan tentu saja menikahinya.


**


Cahaya mentari memasuki kamar hotel yang ditempati oleh Sky, melalui sela-sela gorden. Ia mengerjapkan matanya dan mulai menyesuaikan dengan keadaan sekitar. Ia mengambil ponselnya yang bwrada di atas nakas untuk melihat jam berapa saat itu.


Semalaman, ia sangat sulit tertidur, bahkan untuk memejamkan mata saja rasanya tidak bisa. Ia terus menerus memikirkan Ivy dan hatinya tak sabar ingin bertemu dengan wanita itu.


Sky langsung beranjak dari tempat tidurnya karena waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Ia segera membersihkan diri kemudian menggunakan sebuah T-shirt dan jaket hoodie.


Ia menghubungi Sean dan menanyakan kesiapan sahabatnya itu. Ternyata, Sean sudah berada di resto hotel dan menikmati sarapan paginya.


Dari belakang, Sky menoyor kepala Sean yang hendak memasukkan sup jagung ke dalam mulutnya. Hal itu membuat sup jagung tersebut malah mengenai hidung Sean.


“Sky!!! Dasar temen nggak ada akhlak!” teriak Sean yang kemudian mengelap wajahnya dengan sebuah tissue.


Sky terkekeh dan duduk di hadapan Sean, “Sudah siap semua, Se?”


“Udah! Lo sarapan aja dulu. Gue nggak mau ntar mesti gendong lo lagi kalau lo pingsan.”


“Makanya lo makan yang banyak ya, jadi lo kuat nanti kalau mesti gendong gue,” jawab Sky.


“Ishhh dasar! Begini nih cowo kalau lagi jatuh cinta. Sampai-sampai temennya pun udah nggak dipeduliin lagi.”


Sky pun menyantap sarapannya. Setelahnya, mereka segera menuju ke mobil yang akan membawa mereka ke Bandara. Dari sana mereka akan menggunakan sebuah helikopter yang akan membawa mereka ke Desa Supai.


Desa Supai terletak di sebuah ngarai besar yang ada di Taman Nasional Grand Canyon. Desa itu menempati lembah dengan kedalaman 914 meter di dasar Havasu Canyon. Supai adalah desa paling terpencil di 48 negara bagian AS.


Untuk menuju ke sana, perlu berjalan kaki sejauh 8 mil atau dengan menggunakan helikopter. Rute menuju ke sana dengan berjalan kaki pun harus menempuh jalan berliku, puncak berbatu, dan tebing terjal. Desa ini sangat terisolasi sehingga pos menuju ke sana masih dikirimkan menggunakan kereta yang ditarik keledai.


Akan tetapi, siapapun yang pergi ke sana akan mendapati pemandangan yang menakjubkan. Oase indah dengan vegetasi hijau dan air terjun itu adalah kediaman suku asli Amerika bernama Havasupai.


Havasupai dalam bahasa lokal memiliki arti 'orang-orang dari perairan biru-hijau', menggambarkan warna pirus pada air terjunnya. Pelancong manapun yang ingin masuk ke desa tersebut harus mendapatkan izin dari Dewan Suku Havasupai.


Kini, ada lebih dari 20 ribu pengunjung bertandang ke Supai setiap tahun. Periode wisata biasanya berlangsung pada Februari sampai November, di mana pengunjung bisa tinggal di pondok sederhana milik suku setempat.


Para tamu akan menikmati kesan terlempar ke masa lalu dengan kondisi desa yang masih sangat alami. Tidak ada jalan raya dan mobil karena penduduk hanya membawa keledai atau kuda melintasi ngarai yang berdebu. Bangunan di Supai amat sederhana, termasuk rumah-rumah warga, kafe, kantor pos, sekolah dasar, dan gereja.


**


“Kalau menurut titik GPS, iya,” jawab Sean, “Coba tunggu sebentar. Aku akan bertanya pada penduduk di sini.”


Sean menghampiri salah satu penduduk di sana, apakah ada seorang wanita bernama Ivy. Dari tempatnya berdiri, Sky bisa melihat bahwa orang tersebut menjawab dengan gelengan kepala.


Sean kembali menghampiri Sky, dan ia menggelengkan kepalanya. Sky melihat ke sekeliling, mengedarkan pandangannya, mencari sesuatu yang tak ia temukan.


Ia melihat beberapa anak-anak berlarian, saling mengejar satu sama lain. Mereka berlari ke arah Sky dan Sean berdiri, hingga tanpa sengaja salah seorang anak menabtak tubuh Sky dan akhirnya terjatuh.


“Kamu nggak apa-apa?” tanya Sky sambil membantu anak itu berdiri. Sky melihat kaki anak itu terluka karena terantuk batu.


“Tidak apa-apa,” jawabnya.


“Ken, kamu nggak apa-apa?” tanya salah seirang temannya yang datang menghampiri.


“Iya, aku nggak apa-apa.”


“Sini aku bantu. Kita minta kakak obati.”


“Maaf, ….,” kedua anak tersebut berhenti dan melihat ke arah Sky.


“Ya.”


“Apa kamu mengenal seseorang bernama Ivy?” Kem menggelengkan kepalanya, begitu juga temannya.


“Apa kamu mengenal wanita ini?” tanya Sky lagi dan memperlihatkan foto Ivy yang tadi dipegang oleh Sean.


“Kak Sora!” teriak Ken.


“Kamu mengenalnya?” tanya Sky sekali lagi.


“Ya, tentu saja kami mengenalnya,” jawab kedua anak tersebut bersamaan. Sky tersenyum dan memanggil Sean.


“Bisakah kamu membawa saya padanya?” tanya Sky.


“Tentu saja! Aku akan membawa Ken ke sana untuk mengobati lukanya ini,” kata teman Ken.


Ken dan temannya membawa Sky serta Sean menuju ke sebuah rumah sederhana.


“Kakak!!” Ken dan temannya langsung memasuki rumah yang pintunya terbuka. Mereka menerobos dan meminta lukanya diobati.


Sky terhenti di depan rumah dan mengamati rumah tersebut. Ia mengamatinya dengan seksama.


Di sinilah selama ini kamu tinggal? Apa kamu tidak merindukanku? - batin Sky.


Sky dan Sean pun berjalan mendekati pintu masuk. Hatinya menghangat saat ia melihat bahwa memang benar wanita yang ada di dalam rumah tersebut adalah wanita yang ia cari selama ini. Terlihat Ivy dengan sangat hati-hati mengobati luka seorang anak, hingga tak sadar bahwa sejak tadi ia sedang diperhatikan.


“Sudah! Lain kali kamu harus lebih hati-hati, Ken,” kata Ivy sambil mengusap pucuk kepala Ken.


Kemudian ia mengarahkan pandangannya ke pintu untuk melihat kepergian Ken. Namun, betapa terkejut dirinya mendapati seorang pria yang ia rindukn tengah tersenyum menatapnya.


Sky? - batin Ivy.


🌹🌹🌹