Only Love

Only Love
#61



Mereka semua kembali duduk di ruang keluarga sambil bersenda gurau.


“Vin, ini Allen?” tanya Ivy.


“Iya Vy.”


“Kamu lucu banget sih ganteng. Boleh aku gendong Vin?”


“Boleh donk, malah kalau bisa biar cepat-cepat ketularan. Itu artinya kamu harus cepat menikah, Vy,” kata Vinnie sambil tersenyum.


“Wuihh udah cocok banget itu, Vy. Tinggal nikah aja dan gue siap kok menampung,” timpal Gil, yang seketika itu juga langsung mendapatkan toyoran di kening dari Sky.


“Woiii santai bro!” Gil langsung menangkis serangan Sky selanjutnya.


“Grandpa, apa maksud semua ini?” tanya Sky.


“Masa kamu belum mengerti juga apa maksud Grandpa?”


Semua orang melihat ke arah Sky dengan tatapan tanpa arti dan jika tahu pun, mereka tak ada yang mengeluarkan sepatah kata pun.


“Kamu harus mengucapkan perpisahan dengan Ivy. Bukankah kamu akan dijodohkan? Kamu akan segera memiliki tunangan. Grandpa sudah berbaik hati membawa Ivy ke sini, agar kamu bisa berpisah secara baik-baik.”


“Tapi Grandpa …, aku tidak mau berpisah dengan Ivy.”


“Grandpa sudah mengatakan bahwa kamu tidak memiliki hak untuk membantah! Grandpa sudah mengikuti kemauanmu dan memberimu waktu 1 bulan, tapi … mana hasilnya?”


“Grandpa, bukankah sebaiknya kita menyerahkan semua keputusan pada Sky saja?” kata Daniel berusaha menengahi.


“Nah itu maunya gue juga. Masa zaman gini masih aja ada pemaksaan,” kata Sky yang terus berusaha agar Grandpa Luther mengurungkan niatnya.


“Sekarang Grandpa tanya sekali lagi, mau berpisah secara baik-baik, atau Grandpa pisahkan dengan paksa?!” kata Grandpa Luther dengan nada tegas.


Sky melihat ke arah Ivy dan rasanya hatinya terkoyak. Tak sanggup bila ia harus mengatakan perpisahan dengan Ivy. Rasanya baru saja ia merasa gembira dan bahagia, seperti diterbangkan ke angkasa. Namun, kini ia langsung dijatuhkan ke dalam jurang tanpa dasar.


“Cepat kamu pilih!” teriak Grandpa Luther sekali lagi.


Setelah Sky terdiam beberapa lama dan berpikir, ia pun berkata, “Aku tidak mau ada perpisahan, baik itu secara baik-baik ataupun secara paksa.”


“Kalau kamu memang tidak bisa memilih, maka Grandpa yang mengambil keputusan. Grandpa akan memisahkanmu secara paksa!”


“Grandpa!!” teriak Sky, Gil, Sean, dan Daniel secara bersamaan. Sementara Vinnie dan Ivy hanya bisa diam sedari tadi dan melihat perdebatan itu terjadi.


Ivy tak ingin membantah apapun perkataan Grandpa Luther. Ia sadar diri bahwa ia hanyalah butiran debu dalam Keluarga Robert. Ia hanya ingin menjalin hubungan dan komunikasi yang baik dengan Grandpa Luther karena ia sudah sangat baik dengan Ivy.


Grandpa Luther-lah yang membantunya saat Dad Arthur meninggal, bahkan membantunya untuk pergi ke Jepang, tempat kelahiran Mom Keiko, tanpa diketahui oleh siapapun.


Sky kembali melihat ke arah Ivy. Hatinya kacau, tak mungkin rasanya ia melepaskan Ivy yang sudah berada sedekat ini dengannya.


“Grandpa, aku tidak mau! Grandpa boleh meminta apa saja dariku, asal jangan pisahkan aku dengan Ivy. Aku mencintainya,” kata Sky.


“Benar Grandpa. Apa tidak bisa kita bicarakan semuanya dengan kepala dingin. Bukankah Sky sangat mencintai Ivy dan begitu pula sebaliknya,” kata Gil.


“Grandpa sudah bicara baik-baik, bahkan membawa Ivy ke sini. Grandpa hanya meminta kamu memilih, pisah baik-baik atau pisah secara paksa. Kamu harus berpisah dengannya karena kamu akan segera bertunangan dengan wanita pilihan Grandpa.”


