Only Love

Only Love
#27



Hari ini adalah hari di mana Daisy, adik perempuan Daniel akan melakukan operasi. Daniel dan kedua orang tuanya sudah berada di rumah sakit untuk menemani dan memperhatikan perkembangan Daisy.


Dad Donald duduk diam sambil meremas kedua tangannya. Ia merasa gugup karena bagaimanapun juga ini adalah operasi besar. Apa yang terjadi di dalam ruang operasi tidak dapat diprediksi sehingga kini mereka hanya bisa berserah dan berdoa, semoga semuanya berjalan dengan lancar.


Daniel menatap ruang operasi. Ia memang sangat menunggu saat ini tiba. Perusahaan sudah mendapatkan suntikan dana dan semua sudah kembali berjalan normal. Ia hanya perlu menunggu operasi Daisy berjalan lancar dan adiknya bisa segera pulih, karena dengan begitu ia bisa segera menceraikan Vinnie.


Sudah tersusun semua rencana di dalam pikiran Daniel. Ia hanya tinggal mengeksekusinya satu demi satu. Ia menghela nafasnya, berharap ia bisa segera melewati semua kerikil dalam hidupnya dan kembali bersama dengan kebahagiaannya, Ivy.


**


Hari ini Ivy pulang agak sedikit malam karena ia harus melakukan satu operasi yang cukup memakan waktu. Meskipun ia belum menjadi dokter utama dalam operasi tersebut, tapi sudah membuat hatinya senang karena ia merasa lebih dipercaya.


Ivy duduk di dalam ruangannya. Ia mulai berpikir kembali tentang profesinya sebagai seorang dokter yang ternyata juga sangat menyita waktu. Kadang ia harus berjaga sampai malam atau bahkan tidak pulang, karena ada pasien yang harus ia tangani segera dan membutuhkan perhatiannya.


Ia melepas jas putih, menggantungnya, kemudian meraih tas miliknya. Ia harus segera pulang kalau tak mau kemalaman lagi.


Ivy berdiri di teras rumah sakit yang hanya berbatasan dengan sebuah dinding kaca besar dengan area lobby. Ia menekan beberapa kali di layar ponselnya untuk memesan taksi secara online. Namun beberapa kali ia melakukannya, pasti selalu dibatalkan.


Apa semua sudah pulang? Sulit juga mencari taksi di malam hari. - batin Ivy.


Tiba-tiba sebuah mobil berhenti persis di depan Ivy. Bagian kaca kursi depan penumpang terbuka.


“Vy, ayo masuk. Aku antar pulang.”


Ivy menundukkan sedikit tubuhnya untuk melihat siapa yang berbicara padanya, “Kak Sky?”


“Ayo naik, aku antar,” kata Sky sekai lagi.


“Aku sudah pesan taksi online kak,” kata Ivy berbohong. Ia tak ingin merepotkan Sky.


“Udah nggak usah, batalin aja. Udah malam, kamu mau berdiri sampai jam berapa nunggu dia datang, lagipula tidak aman sendirian malam-malam.”


Akhirnya Ivy masuk ke dalam mobil Sky dan memasang seatbelt-nya.


“Kak Sky ngapain di sini malam-malam,” Ivy membuka pembicaraan.


“Nungguin kamu,” jawab Sky, yang membuat Ivy menatap Sky dengan bingung.


“Dari tadi siang, bukan … bukan … tepatnya belakangan ini, kamu kayaknya lagi banyak pikiran ya? Apa kamu masih memikirkan Daniel?” tanya Sky to the point.


Ivy terdiam. Ia sedang memikirkan jawaban apa yang bisa ia berikan kepada Sky.


“Kalau kamu simpan semuanya sendiri, kamu nggak akan bisa move on. Kamu harus keluarin semua isi hati kamu, kalau nggak kamu …”


“Aku nggak apa-apa, Kak,” potong Ivy.


“Kamu yakin?”


Ivy menganggukkan kepalanya, meski ada keraguan di dalam setiap anggukannya. Ia membuang pandangannya ke arah jendela, melihat suasana jalan raya yang ternyata tidak terlalu sepi.


“Apa Kak Daniel bahagia?” tiba-tiba saja Ivy bersuara, membuat Sky menoleh ke arahnya.


Ivy langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tentu saja ia tak mungkin menemui Daniel.


Jika bertemu dengannya lagi, mungkin aku akan langsung memeluknya, melepaskan kerinduan yang selama ini aku simpan. Mungkin orang-orang akan melihatku sebagai wanita pengganggu, tapi hati ini rindu. - batin Ivy.


