
“Apa kamu sudah siap mengenalkan calonmu pada Grandpa?” tanya Grandpa Luther yang langsung menghentikan langkah Sky ketika mau menaiki tangga menuju kaar tidurnya.
“Grandpa, aku baru pulang,” kata Sky dengan lesu. Ia malas menanggapi pertanyaan Grandpa Luther. Selain itu, baru sebentar ia berpisah dengan Ivy, rasa rindunya sudah muncul lagi, membuatnya tak bersemangat berada jauh dari wanita itu.
“Apa Grandpa sudah boleh mempersiapkan calon untukmu?”
“Grandpa?! Aku sudah menemukannya. Hanya saja aku memerlukan waktu untuk membawanya ke sini.”
“Perlu waktu? Atau jangan-jangan kamu hanya berusaha untuk mengulut-ulur waktu?”
“Bukan begitu. Aku hanya perlu waktu membawanya ke hadapanmu. Saat ini ia masih terikat kontrak kerja dan tidak mungkin jika ia meninggalkan pekerjaannya secara tiba-tiba,” jawab Sky.
Grandpa Luther hanya bisa tersenyum saja saay mendengarnya, sedangkan Sky yang sedang lelah pun mulai melanjutkan jalannya.
“Aku ke kamarku dulu, Grandpa. Aku ingin istirahat,” kata Sky.
Sky pun meninggalkan Grandpa Luther yang duduk di aofa sambil memainkan ponselnya, kemudian menghubungi seseorang.
“Kamu akan melihat bagaimana Grandpa-mu ini bergwrak lebih cepat, meskipun Grandpa sudah tua. Aku akan memberimu pelajaran, dasar cucu durhaka!” gumam Grandpa Luther dengan senyum yang terukir di wajahnya.
**
1 bulan berlalu dari perjanjian yang dibuat oleh Sky dengan Grandpa Luther,
“Sky!!” Grandpa Luther memanggil Sky saat cucunya itu akan pergi ke kantor.
“Apalagi Grandpa?” Sky merasa jenuh karena hampir setiap hari Grandpa Luther menagih janji pada dirinya yang akan membawa wanita yang akan menjadi calon istrinya.
“Kamu harus pulang cepat hari ini,” kata Grandpa Luther.
“Jangan katakan …”
“Ya, kamu telah mengingkari perjanjian dengan Grandpa. Oleh karena itu, Grandpa sudah mempersiapkan seseorang untuk menjadi istrimu.”
“T-tapi Grandpa …?”
“Diam dan jangan membantah! Grandpa sudah menuruti kemauanmu dan sudah memberimu waktu 1 bulan. Sekarang kamu harus mengikuti kemauan Grandpa,” potong Grandpa Luther dengan cepat.
**
Di kantor, Sky sama sekali tidak bisa fokus pada pekerjaannya. Sean yang sedang menjelaskan mengenai jadwal hari ini pun hanya dianggap seperti angin lalu.
“Sky … Sky!! Lo dengerin gue nggak sih?” Sean yang berada di hadapan Sky, menggoyangkan tangannya beberapa kali di depan wajah sahabatnya itu.
Namun, Sky sama sekali tidak mengindahkannya. Ia hanya memandang ke arah jendela dan larut dalam pikirannya sendiri.
Ini udah bener-bener keterlaluan! Asli nih orang bikin makan hati usus jantung. Gue emang cuma asistennya, tapi nggak begini juga kerjanya. - batin Sean yang mencebik kesal.
“Sky!!!” Kini Sean terpaksa berteriak tepat di telinga Sky. Ia sudah tidak tahan karena sedari tadi ia didiamkan oleh Sky. Bahkan sudah beberapa kali ia diminta untuk mengulang membacakan jadwal hari ini.
“Lo kira gue budeg?” tanya Sky yang membuat Sean kaget. Sku mengusap telinganya yang terasa sakit karena mendengar teriakan Sean.
“Iyaaa, emang lo budeg,” kata Sean yang sudah sangat kesal. Kini ia hanya berdiri di hadapan Sky dan meletakkan tabletnya di atas meja.
“Trus, apa jadwal gue hari ini?”
“Lo gila ya?! Gue udah ngulang sampai 5 kali dan lo masih nanya apa jadwal lo? Lo emang bener-bener kelewatan. Mulut gue udah kering kerontang kayak padang pasir, lihat aja nih coba. Kayaknya gue perlu minum segalon air.
