
“Lo dijodohin?” tanya Gil memastikan lagi.
Sky menganggukkan kepalanya dengan malas, sontak hal itu membuat Gil tertawa terbahak-bahak.
“Siallannn!!! Lo malah ngetawain gue,” Sky melemparkan kertas yang sudah ia remas-remas ke arah Gil. Ia sudah sangat yakin sahabatnya itu akan menertawakannya. Namun, ia perlu tempat untuk bercerita.
Semakin lama, tawa Gil semakin keras hingga ia mengeluarkan air dari sudut matanya. Sekali lagi Sky melemparkan kertas ke arah Gil.
“Jangan ketawa terus! Lihat aja nanti kalau sampai lo ngalamin kayak gue, gue bakalan bales ngetawain lo,” gerutu Sky.
“Mommy gue itu contoh orang tua modern. Nggak akan dia jodohin anaknya, apalagi gue kan anak kesayangannya,” kata Gil dengan bangga.
“Terserah lo aja. Gue lagi pusing!”
“Lo dijodohin sama siapa?” tanya Gil.
“Ya Grandpa lha, siapa lagi?”
“Bukan itu maksud gue. Maksudnya lo dijodohin sama cewe mana? Siapa calon istri lo,” tanya Gil.
“Sekali lagi lo ngomong calon istri, gue tampol lo,” Sky sudah mengepalkan tangannya.
“Tenang bro, sabar, sabar. Ngomong-ngomong Sean ke mana?”
“Lagi ketemu Dokter Frans,” jawab Sky.
“Tumben lo nggak ikut? Biasa kalau pergi ke RB Hospital, lo pasti ikut,” tanya Gil dengan rasa penasaran yang besar.
“Gue lagi males.”
“Males? Masa ketemu sama gebetan males? Jangan bohong lo! Pasti lo lagi ada masalah lain kan? Cerita lha, jangan bisanya dibawa ke minum.”
Sky berdiri dari duduknya kemudian melangkahkan kaki menuju ke arah sofa. Ia merebahkan diri di atas sofa panjang. Dengan beralaskan bantal duduk, ia merebahkan kepalanya.
“Apa dia masih nggak bisa lupain Daniel ya Gil?” tanya Sky.
“Ivy?”
“Ya iyalah, siapa lagi? Apa dia masih berharap bisa balikan sama Daniel. Daniel kan udah punya istri.”
“Kenapa lo ngomong begitu?” tanya Gil.
“Kemarin itu gue lihat dia masih ketemuan sama Daniel dan senyumnya itu, tulus banget. Apa dia mau jadi orang ketiga di pernikahan Daniel?” Sky menutup wajahnya dengan salah satu lengannya.
“Ngapain lo pikirin? Sebentar lagi kan lo udah bakalan dijodohin, jadi lo nggak akan ada hubungannya dengan Ivy atau bagaimana hubungan mereka,” kata Gil.
“Arghhhh!!! Lo kenapa sih ingetin gue lagi masalah perjodohan itu. Gue nggak mau nikah sama orang yang gue nggak suka, bahkan gue nggak kenal sama sekali,” kata Sky dengan geram.
“Ya lo ketemuan aja dulu. Siapa tahu habis lo ketemu, bisa timbul getaran-getaran yang menggoyahkan hati dan lo bisa suka sama dia.”
“Gue cuma mau Ivy, Gil,” tegas Sky.
“Lha tadi lo bilang dia bisa jadi orang ketiga di rumah tangga Daniel. Bukannya lo nggak suka ya cewe model begitu,” Gil menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, melihat ke arah langit-langit.
“Gue nggak yakin dia begitu, tapi ….”
“Tapi masih ada rasa ragu yang bikin lo nggak mau ketemu dia dan kesal karena dia terlihat bahagia bersama Daniel?” kata Gil sekenanya.
“Ya gimana ya?”
**
Sky berada di dalam kamar tidurnya. Ia baru saja selesai membersihkan diri sehabis pulang dari kantor. Ia duduk di tepi tempat tidur, memikirkan rencana yang harus dia lakukan untuk menggagalkan perjodohan yang akan Grandpa Luther lakukan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 7, keluarga Brandon sudah tiba di kediaman Robert. Mereka secara khusus memenuhi undangan makan malam dari orang penting tersebut.
“Panggil Sky untuk turun,” perintah Grandpa Luther pada salah satu pelayan.
