
Ivy menjalankan semua aktivitasnya seperti biasa. Beberapa hari belakangan hidupnya merasa lebih tenang.
“Mau makan siang?” tanya Sky saat membuka pintu ruang praktek Ivy.
“Hmm, sebentar,” Ivy mengambil tas miliknya setelah sebelumnya meletakkan jas putihnya di sebuah gantungan kayu.
Mereka keluar bersama untuk menuju ke cafe yang biasa mereka datangi.
“Apa Kak Sean dan Kak Gil sudah berada di sana?” tanya Ivy. Ntah sejak kapan Ivy berkumpul bersama 3 orang pria itu. Ia merasa nyaman dan bisa tertawa bebas jika mereka berkumpul, terutama saat Gil mulai mengeluarkan lelucon-leluconnya.
“Ya, aku pergi bersama mereka tadi.”
Perjalanan tak terlalu lama karena jarak rumah sakit dan cafe yang begitu dekat, bahkan sebenarnya hanya dengan berjalan kaki pun hanya memerlukan waktu 5 menit.
“Kak Gil, Kak Sean,” sapa Ivy saat menghampiri kedua pria itu di dalam cafe dengan wajah tersenyum.
“Vy!” balas mereka.
Mereka memesan makanan dan mulai menyantap makan siang mereka. Setelah makan selesai, mereka biasa berbincang dan bercanda.
“Apa kalian sudah mengetahui kabar tentang Daniel?” tanya Gil secara tiba-tiba.
Semuanya memandang ke arah Gil kecuali Ivy, ia hanya bisa menunduk. Ia penasaran tapi ia juga ingin melupakan, jadi sebisa mungkin ia harus menghindari segala hal yang berhubungan dengan Daniel.
“Aku kembali dulu ke rumah sakit ya kak, aku harus menemui Dokter Frans terlebih dulu,” kata Ivy menghindari.
“Kami juga akan menemui Dokter Frans, tunggulah sebentar,” kata Sean yang penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Gil.
Ivy hanya bisa duduk dan menghela nafasnya pelan. Ia terpaksa duduk kembali karena ia tak memiliki alasan lagi.
“Cepat katakan!” ujar Sean yang sudah mulai meninggi rasa ingin tahunya.
“Daniel masuk rumah sakit,” jelas Gil.
Degggg
Mendengar itu membuat Ivy merasa bersalah. Apa ada hubungan dengannya atas apa yang terjadi pada Daniel? Sky menyadari perubahan raut wajah Ivy.
“Apa yang terjadi dengannya?” tanya Sky.
“Ia akan bercerai,” jawab Gil.
Pletakkk
Tiba-tiba saja Sean memukul bahu Gil dengan kesal, “apa hubungannya akan bercerai dengan masuk rumah sakit?”
“Aku juga belum tahu. Tapi itu yang aku dengar dari Mommy,” kata Gil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Ivy semakin merasa bersalah pada Vinnie jika mereka benar-benar sampai bercerai. Ia harus menemui Vinnie dan menjelaskan semuanya. Mereka tidak boleh bercerai dan Ivy berjanji tak akan mendekati ataupun mengganggu hubungan Daniel dan Vinnie.
**
“Sebaiknya kamu tidak melakukannya,” kata Sky saat mereka sudah berada di dalam mobil. Ivy memaksa kembali terlebih dahulu ke rumah sakit dan tentu saja Sky tidak akan membiarkannya kembali seorang diri.
Ivy menoleh ke arah Sky, “Ehh?”
“Jangan menemuinya ataupun istrinya. Kamu tak ingin dianggap sebagai orang ketiga bukan? Sebaiknya jangan lakukan itu,” Ivy tidak percaya, bagaimana Sky bisa membaca apa yang ada dalam pikirannya.
Ivy tak menjawab perkataan Sky. Ia pun segera berlalu menuju ruang prakteknya setelah berterima kasih karena Sky telah mengantarnya. Ia berpikir seorang diri di dalam ruang prakteknya.
Ponselnya berbunyi dan tertera nama Dokter Frans di sana. Ia pun segera menggunakan jas dokternya dan keluar dari ruangan untuk menemui Dokter Frans.