Sean akhirnya berjalan mendekati sofa dan langsung menjatuhkan dirinya ke sana. Ia menghela nafasnya pelan.
“Lo kenapa lagi sih?” tanya Sean.
“Nggak kenapa-kenapa.”
“Udah kasih tahu aja. Siapa tahu gue bisa bantu. Daripada kayak begini, asli lo malah nyiksa gue perlahan-lahan.”
“Gue …”
“Apa?”
“Gue udah cukup sabar kali dari tadi,” Sean yang gemas mulai mengepalkan kedua tangannya.
“Gue …”
“Cepetan!!!” teriak Sean.
“Gue mau dijodohin lagi.”
“Ya ampun, pelik banget ya hidup lo. Nikah mesti ditentuin. Ya, mungkin itu udah nasib lo, jadi jalanin aja,” kata Sean dengan santai tanpa mempedulikan perasaan Sky.
“Ahhh rese lo ya, bukannya bantuin malah ngeledek aja.”
“Lagian, lo tuh kalau gue lihat kurang gercep sama Ivy. Lo jangan minta Ivy buat berhenti kerja, tapi seharusnya lo langsung hubungin contact person yang ada di web itu,” kata Sean.
“Iya juga ya.”
“Dasar, ganteng-ganteng tapi oon,” gumam Sean setengah berbisik.
“Gue masih bisa denger, Se. Lo mau gue potong gaji?” tanya Sky.
“Potonggg teruss!! Ntar kalau gue nggak punya duit, gue nggak masuk kerja pokoknya,” ancam Sean.
“Ishhh, dia diancam malah ngancam balik. Ya udah aana lo cepet hubungin web-nya,” kata Sky.
“Loh, kok jadi gue?”
“Tadi yang punya ide siapa?” tanya Sky.
“Gue.”
“Nah berarti lo yang jalanin.”
“Asemmm lo. Kalau jadinya begini, tadi mendingan gue diem aja. Biarin aja lo dijodohin, lo ini yang menderita. Setelah ini gue tinggal rebut hati Ivy,” kata Sean sambil tersenyum penuh arti.
“Se!!!”
“Iya iya!!”
**
“Sky,” panggil Grandpa Luther.
“Ya Grandpa,” Sky yang baru kembali pulang dari kantor mulai memandang Grandpa Luther yang sedang duduk di sofa dengan jengah.
“Besok kita akan ada acara makan malam. Grandpa akan mengenalkanmu pada seseorang.”
“Grandpa, aku sudah mengatakan bahwa aku sudah memiliki kekasih. Aku nggak mau dijodoh-jodohin,” kata Sky.
“Tapi kamu sudah berjanji pada Grandpa.”
“Ya, tapi aku punya alasannya. Ia masih terikat kontrak kerja. Kalau ia sudah selesai, aku akan langsung membawanya ke sini dan mengenalkannya padamu. Tunggulah sebentar lagi, tidak akan sampai 2 minggu,” kata Sky sekali lagi.
“Grandpa tidak mau tahu alasannya dan tidak peduli. Grandpa hanya mengikuti apa yang sudah menjadi perjanjian di antara kita. Kamu harus tetap mengikuti keinginan Grandpa. Ingat!! Tidak ada bantahan,” kata Grandpa Luther.
“Grandpa!”
“Grandpa berjanji akan mengenalkanmu pada seorang wanita yang baik. Ia tidak akan seperti Elena. Ia adalah wanita yang baik, lemah lembut, dan pasti akan menjadi istri yang pas untukmu.”
Sky yang mendengar hal itu, hanya bisa menutup wajah dengan kedua tangannya. Kesal? Tentu saja, bahkan sangat. Ia merasa ia tak bisa hidup sesuai keinginannya. Apakah sesulit ini jalan yang harus ia tempuh untuk bisa bersama dengan Ivy?
Sky pun segera bangkit dan beranjak menuju kamar tidur, meninggalkan Grandpa Luther. Di dalam kamarnya, ia mengeluarkan ponsel dan berusaha untuk menghubungi Ivy. Ia ingin sekali malam ini juga berangkat menuju Desa Supai untuk kembali menemui wanita yang tak akan bisa dihilangkan dari hatinya itu. Namun, ponsel Ivy sulit dihubungi, mungkin karena memang jaringan seluler di Desa Supai kadang agak sulit.
“Arghhh!!!” Sky menghempaskan ponselnya ke atas tempat tidur. Ia pun segera masuk ke dalam kamar mandi untuk menghilangkan rasa lelah dan penatnya.
🌹🌹🌹