“Tidak perlu, aku sudah tahu,” kata Sky di ujung anak tangga.
Seketika mata Sky beradu dengan mata seorang wanita. Tatapan tajam dan sinis ia pancarkan sambil menyiratkan makna bahwa ia tak menyukainya dan memastikan akan menggagalkan rencana perjodohan ini.
Mereka duduk bersama di ruang makan. Beberapa perbincangan mengenai bisnis yang paling mendominasi.
“Ini putriku, Elena Brandon,” kata Luis Brandon memperkenalkan putrinya. Elena tersenyum kepada Grandpa Luther dan menatap sinis ke arah Sky.
Sky sama sekali tidak peduli dengan perbincangan di antara Grandpa Luther dengan Tuan Luis Brandon. Ia hanya ingin menghabiskan makan malamnya dan segera pergi dari sana. Ia sedang memikirkan alasan apa yang paling tepat.
“Sepertinya mereka akan cocok,” ujar Tuan Luis sembari melihat ke arah putrinya dan juga Sky. Hal itu membuat Grandpa Luther tersenyum.
“Iya benar, apa sebaiknya kita segera menentukan tanggal pertunangan mereka? Setelahnya, mereka pasti bisa lebih dekat satu sama lain,” Nyonya Gisella Brandon tersenyum sumringah karena merasa putrinya akan segera menjadi pasangan dari pewaris tunggal perusahaan Robert.
“Bagaimana menurut kamu tentang cucu Grandpa?” tanya Grandpa Luther pada Elena.
Elena melihat ke arah Sky dengan tatapan benci dan menaikkan salah satu sudut bibirnya.
“Hmm …. Menyebalkan! Pria paling menjijikkan yang pernah saya temui! Dan saya tidak mau dijodohkan dengannya,” kata Elena dengan ketus. Ia masih ingat bagaimana dulu Sky menolaknya saat mereka masih di Sekolah Menengah Atas. Sky juga telah membuat foto memalukan bagi dirinya hingga ia menjadi bahan omongan satu sekolah.
“Elena, jaga ucapan kamu!” teriak Tuan Luis.
Sky menatap wanita itu dengan penuh rasa kesal, tapi ia tersenyum dalam hati karena ia tak perlu susah-susah mencari alasan menggagalkan perjodohan ini. Hanya saja seharusnya wanita itu menjaga mulutnya, agar tidak asal bicara.
“Ya memang benar kok. Pria yang hobbynya cuma mainin perempuan, sok tampan, sok kaya. Dad kira Elen mau dijodohin sama orang model begini?” Elena langsung bangkit dari duduknya, kemudian mengambil gelas yang berisi air dan tanpa banyak bicara lagi langsung menyiramkannya ke wajah Sky.
“Lo tahu kan siapa gue? Jangan harap gue bakalan lupa sama semua perbuatan lo!” kata Elena dengan ketus. Ia langsung pergi meninggalkan meja makan tanpa berpamitan.
“Tuan Luther, maafkan putri saya. Saya akan segwra menasehatinya,” kata Luis Brandon.
Pada akhirnya keluarga Brandon pergi meninggalkan kediaman keluarga Robert. Sky yang ingin kembali ke kamar tidurnya, ditahan oleh Grandpa Luther.
“Apa maksud dari perkataan Elena tadi?”
“Grabdpa sudah dengar kan, dia nggak setuju dengan perjodohan ini. Bukankah itu lebih baik? Lagipula aku masih bisa kok mencari calon istri sendiri.”
“Apa kamu sama seperti Dad kamu yang suka mempermainkan wanita?!” tanya Grandpa Luther dengan nada tinggi.
Sky yang mendengar dirinya disamakan dengan Daddynya menjadi kesal, “Jangan pernah samakan aku dengan pria itu! Dia bukan Dad-ku. Mana ada orang tua seperti itu, yang tidak pernah mempedulikan anaknya sendiri,” teriak Sky.
Grandpa Luther tiba-tina memegang dadanya dan meringis menahan sakit. Sky yang melihat itu langsung menghampiri.
“Grandpa … Grandpa …,” pangil Sky dengan nada kuatir.
Grandpa Luther tidak sadarkan diri. Ia langsung meminta supir untuk membawa mereka ke RB Hospital. Rasa kuatir yang sangat besar kini menyelimuti Sky. Ia tidak ingin terjadi hal yang buruk pada Grandpa Luther.
🌹🌹🌹