Tokk tokk tokk
“Masuk.”
“Selamat siang, Dok.”
“Dokter Ivy, silakan duduk,” Dokter Frans mempersilakan Ivy duduk di kursi yang berada di hadapannya.
“Begini, hari Jumat depan kita ada gathering, semacam dinner untuk para dokter muda. Kamu dan beberapa dokter muda lain di RB Hospital dihatapkan hadir karena acara ini juga dihadiri oleh perusahaan-perusahaan yang akan turut mengembangkan project mereka dalam bidang kesehatan,” Dokter Frans mengambil sebuah undangan dan memberikannya pada Ivy.
“Tapi setiap hari Jumat saya ada jadwal praktek sampai malam, Dok,” kata Ivy.
“Ohh tenang saja, kamu bisa langsung pergi ke bagian administrasi untuk meminta dokter lain menggantikan jadwal praktekmu khusus di hari jumat depan. Acara ini sangat penting, jadi kamu harus datang.”
“Ya, baik Dok kalau begitu. Saya permisi dulu,” Ivy keluar dari ruangan Dokter Frans, dan segera kembali ke ruangannya sendiri.
Ivy duduk lalu membuka undangan tersebut dan membacanya dengan seksama.
“Hari Jumat jam 7 malam, di Hotel Lewis. Acara disponsori oleh Martin Hospital dan Lewis Group.”
Aduhh, lagi-lagi harus begini. Pasti ia ada di sana. Apa sebaiknya aku tidak pergi? Tidak! Tidak! Ia tak akan ada di sana, bukankah Kak Gil bilang ia sedang menjalani perawatan? Aku tidak mungkin mengecewakan Dokter Frans. - batin Ivy.
“Apa sebaiknya aku meminta bantuan Kak Sky?” gumam Ivy.
“Tidak! Tidak! Aku nggak boleh ngerepotin orang lain hanya karena urusan pribadiku. Sepertinya kali ini aku harus berusaha sendiri,” kata Ivy sambil menghela nafas dan meletakkan kepalanya di atas meja.
**
“Kamu sudah sadar?” tanya Vinnie dengan kuatir. Melihat Daniel yang biasanya gagah dan kuat, kini harus terbaring dengan wajah yang pucat dan tubuh yang lemah, membuat hati Vinnie langsung melemah.
Ia memang paling tidak bisa melihat orang lain menderita, apalagi jika itu karenanya. Ia bahkan bersedia mengorbankan dirinya jika itu memang perlu. Bahkan ia yang awalnya berjanji untuk tidak luluh lagi pada Daniel, sepertinya hanya akan menjadi pernyataan sesaat saja.
“Vin …,” kata Daniel dengan sangat pelan. Hampir tidak pernah Vinnie mendengar Daniel memanggil namanya, mungkin ini baru yang kedua kalinya.
“Aku akan memanggil dokter,” Vinnie masih sedikit menghindari Daniel. Ia yang merasa kuatir lebih memilih memanggil dokter secepatnya.
Dokter dan perawat datang dan langsung memeriksa kembali keadaan Daniel. Dokter memindahkan stetoskopnya dari telinga ke leher setelah pemeriksaan selesai dilakukan.
“Bagaimana keadaannya, Dok?” tanya Vinnie yang lebih mengkuatirkan keadaan Daniel dibanding dengan keadaannya sendiri.
Dokter menjelaskan secara singkat pada Vinnie. Sementara itu Daniel yang terdiam, terus memandangi wanita yang yang telah ia sakiti selama ini, istrinya yang terlihat begitu kuatir padanya.
“Setelah ini saya akan meminta perawat membawakan makanan. Tuan Daniel bisa langsung makan dan meminum vitaminnya, agar lebih cepat pulih.”
“Baik, Dok.”
Dokter dan perawat akhirnya keluar dari ruangan, meninggalkan keduanya.
“Vin … m-maafkan aku,” kata Daniel ketika Vinnie sudah berada di sebelahnya.
“Istirahatlah, aku akan memeriksa apakah makanan untukmu sudah siap atau belum,” kata Vinnie yang masih menggunakan pakaian rumah sakit.
“Vin …. “
🌹🌹🌹