Tak terasa air mata mengalir di pipinya. Sky menghentikan mobilnya di sisi jalan, membiarkan Ivy untuk menumpahkan isi hatinya, meskipun dengan bahasa air mata.


Namun, hati Sky tak bisa berbohong. Ada rasa sakit yang ia rasakan ketika wanita yang ia cintai menangis karena pria lain dan itu adalah sahabatnya sendiri. Dengan gerakan cepat Sky merengkuh tubuh Ivy yang berada di sampingnya dan memeluknya. Ia mengusap punggung Ivy dan membiarkan wanita itu menangis di dadanya.


Ivy memang membutuhkan tempat untuk meluapkan kesedihannya. Ia tak mungkin memperlihatkan kesedihannya pada Dad Arthur dan membuat Daddynya itu kuatir.


Saat Sky memeluknya dari samping, ia langsung membenamkan wajahnya di dada pria itu. Namun seketika Ivy tersadar bahwa tak seharusnya ia melakukan itu. Dengan perlahan ia mendorong tubuh Sky dan menjauhinya.


“Ma-maaf Kak. Seharusnya aku tidak melakukan itu,” Ivy mulai memperbaiki posisi duduknya.


“Maaf, aku yang salah. Aku hanya merasa kamu membutuhkan tempat untuk meluapkan kesedihanmu,” Sky mulai kembali menyalakan mesin mobilnya dan melanjutkan perjalanan.


Mobil Sky kini sudah sampai di depan lobby apartemen yang ditempati Ivy. Ivy pun melepas seatbelt dan segera turun.


“Terima kasih banyak, Kak.”


“Vy, kamu bisa cari aku kalau kamu membutuhkan teman curhat. Aku akan siap menampung semuanya,” kata Sky, meskipun ia yakin hatinya akan panas nanti jika mendengar bagaimana Ivy begitu mencintai Daniel.


Ivy mengganggukkan kepalanya, tersenyum, dan mengucapkan terima kasih sekali lagi.


**


Operasi yang berlangsung hampir 8 jam itu akhirnya selesai. Lampu yang menandai proses berlangsungnya operasi sudah dimatikan. Keluarga Lewis yang berada di area depan ruang operasi segera bangkit dan berharap dokter segera keluar.


Tak berselang lama, Dokter Clark keluar dan tersenyum ke arah keluarga Lewis. Dad Donald dan Mom Hilda langsung menghampiri, begitu juga dengan Daniel.


“Operasi berjalan dengan lancar. Saat ini kita hanya perlu menunggu beberapa waktu untuk melihat bagaimana reaksi tubuh Nona Daisy dengan jantung barunya.”


“Terima kasih banyak, Dok,” kata Dad Donald dan Mom Hilda.


Mereka berdua berpegangan tangan saat mendengar apa yang dokter Clark katakan. Tak lama pintu ruang operasi kembali terbuka dan terlihat Daisy di atas brankar dan masih dalam pengaruh obat.


Mereka bersama menemani Daisy menuju ruangan di mana Daisy ditempatkan sebelumnya, sebuah kamar VVIP di rumah sakit milik keluarga Martin.


Sementara itu di kediaman Lewis, Vinnie duduk seorang diri di dalam kamar tidurnya. Ia tidak diizinkan oleh Daniel untuk ikut karena memang Daniel tak mengharapkannya dan tak menganggap Vinnie sebagai keluarganya.


Vinnie hanyalah sebuah alat bagi Daniel, terutama untuk operasi adik perempuannya. Semenjak hari pernikahan mereka, tak pernah sekalipun Daniel menyentuh Vinnie. Bahkan mereka jarang berbicara satu sama lain.


Vinnie selalu melakukan apa yang ia ketahui sebagai kewajiban seorang istri. Ia menyiapkan semua kebutuhan Daniel, namun Daniel tak mempedulikannya. Jika Vinnie mempersiapkan pakaian kerja Daniel, maka hanya akan ada 2 pilihan yang dilakukan oleh pria yang berstatus suaminya itu, memilih pakaian yang lain atau melempar pakaian yang dipilihkan oleh Vinnie ke lantai.


Namun, tak pernah sekalipun Vinnie melawan ataupun marah. Ia hanya akan mengangkat pakaian tersebut dan merapikannya kembali. Vinnie sendiri menunggu saat yang tepat untuk membebaskan Daniel dari semua belenggu yang mengikat mereka berdua.


🌹🌹🌹