“Sky, sebaiknya kita pisah secara baik-baik, sesuai permintaan Grandpa,” kata Ivy sambil tersenyum. Pada akhirnya Ivy memberanikan berbicara karena hal ini tak akan selesai jika mereka terus berdebat.


Ivy memeluk Sky dengan erat, mengusap punggungnya, sementara Sky membenamkan wajahnya di bahu Ivy.


“Grandpa, apa keputusan Grandpa tidak keterlaluan? Mereka saling mencintai,” kata Sean.


“Kalau kamu berkata begitu, apa kamu mau menggantikan Sky untuk dijodohkan dengan wanita pilihan Grandpa?” tanya Grandpa Luther pada Sean.


“Aku?” sambil menunjuk ke arah diriny sendiri, “Tidak Grandpa! Aku nggak mau. Gil aja, dia udah tua!”


“Tua … tua!! Umur gue sama lo sama juga,” Gil menempeleng Sean, “Jangan bawa-bawa gue deh. Gue paling ogah ya dijodoh-jodohin, apalagi kalau cewenya cerewet, bawel, kayak emak-emak. Udah cukup satu di rumah, jangan ditambahin lagi,” Gil menyandarkan tubuhnya di sofa dan melipat kedua tangan di depan dadanya.


“Nggak ada yang mau gantiin kan?” kata Grandpa Luther.


Akhirnya mereka semua terdiam. Terlihat Sean dan Gil yang malah sikut-sikutan, memaksa salah satu dari mereka untuk mengajukan diri. Hal itu agar sahabat mereka itu bisa bahagia dengan wanita yang dicintainya.


“Sudahlah, tak ada yang perlu menggantikanku. Kalian tak perlu membantuku. Grandpa, kalau wanita itu tidak suka denganku, Grandpa tidak boleh memaksaku lagi dengan perjodohan ini ataupun perjodohan-perjodohan lainnya,” kata Sky.


“Ok. Tapi setahu Grandpa, wanita ini sangat menyukaimu.”


Deghh!


“Kalau dia benar-benar menyukaimu, Grandpa akan segera melangsungkan pernikahanmu dalam 1 bulan ke depan, bagaimana?”


Aku pasti akan membuat wanita itu tak menyukaiku. Aku akan membuat dirinya sendiri yang membatalkan acara pernikahan kami. - batin Sky.


“Baik, Grandpa. Aku setuju.”


“Love, aku berjanji. Aku akan membuat wanita itu tak menyukaiku. Aku pasti akan kembali padamu, tunggu dan percayalah padaku,” bisik Sky pada Ivy.


“Sudah?” tanya Grandpa.


“S-sudah,” jawab Sky dengan setengah terbata.


“Sekarang kamu sudah berpisah dengan Ivy sebagai seorang kekasih pilihanmu. Sekarang, Grandpa akan memperkenalkan calon cucu menantu pilihan Grandpa,” kata Grandpa Luther.


Pandangan mereka semua mengarah ke arah pintu yang menghubungkan area ruang keluarga dengan bagian ruang tamu. Mereka semua sudah bersiap untuk melihat siapakah wanita pilihan Grandpa Luther, dan calon istri untuk Sky.


Dengan perlahan, Granda Luther mendekati Ivy, sementara mata mereka menunggu seorang wanita muncul dari balik pintu.


“Perkenalkan, cucu menantu pilihan Grandpa … Ivy Auzora Thomas,” kata Grandpa Luther sambil terkekeh.


“Grandpa!! Apa maksud semua ini? Grandpa sengaja ngerjain aku ya?”


Tiba-tiba, semua sahabatnya ikut tertawa. Ternyata mereka semua telah mengetahui rencana Grandpa Luther dan sengaja membuat Sky menderita sesaat.


Wajah Sky menjadi kesal karena tak menyangka bahwa dengan mudahnya ia masuk dalam jebakan Grandpa Luther. Ivy kembali mendekati Sky, menangkup wajah Sky dengan kedua tangannya.


“Maaf, aku terpaksa mengikuti rencana Grandpa,” kata Ivy.


“Kalian semuaaa!!” Sky merasa geram, “tunggu pembalasanku.”


Hal tersebut malah membuat sahabat-sahabatnya semakin tertawa. Mereka sangat senang melihat Sky tertekan. Bahkan mereka semua berusaha berakting dengan baik dan menahan tawa yang sudah berada di ujung bibir mereka.


🌹🌹🌹